SEKELUMIT AGAMA RU-KHONGHUCU DAN AKAR BUDAYA TIONGHOA

Salam Kebajikan, 

惟德動天,

Bagaimana manusia bisa ada di dunia ini? Apa kaitannya dengan Wu Xing (lima 
unsur)? Berapa hari dalam sebulan? Berapa bulan dalam setahun? Ada berapa nada? 
Apa kaitan manusia dengan Tian dan Di?

Apakah Anda pernah mendengar mengenai Si Ling (empat makhluk Cerdas) yang 
begitu mendominasi khasanah budaya Tionghoa?

Ayat-ayat dalam Kitab Liji VII Li Yun III: 1-10 Gerak Perkembangan Kesusilaan 
menarik untuk disimak.

Sesungguhnya, adanya manusia adalah oleh kuasa Kebajikan TIAN dan DI, oleh 
jalinan sifat YIN (negatif) dan YANG (positif), karena berkumpulnya Nyawa dan 
Rokh (GUI dan SHEN), dari sari semangat ke lima unsur (WU XING).

TIAN mengendalikan sifat YANG, menggantung matahari dan bintang-bintang. DI 
mengendalikan sifat YIN, memberi jalur di gunung-gunung dan sungai-sungai. 
Ditaburkan lima unsur itu melalui empat musim, dan oleh geraknya yang harmonis 
kemudian tumbuhlah bulan (rembulan); tiga kali lima hari menuju penuh (Ying) 
dan tiga kali lima hari menuju punah (Que).

Gerak daripada lima unsur saling mengganti dan menghabiskan. Lima unsur itu 
menjadi pokok beredarnya empat musim yang dua belas bulan itu.

Lima nada dalam harmoni suara (Wu Sheng), dengan enam dasar bunyi atas (Liu 
Lu), dan dua belas pipa nadanya (Shi Er Guan), masing-masing dalam alunannya 
menjadi dasar nada.

Panca-rasa, dengan enam macam lauk, dan dua belas macam makanan, di dalam 
gerak/pergantian (sepanjang tahun) nya, memberi ciri sifat makanan.

Panca-warna, dengan enam gaya, dan dua belas bentuk pakaiannya, di dalam 
geraknya, masing-masing memberi sifat pakaian yang dikenakan.

Maka, manusia itu adalah hati/hakikat bathin daripada TIAN dan DI, dan menjadi 
perwujudan dari lima unsur. Manusia hidup menikmati berbagai rasa, memilahkan 
berbagai nada dan mengenakan berbagai warna.

Maka, Nabi di dalam membentuk peraturan, mesti berpokok kepada TIAN dan DI, 
sifat YIN dan YANG sebagai pangkal, ke empat musim sebagai pegangan, matahari 
dan bintang-bintang sebagai catatan (waktu), bulan sebagai ukuran (dalam 
bekerja), Nyawa dan Rokh sebagai penyerta, lima unsur sebagai bahan, kesusilaan 
dan kebenaran sebagai sarana, perasaan orang sebagai ladangnya. Dan empat 
makhluk cerdas (Si Ling) itulah yang dirawat.

Dengan berpokok kepada TIAN dan DI, maka berbagai benda dapat diangkat 
daripadanya. Dengan berpangkal kepada sifat YIN dan YANG, maka segala perasaan 
dan kecenderungannya dapat dilihat. Dengan berpegang kepada keempat musim, maka 
pekerjaan dapat disaksikan. Dengan matahari dan bintang-bintang sebagai 
catatan, maka segala pekerjaan dapat dipilahkan. Dengan bulan sebagai ukuran, 
maka pekerjaan itu dapat berhasil sempurna. Dengan Nyawa dan Rokh sebagai 
penyerta, maka segala pekerjaan dapat lestari. Dengan lima unsur sebagai bahan, 
maka segala pekerjaan dapat didaur ulang. Dengan Kesusilaan dan Kebenaran 
sebagai sarana, maka segala pekerjaan dapat berjalan sepenuhnya. Dengan 
menjadikan perasaan orang sebagai ladang, maka orang akan menjadikan (Nabi) 
sebagai junjungannya. Dengan empat makhluk cerdas yang dirawat, maka akan 
didapat minuman dan makanan yang berkesinambungan.

Apakah yang dinamai empat makhluk cerdas itu? Qi Lin, Fong Huang, Gui 
(kura-kura), dan Long (Naga), itulah yang dinamai Si Ling (empat makhluk 
cerdas). Bila Naga dirawat, maka berbagai ikan kecil dan besar tidak 
menyembunyikan diri; bila Fong Huang dirawat, maka berbagai burung tidak lari 
berterbangan; bila Qi Lin dirawat, maka berbagai hewan tidak berlarian 
menyembunyikan diri; dan bila kura-kura dirawat, maka perasaan orang tidak 
khilaf.

Pada saat saya pertama kali membaca Kitab Liji (Catatan Kesusilaan), salah satu 
dari Kitab klasik Khonghucu (Wu Jing) terasa berat, tetapi setelah terus 
membaca dan mengulang, banyak bagian dari Kitab Liji sangat menarik terutama 
dalam kaitan dengan budaya orang-orang Tionghoa dan religiusitas umat 
Ru-Khonghucu. Ayat-ayat di atas adalah salah satu contohnya.

Betapa ajaran Ru-Khonghucu adalah akar budaya Tionghoa. Banyak hal yang kita 
lihat dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai umat Khonghucu dan orang 
Tionghoa didasari dan tercatat dalam kitab Klasik Ru-Khonghucu.

Papa pernah berpesan jangan tukar emas dengan kuningan. Mempersilakan 
anak-anaknya untuk mempelajari agama lain, tapi tentu saja yang paling utama 
mempelajari agama yang telah diwariskan oleh leluhur.

Sayang sekali, banyak orang sudah tidak tahu dan tidak mau tahu akar budaya dan 
agama yang diwarisi dari para Sheng (Nabi) dan leluhur. Sebagian orang beralih 
keyakinan tanpa pernah belajar dengan baik ajaran agama yang diwarisi. Sebagian 
orang mencampur aduk dan mengaburkan kebenaran yang ada dengan ajaran-ajaran 
lain yang seolah-olah lebih baik dan katanya melengkapi kekurangan ajaran luhur 
Ru-Khonghucu yang sebetulnya ajaran Ru-Khonghucu tidak memerlukan itu. 

Anda tidak percaya dan tidak setuju? Silakan ikuti nasihat papa saya. (US) 
25122021

https://www.uungsendana.com/2021/12/sekelumit-agama-ru-khonghucu-dan-akar.html

December 26, 2021 at 01:44PM

Manage

Unsubscribe from these notifications or sign in to manage your Email service.




IFTTT

        Manage on IFTTT:
        https://ifttt.com/myrecipes/personal/124850832

-- 
Milis Lampion Merah
Oleh Tionghoa.com : https://www.tionghoa.com
--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"Lampion Merah" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
To view this discussion on the web visit 
https://groups.google.com/d/msgid/lampionmerah/61c81bc953505_6d51cd732872966%40satellite-prod-worker-596c666b69-rnnmh.mail.

Reply via email to