BR: "Pak, kok tumben to, ngopinya nggak pakek Gemblong?
tiwas tadi buru-buru aku ke toko Koh Aci, malah ngelalap
krupuk....ndak cocok ah?"
BS: "Iya lho Den Ragil ini tumben berubah dari kebiasaan tan-
pa 'dawuh' terlebih dulu. Kasihan yang mengusahakan to
Den... Den Putri tadi kan sudha bangun jam 4:30, nyiap-
ken Sarapan Indomie Pagi (SIP) buat Gus Besar.. terus
Lari ke...."
RP: "Wiiis.. Lek Oein ndak usah namabahi.. Orang-orang kok
senengannya membahas kesalahan orang lain. Yaah..
sorry deh Bu, kalau akhir-akhir ini aku menolak Gemblong
Pagelaran sebagai teman ngopi. Bukankah sudah bolak-
balik secara jujur aku ungkapkan bahwa Gemblong Page-
laran sudah beda dengan yang dulu-dulu. Dulu lumayan
empuk, gurih, manisnya tidak terlalu dan awet.. lha se-
karang malah kayak kue Gandhos, kerasnya mintak
ampun. Sudah sejak 2 minggu yang lalu tak anjurken tidak
usah beli gandhos eh... gemblong-gemblong itu. Mending
nggoreng macaroni sendiri lak malah irit..."
LO: "Sudah boleh urun rembuk belum Den, Lek? Rasanya
bener kok Den Ragil sudah cukup lama 'ngrasani'
Gemblong Pagelaran itu. Ya sudah untuk hari ini buat
saya saja ya Den Putri... eman-eman...nyaem.... hehe"
BR: "Tapi ya ndak gitu dong Lek, mBah... Bapaknya itu kan ti-
dak terus terang. Kalau niat menolak Gemblong ya sudah
bilang, "Buk... jangan beli Gemblong"... kok malah se-
baiknya-sebaiknya.. malah bilang bahwa Gemblong se-
karang gina-gini, gita-gitu.... huuu kayak yang pada pe-
ngin jadi menteri saja... hihihik....sruurpt...heh"
BS: "Lho... Den Putri ini ya 'kadingaren', tumben... nyangkut
politik... lha jaman Gus Dur saja cukup pendiem lho.. se-
karang malah sewotan. Apa dupeh eh.. apa karena presi-
dennya mBak Adis Ega?"
LO: "Iya ya Lek.. Tapi bener tuh Den Putri. Lha tadi pimpinan
Muhammadiyah, bilang bahwa tidak mencalonkan anggo-
tanya sebagai menteri, tetapi menyatakan bahwa bila
di bidang pendidikan Muhammadiyah kelihatannya pas.
Semua sekarang gitu. Bilang tidak mencalonkan, semua
terserah presiden... semua prerogatip presiden... semua
bilang harus profesional... tapi harus didukung partai
politik atau parlemen...."
RP: "Sudah Lek Dosen Politik Pagelaran? Wah-wah, hebat.
Sekarang memang jamannya orang melek politik. Lek
Dosen Politik Pagelaran ini misalnya. Analisis sampeyan
ndak kalah lho sama pengamat-pengamat selebritikal
yang harus selalu jaga pamor.. ndak boleh sembarangan
omong... bisa-bisa di bom... hehehe..... Gimana mBah
Soel...sruurpt heeeh...?"
BS: "Waaaah, kalau hamba sih terserah saja Den. Terserah
presiden.. hehehe kan prerogatip.... Cuman dulu Den
Mantri, kanjeng romo Den Ragil, pernah mengajar Civics
kan. Nah di situ pada bagian Penjelasan UUD-45 sub
bahasan menteri-menteri kabinet, ada syarat penting
nan ampat, yaitu Jujur Takwa Taat Adil... JTTA..srrruuupt
heeeeh.. asem kik... Le... yang aku ndak dikasih gula
lagi ya...."
BR: "Hayiaaak.. itu harus jujur kepada siapa, takwa kepada
siapa, taat kepada siapa dan adil bagi siapa kan ndak
jelas kan mBah... wong dulu aku juga pernah diajar begitu
waktu SMP... ketika gencar-gencarnya kebulatan tekad."
LO: "Lha iya Lek Soel, sori gulanya pas gelas Sempeyan
habis... ya sudah parohan saja sama saya.... ya. Eh,
mana mingkin seorang menteri memenuhi syarat nan
ampat itu. Lha sedang memenuhi syarat dapat diterima
oleh parlemen saja syusyah kok.... wong ada 9 fraksi
partai dan 1 fraksi militer.... dah ah.. mau ngelanjuti siram-
siram taneman... sruuuuupt... heeeeh!"
[Srruuuuurpt heeeeh... keluar juga dari 3 mulut yang lain....
acara ngopi pagi merembug kabinet JTTA bubar....]
(BS: mBah Soeloyo; LO: Lek Oein [Jiwo Winenang]; RP: Ragil
Pamungkas; BR: Bu Ragil)
Ki Denggleng Pagelaran
-------------------------------------------
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-
-> FREE email !! [EMAIL PROTECTED] ... http://www.kulitinta.com <-