From: "Kop. Djono" <[EMAIL PROTECTED]>
<[EMAIL PROTECTED]>:
".Maaf, anda tidak diperkenankan untuk posting. Sorry, you are not allowed
to
post......"
=====================================================
Harapan saya itu bukan kerja Bung Martin dalam memakai wewenang
konstitusinalnya. Terus terang cukup kaget saya membaca pemberangusan ini.
Masak anak muda dan asisten dosen U.I bisa naik pitam mendengar gelitikan
kecil pertanyaan tentang Calbup itu. Tidak mungkin.....tidak mungkin.....!
Mestinya kan cuma sedikit geli..!

Tapi, bila memang Dekrit Darurat telah dijatuhkan kepada posting sdr. Kopral
Djono, ada beberapa catatan yang patut direnungkan. Demokrasi ternyata untuk
kesekian kalinya terbukti lebih mudah diucapkan daripada diamalkan.
Demokrasi itu mengandung arti toleransi terhadap perbedaan pendapat.
Termasuk ketahanan untuk berada ditengah kebisingan dan ketidakseragaman.
Seorang totaliter bisa kelihatan dari situ, dari ketahanannya untuk
membiarkan pers-bebas yang sepintas amat mengesalkan. Seorang totaliter
dengan mudah membungkam atau memberangus atas nama ketertiban. Tidak mungkin
Martin Manurung ternyata adalah seorang Totaliter yang sudah amat
ketinggalan jaman itu. Tidak mungkin!

Dari situ, saya menghimbau kepada Bung Martin untuk segera menarik kembali
Dekrit yang telah saudara tandatangani dan saudara jatuhkan kepada Kopral
Djono. Sebagai generasi muda, atau sebagai calon pemimpin pada umumnya ,
calon bupati pd. khususnya ( misalnya benar ), anda mesti sabar. Anda mesti
bisa melayani dan menerangkan dengan sama menggelitiknya. Atau anda turuti
nasihat Cak Gigih : tidak usah dihiraukan saja. Yang terakhir ini, pekerjaan
orang tua yang malas seperti saya. Menurut hemat saya, sudah waktunya
seorang calon bupati Indonesia mesti fasih seperti Clinton. Bagaimana kelak
anda menjawab wawancara wartawan yang tambah hari tambah kurang-ajar itu.
Apakah anda mau membanting kamera mereka ?

Apa sih arti sebuah milis yang plural ?  Terlalu muluk dan terlalu orba jika
kita bilang, sebuah milis adalah buat keperluan pembangunan nasional.
Paling-paling dia adalah ajang untuk berlatih mendengar pendapat yang
macam-macam yang sering amat berlawanan dengan yang kita punya. Dia adalah
ajang untuk berlatih mengeluarkan pendapat secara teratur. Dia adalah ajang
untuk melatih emosi. Dan untuk bercanda menambah teman. Kadang-kadang
pura-pura berantem keras, tapi cuma dipermukaan saja. Jauh dari betulan.
Mana bisa ?! Diluar kita cuma ketawa dan berteman....

Wassalam,
Abdullah Hasan.





...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke