----- Original Message -----
From: "Ki Denggleng Pagelaran" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "wojoseto" <[EMAIL PROTECTED]>; "Minna Minkum Nusantara"
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, May 24, 2001 10:50 AM
Subject: KANEKA PUTRA--->Re: [[SP] Vishnu dan Narada]
Seorang pemuda resi sakti, putra Resi Caturkaneka, cucu Hyang
Damarjaka, bersemadi tekun bersila di atas lautan Awu-awu Langit.
Tangannya menggenggam pusaka warisan kakeknya, Cupu Lingga-
jati, yang diwariskan oleh ayahnya ketika berpamitan menuju alam
Kahiyangan menjadi pelengkap unsur kedewataan.
Dia merenungi apa makna benda pusaka itu. Sekalian memang dia
ingin menjadi seperti ayah dan kakeknya menjadi pelengkap dewa,
bahkan ingin menjadi yang mengaturnya. Dialah yang bernama Resi
Kaneka Putra.
Aksi bertapanya yang di atas lautan itu menjadi 'iri' penguasa
Jonggring Salaka, Hyang Batara Guru. Dia merasa Kaneka Putra
ingin menguasai dunia, berarti 'jungkeng kawibawan', kudeta spiri-
tual. Guru mengutus anak-anak dewanya untuk menggagalkan
bertapanya Kaneka Putra. Segala macam usaha dan 'berondongan'
pusaka kahiyangan tetap tidak mampu mebuyarkan 'bertapa'-nya
Kaneka Putra.
Terpaksa Batara Guru turun menemuinya sendiri. Melihat yang
menemui Batara Guru, Kaneka Putra menutup aksi bertapanya dan
beradu mulut dengan Batara Guru. Batara Guru kalah argumentasi
sewaktu berbantahan lebih dulu mana Dewa atau Manusia. Batara
Guru bersikukuh bahwa Dewa ada lebih dahulu, sementara Kaneka
Putera dengan argumentasi-2 cerdik mematahkan semuanya.
Kaneka Putra mengajukan bukti, bahwa Cupu Linggajati yang di-
genggamnya adalah warisan Resi Caturkaneka yang mangkat
muksya menjadi Hyang Kaneka. Artinya ada dewa yang semula
adalah seorang Resi.
Batara Guru mengajukan argumentasi tentang dewa Surya yang
merupakan 'pengatur' matahari. Kaneka Putera membantah,
karena kapan benda bersinar penerang bumi itu disebut 'matahari'.
Bukankah itu setelah 'manusia' mengenal bahasa dan menyadari
akan perlunya nama-nama? dan lain-lain percakapan atau wacana
yang Batara Guru tidak mampu membantah, walaupun beberapa
secara nyata manusia adalah diciptakan lebih akhir.
Akhirnya Batara Guru minta bukti nyata bahwa manusia adanya lebih
dulu dibanding para dewa. Kaneka Putra berujar, "Manikmaya,
kalau kita adu argumentasi di atas bumi ini memang golongan dewa
akan selalu di atas manusia, apalagi bila harus beradu kesaktian
yang berupa 'perang'. Karena beda yang pasti, bahwa manusia
itu suatu substansi kehidupan yang 'dikurung' dalam wadag. Itulah
letak kelemahan satu-satunya manusia dibanding para dewa. Oleh
karena itu aku ingin antara Manikmaya dan Kaneka Putra beradu
kemampuan berlari di atas lautan, dengan tanpa peralatan apapun.
Apa kamu mampu, bila untuk berdiri saja kamu membutuhkan
keberadaan Nandini yang kamu angkat menjadi makhluk kedewata-
an padahal Nandini adalah Lembu Betina? Lembu betina yang sempat disembah-sembah dan
makan darah manusia? Untuk mengatur para dewa saja Manikmaya harus dilengkapi dengan 4
tangan dan 3 mata. Manusia cukup pasangan kanan-kiri dari semua
anggota badan dan indera-pikirannya?"
Batara Guru tersinggung dan segera menyadari bahwa kelemahan
nya dibuka oleh seorang manusia. Maka tanpa pikir panjang dia
menerima tantangan Kaneka Putra turun dari Nandini menginjakkan
kakinya yang lumpuh di atas selembar daun 'mandira seta' (beringin
putih) yang nyaris tidak kasat mata. Dengan kesaktiannya Batara
Guru dapat bersimpuh di atas daun itu. Kaneka Putra tidak
menyadari.
Adu lari di atas lautan dimulai. Saling kejar saling susul. Nalar kema-
nusiaan Kaneka Putra segera bertanya-tanya, mengapa dewa
yang lumpuh mampu bersimpuh di atas lautan yang kebetulan sedang
tenang tak berombak menyambut acara 'goro-goro' lomba lari
itu. Maka dia mencoba mengalah dan membuntuti Batara Guru.
Gerakan meluncur Batara Guru memberikan jejak kecil tidak
selebar 'simpuhan'-nya. Itu membuktikan bahwa badan Batara
Guru tidak menyentuh air laut. Ketajaman matanya segera
menangkap wujud selembar daun beringin putih yang tetap kering
di permukaannya. Maka berlari mendekat dia ambil secakupan air
laut dan dia siramkan di lembaran daun beringin putih itu. Daun
beringin menjadi basah dan sedikit 'tenggelam'. Batara Guru oleng
dan tercebur laut. Menderita malu dan ditolong oleh Kaneka Putra.
Saat itulah Hyang Wenang turun memarahi Batara Guru. Kaneka
Putra disetujui permintaannya menjadi dewa, bukan karena
samadinya, melainkan kesalahan Batara Guru yang sengaja pamer
kesaktian. Batara Guru dipaksa mengakui Kaneka Putra sebagai
saudara tua dan Kaneka Putra diangkat menjadi 'penghulu' peme-
rintahan para dewa dengan gelar Hyang Narada. Hanya akibatnya
karena dianggap 'nggege mangsa' Narada mendapat kutukan ber-
badan bunteg dan selalu mendongak....
[kisah dewa-dewa 'carangan' versi pedalangan kampung]
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--