Oh, jadi pemilu dulu itu ibaratnya beli ticket masuk gedung
sandiwara kethoprak toh? Waduh, tiwas dulu itu aku mborong
tokoh 'Lembu Andini'. Lha tak sangka itu pentas luhung Wayang
Orang Kahiyangan je.

Pantas pula dulu itu sandiwara ndak segera dapat di mulai. 
Lha wong beli ticket masuknya Juli 1999, kok JEJERAN 
kethoprakannya mulai Okotober 1999. Sampai sempat
ngantuk duluan....

Hehehehem rupanya pemainnya sedang pilih-pilih pakaian
buat tampil. Ah, sial kenapa tokoh lembu andininya sudah
siap malah ndak jadi dinaiki Btr. Guru. Malah jadi ingon-
ingonnya Durmagati dan Dursasana...Kenapa pula sih
yang berlangsung malah lakon Lutung Kasarung.  Hubunganya
apa coba antara wayang orang kok yang dilakonkan
LUTUNG KASARUNG dan TANDAK BEDHES, Kethek
Ogleng  ..Blas njelehi.
Lutung-lutung pakai sarung yang sak enak udelnya sendiri
molah-malih di panggung sandiwara.

Lhah sekarang malah sedang tantang-tantangan pakai
ladrang Durma Rangsang. Ampyak awur-awur sumbar
para penyedia mati. Membuat gigrik segala tokoh lutung.
Gigrik setelah sarung-sarung mereka ditarik-tarik
dan ditiup-tiup angin jadi kliatan semua BOKONG BELANG
nya. Tak kurang tokoh pangukuman dan pendadaran ikut
deg-deg-an. Memancing lasykar burung ngababil yang
tidak stabil pernyataannya..

Sementara gerombolan kaum sarungan kok ya bisa-bisanya
menyiapkan pakaian serba putih dan tanpa senjata mau
maju ke palagan. Buat berdoa.... hehehe... sama saja dengan
waktu Kombakarna maju bersandangan serba putih, memang
tujuannya buat PRALAYA. Tapi wajar kan bila ada sempalan
pasukan Panglebur Gangsa berlatih diri di hutan Argopuro?

Ah, sayang pula istilah doa bersama demi wangsa itu dinyatakan
dengan 'Istighotsah kubra'. Coba bila dinyatakan sebagai 
DOA RAYA BERSAMA, niscaya ada kelompok yang tak
ragu lagi ikutan nimbrung. Karena selain istilah Arab itu kadung
akrab pula istilah lain dengan 'Tabligh Akbar' dari kelompok
burung Ababil penyebar SAMPAR. Kelompok yang menyatakan 
punya 150 ribu personil siap njondhil. Yang rupanya tak kuasa 
mengartikan Istighotsah Kubra menjadi berdoa raya bersama. 
Malah menjadi istilah "Kerig Wadyabala". Sehingga perlu 
tandingan.  Tak kuasa, seorang HARKRS-TUTI-NOWO pun 
harus punya rencana NGUMPET di rumah nanti tanggal 30 
April 2001. 

Beliau tak kuasa membedakan istilah Istighotsah (29/4) dan
Jihad Ngepung Parlemen (30/4). Pokoke yang berdoa
bersama tanggal 29/4 harus bertanggung jawab.... hehe.
Maka hibauan sang Pakar Hukum ini adalah menggagalkan
saja Istighotsah di lapangan (baca Jakarta) cukup di 
masjid-masjid atau syukur-syukur di rumah masing-masing. 

Ah, kasihan Muzadi, sampai menganjurkan pakaian sarungan
dan baju putih, bila ternyata himbauan itu masih dianggap
pengerahan massa. Yang harusnya dapat pula dicegah dengan
melibatkan secara penuh personil keamaanan baik legal
maupun non legal (banser itu lho...) untuk segera mengeliminir
Pasukan Wantun Pejah yang coba-coba menyusup. Apalagi
bila ajakan bersarung dan berpakaian putih itu diikuti bin
disambut pula oleh orang-orang yang mengaku saudara
seiman. Bukannya malah menggembar dan gemborkan
kekhawatiran....

Dan kawan degleng (bukan denggleng lagi) nyelethuk..
"Lho kanapa tidak ada inisiatif DPR saja yang mengundurkan
saja SP sampai 2 atau 5 hari setelah 30 April 2001? Niscaya
akan tambah harum nama Akbar Tanjung dan A-A yang
lain...!"
Toh mereka hanya 500 orang pulus 500 LAMBE. Kaya-
kaya lagi... lihat saja di daftar KPKPN yang belum sempat
diumumkan. Mengesankan masih sibuknya KPKPN
menghitung-hitung angka.... (kalau sudah dibikin.. haha).
Sehingga ISTIGHOTSAH (mudah-mudahan niatannya
benar-benar buat bangsa bukan buat WANGSA), bisa
disambut oleh semua lapisan masyarakat. Baik ikutan
hadir langsung, maupun mendiamkan diri DI RUMAH
masing-masing..... 

Ah, aku mau ikutan ah... siapa tahu dapat menyumbang 
satu kata saja yang mungkin menjadi doa mereka, yaitu 
DAMAI... 
Bukan malahan ikut emosion bilang HANCUR...


    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?

----- Original Message ----- 
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 19, 2001 9:48 PM
Subject: [indonesia_damai] Re: Reformasi Jilid II --> ilham GD - pop


> Kang Babat yth
> 
> Lho rupanya elite2 kita emang mesti gitu tho? Sampe saya ndomble 
> mikirnya, rupanya emang mereka mesti maen topeng monyet tho. 
> Jingklakan jogetan semau mereka, ndak nggubris sing nonton seneng opo 
> ora. Ya uwis kang, saya nerima saja deh ... kalo mbekengkeng entar 
> asma ku kambuh rak malah susah. Cuma saya mau ngritik anda, soal 
> pressure grup yang mesti memepetkan elite, yang kakang bilang di 
> Indonesia belum ada ... Sudah ada tuh, pressure grup yang memepet 
> para elite, apalagi yang lagi naik daon (daun kelor kali iya?), namun 
> mepetkan si elite kearah yang blangsakan ... sekalian nyawer kanan 
> kiri .. memeriahkan drama topeng monyet, sambil ngintip kesempatan 
> buat main lakon sendiri. Saya jadi ingat kata2 temen saya lagi, kalau 
> ada sepuluh orang kumpul ... dimana yang sembilan orgil (orang edan) 
> dan yang satu waras ... trus yang mana yang dikatakan edan oleh 
> mayoritas mereka? Lhah kok malah saya nggladrah sampe disitu ya? 
> Kok jadi ngawur ya?
> Wassalam
> 
> Sidik Pamungkas
> -------------------------------------------



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke