| Date: 4 augusti 2006 17:41:18 Subject: «PPDi» Kekuatan hukum, fakta dan bukti Ahmad Sudirman seorang munafik Kekuatan hukum, fakta dan
bukti Ahmad Sudirman seorang munafik Pembaca yg budiman, Assalamualaikum wr.wb, Untuk membuktikan secara hukum dan fakta bahwa Ahmad Sudirman seorang munafik anda tidak perlu pusing pusing untuk memaparkan buktinya. Kalau saja anda membaca sebagian tulisan2nya yg disimpan dalam homepage: http://www.dataphone.se/~ahmad, anda akan mengetahui langsung bahwa mulutnya Ahmad Sudirman sangat berlawanan dengan hati nuraninya alias munafik. AHMAD SUDIRMAN DAN INDONESIANYA Kalau dilihat sepintas lalu Ahmad Sudirman adalah seorang yg anti Indonesia yang selalu menyerang dan memaki maki pemerintah Indonesia dalam hal apa saja. Tetapi kalau mandalami tulisan2nya dengan cermat, akan jelas ia seorang yg paling nasionalis atau lebih tepat lagi indonesialist yg mati2an mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia melebihi daripada perjuangannya terhadap Islam yg ditonjol-tonjolkan selama ini. Sebelum Ahmad Sudirman melanglangbuana ke Aceh, ia telah banyak menulis tentang Indonesia yg disimpan rapi dalam homepagenya http://www.dataphone.se/~ahmad, dimana tulisan awal awalnya selalu dimulai dengan judul: INDONESIA TANAH AIRKU, yg ditulis tgl 15, 17, 19, 20 Mei 1998 dll, menjelang jatuhnya Suharto. Ahmad Sudirman mengkritisi dwifungsi ABRI tetapi tetap mempertahankan keutuhan ABRI yg menurutnya sebagai tulang pungungnya Indonesia yang telah memerdekakan Indonesia, menumpas komunis dan mempertahankan negara dari musuh (baca: gerakan2 pemisah). Ahmad Sudirman juga mengakui tidak memusuhi ABRI selama tugas Abri terbatas menjaga
ketertiban dan keamanan negara Indonesia yg ia cintainya. Dibawah ini cuplikan kata2 Ahmad Sudirman sendiri yang ditulis tgl. 24 Mei, 1998, dengan rubriknya: ABRI HANYA PENJAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN
Saya akui, bahwa ABRI tulang punggung Indonesia, tanpa ABRI tidak mungkin Indonesia lepas dari penjajahan Belanda, tanpa ABRI tidak mungkin gerakan komunis Indonesia dapat dihancurkan, namun, hal ini
tidak menjadi suatu alasan untuk menjadikan ABRI sebagai faktor yang menentukan dalam pemerintahan. Saudara-saudaraku di tanah air. Saya tidak menentang ABRI, tetapi saya mau melihatABRI bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu menjaga keamanan dan ketertiban serta membela dan mempertahankan negara dari ancaman musuh *.* Dalam tulisan awal2 yang dikutip diatas, Ahmad Sudirman tidak begitu spesifik dengan mempertahankan negara dari ancaman musuh, tapi kala kita berjingkrak jauh kedepan, yang dimaksud dengan musuh tersebut adalah gerakan2 pejuang kemerdekaan diluar pulau Jawa. Setelah Suharto jatuh, Sudirman mulai menulis tentang negeri kayangannya Daulah Islamiyah Rasulullah (DIR) dengan Undang Undang Madinahnya (UUM). Dalam kampanye DIRnya, nasionalisme Indonesia Ahmad Sudirman semakin bertambah kental. Tanpa spesifik referensi untuk Aceh, Timtim dan Papua Merdeka yg sedang berusaha melepaskan diri dari penjajah Indonesia kala itu, Ahmad Sudirman dengan terang terangan menulis bahwa persoalan yang dihadapi Indonesia sekarang tidak dapat diselesaikan atas dasar sukuisme, dengan membiarkan lahirnya Daulah2 seperti Daulah Aceh, Daulah Jawa, Daulah Pasundan, Daulah Bugis dls. Dengan kata lain, kodok Ahmad Sudirman yang anti perjuangan kemerdekaan di Aceh, Papua Barat, Maluku dll sudah mulai terbuka dan ciri ciri kemunafikinnya dalam membela Aceh terlihat sejak dari sini. Dalam tulisannya tgl 8 April, 1999 untuk ummat Islam di Indonesia, Ahmad Sudirman menghimbau, dengan
