----- Original Message -----
From: Ridwan <[EMAIL PROTECTED]>
mega menambah ke blunderannya. setelah dia sendiri bungkam, dia
juga
membungkam beberapa anggota pdip yang lama seperti : aberson,
haryantho
taslam, dimyati dll. sekarang ini mega dikelilingi oleh para
oportunis
arifin panigoro (yang mebawa uangnya untuk partai), zulvan lindan
dll.
ridwan
==========================
Imajinasi liar saya memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang
menggiringku kepada sebuah kesimpulan bahwa hijrahnya para
idekostwan itu (bukan hanya ke pdip) adalah bagian dari strategi
jangka panjang kekuatan lama untuk kembali ke panggung politik.
Marilah kita melihat.
1. Mengapa disebagian besar kantong-kantong kemenangan pdip dari
Sabang sampai Merauke justru parati ini tidak berhasil
meng-goal-kan jagonya.
2. Di DIY, pdip yang menang telak justru gagal mengantar jagonya
untuk masuk ke Senayan melalui UG dan dikalahkan secara
menyakitkan oleh indekostwan di PAN, partai yang perolehan
suaranya kecil.
3. Zulhan, Arifin Panigoro, Julius Usman, Heri Akhmadi, Anung
Pramono pada tidak berkicau ketika pencalonan MW sebagai Presiden,
dan ternyata mereka yang kini sangat vokal di pdip itu dulu sunyi
senyap dalam menghadapi sapuan bawah Poros Tengah. Juga, mereka
iytu dulu tidak ada kabar beritanya di Surabaya, Jakarta, Medan,
dan peristiwa Kudatuli. Seperti kita telah mengetahui bahwa
sebenarnya pemulusan Hbb sebagai presiden adalah scenario pertama.
Bagaimana dengan scenario yang lain?
4. Kini, ketika GD telah dihantam bertubi-tubi maka mereka semakin
vokal dengan ambisi meng-goal-kan MW menjadi Presiden dari
preposisi apapun akan diangkat. Padahal, kita juga mengetahui
bahwa kenaikan MW dalam posisi Presiden saat ini disamping
memiliki peluang kurang dari 50% untuk memperbaiki keadaan juga
sebuah blunder untuk Pemilu 2004 bagi PDIP. Suara 40% pdip itu
jelas ada suara limpahan dari mereka yang pro demokrasi dan
menghendaki perubahan dimana potensi kemenangan itu lebih dilihat
di pdip dibanding partai lain. Lihat sebagai misal, bahkan di
Jombang PKB kalah oleh pdip. Nah, situasi politik ini dan sering
ngablaknya indekostwan itu malah membuka mata mereka (non
primordial) yang semakin menyadari bahwa mereka dulu telah salah
memilih. Lihat pula kasus main mata Taufik kemas dengan Golkar dan
Poros Tengah (baca Golkar). Juga mereka para Golkarwan yang
indkost di luar pdip malah sering sowan ke MW. Jadi besar
kemungkinan mereka pasti akan mengalihkan suaranya. Artinya,
sebenarnya kemungkinan merosotnya suara itu sudah diperhitungkan,
demikian pula di parpol yang lain, agar golkar bisa menarik
kembali suara yang hilang melalui duit seperti dulu mereka biasa
melakukan.
5. Setelah Rahmawati berbicara, kini semakin jelas bahwa banyak
kader pdip (non indekost) yang mengeluh kepada dia. Bahkan
Rahmawati malah mengingatkan agar MW tidak melakukan praktek
double standard. Hal ini, meskipun dibantah oleh KKG, jelas
menyentak mereka yang selama ini tidak sadar bahwa praktek itu
sungguh tidak sehat bagi kehidupan berorganisasi. Di satu sisi
membantu presiden untuk mengelola organisasi pemerintah namun di
sisi yang lain negmbat melalui parpol yang diketuainya. Saya
membayangkan seandainya saya menjabat sebagai direktur dan wakil
direktur saya adalah ketua serikat buruh di organisasi saya.
Jadi, dari lima butir alasan itu maka imajinasi liar saya berkata
"ah... jangan-jangan ini adalah bagian dari sebuah grand design
bila salah satu scenario gagal"
Saya adalah orang yang paling berbahagia bila dalam pemilu yad
Soetardjo Sleman Guritno mringis karena perolehan suara pdip
merosot didaerah pemilihannya. Dan, kebahagiaan saya akan semakin
lebih bila itu terjadi pula diseluruh DIY.
��
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--