Ini posting bisa ada kirimkan ke FID.
MYP

Subject: [INDO-MARXIST] Hassan Hanafi: Indonesia Perlu Revolusi Pemikiran


>                              Indonesia Perlu Revolusi Pemikiran
> 
> 
> 
> Dua pekan terakhir ini, kalangan pengkaji pemikiran Islam di Indonesia kedatangan 
>tamu
> penting: Prof. Dr. Hassan Hanafi, 66 tahun. Guru besar filsafat Universitas Kairo, 
>Mesir,
> itu sejak awal 1980-an dikenal dengan label ''kiri Islam'' (al-Yasar al-Islami, 
>Islamic
> Left) berkat jurnal yang diterbitkannya, al-Yasar al-Islami.
> 
> Hassan Hanafi adalah pemikir yang produktif. Ia telah menerbitkan 18 judul buku 
>berbahasa
> Arab, dua judul berbahasa Inggris, dan tiga judul dalam bahasa Prancis. Bukunya yang
> diterjemahkan dalam bahasa Indonesia juga banyak menghiasi toko buku.
> 
> Sabtu dua pekan lalu, Hassan Hanafi menemui teman lamanya, Presiden Abdurrahman 
>Wahid. Ia
> juga berceramah di beberapa kampus dan lembaga kajian di Jakarta, Yogyakarta, Medan,
> Palembang, dan Makassar. Ini kunjungan ketiganya ke Indonesia, dan paling lama, 
>sejak 18 Mei
> sampai 5 Juni 2001. Wartawan Gatra, Asrori S. Karni mewawancarainya di lobi Hotel 
>Sofyan,
> Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam pekan lalu. Wawancara dilakukan dalam bahasa Arab.
> Petikannya:
> 
> Di Indonesia belakangan bermunculan aksi massa "revolusioner" yang bergerak atas nama
> pemahaman agama. Bagaimana Anda menerjemahkan konsep revolusi dari buku Anda Min 
>al-Aqidah
> ila al-Tsaurah (Dari Aqidah Menuju Revolusi), dalam konteks negeri seperti Indonesia 
>ini?
> 
> Revolusi yang saya maksud tidak terkait dengan gerakan massa, gerakan mahasiswa, 
>kudeta,
> atau serangan bersenjata. Tidak. Revolusi ini adalah revolusi kebudayaan, revolusi
> pemikiran, dan revolusi ideologi. Bagaimana mengubah tauhid, dari aqidah yang pasif, 
>yang
> tak punya pengaruh pada kehidupan individu, pada kehidupan masyarakat, dan pada 
>sejarah,
> menuju tradisi progresif.
> 
> Seperti kata Muhammad Iqbal, "Tauhid adalah kekuatan dinamis di muka bumi untuk 
>melakukan
> revolusi." Tauhid merupakan sumber revolusi kehidupan. Tapi yang terjadi, dalam ilmu 
>kalam
> klasik, tauhid hanya sekadar teori tentang dzat, sifat, dan perbuatan Tuhan. Tauhid 
>itu
> seperti pedang. Tatkala dikeluarkan dari sarungnya, terlihat mengkilat dan bersinar. 
>Tapi
> sekarang, tauhid telah memicu polemik di kalangan umat.
> 
> Maka yang saya maksud dengan Min al-'Aqidah ila al-Tsaurah adalah bagaimana iman 
>saya pada
> Allah, pada penciptaan alam, pada penciptaan manusia, pada kenabian, dan pada alam 
>akhirat,
> mampu berubah menjadi kekuatan revolusi. Lebih dari sekadar sikap nrimo, patuh pada 
>penguasa
> despotik, dan oportunis pada pemimpin dzalim. Seperti Bilal, tukang adzan 
>Rasululllah,
> setelah bersaksi La Ilaha illa Allah kemudian melawan kezaliman. Atau Umar bin 
>Khattab,
> setelah bersaksi La Ilaha illallah lalu berkata di hadapan umum, "Ya Allah, 
>muliakanlah
> Islam dengan salah satu dari Umar atau Hamzah."