judulnya: MEMBANGUN KEMBALI SATU DAULAH ISLAM RASULULLAH YANG BERPUSAT APAKAH DI SUNDA, DI MAKASAR, DI RIAU, DI LAMPUNG, DI PADANG ATAU DI ACEH, JADI BUKAN MEMBANGUN DAULAH KESUKUAN YANG BERCERAI-BERAI. Untuk kaum Muslimin dan Muslimat yang tinggal di Indonesia. Suatu kerugian yang besar apabila kaum Muslimin yang tinggal dan hidup di Indonesia dipecah belah menjadi beberapa kelompok Daulah Kesukuan, seperti Daulah
Sunda, Daulah Riau, Daulah Padang, Daulah Lampung, Daulah Sulawesi, Daulah Kalimantan, Daulah Aceh, Daulah Ambon, Daulah Bali, Daulah Irian Jaya, Daulah Jawa dsb. Bagi seorang Muslim menegakkan suatu Daulah adalah diatas dasar akidah Islam dan ukhuwah Islam, bukan kesukuan, kebangsaan, nasionalitas atau ras. Dengan akidah Islam dan ukhuwah Islam inilah yang akan menjadi tali pengikat kesatuan ummat yang tergabung dalam satu naungan Daulah Islam Rasulullah dengan Undang Undang Madinahnya. Dalam Islam tidak memandang nasionalitas, kesukuan, kebangsaan, warna kulit, ras, melainkan yang dipandang adalah akidah Islam dan ukhuwah Islam. Suatu kebodohan apabila kaum muslimin membangun Daulah Islamnya berdasarkan kepada kesukuan atau kebangsaan atau nasionalitas-nya. yang berdasarkan akidah Islam yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras dengan tujuan untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT. Nah, dari petikan diatas tadi kelihatan dengan jelas sekali bahwa Ahamad Sudirman merupakan musuhnya bangsa2 diluar Jawa yang ingin memperjuangkan kemerdekaannya. Bukan itu saja, double standard atau kemunafikin Ahmad Sudirman lebih terang disini: ia paling anti kebangsaan, kesukuan, dan nasionalitas tetapi selalu mengagung-agungkan dan mempertahannkan nasionalitas Indonesianya. Dalam sekian banyak tulisannya Ahmad Sudirman hampir tidak pernah lupa mengingati pembacanya tentang kesatuan ummat dan keutuhan bangsa
Indonesia , seperti dalam judul tulisan dibawah ini. MENUJU KESATUAN UMMAT DENGAN MISI MENEGAKKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR GUNA MEMELIHARA KESATUAN UMMAT DAN KEUTUHAN BANGSA, Stockholm, 25 Mei 1999, dan banyak yang lain lagi. AHMAD SUDIRMAN VERSUS ACEH Pertama sekali Ahmad Sudirman tergerak untuk mencampuri urusan perjuangan bangsa Aceh yaitu setelah pembantaian oleh TNI di Beutong Ateuëh terhadap Tengku Bantaqiah dan sekitar 60 pengikutnya pada bulan Juli 1999.
Ketergerakan hati Ahmad Sudirman, menurut pengakuannya, karena yang dibantai itu seorang ulama dan ummat Islam Aceh, tetapi dalam sebuah tulisan lain, tanpa disadari Ahmad Sudirman yang munafik itu telah membongkar kedoknya sendiri. Ahmad Sudirman membeberkan dengan nuraninya bahwa Aceh akan lepas seperti Timtim kalau telalu banyak rakyak Aceh yang dikorbankan oleh TNI, masyarakat Internasional tidak akan tinggal diam dan daerah daerah lain pun akan menyusul sehingga terjadi disintegrasi di Indonesia. Selanjutnya Ahmad Sudirman mengatakan bahwa Indonesia harus segera berunding dengan rakyat Aceh selama belum ada satu negara yang mengakui GAM, kalau tidak Aceh akan terjadi seperti di Timtim (merdeka). Dalam diskusi panjang dengan kawan2 Indonesianya di Banda Aceh dan Saudi Arabia dengan tajuk: ACEH DILEMA BESAR BAGI REZIM GUS DUR-MEGA ,
Stockholm, 11 Nopember 1999, Ahmad Sudirman sempat lupa memakai topengnya dan untuk sekali ini membiarkan nuraninya berbicara sbb: SELAMA TIDAK ADA NEGARA LAIN YANG TERLIBAT DALAM MASALAH ACEH, SELAMA ITU BISA DISELESAIKAN DENGAN JALAN PERUNDINGAN Sejauh yang saya lihat dalam krisis Aceh sekarang adalah belum adanya keterlibatan langsung
