----- Original Message ----- 
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, July 01, 2001 8:52 AM
Subject: [SP] Re: PALAGAN #2---> Prasetya...!!! 


| "Ki Denggleng Pagelaran" <[EMAIL PROTECTED]>:

[Ketika mendekati Setyaki yang tengah duduk bersila di tempat kusir kereta 
Kyai Jaladara, Sri Kresna melihat Raja Awangga lewat. Maka ia segera 
 mengejarnya sampai ke tepi bengawan Yamuna.]
 
 "Adik Basukarna, saya yang datang, Dik."
 
 "Wah, silakan Kakak Prabu, hamba menghaturkan selamat Paduka telah berhasil 
 menyebabkan para Kurawa gemetar ketakutan, Kakak Prabu. Hamba menghaturkan 
 takzim..."
 
 "Wee lha, belum-belum diriku ini sudah disindir oleh Raja Ngawangga .... 
 hehe ... tidak, Adik hendak pergi ke mana?"
 
 "Kakak Prabu, karena pengabdian hamba sudah tidak diperlukan, hamba akan 
 mengheningkan cipta di tepi bengawan Yamuna, Kakak Prabu. Seperti yang 
 sudah-sudah. Hamba akan bersamadi di tempat dahulu Ibunda Rada mengangkat 
 kotak mulia yang berisi jabang bayi bernama Suryatmaja, Kakak Prabu."
 
 "O, begitu ... ya sudah, silakan ... Tapi boleh 'kan saya mengiringkan Adik 
 Prabu, sambil berbicara mewakili adik-adikku para Pandawa?"
 
 "Pembicaraan yang bagaimana lagi? Bukankah yang jelas adik-adik hamba para 
 Pandawa nanti akan memperoleh kemuliaan kembali dalam bentuk negara 
 Ngastina Separuh?"
 
 "Ya, sekehendakmulah ... mari saya temani naik kereta Kyai Jaladara ini ...."
 
 [Kedua orang besar itu pergi ke tepi sungai Yamuna, dikusiri oleh Harya  Setyaki. Di 
tempat yang biasa, Prabu Basukarna segera duduk ditemani oleh  Sri Kresna.]
 
 "Mohon maaf, adik-adik hamba Pandawa ingin berbicara bagaimana, Kakak  Prabu? Apakah 
ingin memberikan kehormatan kepada diri hamba dengan  bersemayam di salah satu 
kasatriyan atau wilayah perdikan Ngastina Separuh  nanti, Kakak Prabu?"

"Lho, 'kan nekat saja. Yang mau membelah dua Ngastina itu siapa?"

"Lha, tadi tentu Adik Kurupati gemetar ketakutan menyaksikan Raksasa  Kesawa, lalu 
bersedia menandatangani Surat Pernyataan, begitu 'kan, Kakak Prabu?"

"Wee lha, Adik ini kebablasan menghujat orang tua. Tidak ada Surat  Pernyataan, Dik 
... Ternyata Perang Barata akan segera berkecamuk. Oleh  karena itu kakak ini mendapat 
pesan titipan dari Adik Darmakusuma, apabila tugasku sebagai duta gagal, agar Adik 
bersedia hijrah ke Wirata. Bersatu  dengan adik-adik dari ibu yang sama, Dik. Adik Aji 
tidak tega dan tidak bersedia berperang melawan saudara tua."

"Wah, hmmm ... namanya sudah terlanjur, jadi seperti ini nasib Basukarna.  Harus tega 
memutuskan persaudaraan secara lahiriah ... Duh, Kakak Prabu, izinkan hamba 
menyampaikan ... juga ini sebagai pesan bagi Adik Samiaji dan adik-adik hamba para 
Pandawa ... Hamba tidak dapat memenuhi kehendak Adik Puntadewa, Kakak Prabu."

"Lho, apa sebabnya, Dik?"

"Kakak Prabu, bila saya bersatu dengan Pandawa, saya percaya Kurupati akan  
membatalkan Bharatayuda. Karena, terus terang, keberanian Kurupati itu justru saya 
yang mengobori ..."

"Lho, alasannya?"
 
