Makoto Budo no hitotsu

Dalam rangka melepas primordialisme yang melekat 
erat pada diriku, aku mulai menanggalkan nama-nama 
asliku. Aku memakai nama baru, Fukuoka Kitaro. Aku 
juga ingin menyempurnakan kebaruanku ini dengan 
mengambil salah satu Budo (jalan ksatria, wira-marga), 
yaitu belajar Aikido, sebuah cabang jalan perwira. Jalan 
menyesuaikan jiwa dan gerakan. Potensial dan kinetis. 
Jalan kejiwaan yang ditempuh lewat olah gerak dan 
ayunan pedang. Pedang yang lebih bermakna sesuatu 
yang diayun dan disabetkan. Baik dalam menyerang 
menangkis atau 'menindas' pedang lawan. 

Aku belajar pada seorang Sensei Aikido beken, Yamanaga 
Jun, seorang pewaris langka aliran Aikido Miyamoto 
Mushashi, yang tinggal di sudut desa Kyoyama, di padepokan 
Terami no Mikuni. Tak ada yang istimewa sebenarnya cara 
mengajar Yamanaga Sensei, kecuali dia mencoba merumuskan 
ajaran-ajaran Aikido dalam jumlah-jumlah bait tertentu. 
Bait-bait yang selalu saja membuat pening. Ada penggalan bait:
'Pedang lurus tak kenal arah; 
pedang bengkok luwes berkelok;
tebasan kanan melemah di kiri; 
Sabetan lawan tusukan. 
Tindas api dengan air, tiupan kanan miring ke kiri; 
Hakekat pedang lurus tak kenal arah; itulah aiki-dou'

Ah, sebodo amat dengan bait-bait memusingkan itu. Tahuku 
hanya meniru gerakan Yamanaga. Meniru genggaman tangan 
di hulu pedang, meniru bagaimana serius dia menarik cabutan 
pedang. Meniru konsentrasi lurus ke ujung pedang. Dan berhasil! 
Diantara murid-murid, aku murid kesayangan, sekaligus kebencian. Yamanaga sayang 
karena aku dianggap mampu menyerap 
turunan ilmunya, tapi juga benci karena aku belum bisa memahami 
bait-bait ajarannya. Kebencian terutama, Yamanaga ingin aku 
tampil apa adanya. Tampil sebagai aku. Harapan yang selalu 
baik secara halus maupun terang-terangan aku tolak. Aku hanya berpendapat, "Yamanaga 
Sensei, untuk memahami ilmu Sensei, 
saya harus belajar menjadi semirip Sensei, hanya mirip saja kok. 
Percayalah Sensei dalam diri Fukuoka Kitaro ini pastilah masih 
ada lembar-lembar keaslianku yang tak mampu aku tutupi."

Yamanaga sering memahami, tetapi sering juga marah-marah. 
Memahami bila aku berhasil menandingi murid-muridnya, bahkan 
yang lebih senior. Apalagi mampu memenangkan acara pibu antar padhepokan Aikido. Dari 
Tamano, Kibi, Souja hingga Himeji, 
pernah aku menjajalnya, dan belum sekalipun memalukan "ajaran" 
Yamanaga Sensei, dengan catatan lawan pibu adalah sama 
tingkatannya. Sekali waktu Yamanaga marah besar ketika aku 
usul untuk menantang senior atau melawan murid padhepokan 
lain yang lebih tinggi tingkatnya. Heran! Padahal itulal salah 
satu sifat asliku sebelum menjadi Fukuoka Kitaro. "Kitaro-kun, 
walaupun dalam pibu Aikido jaman kini bukan berbekal nyawa 
lagi, tetapi bukan begitu caranya. Tak ada aturan kohai (yunior) 
melawan senpai (senior), juga tidak ada aturan bertanding yang 
beda tingkatan. Ini aturan Aikido. Lain halnya bila Kitaro mampu 
menamatkan ajaran dan mempunyai varian ilmu lain yang 
mengalahkan aliran kita sekarang ini. Ingat baik-baik ini. 
Selama Kitaro masih murid Yamanaga, tidak mungkin 
bertanding lintas jenjang!"

Aku menurut dan terus menurut. Membuatku cepat menanjak 
menjadi murid utama. Tandanya Yamanaga mulai sering 
mengajak meramu bait-bait ajarannya. Bagaimanapun aku tetap 
tidak faham bait-bait itu selain mengikuti gerakannya yang sudah 
memwujud.

(mudah-mudahan bersambung....)


    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke