http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 18 Oktober 2006

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.


MASIH TENTANG UMAR BIN KHATTAB RA DIHUBUNGKAN DENGAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.


MASIH MENYOROT UMAR BIN KHATTAB RA TENTANG PERJANJIAN HUDAIBIYAH DILIHAT 
DARI SUDUT SAHIH MUSLIM.

Kelihatannya orang ini tidak mengetahui kapan perjanjian Hudaibiyah itu 
dilaksanakan. Perjanjian Hudaibiyah itu dilaksanakan pada tahun 6 H. Dimana 
awal kejadiannya adalah Pada bulan Syawwal 6 H Rasulullah saw  bermimpi 
sedang mencukur rambut kepala sesudah ibadah haji. Orang-orang muslim kaum 
Anshor dan Muhajirin yang ada di Negara Islam Yatsrib-pun sudah sangat rindu 
untuk mengunjungi Ka’bah, setelah bertahun-tahun meninggalkan Mekkah. 
Walaupun wahyu yang memerintahkan ibadah haji dan umrah telah diturunkan 
dalam Al Baqarah, QS 2: 196-210, tetapi dalam pelaksanaannya masih ada 
hambatan, yaitu masih adanya permusuhan dengan pihak Quraisy. Kendatipun, 
masih ada permusuhan dengan pihak Quraisy Rasulullah saw memutuskan untuk 
melakukan umrah bersama para sahabat pada bulan berikutnya. Pada bulan 
Zulkaedah 6 H (sekitar tanggal 13 Maret 628 M) dengan 1400 sahabat, 
Rasulullah saw pergi untuk melaksanakan ibadah umrah dengan damai tanpa 
maksud perang. (Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra, Jil. II, hal. 95)

Nah, sampai disini kelihatan dengan jelas bahwa pada saat itu masih ada 
permusuhan antara Mekkah dibawah Quraisy dengan pihak Madinah dibawah 
pimpinan Rasulullah saw. Karena itu, walaupun Rasulullah saw bersama para 
sahabat pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah umrah, tetapi pihak 
Quraisy tidak mengizinkan Rasulullah saw untuk masuk ke Mekkah. Berita ini 
diperoleh dari Budail, kepala suku Khaza’ah yang simpati membela Islam. 
Kemudian melalui Budail ini Rasulullah saw mengirimkan pesan kepada penguasa 
Quraisy bahwa Rasulullah saw bersama kaum muslimin ingin melaksanakan 
ibadah, bukan untuk berperang. (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. 
II, hal.311). Sambil menunggu pesan yang dikirim melalui Budail, Rasulullah 
saw berhenti di satu tempat yang bernama Hudaibiyah. Ternyata pihak Quraisy 
mengirimkan utusannya Urwah bin Mas’ud untuk melakukan perundingan dengan 
pihak Rasulullah saw. Tetapi, tidak dicapai kesepakatan.
……….
Kemudian terjadinya perjanjian Hudaibiyah sebagaimana yang telah ditulis 
dalam tulisan sebelum ini.
……….

Selanjutnya cerita mengenai situasi dan keadaan ketika sebelum sedang dan 
sesudah perjanjian Hudaibiyah banyak dikisahkan oleh para ahli hadist dan 
sejarah, salah satunya adalah cerita yang tertuang dalam hadits sahih Muslim 
sebagaimana dijelaskan  dan dituliskan dalam tulisan sebelum ini, misalnya 
Muslim dalam hadits sahihnya menulis:

“Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.: Dari Abu Wail ra. ia berkata: Pada 
perang Shiffin, Sahal bin Hunaif berdiri dan berkata: Wahai manusia! 
Tuduhlah diri kamu sekalian, kita telah bersama Rasulullah saw. pada hari 
perjanjian Hudaibiah. Seandainya kita memilih berperang, niscaya kita akan 
berperang. Peristiwa itu terjadi pada waktu perjanjian damai antara 
Rasulullah saw. dengan kaum musyrikin. Lalu datanglah Umar bin Khathab 
menemui Rasulullah saw. dan bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah kita ini di 
pihak yang benar dan mereka di pihak yang batil? Rasulullah saw. menjawab: 
Benar. Ia bertanya lagi: Bukankah prajurit-prajurit kita yang terbunuh 
berada di surga dan prajurit-prajurit mereka yang terbunuh berada di neraka? 
Rasulullah saw. kembali menjawab: Benar. Ia bertanya lagi: Kalau begitu, 
mengapa kita memberikan kehinaan bagi agama kita lalu kembali pulang padahal 
Allah belum memutuskan siapa yang menang antara kita dan mereka? Rasulullah 
saw. bersabda: Wahai Ibnu Khathab! Sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah. 
Percayalah, Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selamanya. Lalu Umar 
bertolak kembali dalam keadaan tidak sabar dan emosi menemui Abu Bakar dan 
berkata: Wahai Abu Bakar! Bukankah kita ini di pihak yang benar dan mereka 
itu di pihak yang batil? Abu Bakar menjawab: Benar. Umar bertanya: Bukankah 
prajurit-prajurit kita yang terbunuh akan masuk surga dan prajurit-prajurit 
mereka yang terbunuh akan masuk neraka? Abu Bakar menjawab: Benar. Umar 
bertanya lagi: Kalau demikian, mengapa kita harus memberikan kehinaan kepada 
agama kita dan kembali pulang (Madinah) padahal Allah belum memutuskan siapa 
yang menang antara kita dan mereka. Abu Bakar menjawab: Wahai Ibnu Khathab! 
Sesungguhnya beliau itu adalah utusan Allah. Percayalah, Allah selamanya 
tidak akan menyia-nyiakan beliau. Selanjutnya turunlah ayat Alquran atas 
Rasulullah saw. membawa berita kemenangan lalu beliau mengutus seseorang 
menemui Umar untuk membacakan ayat itu kepadanya. Umar bertanya: Wahai 
Rasulullah, apakah ini tanda kemenangan? Beliau menjawab: Ya. Kemudian 
legalah hati Umar dan ia pun segera berlalu” (Sahih Muslim: 3338)

Nah, hadits sahih ini adalah menceritakan keadaan dan situasi ketika 
perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 H, bukan kejadian waktu di Mekkah. Dalam 
hadist sahih Muslim diatas terbaca pertanyaan Umar bin Khattab ra sedikit 
berbeda dengan apa yang ditulis oleh Syibli Nu’mani dalam tulisan sejarahnya 
Siratun Nabi, Jil I, hal.457, dimana Umar bin Khattab ra bertanya kepada 
Rasulullah saw setelah ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah ”Bukankah 
engkau benar-benar utusan Allah? Bukankah apa yang kita miliki sesuatu yang 
benar?”. Kemudian ada lagi versi lain yang menyebutkan ”Apakah benar bahwa 
engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”

Kemudian, setelah perjanjian Hudaibiyah ditandatangani dan timbulnya kasus 
Abu Jundal, sebagaimana yang ditulis dalam tulisan sebelum ini, maka 
Rasulullah saw memotong binatang-binatang korban dan mencukur kepala di 
Hudaibiyah itu, karena menurut perjanjian Hudaibiyah pada tahun itu tidak 
dibenarkan masuk ke Mekkah dan harus pulang tanpa melaksanakan ibadah umrah. 
Kemudian boleh datang tahun depan untuk melaksanakan haji, tetapi tidak 
boleh tinggal di Mekkah lebih dari tiga hari. Nah, itulah sebagian isi dari 
perjanjian Hudaibiyah.

Ketika Rasulullah saw dan sahabat serta pasukan Rasulullah saw kembali ke 
Madinah di perjalanan turunlah Firman Allah surat Al-Ftah: “Sesungguhnya 
Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (Al Fath, QS 48: 1)

Nah, ketika Umar bin Khattab ra diberitahukan tentang surat Al-Fath ini yang 
menyangkut perjanjian udaibiyah, maka Umar bin Khattab ra menjadi puas.

Jadi semua kejadian itu adalah pada tahun 6 Hijrah. Kemudian soal adanya 
perbedaan pertanyaan yang dikemukakan oleh Umar bin Khattab ra kepada 
Rasulullah ketika di Hudaibiyah setelah detik-detik ditandatanganinya 
perjanjian Hudaibiyah, dimana menurut Sahih Muslim hanya diawali dengan 
pertanyaan ”Wahai Rasulullah, bukankah kita ini di pihak yang benar dan 
mereka di pihak yang batil?”. Kemudian menurut Syibli Nu’mani dalam tulisan 
sejarahnya Siratun Nabi, Jil I, hal.457, Umar bin Khattab ra bertanya 
”Bukankah engkau benar-benar utusan Allah? Bukankah apa yang kita miliki 
sesuatu yang benar?”
Juga ada versi lainnya yang menuliskan ”Apakah benar bahwa engkau adalah 
Nabi Allah yang sesungguhnya?”

Nah adanya perbedaan bentuk pertanyaan-pertanyaan Umar bin Khattab ra itu 
semua adalah tergantung kepada siapa yang menceritakannya dan cerita mana 
yang sahih. Kemudian lagi yang dijadikan titik utama dan titik yang penting 
bukan pada bentuk pertanyaannya, melainkan kepada situasi dan kondisi dimana 
timbulnya pertanyaan tersebut.

Kalau hanya melihat kepada bentuk pertanyaan yang berbagai macam bentuknya, 
tergantung kepada siapa yang menceritakannya, maka itu sama saja dengan kita 
hanya melihat sampai ketingkat kulitnya saja. Artinya yang diributkan 
hanyalah sekedar ranting saja, sedangkan akarnya yang kuat tidak pernah 
disinggung atau dibahasnya.

Nah, persis contohnya seperti orang yang meributkan ranting dalam bentuk 
pertanyaan, misalnya bentuk pertanyaan ”Apakah benar bahwa engkau Nabi Allah 
yang sesungguhnya? ” dibandingkan dengan bentuk pertanyaan “Bukankah engkau 
benar-benar utusan Allah?”. Dimana menurut orang itu bentuk pertanyaan 
pertama lebih keras daripada pada bentuk pertanyaan kedua. Padahal kalau 
ditanya siapa yang meriwayatkan pertanyaan ”Apakah benar bahwa engkau Nabi 
Allah yang sesungguhnya? ” Kemudian jawabannya cukup dengan menuliskan hasil 
kutipan ”lihat Shahih Bukhori dalam Bab as-Syuruthi Jihad 2:122; juga Shahih 
Muslim Bab Sulhul Hudaibiyah Jil. 2”

Padahal ketika dilihat dalam sahih Muslim nomor 3338 ternyata bentuk 
petanyaan ”Apakah benar bahwa engkau Nabi Allah yang sesungguhnya? ” tidak 
ditemukan. Justru yang ditulis oleh Muslim dalam sahihnya adalah seperti 
yang dikutip diatas.

Jadi, orang ini hanya sekedar menjiplak dan mengutipnya saja cerita-cerita 
Hudaibiyah, dialog Umar bin Khattab ra dengan Rasulullah saw dan Abu Bakar 
ra padahal ia tidak mengerti dan tidak memahami. Buktinya orang ini tidak 
tahu kapan perjanjian Hudaibiyah itu dilaksanakan dan ditandatangani. 
Bagaimana situasi dan keadaan waktu terjadinya perjanjian Hudaibiyah?. Dan 
siapa itu Abu Jundal dihubungkan dengan perjanjian Hudaibiyah?. Pokoknya 
kelihatannya orang ini asal buka mulut dan mengutip hadits-hadits dengan 
nomor haditsnya plus kitabnya, tetapi tidak pernah dilihat dan dibacanya 
serta dipahaminya. Pokoknya asal gaya dan keren mengutip ”lihat Shahih 
Bukhori dalam Bab as-Syuruthi Jihad 2:122; juga Shahih Muslim Bab Sulhul 
Hudaibiyah Jil. 2”. Padahal dirinya tidak pernah melihat bukunya, apalagi 
membacanya. Makanya dalam berdiskusi orang ini hanya sekedar memberikan 
hasil kutipan-kutipannya saja dari internet, tanpa dibaca, tanpa dipikirkan, 
tanpa dipahami dan tanpa dianalisa secara mendalam. Jadi orang ini hanya 
sibuk mempersoalkan masalah rantingnya saja, bukan membahas dan menganalisa 
secara mendalam akar tunggal yang menancap kedalam bumi. Mana punya orang 
ini kitab sahih Imam Muhammad Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardijba 
Bukhori Al Ju’fi yang tiga jilid dan sahih Imam Abi Al Hasin Muslim bin 
Hijjaj bin Muslim yang delapan jilid lengkap dalam bahasa Arab di rumahnya, 
paling mengutip dari tulisan orang lain, itupun dikutip dalam bahasa Melayu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada 
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu 
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang 
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel 
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita 
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------



From: Muhammad al qubra <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [email protected]
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Lantak] YA ALLAH, TUNJUKILAH HAMBAMU YANG BELUM BANYAK MELAKUKAN 
KESALAHAN DALAM MENJESATKAN HAMBAMU YANG LAINNYA.
Date: Wed, 18 Oct 2006 18:04:58 +0200 (CEST)
MIME-Version: 1.0
X-Originating-IP: 217.12.13.57
X-Sender: [EMAIL PROTECTED]
Received: from n30.bullet.scd.yahoo.com ([66.94.237.23]) by 
bay0-mc11-f15.bay0.hotmail.com with Microsoft SMTPSVC(6.0.3790.2444); Wed, 
18 Oct 2006 09:17:50 -0700
Received: from [66.218.69.2] by n30.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 18 Oct 
2006 16:08:08 -0000
Received: from [66.218.66.28] by t2.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 18 Oct 
2006 16:08:08 -0000
Received: (qmail 51961 invoked from network); 18 Oct 2006 16:06:13 -0000
Received: from unknown (66.218.67.35)  by m22.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 
18 Oct 2006 16:06:13 -0000
Received: from unknown (HELO web86905.mail.ukl.yahoo.com) (217.12.13.57)  by 
mta9.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 18 Oct 2006 16:06:10 -0000
Received: (qmail 13160 invoked by uid 60001); 18 Oct 2006 16:04:59 -0000
Received: from [83.108.173.137] by web86905.mail.ukl.yahoo.com via HTTP; 
Wed, 18 Oct 2006 18:04:58 CEST
X-Message-Info: LsUYwwHHNt3WzAZ6STiaxm1ZM603+EMw6cYpvO8eFaM=
Comment: DomainKeys? See http://antispam.yahoo.com/domainkeys
DomainKey-Signature: a=rsa-sha1; q=dns; c=nofws; s=lima; 
d=yahoogroups.com;b=hgrQxV4D5zQt7SuE/KqRS/fHY7s+/Y5Y1MmMMczngDe11egYU+4zR60DtIWG9aOuIzHX7GMJRSyA2v8sS6WSh5eEstuyK5iS8mnjwXi95odXqv0rSkDAG1NxfUb3U18z;
X-Yahoo-Newman-Id: 3332471-m9379
X-Apparently-To: [email protected]
X-eGroups-Msg-Info: 1:0:0:0
X-Yahoo-Profile: acheh_karbala
Mailing-List: list [email protected]; contact 
[EMAIL PROTECTED]
Delivered-To: mailing list [email protected]
List-Id: <Lantak.yahoogroups.com>
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
X-Yahoo-Newman-Property:groups-email-trad
Return-Path: 
[EMAIL PROTECTED]
X-OriginalArrivalTime: 18 Oct 2006 16:17:50.0383 (UTC) 
FILETIME=[F4FABBF0:01C6F2D0]

"Terakhir, dengan berdasarkan apa yang dijelaskan diatas, maka kita sudah 
dapat mengambil kesimpulan bahwa pertanyaan yang dikemukakan oleh Umar bin 
Khattab ra “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?” kehadapan Rasulullah 
saw adalah bukan karena kemunafikan atau adanya rasa syak, ragu-ragu, tidak 
yakin dan tidak pecaya kepada Rasulullah saw dan kerasulan, melainkan semata 
akibat oleh dorongan perasaan yang ditimbulkan oleh adanya penyiksaan dan 
penganiayaan terhadap Abu Jundal, dimana Rasulullah saw tidak berdaya dan 
tidak mampu untuk menolongnya, karena tidak mau menghianati perjanjian 
Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani." (Ahmad Sudirman , 18 Oktober 
2006)

