perlu diperhatikan, eep mau ikut siapa ? :-p mBin ------ Transisi Demokrasi, Gagal SI Jangan Dijadikan Tujuan koridor.com [1 Jun 2001, 7:40] Setidaknya ada tiga hal yang harus segera disadari dan diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Yakni, kegagalan transisi demokrasi, tak adanya konsep demokrasi dan pemerintahan yang tidak efektif. Pendapat ini dikemukakan pengamat politik Universitas Indonesia-UI, Eep Syaifullah Fatah, usai bertemu Menko Polsoskam Soesilo Bambang Yudhoyono-SBY bersama Ketua Fraksi KKI Sutradara Ginting dan Kaster TNI Letjen Agus Wijoyo di Kantor Menko Polsoskam, Kamis (31/5). "Kita (kini sudah) disadarkan, salah satu ancaman besar bangsa ini, menyangkut dua kegagalan sekaligus. Yaitu, transisi demokrasi yang gagal dan ongkosnya yang mahal," tukas Eep mengingatkan. Hal ini, demikian Eep, harus diselesaikan. Masalahnya, Indonesia belum punya konsep demokratisasi. "Selain soal-soal itu, krisis yang terjadi sekarang juga telah menyadarkan kita, bahwa pemerintahan tidak efektif, karena tidak menciptakan kepastian dalam segala bidang," ungkap Eep. Karena itu, demikian Eep, langkah DPR RI, MPR RI, Presiden RI dan semuanya, mestinya harus mengarah ke tujuan itu (pemerintahan yang efektif-Red). "Jadi, jangan sampai sidang istimewa-SI MPR RI menjadi tujuan, sementara pemerintahan yang efektif dilupakan sebagai tujuan. Justru SI cuma alat untuk membuat pemerintahan yang efektif, lalu kita punya kerangka bernegara yang utuh dan bisa menyelesaikan transisi demokrasi dengan ongkos minimal," ujar Eep. Dengan asumsi SI MPR RI akan disiapkan dalam dua bulan ke depan, seyogianya selama itu pula digunakan untuk beberapa hal. Yaitu, melakukan menejemen konflik di internal DPR RI, antara DPR RI dengan Presiden RI dan sebagainya. Selain itu, waktu dua bulan itu juga bisa dijadikan masa untuk penyabaran dan penyadaran bagi semua pihak. Ini bisa dipakai sebagai momentum perbaikan krisis secara menyeluruh. Tegasnya, demikian Eep, mengganti Presiden RI dan Wapres, bukanlah tujuan. Yang penting, bagaimana memperbaiki kerangka negara. "Kebetulan dalam posisi ini SBY punya posisi agak khas, karena adanya maklumat. Prinsipnya maklumat ini diibaratkan kayu, bisa jadi alat penggebuk. Tapi bisa juga jadi pagar. Pokoknya jangan sebagai penggebuk, melainkan sebagai pagar (pagar etika, budaya politik-Red)," tukas Eep Syaifullah Fatah. [lia / jr] ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
