Wah, 
kalau gitu selama ini aku salah ya? Kirain dulu itu AR bergitu
getholnya menjagokan GD sambil mengajak FB dan NMI ke-
liling tour de'NU sepanjang java-northern-coastal, karena ingin
menyelamatkan negara dari 'perngamukan' pendukung HBB
bila MW dinaikkan jadi presiden. Kan pendukung HBB ini ke-
banyakan adalah ilmuwan dan cendekiawan... ya sudah pasti
mantab dong pengetahuan tentang 'pekih dan srengatnya'...

Maklum bukan pengamat yang baik, sih. Dan rupanya salah
pula prediksiku dengan mengikuti berita mancanegara (dulu) 
yang gencar memberitakan 'bagi-bagi' kursi antara AR dan 
GD sesama tokoh yang didukung oleh partai nyaris gurem 
yang didukung gurem-gurem poros tengah, yang menyatakan
bahwa AR minta restu untuk duduk di kursi ketua MPR,
dan mendudukkan GD di kursi presiden sebagai salah satu
bagian dari gerakan ABM, yang salah satu ungkapan tokoh
partai 'nyaris gurem' lainnya pimpinan YIM: "Dengan cara
apapun akan saya jegal Megawati untuk menjadi presiden". 

Juga salah kali pembacaanku melihat tingkah GD yang plin-
plan didukung oleh PKB yang semula menjagokan MW tiba-
tiba ikutan mendukung GD, sebagai akibat gerakan AM.Sai-
fudin dengan ungkapan 'MW-Hindu', fatwa MUI 'presiden
wanita itu batal demi syara' (by DS), dan 'presiden Indonesia
harus putra terbaik' (by Hamzah Haz). Maklum semua berita
mancanegara sih (dulu), jadi pasti penuh konspirants.

Yang hasil pembacaan itu menuntun pada pendapat 
sederhana betapa naif-nya Prof. Dr. Amien Rais yang sudah
jelas menjadi ketua MPR mencungul-cungulkan GD dengan
hambatan kelemahan fisik dan psikis yang cukup fatal menjadi
presiden, sehingga kental dan nyata sekali beliau ikut arus
bahkan memimpin kepala-air (jawa: ndhas-ulo) dari banjir
bah Asal Bukan Mega, setelah merasa kecewa melihat
kenyataan PAN cuma dapat 7% kursi parlemen. Yang aku
ingat betul pernyataan beliau, sekali lagi di mass-media
manca negara (dulu), bahwa beliau akan introspeksi dan
melakukan konsolidasi PAN untuk merebut kesempatan
yang akan datang (maksudnya pemilu berikutnya), dan
terasa beliau malu sekali dengan proses debat calon calon
presiden yang pernah beliau lakukan bersama Dr Sri Bintang
Pamungkas dan Prof. Dr. Yusril I. Mahendra... Dan memang
terjadi perampingan tubuh DPP PAN dengan mundurnya
FB dan (salah satu temannya) IJP...;~)). ---> mungkin dalam
rangka menuju pemilu 2004 yang lebih baik dan efisien serta
bebas, seperti ungkapan AMF menanggapi mundurnya
FB dan kawan-kawan.

Akhirnya dapatlah kesimpulan ini... GD pengin jadi presiden,
karena dengan calon wanita, menimbulkan masalah di banyak
kalangan ummat Islam (PK, PBB, PAN, P-3), yang di wacana
diskusi luar negeri sempat terjadi 'pengkafiran' terhadap para
simpatisan dan pencoblos PDI-P. (sial, aku kena karena nyo-
blos gambar sapi gemuk itu...;=((). Dan PDI-P dalam rangka
mengurangi pengaruh itu merekrut AP yang dikenal sebagai
'boss' pertemuan beberapa cendekiawan muslim di salah
satu hotel di YGY, yang kena marah dari presiden HBB (dulu
masih sebagai wapres ding... atau masih menristek?). Walah,
malah kejauhan.

Maksudnya GD pengin menjadi presiden karena saingannya
adalah MW yang sebetulnya dan sebelumnya dia dukung buat
jadi RI-1, dengan alasan karena takut keadaan kisruh yang dihembuskan oleh para 
pendukung HBB yang konon berjumlah
7 kapal akan mendarat di teluk Jakarta bila MW naik.  AR
terkecoh sehingga menerima keinginan itu dengan syarat-
syarat tertentu, termasuk bersedia brenti di persekian jalan (by 
tulisan Mohamad Sobary), dan tingkah polah GD memang 
semakin melambungkan tokoh 'sirikan' MW yang kebetulan 
berjenis kelamin 'wanita'. Wanita haram menjadi pemimpin 
bangsa.... kan?

Pelambungan nama MW kelihatannya menyadarkan yang dulu
mengharamkannya sehingga sekarang telah syah, clear,
konstitusional dan membolehkan dan mendukungnya  menjadi
presiden. Maka salah besar bila kemarin ada tokoh yang 
mengungkapkan bahwa bolehnya MW jadi presiden karena 
DARURAT....

Ah embuh lah... kebanyakan memori dan catatan dari berita
manca negara (dulu) memang menyebalkan juga rupanya...

    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
----- Original Message ----- 
From: "Darwin Bahar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, July 31, 2001 4:14 AM
Subject: [indonesia_damai] Re: Gus Dur Tetap Menang


| AR memprovokasi GD untuk jadi Presiden? Ini sebuah dusta !. Fakta: GD 
| yang minta AR mendukungnya menjadi presiden. Prof Syafii Ma'arif 
| adalah saksi hidup mengenai hal ini.
| 
| Salam Damai, Darwin 
| 
| --- In [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote:
| > Tergelitik untuk ikut berkomentar :-) :-)
| > 
| > --- In [EMAIL PROTECTED], Nur Hidayat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
| > >                         GUS DUR TETAP MENANG :-)
| > > 
| > > 
| > > Pertama: "Saya Presiden Ethok-ethok"
| > > "Saya ini presiden ethok-ethok". Itulah kalimat yang sering 
| > diucapkan
| > > Gus Dur pada beberapa orang yang mengucapkan selamat kepadanya dan
| > > mewawancarainya, beberapa hari setelah terpilih menjadi Presiden 
| RI.
| > > Banyak orang menyangka kalimat itu adalah kelakar biasa ala Gus 
| Dur.
| > > Walaupun sebenarnya kalimat itu diucapkan karena Gus Dur cukup 
| sadar
| > > bahwa ia hanya dijadikan "bemper politik" di tengah mengerasnya
| > > pertarungan antara kubu Habibie vs Megawati yang tidak bisa 
| > ditengahi
| > > oleh Sang Profesor, Amin Raies.
| > 
| > Soal GD jadi bemper, itu ada benarnya. Tapi, jangan lupakan, GD juga 
| > berambisi jadi RI-1. Soal dia kelihatan seperti tak berminat, dakj 
| > akhirnya maju karena diprovokasi AR, itu sih pinter-pinternya GD aja 
| > untuk menutupi "mimpinya" ke istana. 
| > 
| > > Kepada keluarganya dan keluarga besar NU, kalimat itu mengandung 
| > sebuah
| > > pesan untuk tidak memanfaatkan masa jabatan yang --maksimal-- lima 
| > tahun
| > > tersebut sebagai momentum "cari untung" dan "aji mumpung". 
| Beberapa
| > > orang dekat --atau yang merasa dan mengaku-aku dekat-- Gus Dur 
| yang
| > > "memaksakan diri" untuk memanfaatkan jabatan Gus Dur dengan
| > > menjadikannya sebagai "momentum keruk untung" terbukti akhirnya 
| > malah
| > > remuk. Kasus Soewondo dan Aris Junaidi bisa jadi salah satu contoh 
| > kasus
| > > orang dekat yang jadi perbicangan publik.
| > 
| > Begitulah, maksudnya pesan untuk tidak memanfaatkan, eh "dipelintir" 
| > menjadi memanfaatkan...:-D
| > 
| > > Kedua: "EGP Masalah 'Sepele'",
| > > Siapa yang bisa menyelesaikan masalah bangsa yang sedemikian 
| > kompleks
| > > ini dalam hitungan waktu lima tahun? Apalagi 40 hari, 100 hari, 
| atau
| > > bahkan satu tahun? Maka dari itu, orang yang memaksa Gus Dur untuk
| > > "membuat perubahan" dalam hitungan waktu 100 hari di awal masa
| > > pemerintahannya bisa jadi orang yang geblek dan menderita 
| paranoid.
| > > Dalam hitungan normal (tanpa diganggu dan direcoki pun) kalkulasi
| > > rasional dan normal tidak ada yang mampu menyelesaikan masalah 
| > bangsa
| > > ini dalam hitungan waktu lima tahun. 
| > 
| > Memang tidak. Tapi GD, atau siapaun yang jadi RI-1, diharapkan bisa 
| > untuk memulai untuk menyelesaikannya. Yang terjadi, bukan maju, tapi 
| > malah mundur. Memang bukan kesalahan GD semata, tapi sebagai 
| pemimpin 
| > eksekutif tertinggi tanggungjawabnya lebih besar.
| > 
| > 
| > >Apalagi Gus Dur yang terus direcoki
| > > sejak awal pemerintahannya. Gus Dur cukup sadar kondisi ini.
| > > Karena itu, ia tidak pernah memperdulikan persoalan-
| > persoalan "sepele"
| > > yang ada di Indonesia. Kasus kerusuhan, Aceh, gempa dan semacamnya
| > > terhitung "sepele" jika dibandingkan prioritas rencana 
| "penyembuhan 
| > dan
| > > pemulihan Indonesia" yang dicanangkan Gus Dur. 
| > 
| > Ini argumen paling gebleg yang pernah saya dengar. Apa sih yang 
| > dimaksud dalam kata-kata besar "penyembuhan dan pemulihan Indonesia" 
| > yang dimaksud GD, sehinga kasus Aceh bisa jadi sepele???
| > 
| > >Apalagi untuk kasus
| > > kerusuhan hampir semuanya dilakukan secara terencana oleh 
| invisible
| > > hands yang sejak awal memang ingin merecoki Gus Dur. Maka, ia pun 
| > lebih
| > > memilih untuk bersafari ke luar negeri daripada mengurus masalah-
| > masalah
| > > dalam negeri yang sengaja diciptakan oleh lawan-lawan politiknya.
| > 
| > Maksudnya, memilih melarikan diri dari persoalan daripada 
| > menghadapinya? Kalau begitu, ya, GD memang lebih dari layak untuk 
| > dilengserkan.
| >  
| > > Ketiga: "Menjebak Soewondo-Sapuan, Membongkar 'Sarang Tikus'"
| > > Salah satu penyakit akut bangsa ini adalah korupsi. Sebab, korupsi 
| > bukan
| > > saja monopoli politisi dan kaum elit. Seorang kepala desa pun --
| > dalam
| > > kebanyakan kasus-- tidak akan mendapatkan suara cukup signifikan 
| > jika
| > > dia tidak menyebarkan "amplop" kepada warga desa. Dan, masyarakat
| > > menikmati itu sebagai bagian dari permainan.
| > > Karena itu, untuk memberantas korupsi, GD menunjukkan pada 
| > masyarakat
| > > "gudang tikus" yang banyak menggerogoti uang negara. Pertama, ia
| > > menunjukkan bahwa Bulog adalah salah satu "gudang tikus" tersebut. 
| > Lewat
| > > sebuah permainan yang cukup cantik, Gus Dur berhasil tiga hal 
| > sekaligus:
| > > menunjukkan pada masyarakat bahwa Bulog adalah salah satu sarang
| > > korupsi, memberi pelajaran pada Sapuan yang kemaruk jadi Kabulog 
| dan
| > > menyingkirkan orang yang merasa dekat dengannya, Soewondo. 
| > Selanjutnya,
| > > ia pun mengobok-obok BI dan Departemen Keuangan. Hasilnya bisa 
| anda
| > > lihat sendiri 'kan? UU Rahasia Perbankan diprotes banyak kalangan.
| > > Sebuah permainan karambol yang cukup cantik.
| > 
| > Dan, GD terjebak permainannya sendiri??? Yang bener aja kalau bikin 
| > analisis.
| >  
| > > Keempat: "Ente Bersih dan Loyal, Ente Selamat!"
| > > Mandat reformasi yang kedua setelah memberantas korupsi adalah
| > > terbentuknya pemerintahan yang bersih dan baik (good governance). 
| > Untuk
| > > ini, GD menekankan pada para pembantunya untuk mengedepankan 
| > loyalitas
| > > pada negara dan mengikis loyalitas kepada partai induknya. 
| Beberapa
| > > orang yang menunjukkan indikasi loyalitas ganda pun disingkirkan. 
| > Selain
| > > itu, beberapa pejabat dan orang dekat yang terlibat 
| > praktek "percaloan"
| > > pun disikatnya. 
| > 
| > Seharusnya : "Ente Loyal, Ente Selamat!".
| > 
| > Investigasi mendalam akan menemukan signifkansi dan
| > > rasionalisasi alasan pemecatan yang seringkali tidak diucapkan 
| oleh 
| > GD.
| > > Membaca manuver ini, dalam sebuah edisinya, Kompas --yang dianggap 
| > kawan
| > > dan sekutu GD-- dalam sebuah tajuk sempat mempertanyakan 
| > signifikansi
| > > pergantian menteri dan beberapa pejabat dalam hitungan waktu 30 
| hari
| > > sejak dikeluarkannya Memo II. Jika ditanya signifikansinya pada
| > > kemungkinan GD bertahan atau tidak, mungkin memang tidak ada. 
| > Tetapi,
| > > bagi GD yang penting adalah "menanam pohon, kendati tahu esok 
| > kiamat"
| > > sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis.
| > 
| > Maksudnya mau membandingkan dengan LOpa (alm), yang akan menegakkan 
| > hukum biar besok kiamat. Untuk LOpa, ini memang cocok. Tapi, untuk 
| > GD, ini bisa diperdebatkan.
| >  
| > > Kelima: "Tentara; Biar Mbangkang Tapi Solid:-)"