   Ya Allah tunjukilah hambamu yang belum banyak melakukan kesalahannya.
   Betapa lugunya kesimpulan yang diambil Ustaz Ahmad Sudirman diatas. 
Pastinya Umar menuding rasulullah dengan pertanyaan:   "Apakah benar bahwa 
engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?", kejadiannya masih di Makkah, 
bukan setelah muncul peristiwa  Abu Jundal,   meminta bergabung dengan 
Rasulullah saw. Ustaz Ahmad Sudirman sengaja memutarbalikkan kenyataan untuk 
membela Umar, seolah-olah demikian peduli Umar kepada penderitaan Abu Jundal 
lalu membenarkan melemparkan pertanyaan yang mencirikan kemunafikannya. 
Andaikatapun benar kejadian itu setelah peristiwa Abu Jundalpun, mustahil 
bagi orang-orang yang benar-benar beriman melemparkan pertanyaan seperti 
itu. Bukankah yang namanya orang beriman sami'na wa ata'na terhadap apa saja 
yang datangnya dari Rasulullah?  Apalagi kejadian itu masih di Makkah 
selepas barusaja perjanjian itu ditandatangani.

   Hal ini juga dibuktikan setelah Rasulullah melayani Umar, beliau beliau 
berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Hendaklah kalian sembelih 
binatang-binatang korban yang kalian bawa itu dan cukurlah rambut kalian." 
Demi Allah tidak satu sahabatpun berdiri mematuhi perintah itu sampai Nabi 
mengucapkannya sebanyak tiga kali. Ketika dilihatnya mereka tidak mematuhi 
perintahnya Nabi masuk ke dalam kemahnya dan keluar kembali tanpa berbicara 
dengan siapa pun. Beliau sembelih korbannya dengan tangannya sendiri lalu 
memanggil tukang cukurnya kemudian bercukur. Melihat ini para sahabat 
kemudian menyembelih juga korban mereka, kemudian saling mencukur sehingga 
hampir-hampir mereka saling berbunuhan. (Lihat buku-buku sejarah dan sirah. 
Juga lihat Shahih Bukhori dalam Bab as-Syuruthi Jihad 2:122; juga Shahih 
Muslim Bab Sulhul Hudaibiyah Jil. 2)

   Untuk lebih jelas lihatlah sekali lagi cuplikan berikut: . . . . . .Namun 
sebagian sahabat tidak senang dengan sikap Nabi seperti ini. Mereka 
menentangnya dengan keras. Umar bin Khattab datang dan berkata: "Apakah 
benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya? "

   "Ya", jawab Nabi.

   "Bukankah kita dalam hak dan musuh kita dalam batil?"
   "Ya". Sahut Nabi.

   "Lalu kenapa kita hinakan agama kita?" Desak Umar.
   "Aku adalah Rasulullah. Aku tidak melanggar perintah-Nya dan Dialah 
penolongku." Jawab Nabi.

   "Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Rumah 
Allah dan bertawaf di sana ?"

   "Ya. Tetapi apakah aku katakan kepadamu pada tahun ini juga?" Tanya Nabi.
   "Tidak".Jawab Umar.
   "Engkau akan datang ke sana dan tawaf di sekitarnya." Kata Nabi 
mengakhiri.

   Kemudian Umar datang kepada Abu Bakar dan bertanya:
   "Wahai Abu Bakar! Benarkah bahwa dia adalah seorang Nabi yang 
sesungguhnya? "
   "Ya" Jawab Abu Bakar.

   Kemudian Umar mengajukan pertanyaan serupa kepada Abu Bakar dan dijawab 
dengan jawaban yang serupa juga.

   "Wahai saudara!" Kata Abu Bakar kepada Umar. "Beliau adalah Rasul Allah 
yang sesungguhnya. Beliau tidak melanggar perintah-Nya dan Dialah 
Penolongnya. Maka percayalah padanya."

   Usai Nabi menulis piagam perdamaian, beliau berkata kepada 
sahabat-sahabatnya: "Hendaklah kalian sembelih binatang-binatang korban yang 
kalian bawa itu dan cukurlah rambut kalian." . . . . . . . . . . . . . . . . 
. . . . . . . . . . . . . .

   Ternyata untuk membela membenarkan klaimnya itu, Ustaz Ahmad Sudirman 
juga telah merobah pertanyaan Umar dari "Apakah benar bahwa engkau Nabi 
Allah yang sesungguhnya? " kepada:   “Bukankah engkau benar-benar utusan 
Allah?”  Ustaz harus memahami bahwa dua pertanyaan diatas sepertinya sama, 
namun kalau diteliti benar-benar nampak bahwa pertanyaan yang pertama lebih 
keras daripada pada pertanyaan kedua, kendatipun dalam bentuk pertanyaan 
kedua juga mustahil dilemparkan kepada Rasulullah kecuali orang dungu kalau 
tidak dikatakan Munafiq.

   Kenyataannya Umar benar-benar munafiq.  Buktinya pertanyaan itu 
diulangilagi kepada konconya Abubakar. Hal ini semua dibuktikan oleh 
banyaknya tindakan Umar sendiri yang menentang Rasulullah seperti Ketika 
Rasulullah hendak menulis wasiat diatas katilnya, menentang pengangkatan 
Usamah dan bahkan Umar dan Abubakar tidak bersedia berada dibawah pimpinan 
Usamah. Sesungguhnya semua ini datangnya dari Allah sendiri, dimana Umar dan 
Abubakar cs menentang Imam Ali dari pengangkatannya di Ghadir Khum dengan 
alasan Imam Ali Masih muda. Justru itu Allah dan Rasulnya membuktikan kepada 
mereka bahwa umur itu bukan perkara yang mustahak dengan mengangkat Usamah 
yang lebih muda dari Imam Ali serta memerintahkan Abubakar dan Umar untuk 
berada dibawah Usamah dan menahan Imam Ali agar tetap tinggal dimadinah 
disisi Rasulullah sendiri.

   Dalam pengangkatan Imam Ali di Ghadirkhum, Umar memperlihatkan 
seolah-olah dia mengakui pengangkatan Imam Ali ketika itu dengan 
mengucapkan:"Tahniah ya Abbal Hassan, anda hari ini telah menjadi Maulaku 
dan maula semua kaum Muslimin dan Muslimat". Bukti kemunafikan mereka, 
dimana setelah itu mereka membuat perjanjian lain di belakang Ka'bah untuk 
menjauhkan Imam Ali dari Jabatan Khalifah yang sah dari Allah dan Rasulnya. 
Sementara Abubakar dan Umar mengangkat diri sebagai Khalifah di Saqifah, 
tempat yang telah disegel Rasulullah, dengan memanfaatkan atas nama keluarga 
Rasulullah dalam berhujjah dengan Abdurrahman bin Auf. Peristiwa itu insya 
Allah akan kita beberkan nati suatu saat mengenai pengangkatan 
khalifah-khalifah yang penuh misteri itu.

   Bukti lain kemunafikan Umar disamping  menanyakan lagi pertanyaan syaknya 
terhadap Rasulullah kepada Abubakar, hal tersebut diperjelas lagi oleh 
shahih Bukhari halaman 111 dan shahih Muslim halaman 12, 14. Disana 
dikatakan bahwa Umar berkata: "Aku tidak mengesyaki kenabian Muhammad saw 
seperti syakku pada hari Hudaibiyah".  Pernyataan Umar tersebut menunjukkan 
bahwa dia senantiasa mengesyaki kenabian Nabi Muhammad saw tetapi syaknya 
pada hari Hudaibiyah adalah lebih banyaklagi daripada syak-syak sebelumnya.

     Demikianlah para pembaca sekalian semoga Allah memberi hidayah kepada 
kita sekalian sehingga tidak mengalami nasib yang sial ketika menghadapi 
sakratul maut sebagaimana dialami Abubakar dan Umar cs. Aamin ya Rabbal 
‘alamain,-

   Billahi fi sabililhaq
   Muhammad Al Qubra
   [EMAIL PROTECTED]
   Sandnes, Norwegia





Ahmad Sudirman <[EMAIL PROTECTED]> skrev:
             http://www.dataphone.se/~ahmad
   [EMAIL PROTECTED]

   Stockholm, 18 Oktober 2006

   Bismillaahirrahmaanirrahiim.
   Assalamu'alaikum wr wbr.


   MASIH MENGGALI TENTANG UMAR BIN KHATTAB RA DIHUBUNGKAN DENGAN PERJANJIAN 
HUDAIBIYAH.
   Ahmad Sudirman
   Stockholm - SWEDIA.


   MASIH MENYOROT UMAR BIN KHATTAB RA TENTANG PERJANJIAN HUDAIBIYAH DILIHAT 
DARI SUDUT SAHIH MUSLIM.

   Rupanya orang-orang yang masih belum mengerti dan belum memahami situasi 
dan keadaan pasca penandatanganan perjanjian Hudaibiyah tetap berusaha 
menampilkan pertanyaan-pertanyaan Umar bin Khattab ra terhadap Rasulullah 
saw dalam usaha untuk menggiring Umar bin Khattab ra kearah syah, keraguan, 
ketidak-percayaan, ketidak-yakinan kepada Rasulullah saw dan kerasulannya, 
juga beruasa membawa kearah kemunafikan.

   Nah, agar supaya kita semua memahami situasi dan keadaan pasca 
penandatanganan perjanjian Hudaibiyah ini, perlu kembali dituliskan disini 
bahwa isi perjanjian Hudaibiyah ini adalah menyangkut:

   1.Kaum Muslimin tahun ini harus pulang tanpa melaksanakan ibadah umrah.

   2.Mereka boleh datang tahun depan untuk melaksanakan haji, tetapi tidak 
boleh tinggal di Mekkah lebih dari tiga hari.

   3.Mengunjungi kota suci tidak boleh membawa senjata, hanya pedang yang 
boleh dibawa, tetapi harus tetap disarungnya.

   4.Orang Islam Madinah tidak boleh mengambil kembali orang Islam yang 
tinggal di Mekkah, juga tidak boleh menghalangi siapapun dari orang Islam 
yang ingin tinggal di Mekkah.

   5.Bila ada orang Mekkah yang ingin tingggal di Madinah, kaum muslimin 
harus menyerahkannya kembali kepada mereka, tetapi bila ada orang Islam yang 
ingin tinggal di Mekkah, pihak Mekkah tidak harus mengembalikannya ke 
Madinah. Suku-suku bangsa di Arab, bebas untuk bersekutu dengan kelompok 
manapun yang mereka kehendaki. (Majid ‘Ali Khan, Muhammad The Final 
Messenger, 1980, hal. 197-198)

   Nah bagi orang yang tidak mengerti dan tidak memahami tentang 
kebijaksanaan politik dan pemerintahan serta Negara Islam pertama yang 
dipimpin oleh Rasulullah saw, maka ketika membaca isi butiran-butiran 
perjanjian Hudaibiyah tersebut akan timbul sikap dan tindakan yang negatif 
atas isi perjanjian tersebut. Mengapa ? Karena, isinya memang menghinakan  
Islam dan merugikan kaum muslimin.
   Nah, sikap yang demikianlah yang timbul dalam pikiran sebagian pasukan 
Rasulullah saw termasuk Umar bin Khattab ra, yang menganggap bahwa isi 
perjanjian Hudaibiyah adalah menghinakan Islam dan merugikan kaum muslimin 
dan Negara Islam pertama.

   Sekarang, keadaan dan situasi yang panas diantara para sahabat dan 
pasukan Rasulullah saw pasca penandatanganan perjanjian Hudaibiyah makin 
menjadi panas situasi dan keadaannya, ketika tiba-tiba muncul Abu Jundal, 
putra Suhail bin ‘Amar utusan Quraisy  meminta bergabung dengan Rasulullah 
saw (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. II, hal.318) sambil 
menunjukkan bekas-bekas luka akibat siksaan yang ditimpakan oleh Quraisy. 
Kemudian, Rasulullah saw mencoba mencari perkecualian agar Abu Jundal dapat 
diselamatkan, tetapi pihak Suhail bin ‘Amar menolaknya. Lalu Abu Jundal 
ditangkap kembali, dipukul dan diseretnya untuk dibawa kembali ke Mekkah. 
Abu Jundal berteriak meminta tolong (Ibnu Jarir ath-Thabari, Tarikhur Rasul 
wal Muluk, Jil.II, hal.635), tetapi tidak ada yang berani menolongnya. 
Bahkan perasaan para sahabat dan para pasukan Rasulullah saw pada saat itu 
sangat tersayat hatinya, tetapi Rasulullah saw tetap berusaha dengan sabar 
dan tetap memegang teguh isi
  perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani. Bahkan Rasulullah saw 
meminta kepada Abu Jundal untuk tetap bersabar, kemudian Abu Jundal ditahan 
dan dibawa kembali ke Mekkah. (Majid ‘Ali Khan, Muhammad The Final 
Messenger, 1980, hal. 198)

