<maaf mail ini panjang banget.....>
----- Original Message -----
From: "Amien Sunaryadi" <[EMAIL PROTECTED]>
Ki,
Kalau pak aparat yang sedang merasa TOP itu ngejar.., dan kalau yang dikejar masuk
"lokalisasi" buat
berlindung..., kira-kira pak aparat itu akan
"nembak" di lokalisasi enggak ya? He he he he...
----------------------------------------
KDP:
Ah, membikin masjid buat berlindung itu kan juga per-
buatan merasa TOP juga kan dari sementara umat
beragama? Wong tempat sujud kok dibuat berlindung.
Waktu masuk masjid lepas sandal eh.. sepatu nggak
ya Mas? Jangan-jangan sambil masuk masih juga
khawatir kehilangan Sandal... eh.. Sepatu?
Soal merasa TOP itu kan jelas dapat dirunut dari peris-
tiwa yang belum lama berselang. Yi. apel besar polda
dan kostrad (?) dengan panser yang dihadapkan ke
istana, menyusul pernyataan 102 (apa 112?) pati Polri
yang menyusul penonaktifkan Kapolri itu lho, Mas.
Tapi ini juga ndak serius, wong cuman othak-athik lagi.
Jadi kurang didukung oleh literatur ilmiah blas. Cumak
memperhatikan perilaku orang yang merasa menang
saja. "Istana saja tak arahi panser ndak brani protes
kok... " Yaaah, kayak BK dulu yang ngonfrontasi
Tengku (apa benar kepada Malaysianya?) setelah
merasa TOP berhasil 'merebut' Irian Jaya. Sama lah de-
ngan DPR yang merasa TOP berhasil mengegolkan
Pansus BB-gate menjadi Memo I, buat apa ndak bikin
Memo II, dan buat apa ndak diterusin bikin undangan
SI, wong yang diundang 71% dirinya sendiri, dan yang
29% itu dalam kondisi sebagai fraksi-persiapan...
Eer... fraksi? Ah ini kan disebut sebagai salah satu
kekeliruan DPR dalam disiplin Kelirumologinya Jayasu-
prana? Fraksi itu kan pecahan-2 katanya.. kok bukan
FAKSI? Selanjutnya sama lah dengan AR yang me-
rasa didukung oleh 90% DPR, maka merasa syah
bicara SI pantas dipercepat? Lopa.. eh, salah lupa
bahwa dulu dia pernah menyatakan "Setelah dibolak-
balik 'buku ini' (maksudnya sambil memperagakan
membolak-balik lembaran buku Tatip MPR) ternyata
tidak ditemukan 'pintu' untuk mempercepat SI.." (waktu
itu mah karena belum memo-memo dan rapur-rapur
DPR ya?).
----------------------------
Ki Denggleng, berhubung kang Babat sedang beli rokok di warung sebelah, saya
nimbrung ya. He he he he he............. habis kang Babat enggak bilang perginya ke
mana dan sampai kapan.
--------------------------------------
KDP:
Ah bliauw sudah aktif kok. Tapi bukan di milist ini,
melainkan ikutan Kang Alliq ngomongin Ekonomi di
milist-nya para santri dan kontra-santri.... hehe.
----------------------------
Mahasiswa (general view):
1) Misinya lebih bernuansa "berjuang", entah melawan
siapa, pokoknya yang dipandang enggak sesuai
dengan hatinya ya dilawan. Kalau mhs Amrik, lebih
fokus untuk mendapatkan kompetensi dan lulus
sekolah dengan GPA tinggi.
---------------------------------
KDP:
Hahak, hari ini di kantorku ada syukuran atas kelulusan
53 sarjana pertanian, disiplin Agronomi. Suatu disiplin
ilmu pertanian yang kini terbagi-bagi menjadi banyak
program-studi. Jadi menganut sistem profesionalisme
lah, maksudnya. Tapi hasilnya malah ndak keruan, kare-
na masing-masing program jadi mengkotak-kotak...
Akibatnya dalam jurusan yang sama-pun perolehan
nilai UTS dan UAS (ujian tengah dan akhir semester)
jeblog-jeblog justru pada matakuliah ciri khusus jurusan-
nya. Sebagai akibat Mahasiswa menjadi serba
tanggung dalam meramu bekal ilmiah setelah lulus
nanti. Perolehan IPK diatas 3.0 tak lebih dari 20%. Tapi
ndak apa-apa kan Mas, wong di lapangan kerja juga
masih srabutan (ada loh tetangga kampung, begitu lulus
sebagai sarjana pemuliaan tanaman dari Bandung,
malah jadi tukang batu.. kalau kontraktor atau paling
tidak mandor masih mending, lha ini cuman 'tukang'
batu?).
Toh nanti setelah di luar cukup lumayan kerja dapat
kursus MM, MMA, MA dan M-M yang lain toh Mas.
Ndak penting lah kedisiplinan professi sesuai back-
ground S-1. Yaa tidak heran kan kalau seorang penga-
cara beken yang menjadi kuasa hukum partai besar
negeri ini dalam sidang tuntutan pembubarannya di MA
menyatakan bahwa 'Tuntutan pembubaran itu bernuan-
sa POLITIK'... hahahaa... lha yang dituntut bubar itu
partai politik kok tuntutannya tidak boleh bernuansa politik? itu kan nDlahom bener.
