RP: "mBaaah.. ngapain pagi-pagi bukannya segera mandi
atau apa malah ndlahom menthelengi berita koran?"
BS: "Hayaaaaah.. nJenengan itu lho Den.. Sak plok ganti na-
nama jadi Ki Glendheng Nalapager kok jadi gitu. Ndak ka-
yak dulu, criwis komentar kalau ada berita-berita. Lha ini
ada berita menyedihkan wong sak Ngendonesiah kok
diem saja?"
LO: "Iya ya Lek, Den Ragil kok sekarang banyak antengnya.
Di mailing-list juga malah nguawur thok ngirim ceramah
agama, atau debat masalah taneman.... wong negaranya
kayak gini kok ajak-ajak mikir taneman ya Lek?"
RP: "Lha terus aku suruh gimana? Soal pimpinan negara,
orang aku ini ndak bakat dan jago ku sudah kalah sebe-
lum bertanding. Itu lho Pak Ngarso Sultan Jogja itu.... kan
hebat. Akhir-akhir malah memprakarsai ancaman nga-
nyelke, 'jangan membawa permasalahan jakarta di
daerah-daerah' bersama dengan gubernur-gubernur
jawa-bali-lampung itu kan sebetulnya Gendheng Poll?"
BS: "Hyaaak Den Ragil ki... mesti kalau masalah kepemimpin-
an negara nyautnya ke Ngarso Dalem. Hehehee... men-
tang-mentang masih trah Kasenopaten apa ya Le?"
LO: "Iya mungkin Lek. Kan abunya lebih tua Den Ragil? Haha-
hahahaaa... hehehe... Den Ragil mbabraaak.... "
DR: "Huuuu... ra ngurus... terus tadi itu ngapain mBah, kok
ndlahom ndak jelas fokusnya gitu?"
BS: "nDak pokus-pokus politikus apa Den? Wong jelas saya
tadi sediiiih, baca berita Sang Adyaksa Agung Seda,
gitu lho.... Njenengan enak sempat baca di internet.... lha
sekarang kan saya ndak berani ngriwuki nginternet kayak
dulu.... Duh, kok ya cepet-cepet berangkat ya Den, Pak
Lopa itu?"
DR: "Lah aku kan cukup mengucap (dan menulis) Inna lillaahi
wa inna ilaihi raaji'uun. Lha memang kersane Gusti Allaah
begitu, kan bagus sebetulnya?"
LO: "Lhooo... Den, gimana sih wong Pendekar Hukum wafat
sebelum pertandingan menentukan berlangsung kok
bagus to Den. Bukannya malah ikutan protes? Kenapa
harus Pak Lopa yang duluan.. wah piyeee kuwik.. kata-
ngelmuwan kok glendheng gitu sih?"
BS: "Ho-o ya Le? Orang kalau dikenal baik dan lurus itu mati-
nya disesali. Kalau yang jelek, masih hidup saja banyak
yang ingin segera dimatikan. Tapi kok ya adaa saja yang
mempolitisir kematian seseorang ya Le?"
RP: "Hahaha... makanya tuh mBah Soel sudah memberi tahu
kan Lek. Oooo Lek, kalau diperhatikan kan dengan wafat-
nya Pak Lopa itu kan sebetulnya dibuka lagi lembaran
tabir kepalsuan. Siapa yang sedih betulan, siapa yang
pura-pura dan sebetulnya menjadi tantangan bagi pewa-
risnya untuk meneruskan langkah-2 awal Pak Lopa men-
jadi kenyataan... Tegaknya hukum di negeri yang nomor
dua paling ngetop dalam korupsi-korupsian ini, Lek...."
LO: "Apa ya gitu ya Den? Lek? Ah, seandainya Pak Lopa
di sana itu masih berwenang menyaksikan pewaris ja-
batan dan jajarannya, mungkin malu sekali bila langkah-
langkah awalnya dihentikannya, atau berbelok....Ah...
mudah-mudahan janganlah."
BS: "Iya Le.... jadikanlah penerusan langkah Pak Lopa itu
sebagai persembahan atau bakti bagi Almarhum oleh
pewaris dan jajarannya... Meski harus melibat kemana-
mana...."
------[RP : Ragil Pamungkas; BS : mBah Soeloyo; LO : Lek
Oein. RP adalah juragan; BS dan LO adalah wulu-cumbu
(WC) yang Waton Culoyo.....]
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--