> 
> Jadi, Min al-'Aqidah ila al-Tsaurah maksudnya adalah bagaimana tauhid berubah menjadi
> revolusi pemikiran dan keyakinan, sehingga menjadi spirit, semangat, dan kekuatan. 
>Itulah
> yang menjadikan ulama berijtihad dengan semangat La Ilaha Illallah. La Ilaha artinya 
>negasi
> terhadap tuhan-tuhan palsu. Seperti harta, kekayaan, jabatan, dan penguasa. Illallah 
>artinya
> hanya Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Penyatu. Tiada Tuhan selain Allah.
> 
> Yang ingin saya lakukan adalah bagaimana iman, amal, imamah, dan bai'at menjadi 
>revolusi
> pemikiran, sehingga kemudian menjadi inspirasi revolusi aksi. Saya bukanlah generasi 
>yang
> menginginkan revolusi jalanan. Saya mendahulukan revolusi pemikiran. Sampai suatu 
>saat
> muncul revolusi aksi.
> 
> Sebagian artikel Anda menyebut beberapa contoh revolusi dalam sejarah Islam. Seperti
> Revolusi Qaramithah di Baghdad, Sanusiyah di Libya, atau Mahdi di Sudan. Penyebutan 
>itu
> apakah bermakna bahwa revolusi jenis itu juga anda maksud dalam gagasan Anda?
> 
> Tidak. Revolusi di Iran, di Indonesia, dan sebagainya, ini semua realisasi praktis 
>dari
> revolusi pemikiran. Imam Khomeini mengambil tauhid dan menjadikannya spirit revolusi.
> Revolusi saya adalah revolusi pemikiran. Ketika ada waktu, bisa berubah menjadi 
>revolusi
> aksi. Tapi bukan saya yang merealisasikan pada revolusi aksi.
> 
> Saya seorang pemikir. Saya hanya menulis teori revolusi. Saya seperti Karl Marx yang 
>menulis
> Das Kapital. Saya ingin menulis Das Kapital versi Islam. Kemudian datang orang 
>seperti
> Lenin, Stalin, dan Mao Zedong yang mewujudkan revolusi. Lihatlah Revolusi Prancis. 
>Saya
> seperti Voltaire, Rousseau, dan Montesquieu. Mereka semula berbicara tentang 
>revolusi,
> kemudian terjadilah Revolusi Prancis.
> 
> Tapi, revolusi aksi bukan hal yang terlarang dalam pemikiran Anda?
> 
> Tidak dilarang. Cuma, saya tak punya waktu untuk melakukan revolusi aksi. Saya guru 
>besar
> perguruan tinggi. Saya lebih concern pada jalur pemikiran dan ideologi. Saya tidak 
>bisa
> membuat teori revolusi sekaligus merealisasikannya. Ini perlu umur tambahan.
> 
> Saya baca, Anda juga terinspirasi oleh Ali Syari'ati.
> 
> Tidak terinspirasi. Tapi saya hidup satu masa dengan dia di Paris. Dia menghidupkan 
>revolusi
> di Iran, sebagaimana saya menghidupkan revolusi di dunia Sunni.
> 
> Apakah Anda juga berobsesi seperti Ali Syari'ati. Seorang pemikir sekaligus penggerak
> revolusi aksi?
> 
> Tidak. Tak seorang pun ingin menjadi seperti orang lain. Saya bukan tipe tukang 
>taqlid
> (meniru buta). Saya bukan Karl Marx. Saya bukan Ali Syari'ati. Saya Hassan Hanafi. 
>Seorang
> pemikir tidak taqlid pada orang lain. Tapi saya dan Ali Syari'ati berjalan pada 
>jalur yang
> sama dalam mendorong revolusi Islam, revolusi kebudayaan, dan revolusi realitas 
>sosial.