Dan khalayak yang
sudah ndak mudeng blas sama ocehan-2 begitu malah
terprovokasi. Sedang kenyataannya orang tahu bahwa
buat mbayar pengacara itu perlu dana buessaaar,
ada juga yang ngomongin saya bahwa kelompok-2
pengacara beken itu ibaratnya mobil mewah hanya
menjadi koleksi.... Nah suatu partai mampu membayar
rombongan pengacara 'muahuaaal' begini kok ngaku
bersih?
Weeeh.. malah ngalor bin ngidul.. yang jelas salah satu
lulusan terbaik kampus kami, yang 2 tahun di atas ku
telah berhasil menjadi GURU BESAR dari UMB dengan
perayaan 'penginjakan' mobil dinas AR.... dan hasilnya
mahasiswa penginjak yang anakhis itu... (lha wong mo-
bil itu diberhentikan malah supirnya nekat nrajang je?)
kena hukuman PHK (putus hubungan kuliah)... hahah.
UMB, Universitas Mawut Bener... ini juga berhasil
men-drain tenaga-tenaga akademis kampus kami
lho... ndak baen-baen.. malah seorang profesor yang
kini malah blas ndak pernah ngantor. Tapi daftar gajinya
kok rajin ditanda-tangani? Pssst.... beliau itu mantan
menteri lho..... yang pensiunnya dah pasti lebih tinggi
dibanding gaji-nya sebagai PNS, apalagi honornya
di UMB... wuiiiik enak betul. PNS masih dihitung aktif,
menghonorerkan diri di UMB, dapat pensiun menteri..
dan jadi expert sana-sini... (ampuuuun ngrasanin kok
senior...)
[mail Sampeyan tak delete sisanya ya Mas.. puanjang
banget je!]
Lagi tentang kedisiplinan pada jalur disiplin ilmu kan
kuendor betul di kita ini. Tak jauh-jauh lah, menteri
kehutanan sekarang siapa? Mantan menteri kehutanan
kita malah ahli daging... hehehe. Kabarnya sekarang
telah jauh lebih 'mblegedhu' (istilah sangat kaya) diban-
ding dulu ketika hanya sekedar staf BPPT maupun
presiden partai. Weleeeh... lulusan kampus-ku juga
yah... ?
Dus kadang-kadang aku ini sering cengengesan
sendiri. Bahwa karena kampus itu dipimpin oleh seo-
rang REKTOR, maka jadinya ya cuman REKTUM,
lubang pelepasan. Setelah lepas ya terserah nasib
masing-masing. Mau kemampul sepanjang Ciliwung
boleeeh, mau nyemplung ke toilet boleh... dibuang
di udara dari toilet pesawat OK....
Atau dimakan anjing!
Lagi-lagi kan di kita ini banyak para tokoh lintas pro-
fesi akademis toh Mas. Tuh Menkeu misalnya. Atau
mantan Menkeu.... Nah yang di luaran ada lagi contoh
haibat seorang doktor (konon asalnya insinyur dan
ngajar di UI juga fakultas teknik ya?), itu lho adiknya
Sri Edi Swasono. Saking bernafsunya merasa lebih
pandai dibanding AR, AW, AT dan MW, menganjurkan
adanya amandemen UUD 45 pasal 6 ayat 2, menjadi
"Presiden dipilih langsung oleh rakyat"... hahaha hebat
kan.... dan pasti ini didukung oleh banyak orang...
plok-plok-plok.... Sementara dia lupa bahwa selama
Bab I tentang Kedaulatan tidak diubah pula, maka
anjuran amandemen itu ndak nyambung.. lha wong
"Kedaulatan dipegang oleh rakyat dan dilaksanakan
oleh MPR" kok.... maka harusnya MPR-lah yang harus
murni dipilih oleh rakyat juga ya... berarti ketentuan
pasal keanggotaan MPR perlu juga diamandir... artinya
apa... ganti semua 'batang tubuh UUD dengan yang
lebih pas, pasti, lurus dan teguh, seperti bunyi pasal
37, aturan peralihan dan aturan tambahan-nya itu.
Kampus-kampus sekarang selain jadi Rektum, juga
terkesan seperti APOTIK. Apa pesan pasien eh..
pembeli lewat resep dokter, akan dibuatkan. Hitung
saja jumlah program studi masing-masing perguruan
tinggi. Apalagi yang pendidikan setingkat master....
malah ada iklan dari Universitas Negeri Anu.. yang
sampai Bogor (dulu IKIP ya?) pakai spanduk dengan
jelas menulis "Bisa selesai hanya dengan 7 SMT"..
lho ini kan menyalahi undang-undang pendidikan nasio-
nal? Juga di kampusku ikutan jualan semester alih
tahun dengan spanduk "Ingin cepat menyelesaikan
kuliah? Hubungi Umar dan Amir.... " (maksudnya buat
daftar kuliah alih tahun yang hanya 2 bulan tapi bobot
sks-nya setara dengan reguler... asal mau bayar
kuliah...dengan hitungan per-sks.
Wis ah, dah kepanjangan.. nanti dikira apa..yang jelas
untuk mutu Pulisi, ada contoh berita menggelikan ten-
tang diketemukannya 'bom' dalam KRL. Bahwa tim
gegana berhasil menjinakkan BOM itu dengan mele-
dakkannya di suatu lapangan sepak bola. Kemudian
ada sambungan "Sampai kini petugas belum bisa
menentukan jenis bahan peledak bom tersebut.."
Hahahaa..... lha sudah meledak diselidiki.... apa
ndak bisa dari BAUNYA? kalau suaranya kan sama
ya Mas... sama-sama Bluuuuuemrrrrrrrr...!
pareng,
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--