 "Hamba hanya ingin menepati janji hamba yang dapat mengangkat saya ke dalam golongan 
kesatria. Oleh karena dulu hamba ini cuma dianggap 'anak kusir'.  Memang, hamba tidak 
bisa menyalahkan siapa pun; mungkin ini adalah karma 
yang harus saya sandang, Kakak Prabu."
 
 "Oh, janji? Janji yang bagaimana, Dik?"

"Hamba ingin menepati janji dan membayar semua hutang budi hamba. Hamba  bisa menjadi 
adipati di Ngawangga oleh karena diangkat sebagai saudara oleh Kurupati. Jadi hamba 
harus menjaga orang yang sudah memberi budi kepada 
 hamba, Kakak Prabu. Juga hamba harus menepati darma ksatria untuk membasmi angkara 
murka ..."

"Weelah .... nanti dulu. Adik ingin membalas hutang budi itu memang benar, tapi 
prasetyamu untuk membasmi angkara murka yang menyatu dengan Kurawa itu penalarannya 
bagaimana, Dik?"
 
 [Basukarna tersenyum ... merasa dipojokkan oleh Sri Kresna. Maka ucapnya ...]
 
 "Kakak Prabu, Kurawa itu gudangnya angkara, hampir setiap orang tahu. Sampai hamba 
sendiri terseret-seret dianggap pelindung angkara; ya tidak dapat hamba mungkiri, 
karena kenyataannya hamba ini orang Kurawa, dan juga 
 melindungi mereka ..."
 
 "Lha, mengapa begitu?"
 
 "Terus terang saja, Kakak Prabu ... Hamba ini sudah tidak mampu mengalahkan angkara 
murkanya Kurawa. Tetapi hamba ini orang dalam. Yang dapat hamba lakukan tiada lain 
ialah mengharapkan pecahnya Baratayuda ..."

"Wee lha, kalau begitu Adik tega terhadap adik-adikmu? Apa karena niatmu memang ingin 
perang tanding melawan Permadi?"
 
 "Kakak Prabu, kalau perang tanding tadi mewujudkan sarana bagi janji hamba menepati 
ksatria hamba, di mana salahnya?"

"Apakah Adik tidak menyadari dan tahu bahwa Pandawa itu tidak berani perang tanding 
melawan Adik?"

"Seribu maaf ... Derajat Basukarna itu apa dibandingkan Sang Mahatma Bisma.... Padahal 
apabila Baratayuda pecah, mau tidak mau Mahatma Bisma, Guru Drona, Kripa, juga akan 
berhadap-hadapan dengan para Pandawa, Kakak  Prabu.  ... Apakah Kakak Prabu 
mengkhawatirkan bahwa Pandawa akan kalah perang melawan saya?"

"Ah, siapa yang tidak tahu akan kesaktianmu, Dik ... Apa ada senjata yang mampu 
menembus tubuhmu?"
 
 "Yah, berkat kewaskitaan Kakak Prabu dalam hal Aji Tirai Baja [kere waja]  ini yang 
menyebabkan hamba mengharap-harap pecahnya Baratayuda ... Yah,  oleh karena Kakak 
Prabu menjagoi Pandawa, hamba memastikan bahwa Baratayuda 
 ini menjadi sarana bagi hamba mencapai swarga .... Melalui tangan Permadi ini hamba 
dapat menemukan swarga, Kakak Prabu. Coba Paduka lihat, tubuh hamba ini memakai 
perlindungan apa?"

"Aaah ... Adikku, Adikku .... Basukarna ... begitu luhur budimu terhadap adik-adikmu 
pribadi yang sayangnya tidak memahami dirimu ... Duh, Dik ...  sungguh berat karmamu 
.... Saya hanya turut memohonkan kasih sayang dewata 
agar terlaksana prasetyamu, Dik .... Kakak mohon pamit ...."
 
 [Berlinang air mata Sri Batara Kresta ketika melihat Basukarna sudah tidak  
mengenakan busana 'Tirai Baja'.]

Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
 terjemahan dari bahasa Jawa oleh: hudoyo
 



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke