--- prameshi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kalau seandainya GD menjadi anggota milis ini maka > sebenarnya dia > juga bisa masuk kualifikasi kelompok nggleng. > > Bagaimana tidak, disatu sisi dia mengatakan jangan > menghujat atau > menyalahkan DPR yang menyerangnya, namun di sisi > lain dia > mengatakan telah memperoleh dua ayat dari seorang > Habib yang oleh > dia dikembangkan menjadi cerita Nabi Musa yang > dikejar oleh Firaun > dimana ketika Nabi Musa mengangkat tongkatnya maka > dia bisa > melewati laut yang terbelah itu dan kemudian laut > yang terbelah > itu menutup kembali untuk menelan para pengejarnya > setelah Nabi > Musa dengan anggotanya sampai diseberang. > > Kapan tongkat GD akan diangkat Mas Gigih? > > prameshi ---------------------- Kalau tak srapat sekilas, GD ini sudah lama memakai tongkat Musa secara kecil-kecilan. Atau, kayak memakai sabit untuk motongi ranting-ranting ketika seseorang nyasak di tengah rimbunan semak untuk membuka jalan. Tiap kali selalu ada juluran ranting semak, yang rada menghalangi langkah, lalu dengan goyangan sabitnya tadi mencoba mbiyak, entah dipotong, atau sekedar disilakkan semata. Langkah GD sejak dulu kan begitu. Mangkanya, oleh para minoritas, yang tak cukup daya untuk membiyak rimbunan semak dan juluran rantingnya tersebut, GD dianggap dewa penolong. Orang ramai mengikut di belakangnya, bak main sepura-sepuran, atau main 'ular naga panjangnya, bukan kepalang' itu. Bahkan sangking mengganggunya, maka sekaliber Pataq Warak (minjem istilahnya de-Tigun, 44) pun berkenan untuk nyatroni, mulai dari ngawat-awati ketika gawe NU melalui jenderal Hartono Golkar, sampai mengirim Diah Ayu Ngujiwati Mbatutut, untuk 'mengatur' GD dengan limpahan hadiah itu. Namun, GD, masih dengan sabitnya, belum tongkat Musa, lho, mampu menyelinap di berbagai jebakan tersebut, untuk tetap manjing sampai sekarang. Dengan slengekannya, GD juga bermain dakon, lho. Diambilnya kecik-kecik yang berada di suatu bolongan, lalu diocar-acirkan ke bolongan yang lain, yang tujuannya juga masih sama dengan sibakannya terhadap juluran ranting yang menghadangnya, atau membuat bolongan tertentu yang mulai mengental untuk kembali cair. Kalau sudah cair begitu, kan enak saja perahu bliouw untuk lewat. Kalau kenthel ? Lebih-lebih ada boyo yang mangap ? Kojur, kan? Yang ketiban awu anget itu kan PDI-P, yang isinya sudah lebih banyak para 'trembelane' ketimbang yang benar-benar punya ati plus rempela itu. Sikap oportunis yang nggege mangsa itu lak sudah ngiler dan mata bureng melihat GD dikuyo-kuyo oleh DPR, pengamat, wong-wong yang asnjep (asal njeplak) yang tanpa sangu pemikiran dowo itu. Egosan-egosan GD yang sluman-slumun-slamet itu akhirnya kan membuat PDI-P seperti melihat buah simalakama. Mau SI nanti embak rubuh, mau ndak SI gek-gek embak semaput sangking kepenginnya mendudukkan bliouw di tampuk negeri ini. Lha, musing ndak, nih? Suara penggagas apel-sejuta-umat pun sudah terdengar, yaitu MW, karena priyayi wedok, tetep ndak bisa jadi pemimpin umat. Lha sampeyan lak tau sendiri, kalau si penggagas ini kan mewakili banyak organisasi. Dia kan sekedar seperti tabir asep, dari sejumlah kadal buntung yang mencoba mengganggu negara 'mbuh yok opo carane' itu. Ada saja isu dikeluarkan, yang terakhir kan soal 'sweeke' tah 'sweeping' itu. Organisasinya ya pancet mereka-mereka juga. Maka PDI-P ya patut memperhatikan tanda-tanda tersebut, untuk tak gegabah mengijinkan SI. Kalau masih setaraf DPR saja, we... masih belum punya daya apa-apa. Tapi kalau sudah ganti seragam, memasang pin anggota MPR, ini kan lembaga adi kuasa yang bisa bikin apa saja terserah maunya. Lha kalau konstelasi 'moh wedok' tadi diulangi kayak yang lalu, coba, PDI-P apa nggak sekali lagi kayak diwudani di terang-benderang? Kebiasaan GD ndakon, serta gobak-sodor, yang mencoba menggojek penghadangnya, kalau PDI-P tahu diri, sebenarnya banyak memberikan manfaat, lho. Coba, kalau pemerintah sukses, maka si mbakyu wapres (aku juga nyetor lima suara, dan insya Allah pemilu nanti tak tarik kabeh) kankatut amukti-wibawa, tah. Tapi wong namanya nggege mangsa, ya kepeksa kepriben mengkone, mbuh. Kengileran serigala yang melihat tiga ekor anak babi yang akan segera dihabisi juga terlihat bagaimana mereka 'nglulu' rencana mbakyu Mega yang punya usul ketemu-ketemu itu. Tapi wong biasa ndak punya platform, maka acara ketemu itu pun dengan mudah 'didakoni' oleh GD sehingga musingi si mbakyu pula. Jurus dakon juga dilakukan mas Dur dengan nyambangi Rahmawati. Jualan akal sehat telah membuat massa BK di bawah miyar-miyur. Ada lebih dari satu pandangan, tinggal bagaimana gejilan ini membawa hasil. Nangsibku, negaraku ===== +==========================================================+ | Sugih durung karuwan, sombong didisikno... | | Nek kate banyolan, http://matpithi.cjb.net ae, rek... | +==========================================================+ __________________________________________________ Do You Yahoo!? Yahoo! Auctions - buy the things you want at great prices http://auctions.yahoo.com/ ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
