Berhubung di harian kompas, tidak mendapat tempat yang layak, maka ada baiknya artikel 'basi' ini saya kirimkan kepada sidang mail-list, agar dapat dibaca oleh orang lain. Bagi pemilik atau redaksi media cetak atau elektronik yang berminat untuk memajangnya, dengan senang hati saya persilakan. Hanya maaf, nama asli tetap saya sembunyikan (tapi tidak untuk beberapa rekan cyber yang telah mengenal saya). Terimakasih atas perhatiannya.... sampai jumpa di artikel lainnya. ---------------------------------------------------------------------------- Ki Denggleng Pagelaran. ---------------------------------------------------------------------------- Opini Kapas Transgenik: Mencoba ngomong oleh : Fukuoka Kitaro Harian Kompas Jumat 16 Maret 2001 memberitakan tibanya 40 ton benih kapas transgenik (KT) varietas (mencoba mengganti istilah jenis) Bollgard langsung dari Afrika Selatan di Bandara Hasanuddin, Makassar. Kedatangan benih KT itu mengundang protes dari sekitar 20 aktivis ornop menghadang tiga truk pengangkutnya. Akibatnya, pengamanan kedatangan benih itu tergolong spektakuler. Pesawat pengangkut benih kapas itu telah diperlakukan bak sesuatu yang sangat penting sehingga patut diamankan di Pangkalan Udara Hasanuddin. Selain ketat, lucunya ada juga tindakan konyol dengan memberikan tulisan �Angkutan Beras Dolog� di kaca depan truk pengangkut yang dikawal oleh 2 personil militer. Dari kejadian ini ada sesuatu yang memancing kesedihan dan keprihatinan sekaligus kecurigaan. Memprihatinkan, karena ada pihak yang mencoba mengelabui khalayak dengan mengubah kapas menjadi beras. Juga mempri- hatinkan benar seandainya yang diangkut itu benar-benar beras dolog, mengapa harus dikawal oleh personil militer? Selain itu, juga terkesan aneh karena ada truk angkutan beras berangkat dari Bandara. Maka kecurigaan akan maksud kurang baik wajar terjadi. Namun, konteks tulisan ini bukan mempermasalahkan hal itu. Tulisan ini hanya merupakan tanggapan atas pernyataan dari Tim Pemantau dan Pengawasan Kapas Transgenik (TPPKT), �Seharusnya LSM atau kalangan yang kontra lainnya tidak sekedar ngomong, tetapi ikut bersama-sama mengawasi....dst.� Jadi anggaplah tulisan ini menjadi salah satu bagian dari usaha menyambut anjuran TPPKT yang ditegaskan lagi oleh salah seorang petani penanam kapas transgenik di Kab. Bulukumba, �...Jadi tidak usah banyak ngomong.� Merunut masalah Kalau diperhatikan, masalah KT ini tak lain adalah kebuntuan komunikasi antara pihak yang menginginkan penanaman KT dianggap aman (pro) dan pihak yang mempermasalahkannya (kontra), terutama dari sudut pandang kelestarian lingkungan. Pernah dituliskan pada Harian Kompas bahwa manfaat dan akibat KT belum begitu jelas, telah dilakukan uji pendahuluan (pilot project) yang mencapai 500 hektar untuk satu kabupaten. Ukuran pilot project yang boleh dianggap terlalu besar. Sayang bahwa kebuntuan komunikasi antar kepentingan itu belum jelas benar komprominya, Menteri Pertanian telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor 107/Kpt/KB/430/2/2001, tanggal 7 Februari 2001. Surat Keputusan tentang ketentuan bahwa KT dilepas secara terbatas sebagai kapas varietas unggul di 7 Kabupaten di Sulawesi Selatan. Penentuan KT sebagai varietas unggul telah menimbulkan kecuri- gaan dari kalangan peneliti Deptan sendiri, yang menyatakan bah- wa SK itu seolah mengabaikan jerih payah para peneliti kapas nasional yang menghasilkan, antara lain Kanesia 7, varietas unggul nasional yang harga benihnya jauh lebih murah yang hasil dan mutunya pun konon tidak begitu kalah dibanding KT. Perbandingan tingkat kemahalan benih ini menyebabkan suatu dugaan yang syah bila SK itu berkaitan erat dengan nilai uang (baca: proyek) penga- daan benihnya. Apalagi pemasok benihnya adalah suatu perusaha- an raksasa. Juga terkesan SK itu mengabaikan suatu tahapan dalam proses pengujian suatu jenis tanaman introduksi, dengan tidak dilaku- kannya studi AMDAL sama sekali. Akibatnya SK itu dinilai manipulatif (Kompas, 23 Februari 2001 hal. 10). Penilaian kalangan peneliti Deptan tentang penghamburan biaya penelitian kapas nasional juga merupakan sisi gelap yang lain dari penerbitan SK itu. Apalagi disebutkan bahwa Kanesia 7 terbukti tahan terhadap hama wereng kapas (Sundapterix biguttula). Sedang dalam artikel �Pro Kontra Kapas Transgenik� (Kompas, Sabtu 10 Maret 2001, hal. 8) terpampang gambar buah kapas dengan ulat buah atau larva dari ngengat Helicoverpa armigera dengan keterangan bahwa KT varietas Bt yang bersisipan gen racun dari bakteri Baccilus thuri- ngiensis tahan terhadap hama itu, tetapi memicu cepatnya resistensi hama akan terbentuk setelah 30 generasi hama itu (4 tahun). Ada ke- san bahwa dengan demikian aspek pengendalian hama biologis, yang sebenarnya menjadi salah satu prinsip pengendalian hama terpadu, akan tidak ampuh lagi setelah sekitar 4 tahun tanaman kapas dibudidayakan di lahan yang sama. Suatu pendapat yang juga syah. Namun demikian, tetap saja permasalahannya adalah adanya kesan kebuntuan komunikasi antara pihak pro dan kontra penanaman KT itu. Sebenarnya ada sudut pandang lain lagi, yaitu rasionalitas kese- suaian wilayah dan rasionalitas budidaya tanaman. Selain, tentu saja, konsekuensi perkembangan teknologi yang memang sangat mendorong berkembangnya tanaman-tanaman atau organisme bergenotipe termanupulasi (GMO) akhir-akhir ini. Kesemuanya itu seharusnya menjadi tolok ukur yang sangat penting untuk dipertim- bangkan. Hal ini sebetulnya justru menjadi salah satu sisi dari per- kembangan budidaya tanaman organik, bila ditinjau hanya pada sisi pengendalian HPT non kimiawi. Yang jelas memang seyogya- nya perlu adanya studi yang dalam dan obyektif akan AMDAL dari pembudidayaan tanaman kapas transgenik sebelum diterapkan dalam skala penanaman yang cukup besar. Apa boleh buat, kenya- taannya bahwa 40 ton benih KT itu telah datang. Rasionalitas kebijakan dan pelaksanaan Di depan telah disinggung tentang rasionalitas kesesuaian lahan penanaman kapas. Penulis pernah menjadi tenaga pencacah lapangan pada suatu studi Keanekaragaman Tanaman Pangan di Kabupaten Bulukumba pada awal tahun 1990an. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba kala itu menjelaskan bahwa per- nah datang suatu Tim dari Institut Pertanian Bogor dalam Proyek Pengembangan Tanaman Kapas. Kalau tidak salah proyek itu di- padukan dengan penanaman tanaman buah-buahan untuk usahatani lahan kering. Proyek itu dinilai gagal, dan sedikit banyak memberikan masalah bagi penulis, karena dicurigai akan melaksanakan proyek sejenis, tetapi untung hanya sebagai tenaga pencacah. Jadi pena- naman kapas sebenarnya pernah menghadapi masalah di Kabu- paten Bulukumba yang menjadi salah satu kabupaten sasaran pe- nerapan SK Mentan No. 107/2001 tentang pelepasan terbatas ta- naman kapas transgenik Bt. Mungkin sekali kala itu belum tersedia varietas yang cocok untuk alam Sulawesi Selatan. Mungkin juga kapas varietas Kanesia 7 adalah varietas jawaban masalah itu. Namun apakah cukup hanya itu? Seorang dosen pengajar Tanaman Serat di IPB pernah menyatakan bahwa permasalahan kapas di Indonesia terutama bukan terletak pada daya hasil (yield) melainkan pada kualitas serat kapas yang dihasilkan. Daya hasil kapas, dapat dikoreksi dengan daya hasil tahunan dari potensi iklim tropika yang memungkinkan musim produksi tanaman sepanjang tahun. Namun masalah kualitas kapas tidak mudah diatasi, karena juga terkait dalam faktor iklim itu sendiri. Indonesia rata-rata beriklim tropika basah. Tingkat kelembaban udara yang cukup tinggi inilah yang menjadi penyebab mutu serat kapas menjadi masalah. Serat kapas Indonesia tidak seputih kapas dari negara-negara lain yang beriklim lebih kering. Terutama pada waktu pemasakan buah. Serat kapas produksi Indonesia cenderung berwarna kekuningan. Apakah varietas Kanesia 7 dan Bt yang dipertandingkan sudah mampu mengatasi masalah konsekuensi iklim tropika basah ini? Tinjauan berikutnya adalah rasionalitas kemajuan teknologi, khususnya bioteknologi dan Sitogenetika (genetika tingkat seluler). Akhir abad 20 yang lalu hingga sekarang, dunia bioteknologi tanam- an memang sedang didominasi pada masalah-masalah biomolekuler dan sitogenetika. Tanaman model Arabidopsis thaliana dan beberapa mikroorganisme transformer seperti bakteri Agrobacterium sp. dan Baccillus sp. telah sangat akrab dengan para peneliti tanaman di Indonesia. Studi-studi tentang pemetaan kromosom, penggabungan (pencangkokan) DNA dan berbagai tindakan manipulasi genetik pada tingkat seluler maupun sub seluler telah sangat berkembang. Kesemuanya itu bila diamati lebih mendalam, tak lain merupakan lahan pasar teknologi yang diciptakan oleh negara-negara maju. Pemasaran alat laboratorium, hak paten organisme maupun bahan- bahan penelitiannya yang sebenarnya telah menjadi rahasia umum. Jadi, proses perakitan genotipe pada tingkat seluler atau sub seluler sebenarnya adalah suatu kejadian yang sangat wajar. Wajar karena kemajuan dan perkembangan teknologi memang kearah itu. Perakitan genetik buah tak berbiji pada terong, misalnya, juga memanfaatkan jasa bakteri Baccillus sp. Bahkan ada juga bagian cendawannya. Jadi dengan pemikiran rasional, terbentuknya kapas transgenik untuk tujuan ketahanan terhadap hama adalah wajar. Lantas rasionalitas sektor apa lagi yang sebenarnya perlu disorot untuk memberikan kritik membangun dari kebijakan kapas transgenik ini? Sehingga berbagai pihak dapat mengikuti anjuran TPPKT untuk tidak hanya sekedar ngomong? Penulis akan mengajukan segi agronomisnya, yaitu tentang kebutuhan benih. Di depan memang telah dikemukakan tentang terlalu luasnya ukuran pilot project dan dilangkahinya proses studi AMDAL yang menimbulkan protes berbagai kalangan. Juga telah serba sedikit disinggung tentang perbandingan harga benih yang konon jauh lebih mahal dibanding kapas varietas unggul nasional hasil karya peneliti-peneliti bangsa Indonesia. Kebutuhan benih Mata kuliah Dasar Agronomi adalah mata kuliah wajib yang diterima oleh mahasiswa fakultas pertanian di Indonesia. Pada mata kuliah ini pasti dibahas cara bercocok tanam, yang mencakup pokok bahasan tentang kebutuhan benih. Pada berita kedatangan benih KT tertulis 40 ton benih yang akan disalurkan ke 7 kabupaten di Sulawesi Selatan. Keterangan lebih lanjut 40 ton benih itu akan diperuntukkan bagi areal tanam seluas 8.000 hektar. Dengan hitungan terbalik maka akan ditemui operasi hitungan bahwa lahan seluas 8.000 hektar itu kira- kira akan mendapat jatah benih 5 kg/ha. Pertanyaannya adalah berapa- kah bobot setiap butir benih kapas? Kemudian berapakah populasi tanaman kapas untuk lahan seluas 1 hektar? Untuk pembanding digunakan satuan-satuan benih jagung C-7 yang kira-kira 150 gram per 1000 butir. Dengan jarak tanam 100 cm x 20 cm dan setiap lubang tanam diisi 2 butir diperlukan benih jagung 150 kg/ha. Catatan, bahwa tanaman jagung adalah berbatang tunggal yang jarak tanamannya dapat sangat rapat (hanya 20 cm jarak antar lubang). Sekarang untuk pertanaman kapas bagaimana? Apakah populasinya akan serapat tanaman jagung? Tentunya tidak, karena tanaman kapas akan tumbuh bercabang-cabang dan letak buah kapasnya cenderung di ujung-ujung ranting. Sifat pertumbuhan yang demikian mencerminkan spasi tanaman yang longgar. Apalagi kapas perlu cahaya matahari yang cukup pada waktu pemasakan buah. Sudah pasti jarak tanaman akan jauh lebih lebar dibanding jagung. Belum lagi hitungan, berapa bobot benih kapas setiap butir? Benih jagung di atas bila dihitung bobot setiap butirnya adalah hanya 150 mg, padahal tidak mungkin benih kapas lebih berat dari benih jagung. Untuk mudahnya anggap bobot benih kapas adalah 1/3 bobot jagung atau 50 mg per butir. Dengan demikian 5 kg benih akan terdapat 100.000 butir. Dengan demikian bila diambil mudahnya daya kecambah benih kapas 50% (estimasi yang sangat rendah) maka akan ada 50.000 bibit kapas. Jadi kepa- datan tanaman setiap hektar pertanaman kapas nantinya adalah 50.000 tanaman, yang dapat dipenuhi bila ditanam dengan jarak tanaman seperti jagung di atas, yaitu 100 cm x 20 cm atau jarak ta- naman yang agak imbang menjadi 50 cm x 40 cm, atau dengan be- saran abstrak 5 tanaman per meter persegi, karena 1 hektar setara dengan 10.000 m2 . Mudah-mudahan hitungan ini masih wajar untuk pertanaman kapas wilayah tropis basah, dengan catatan informasi di artikel Harian Kompas tentang kedatangan benih KT tersebut benar adanya. Semoga. Fukuoka Kitaro, Ph.D. Aktivis Forum Diskusi Internet Padhepokan Nusantara e-mail: [EMAIL PROTECTED] Namun manakala Anda merasa tak berkenan kirimlah e-mail ke alamat berikut: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