negara lain. Nah disini saya beranggapan, bahwa apabila telah ada satu atau lebih negara lain ikut melibatkan diri langsung dalam penyelesaian krisi Aceh, maka saat itulah akan timbul api pergolakan yang hebat di bumi Daulah Pancasila. Sebagaimana terjadi di Timor Timur. Apabila ada dari pihak-pihak rakyat Aceh melibatkan PBB untuk membantu penyelesaian krisi Aceh, maka kemungkinan besar menurut pemikiran saya, yang akan ditangggapi oleh PBB adalah masalah-masalah pelanggaran hak asasi manusia, seperti pembunuhan masal rakyat Aceh oleh TNI, baik selama Rezim militer diktator Soeharto dan Rezim Habibie. Nah, kalau pihak Gus Dur tidak jeli dalam mengamati masalah pelanggaran hak asasi manusia, maka pelanggaran hak asasi manusia akan dijadikan senjata tajam oleh rakyat Aceh untuk memukul pemerintah Gus Dur. Apalagi nantinya melibatkan badan PBB dan badan Hak asasi manusia-nya. Karena menurut pemikiran saya, lewat jalan pelanggaran hak asasi manusia yang telah dilakukan oleh rezim Daulah Pancasila inilah yang akan dijadikan landasan perjuangan Rakyat Aceh di dunia Internasional. Dari tulisan diatas pembaca bisa melihat sendiri bahwa kepedulian Ahmad Sudirman terhadap Aceh bukan atas dasar keikhlasan atau simpati karena bangsa Aceh Islam yg dizalimi, tetapi lebih cenderung
kepada ketakutannya yg luar bisa terhadap lepasnya Aceh dari Indonesia. Sehubungan dengan pembantaian Beutong Ateuëh, Ahmad Sudirman dalam sebuah tulisannya tanpa segan2 langsung mengusulkan kepada GAM dan rakyat Aceh supaya berdialog dengan pemerintahan Habibie dengan solusinya OTONOMI yg berbasis kepada Undang Undang Madinahya Ahmad Sudirman (UUM): PENYELESAIAN ACEH DITINJAU DARI UUM, Stockholm, 28 Juli 1999 Untuk rakyat Aceh dengan National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Penguasa Sekarang, setelah melihat dan membaca dasar-dasar yang akan dijadikan penyelesaian rakyat Aceh dengan pihak Penguasa Indonesia, saya mengajukan jalan pemecahannya yaitu, Pertama, rakyat Aceh disatukan dengan dasar aqidah Islam, bukan berdasarkan kesukuan atau kebangsaan atau nasionalitas. Menerapkan hukum Islam secara menyeluruh dengan mencontoh Rasulullah saw dengan Daulah Islam Rasulullah-nya. Kedua, dalam dialog terbuka tersebut dibicarakan masa depan rakyat
Aceh dengan diberikan hak menentukan nasibnya sendiri dengan pemerintahan sendiri dalam bentuk daerah otonomi. Ketiga, kekayaan bumi yang ada di daerah otonomi Aceh dikelola,
diatur dan diolah oleh rakyat Aceh dibawah pengawasan pemerintahan otonomi Aceh. Keempat, daerah otonomi Aceh adalah daerah bebas tempat hijrah untuk setiap muslim. Inilah untuk sementara hasil pemikiran saya untuk rakyat Aceh dengan National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Penguasa Indonesia di bawah Presiden Habibie. Ketika perjuangan SIRA sudah mencapai klimaksnya dan
HUDA mengeluarkan fatwa menyokong referendum, dengan tangan dan lututnya yg bergementar Ahmad Sudirman terus beraksi, tak kenal lelah mempromosikan usul2 OTONOMI diatas tadi sebagai satu2nya jalan keluar untuk membendung gerakan sipil yg menuntut referendum. Ahmad Sudirman tahu betul bahwa Aceh akan merdeka kalau referendum dilakukan dan dia tahu juga kemerdekaan Aceh kala itu sudah diambang pintu, mengingat HUDA, SIRA, NGO dan golongan intelektual plus sebagian birokrat sudah bersatu dalam satu kata: REFERENDUM yg dikumandangkan oleh penyanyi tenar Aceh Yacob Tailah dan Syech Yuldi. Kekecewaan Ahmad Sudirman waktu itu sempat dituangkan dalam nada yg sinis: ACEH AKAN MENJADI PUSAT DIR Stockholm, 17 September 1999
.Setelah saya membaca hasil keputusan para ulama Dayah se-Aceh diatas yang menjadi suatu fatwa dan rekomendasi, maka timbul pertanyaan dalam pemikiran saya yaitu, apakah Aceh akan menjadi pusat Daulah Islam Rasulullah yang mempunyai konstitusi yang mengacu kepada Undang Undang Madinah?
Tetapi yg lebih memberangkan Ahmad Sudirman lagi adalah sikapnya presiden Gusdur yang berpura pura menyokong referendum. Dalam banyak tulisannya, Ahmad Sudirman bertubi tubi menghantam Gusdur yang katanya Gusdur belum mengerti aspirasi rakyat Aceh dan Gusdur tidak mengerti sama sekali Aceh akan merdeka lewat referendum. Dalam diskusi ACEH DILEMA BESAR BAGI REZIM GUS
DUR-MEGA, Stockholm, 11 Nopember 1999, Ahmad Sudirman meratapi kekecewaannya sbb: Apabila referendum ditetapkan, maka saya menggambarkan bahwa
mayoritas rakyat Aceh memilih keluar dari kesatuan Daulah Pancasila. Dan ini yang menurut saya Gus Dur masih belum memahami benar keinginan rakyat Aceh. Gus Dur masih yakin kepada orang-orang yang duduk dibelakang meja pemerintah, yang masih dianggap loyal kepada pemerintah. Dan saya yakin, bahwa Daulah Pancasila apabila tidak berhasil penguasanya, yaitu Gus Dur dan kabinetnya, ditambah MPR/DPR-nya, maka falsafah pancasila yang dijadikan alat pemersatu bangsa ternyata tidak mampu dijadikan sebagai alat pemersatu, yang akhirnya mengalami kehancuran total bersamaan dengan pecah-belahnya Daulah Pancasila menjadi kepingan-kepingan kecil yang satu sama lain saling menganggap bahwa kesukuan dan kebangsaan merupakan identitas negara. AHMAD SUDIRMAN MEMUSUHI FREE ACHEH DEMOCRATIC Setelah membidik,mempelajari, mengkaji, menelaah, menguliti dan menelanjangi sosok Ahmad Sudirman dengan materi dari pikiran dan perbuatannya sendiri, maka sudah terjawab semua teka teki mengapa Ahmad Sudirman sangat memusuhi Free Acheh Demokratik dan Persatuan Masyarakat Aceh di Skandinavia sebelumnya. Sebab, Ahmad Sudirman maha tahu bahwa hanya kedua dua organisasi tersebut yg masih berjalan diatas relnya menuju merdeka. Dan sudah terjawab juga semua teka teki mengapa Ahmad Sudirman sangat menyokong,
memuja-muja dan mengagung-agungkan MoU Helsinki. Sebab, Ahmad Sudirman maha tahu bahwa hanya dengan jalan inilah Aceh dapat diabadikan kedalam NKRI dan NKRI sendiri selamat dari disintegrasi. Ahmad Sudirman, dengan keahliannya mempermainkan kata kata, telah berhasil menipu sebagian pembacanya, khususnya masyarakat Aceh. Dengan terbuka kedok khianatnya, maka diharapkan supaya pembaca yg budiman, khususnya masyarakat Aceh yg telah terlanjur mempercayai Ahmad Sudirman, supaya menarik diri dan dengan demikian polimik dengan Ahmad Sudirman berakhirlah sudah.
Wabillahittaufik walhidayah wassalamualaikum wr.wb. Wassalam Usman Harun PS: Artikel lengakap dari semua kutipan diatas, sila baca di http://www.dataphone.se/~ahmad, milik Ahmad Sudirman. Dan Saya tutup tulisan ini dengan sebuah tulisan Ahmad Sudirman, untuk hiburan pembaca. PEMERINTAH ACHEH BERDIRI DENGAN WALI NEGARA, KANUN, BENDERA, LAMBANG & LAGU KEBANGSAAN ACHE, Stockholm, 15 Agustus 2005 BANGSA ACHEH MENUJU KEBEBASAN DAN KEDAMAIAN DIBAWAH PEMERINTAH SENDIRI ACHEH DALAM NAUNGAN WALI NEGARA ACHEH TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO Hari ini, Senin, 15 Agustus 2005 bangsa Acheh memasuki wilayah yang aman dan damai di Acheh yang nantinya akan berada dibawah lindungan Wali Negara dan Pemerintah Sendiri Acheh dengan diiringi lagu
kebangsaan Negeri Acheh, dengan kibaran bendera Negara Acheh beserta lambang identitas bangsa Acheh. Bangsa Acheh mendapat kebebasan untuk melakukan hubungan dagang dengan pihak dalam negeri dan luar negeri. Sumber kehidupan yang ada di Acheh akan diatur dan dinikmati oleh bangsa Acheh. Sumber alam gas dan minyak bumi 70% adalah untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Acheh. Keamanan dalam negeri Acheh akan diatur dan diawasi oleh Polisi Acheh yang Kepala Polisinya diangkat oleh Kepala Pemerintah Sendiri Acheh. Penerimaan anggota Kepolisian Acheh dilakukan setelah konsultasi dengan Kepala Pemerintah Sendiri Acheh. Selamat bagi Bangsa Acheh dan Negara Acheh. Semoga Allah SWT meridhai perjuangan bangsa Acheh. Amin. ---------- |