> 
> Anda punya perhatian khusus pada Indonesia? Revolusi jenis apa yang relevan untuk 
>Indonesia?
> 
> Ya, revolusi pemikiran. Di Indonesia masih ada pemikiran taqlid-konservatif yang 
>dipelajari
> para mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar Mesir. Mereka lebih dominan memakai 
>metode
> naql (normatif) dan metode hafalan. Tapi ada minat pada sebagian mahasiswa Indonesia 
>untuk
> berkenalan dengan pemikiran di luar Al-Azhar. Seperti pemikiran saya, Arkoun, Ali 
>Syari'ati,
> Abed Al-Jabiri, atau Husain Marwah. Mereka mengambil dari dunia Arab wacana revolusi 
>dan
> Post-Fundamentalisme.
> 
> Cuma, tantangannya bukanlah bagaimana mengambil dari dunia Arab atau dunia lain, tapi
> bagaimana memikirkan dan mengidentifikasi problematika di Indonesia. Seperti soal 
>integrasi
> nasional, soal dialog antara Islam dan Budha, Konfusianisme, Nasrani, dan
> kepercayaan-kepercayaan lokal di Jawa atau Sumatera. Ini tema-tema pemikirannya. 
>Tauhid
> berasal dari Kitab dan Sunnah. Tetapi mereka harus memahaminya dengan konteks 
>politik dan
> sosial-budaya Indonesia. Bukan dengan menukil pemikiran Kiri Islam. Mungkin saja di
> Indonesia bisa muncul pemikiran yang lebih baik dari Kiri Islam.
> 
> Ya, penukilan itu barang kali untuk permulaan
> 
> Mungkin permulaan, tapi kalian misalnya bilang tentang pengaruh Muhammad Abduh, 
>Afghani,
> Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna, atau Sayyid Qutub, tetapi mana pemikir Indonesia? 
>Seperti yang
> terjadi di Turki, mereka hanya menyebutkan pengaruh dari Abduh, Afghani dan 
>lain-lain. Lalu
> di mana pemikir Indonesia? Mana pemikir Turki? Yang mengkritisi Musthafa Kamal 
>Attaturk dan
> mengkritisi konservatisme sembari mencari jalan ketiga. Seorang pemikir harus menjadi
> pemikir nasionalis. Memikirkan bangsanya. Karena itulah saya beri nama buku saya 
>terakhir,
> Humum al-Fikri wa al-Wathan (Kegelisahan Pemikiran dan Kebangsaan).
> 
> Saya baca dalam proyek pemikiran Anda bahwa Anda menolak tasawuf, karena tasawuf 
>menyebabkan
> apatisme. Tapi faktanya, banyak revolusi justru lahir dari tarekat sufi. Bagaimana 
>ini?
> 
> Pada sebagian negara, seperti Maroko, Tunisia, kasus Mahdi di Sudan, Rifa'iyah, 
>Syadziliyah,
> dan Naqshabandiyah di Usbek, tarekat-tarekat itu mempunyai pengikut besar. Mahdiyah 
>di Sudan
> punya pengikut. Sanusiyah di Libya punya pegikut. Naqshabandiyah di Asia Tengah juga 
>punya
> pengikut. Banyak orang suka jalan sufi, demikian juga di Maroko. Seperti Thaha 
>Abdurrahman,
> pemikir rasional asal Maroko, yang berusaha seperti Abed al-Jabiry, tapi tidak 
>berhasil.
> Lantas apa yang ia lakukan? Kemudian dia mendirikan tarekat Rahmaniyah yang diikuti 
>banyak
> orang. Kalau saya ingin, saya akan mendirikan tarekat Hanafiah. Tapi saya tidak mau 
>tarekat.
> 
> Tarekat adalah media mewujudkan kepuasan batin manusia dalam kerinduan yang bersifat 
>taqlid
> melalui seorang syaikh tarekat yang punya kharisma dan mempunyai mu'jizat. Agama 
>bersifat
> komunal. Bagaimana Islam masuk ke Afrika? Ya, lewat jalur tasawuf. Jadi revolusi yang
> berlangsung dari tarekat semacam ini, adalah revolusi melalui magisme dan 
>pengorbanan jiwa
> (al-Fida'). Tapi yang saya inginkan revolusi kesadaran, revolusi pemikiran, revolusi 
>analisa
> sosial, revolusi penakwilan nash. Ini semua tidak bertumpa pada magisme, mu'jizat dan
> pengorbanan jiwa.
> 
> Jadi, penolakan Anda hanya pada sebagian tasawuf?
> 
> Hanya sebagian. Ada juga tasawuf yang progresif, seperti Umar Mukhtar, Sanusiyah, dan
> Mahdiyah. Ada jenis tasawuf seperti Al-Hallaj, seorang sufi, tapi ikut dalam revolusi
> Qaramithah di Baghdah.
> 
> Hallaj termasuk Kiri Islam?
> 
> Ya, termasuk Kiri Islam. Karena dia bilang, "Siapa yang terlibat dalam revolusi 
>Qaramithah,
> melawan kaum kaya Qaramithah, mereka adalah orang-orang mustad'afun." Namun 
>masyarakat
> menghukumi Hallaj sebagai kafir sehingga ia disalib. Itu bukan karena sebab agama, 
>tetapi
> karena politik. Tasawuf mungkin saja akan menjadi tasawuf progresif, tapi mungkin 
>juga
> menjadi tasawuf pasif, tidak dinamis, dan terkait dengan tradisi taqlid.
> 
> Toh, realitas sekarang, sufisme menjadi trend minat masyarakat kota. Bagaimana 
>rekonstruksi
> Anda tentang tasawuf?
> 
> Saya menulis buku tentang tasawuf berjudul Min al-Fana Ila al-Baqa' (Dari Fana menuju
> Baqa'). Puncak tujuan kaum sufi adalah fana. Fana pada Allah. Artinya, meleburkan 
>diri pada
> Allah, menyatu dengan Allah, seperti konsep Nirwana dalam Hindu. Saya tidak demikian.
> 
> Saya menginginkan baqa' di bumi. Beramal di bumi. Saya pernah ke Borobudur. Di sana 
>ada
> tempat ibadah besar bagi orang Budha. Saya mendaki ke puncak tempat itu, kemudian 
>seorang
> guide tanya pada saya, "Apa yang Anda rasakan ya Ustadz? Apakah Anda merasa bersama 
>Allah?
> Menyatu dengan Allah? Fana dalam Allah?"
> 
> Saya katakan, "Tidak. Saya ingin kembali ke bumi. Kekal bersama kaum fakir, miskin, 
>dan
> kalangan pengangguran." Bagi saya, dalam tasawuf, saya tidak mementingkan fana, tapi 
>baqa.
> Bukan sabar, tawakal, wara' (rendah hati), ridha, khauf (takut), dan khashyah 
>(khawatir).
> Tidak. Ini semua sikap-sikap pasif-negatif. Saya menginginkan tasawuf yang berarti
> mu'aradhah (oposisi), rafdh (penolakan), kemajuan, dan revolusi. Saya menginginkan 
>tasawuf
> jihadi (progresif), dan bukan tasawuf istislami (pasif).
> 
> Anda mengajarkan tasawuf jenis ini pada komunitas tertentu?
> 
> Tidak. Saya hanya mengajar di Universitas. Saya hanya membimbing pada jalur 
>pengembangan
> ilmu. Namun mungkin ada lain yang mampu mengembangkan tasawuf ini pada komunitas 
>khusus,
> seperti kaum tani dan buruh. Saya hanya menulis teori revolusi. Tapi mungkin saya 
>tidak
> menyelenggarakan revolusi. Saya seperti Karl Marx yang menulis Das Kapital. Saya 
>ingin
> menulis Das Kapital versi Islam. Kemudian datang orang seperti Lenin, Stalin, dan 
>Mao Zedong
> yang mewujudkan revolusi.
> 
> Berarti, kritikan Issa J. Boulata bahwa tulisan-tulisan Anda terlalu teoritik, tidak 
>salah?
> 
> Mungkin. Tapi saya punya banyak pengikut di Indonesia, Maroko, Al-Jazair, Sudan, 
>Lebanon,
> Yordania, Tunis, Iran, dan Malaysia.
> 
> Ngomong-ngomong, waktu bertemu Presiden Sabtu (26/5) lalu, apa yang Anda 
>perbincangkan?
> 
> Kami bicara tentang Indonesia. Tentang pemikiran keislaman kebangsaan Indonesia. 
>Tentang
> upaya mendesak mempertahankan integrasi nasional. Tentang pembentukan Pusat 
>Pemikiran Baru
> Islam --seperti IIT (International Islamic Thought) di Kualalumpur-- untuk pemikiran 
>masa
> depan Indonesia. Kami juga bicara tentang Prisma. Ini Jurnal Kiri Islam ala Indonesia
> sebelum Hassan Hanafi bikin jurnal Kiri Islam.
> 
> Siapa yang kasih tahu Anda tentang Prisma?
> 
> Ya, Abdurrahman Wahid. Dia terjemahkan sebagaian makalah saya di Prisma. Dan dia 
>memberikan
> penghargaan pada saya tahun 1985. Saya kenal Prisma dari kiriman via pos. 
>Sebagaimana saya
> tahu jurnalnya Chandra Mudhaffar dan Qasim Ahmad di Malaysia. Itu Kiri Islam ala 
>Malaysia.
> Kiri Islam ada di setiap negara. Tapi dengan nama yang berbeda-beda.
> 
> Bisakah Abdurrahman Wahid disebut sebagai pengikut Kiri Islam?
> 
> Dia sebagai tokoh NU berada pada posisi tengah. Antara kiri dan kanan. Dia pernah 
>mengadukan
> keinginannya untuk menghidupkan wacana kiri di NU, tapi kemudian yang demikian 
>dianggap
> nakal dan membangkang.
> 
> Ada tujuan khusus menemui Gus Dur?
> 
> Tidak. Dia teman saya. Setiap kali saya ke Indonesia, saya menemuinya. Setiap dia ke 
>Kairo,
> dia menemui saya. Sama. Baik sebelum menjadi Presiden maupun sesudahnya. Saya 
>menghormatinya
> sebagai pemikir dan pemimpin organisasi keagamaan berpengaruh. Hubungan saya dengan
> Abdurrahman Wahid seperti hubungan saya dengan Arkoun, Nashr Hamid Abu Zayd, Abed 
>al-Jabiry,
> dan Tayeb Tazini. Abdurrahman Wahid, seperti Nurcholish Madjid, merupakan pemikir 
>terkemuka
> di Indonesia, terlepas dari jabatan politiknya.
> 
> Kabarnya, kunjungan Anda kali ini karena ada rencana membuat tulisan khusus tentang
> Indonesia?
> 
> Benar. Saya mau menulis tentang Islam dan masa depan Indonesia. Tapi, sebelumnya 
>saya ingin
> membaca aliran pemikiran di Indonesia dan buku-buku kemasyarakatan dan ekonomi 
>tentang
> Indonesia. Saya juga mengamati Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Indonesia. 
>Akhirnya, saya
> akan menyusun dari semua itu untuk menemukan apa yang saya sebut sebagai Kiri Islam
> Indonesia.
> 
> 
> Wawancara ini diambil dari Gatra.com, Jakarta, Selasa, 05-06-2001 19:01:32

Kirim email ke