| > > Selama Orde Baru, TNI (ABRI) selalu tunduk pada perintah Panglima
| > > Tertinggi. Gerundelan-derundelan di belakang hampir tidak pernah
| > > terungkap ketika berhadapan dengan kepentingan Panglima Tertinggi. 
| > GD
| > > pun mengacak-acak TNI sampai beberapa elemen dari mereka "muntab".
| > > Mereka pun kemudian solid. Sampai di detik terakhir, mereka solid 
| > untuk
| > > menolak dekrit sebagai instruksi Panglima Tertinggi. Anda tentu 
| > ingat
| > > apa yang diucapkan Widodo sebagai alasan penolakannya, "Demi 
| Bangsa 
| > dan
| > > Negara". Banyak pendukung GD mangkel dengan sikap ini, tapi bisa 
| > jadi
| > > Gus Dur malah bergumam, "Biar mbangkang yang penting solid. 
| Sejarah 
| > yang
| > > akan membuktikan konsistensi statemen ente pada hari ini. Apakah 
| > ente
| > > nanti 'selingkuh' atau tidak".
| > 
| > Ini akan memasuki wawacana konstitusi, jadi agak susah membantahnya. 
| > Yang jelas, konstitusi, apalagi seperti UUD 1945 yang begitu singkat 
| > itu, memang mudah menimbulkan pafsiran ganda. Di satu sisi, menolak 
| > perintah GD memang bisa dikategorikan sebagai pembangkangan, sebab 
| > Presiden adalah panglima tertinggi angkatan perang.
| > 
| > Tapi, di sisi lain, dekrit presiden memang jelas-jelas 
| > inkostitutional. Bahkan Harun Alrasid pun, satu-satunya pakar HTN 
| > yang pendapatnya banyak menguntungkan GD, berpendapat tidak alasan 
| > bagi GD mengeluarkan dekrit (lihat kolom Tempo edisi minggu ini).
| > 
| > Jadi, mana yang mau dibela, presiden dengan segala tindakannya, atau 
| > konstitusi itu sendiri. Tentara memilih untuk menjaga konstitusi. 
| > Dan, kalau ada yang berpendapat tentara melakukan pembangkangan, ya 
| > boleh-boleh aja (baca : saya tidak membela tentara, saya ngomong 
| segi 
| > normatifnya saja). Seperti juga GD berhak ngomong kalau SI ilegal 
| dan 
| > konstitutional. Biarin, aja, toh pada akhirnya doktrin yang akan 
| > berlaku (pendapat yang banyak dipakai)...
| > 
| > > Keenam: "Yang Penting Luar Negeri, Bung"
| > > Dalam beberapa statemennya, GD menyatakan bahwa perjalanannya ke 
| > luar
| > > negeri adalah untuk menunjukkan keseriusan pemerintahannya dalam
| > > mewujudkan demokratisasi dan pemerintahan yang bersih. Karena itu, 
| > ia
| > > memilih "jalan-jalan" daripada ngurusi tetek-bengek problem --yang
| > > diciptakan-- di dalam negeri. 
| > 
| > Ini juga dalil yang amat sangat payah. Sampai bingung mau 
| > ngomentarinnya.
| > 
| > >Anda bisa lihat, betapa Ibunda Mega
| > > disambut dengan dingin oleh luar negeri, bahkan pendukungnya 
| (warga
| > > PDIP) sendiri. Kalau toh ada sambutan hangat dari pasar, itu 
| sekedar
| > > reaksi dari adanya bukti atas jaminan Gus Dur, "Tidak akan ada 
| > tindak
| > > kekerasan dari pendukung saya".
| > 
| > Bulshit, shit, shit (maaf, kalau terdengar kasar). Lihatlah 
| > kenyataan, bung. Justru luar negeri yang dingin-dingin saja melihat 
| > GD dilengserkan. 
| > 
| > Hanya AS yang sedikit berbaik hati, mengundangnya untuk berobat agar 
| > muka GD bisa sedikit "diselamatkan". Tapi, toh, di sisi lain, Bush 
| > yunior dengan antusiasnya langsung menelpon MW untuk mengajak kerja 
| > sama. Ini, memang basi-basi diplomatik, tapi ini juga menunjukan 
| > sebuah dukungan terbuka, sikap yang juga dilakukan pemimpin-pemimpin 
| > dunia lainnya.
| >  
| > > Ketujuh: "Selamat Tinggal Aji Mumpung"
| > > Saya tidak pernah memungkiri adanya beberapa orang dekat Gus Dur 
| > yang
| > > memanfaatkan posisinya sebagai "ajang keruk untung" dan "aji 
| > mumpung".
| > > Dengan berhentinya GD, tentu orang-orang tersebut tidak akan bisa
| > > berbuat apa-apa lagi. Dan, ini tentu nilai positif bagi Gus Dur. 
| > Mereka
| > > inilah sebenarnya yang kecewa dengan tergulingnya Gus Dur. Gus Dur
| > > sendiri telah berhasil membuktikan jaminannya, "Tidak akan ada 
| > tindak
| > > kekerasan dari pendukung saya".
| > 
| > Tindakan terakhir GD ini, menenangkan pendukungnya, memang harus 
| > diberi apresiasi. Terlepas bahwa dia pernah bersikap premisif 
| > terhadao aksi massa para pendukungnya menjelang dijatuhkannya memo 
| II 
| > dan sidang paripurna untuk menentukan digelarnya SI, terlepas bahwa 
| > dia baru mengeluarkan dekrit yang gagal (bayangan apa yang terjadi 
| > bila dekrit itu sukses?), pernyataan GD terakhir itu memang 
| > menyejukan.
| >  
| > > Jadi, jangan salah paham, Gus Dur tetap menang :-)
| > 
| > Menang dan kalah itu kan cuma soal persepsi. Kalau ada yang 
| > menganggap GD memang --apapun alasannya---, ya sah-sah saja.
| >  
| > > ***
| > > Pondasi telah kau bangun, Gus. Kini kau tinggal jadi "mandor" dan
| > > mengawasi apakah pondasi bangunan yang kau canangkan diubah oleh 
| > para
| > > "kuli batu" itu atau tidak. Kalau diubah, kau tinggal luruskan 
| > bersama
| > > rakyatmu.
| > 
| > Benar. Posisi GD yang tepat memang berjuang bersama rakyat. Tapi 
| soal 
| > apakah dia bisa menjadi mandor atau tidak, ya kita tunggu saja 
| kiprah 
| > GD berikutnya. Tapi, ini bukan soal mudah bagi GD. Citra GD sebagai 
| > seorang pejuang demokrasi, humanis, sudah "tercoreng", GD harus 
| > berjuang keras untuk memulihkannya...
| >  
| > > 
| > > 
| > > Enha
| > 
| > GP
| >  
| > > PS:
| > > Teknik Melawan Orba ala Gus Dur : (1) Main Catur; (2) Main 
| > Karambol; (3) Cattenacio. Gus Dur tumbang karena lawan bersama 
| > supporternya langsung nawur dan misuh-misuh begitu terlihat akan 
| > kalah. Kalau aturan main dipenuhi, tentu kondisinya lain :-)
| > 
| > Nggak dong, apa ini maksudnya.
| > 
| > BTW, saya buka anti GD, dan tentu saja bukan pro. Tapi, mendukung GD 
| > habis-habisan, mencari dalih untuk membenarkannya, sungguh membuat 
| > saya tergelitik untuk berkomentar. Bahwa argumen saya juga ngawur, 
| > saya terbuka saja untuk dikoreksi.
| >  
| > > 
| > > 
| > > 
| > > [Non-text portions of this message have been removed]
| 
| 
| ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
| Small business owners...
| Tell us what you think!
| http://us.click.yahoo.com/vO1FAB/txzCAA/ySSFAA/9rHolB/TM
| ---------------------------------------------------------------------~->
| 
| =================================================
| 
| Forum ini bukan forum debat kusir tetapi bertujuan untuk membangun komunikasi massa 
|yang positif dalam upaya mendorong lahirnya Indonesia yang lebih baik, serta untuk 
|menggali
| berbagai aspirasi, sambil menguji berbagai langkah FID dalam persepsi komunitas yang 
|lebih luas atau kirimkan pula kritik & masukan terhadap kelangsungan FID di masa yang 
|akan datang dan untuk tercapainya Indonesia yang lebih baik.
| 
| Bila ingin menjadi anggota milis ini kirimkan email ke: 
|[EMAIL PROTECTED]
| 
| Bila ingin keluar dari keanggotaan milis ini kirimkan email ke: 
|[EMAIL PROTECTED]
| 
| ================================================= 
| 
| Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 
| 
| 
| 


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-
->  FREE email !! [EMAIL PROTECTED] ... http://www.kulitinta.com  <-

Kirim email ke