--- Jajang C Noer <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> tadi sekitar jam 12--
> tadi ketika saya melewati jl panglima polim (sekitar
> dekat 5 a sec),
> rupanya habis terjadi tawuran anak smp. SMP! jalanan
> penuh batu, kecil,
> besar, batu bata. dan anak2nya (laki semua) kecil2,
> rasanya bangsa kelas
> satu. mobil2 tidak ada yang berani lewat. orang2
> dewasa (termasuk satpam
> kantor2 sekitar sana) pada malohok melihat. (ya
> memang, mereka bisa apa?)
> tidak ada polisi sama sekali.
> saya melanjutkan perjalanan. hati yang tadi ceria,
> kusut lagi.
>
> ketika saya belok dari jembatan tomang, ke kiri ke
> jl biak (mau ke
> roxy),juga kelihatan barusan saja terjadi tawuran.
> anak2 smp (this time
> nggak begitu kecil --kelas 2 rupanya) sedang
> berlarian ke segala penjuru.
>
> saya telpon ratna --bicara. telpon erry, untung dia
> bisa terima.(er, apa
> dong yang konkrit segera bisa dilakukan?)
>
> sekarang. kepala saya juga jadi kusut.
>
---------------
Bagaimana kalau full-day school ? Dengan begitu mereka
terus-menerus berada dalam pengawasan guru-guru
sekolah. Sabtu bisa diliburkan, karena beban pelajaran
sudah diserap selama 5 hari. Tawuran terjadi karena
mereka secara bersamaan berada dalam sebuah kerumunan,
sementara hari masih panjang, belum tahu mau ke mana
acara mereka saat itu.
Bubaran sekolah pun bisa diatur agar tidak bersamaan.
Bisa diatur pula jam mulai masuknya. Dengan begitu
kelompok mereka terpecah dalam fragmen-fragmen yang
kecil, yang cukup untuk membuat mereka rada jerih.
Beda kalau mereka merasa jumlahnya besar, sehingga mau
ngapain juga berani aja.
Juga lakukan survai ke masing-masing keluarga mereka,
antara lain untuk cari tahu, dengan cara apa mereka
berangkat dan pulang sekolah. Hasil survai tersebut
bisa dibuatkan program antar/jemput yang benar-benar
jauh dari peluang lepas kendali. Saat berangkat dan
pulang benar-benar saat di mana mereka sama sekali
lepas dari pengawasan, baik sekolah maupun orang tua.
Jangan salahkan kalau provokator gampang masuk.
Bus sekolah, patut dipertimbangkan. Bisa dibeli oleh
sekolah, dan berlangganan. Sponsor bisa juga diminta
bantuannya.
Jangan lupa, polisi dan kamtib slalu disiapkan pada
saat-saat genting tersebut di setiap sekolah. Dengan
demikian, setiap ada tanda-tanda mau ada tawuran bisa
segera bertindak, seperti minta bantuan pasukan
tambahan.
Agak sedikit nyleneh, bisa dipikirkan pulang dalam
bentuk baris, sambil belajar baris-berbaris serta
disiplin. Bentuk konvoi motor, yang terarah
masing-masing ke arah rumah, kalau mau agak edan, bisa
dicoba.
Bersihkan batu-batu di kawasan sekolah, dan razia
tas-tas sekolah sebelum pulang.
Jelas solusi ini agak membuat repot. Bisa dikurangi
atau ditambah. Namanya juga usul, mbak Jajang....
=====
+==========================================================+
| Sugih durung karuwan, sombong didisikno... |
| Nek kate banyolan, http://matpithi.cjb.net ae, rek... |
| Jugak boleh ke http://www.itjurnal.com, soal IT |
+==========================================================+
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get personalized email addresses from Yahoo! Mail
http://personal.mail.yahoo.com/
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--