   Nah dalam saat-saat situasi dan keadaan yang menyayat hati inilah yang 
disaksikan mata langsung oleh Umar Bin Khattab ra yang membuatnya menjadi 
murung, lalu berkata kepada Rasulullah saw: “Bukankah engkau benar-benar 
utusan Allah? Bukankah apa yang kita miliki sesuatu yang benar?” (Syibli 
Nu’mani, Siratun Nabi, Jil I, hal.457) Kemudian Rasulullah saw menjawab 
dengan tegas dan berkata bahwa ia lakukan semua ini semata-mata mengikuti 
petunjuk Allah. (Majid ‘Ali Khan, Muhammad The Final Messenger, 1980, hal. 
198)

   Nah ternyata Umar bin Khattab ra ketika melihat situasi dan keadaan yang 
menimpa Abu Jundal yang disiksa dan diserert didepan mata Rasulullah saw, 
para sahabat dan para pasukan Rasulullah saw, dimana tidak ada seorangpun 
yang berani menolongnya, Rasulullah saw sendiri tidak bisa menolongnya, maka 
disaat dan dalam keadaan situasi yang demikianlah timbul dorongan dari diri 
Umar bin Khattab ra yang ditampilkan dalam pertanyaan “Bukankah engkau 
benar-benar utusan Allah? Bukankah apa yang kita miliki sesuatu yang benar?” 
yang langsung diarahkan kepada Rasulullah saw. Yang dijawab oleh Rasulullah 
saw dengan tegas bahwa apa yang dilakukannya adalah semata-mata mengikuti 
petunjuk Allah SWT.

   Sekarang yang dipertanyakan, apakah timbulnya sikap Umar bin Khattab ra 
yang diungkapkan dalam bentuk pertanyaan kepada Rasulullah saw tersebut 
merupakan sikap yang syak, ragu-ragu, tidak percaya, tidak yakin kepada 
Rasulullah saw sebagai rasul? Dan apakah sikap Umar bin Khattab ra itu 
merupakan sikap orang munafik?

   Nah, untuk menjawabnya adalah harus ditelaah, diteliti, dianalisa dari 
apa yang terjadi pada saat situasi dan keadaan terjadinya pasca 
penandatanganan perjanjian Hudaibiyah dan ketika Abu Jundal yang disiksa dan 
diseret untuk dibawa kembali ke Mekkah. Mengapa Rasulullah saw tidak mau 
menolong dan menyelamatkan Abu Jundal yang berteriak minta tolong dan 
kesakitan?

   Jawabannya adalah Rasulullah saw tidak mau menghianati perjanjian 
Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani. Inilah yang tidak dimengerti dan 
tidak dipahami oleh sebagian pasukan Rasulullah saw termasuk oleh Umar bin 
Khattab ra.

   Bagaimana jadinya, kalau Rasulullah saw dengan langsung sambil pedang 
dihunus siap menyelamatkan Abu Jundal dari orang-orang Quraisy yang sedang 
berusaha menyiksanya itu? Maka konsekuensinya adalah Rasulullah saw secara 
sadar telah menghianati perjanjian Hudaibiyah yang basru saja 
ditandatangani. Mengapa?


   Karena, dalam satu butiran yang tertuang dalam isi perjanjian Hudaibiyah 
tersebut disepakati bahwa  menurut klausul nomor 5 dinyatakan ”Bila ada 
orang Mekkah yang ingin tingggal di Madinah, kaum muslimin harus 
menyerahkannya kembali kepada mereka, tetapi bila ada orang Islam yang ingin 
tinggal di Mekkah, pihak Mekkah tidak harus mengembalikannya ke Madinah.”

   Nah, karena Abu Jundal orang Mekkah yang ingin mendapat perlindungan di 
Madinah dibawah pemerintah Negara Islam pertama di Madinah, dan ingin 
tinggal di Madinah, maka kaum muslimin harus menyerahkannya kembali kepada 
mereka.

   Inilah klausul dari isi perjanjian Hudaibiyah yang telah mengikat 
Rasulullah saw dan seluruh kaum muslimin. Dan karena klausul inilah 
Rasulullah saw tidak ingin menghianati perjanjian Hudaibiyah yang baru saja 
ditandatangani.

   Nah, disinilah perbedaannya antara Rasulullah saw dan para sahabatnya, 
termasuk Umar bin Khattab ra. Umar bin Khattab ra tidak mengerti dan tidak 
memahami serta tidak menyadari konsekuensi yang bisa menimpa Rasulullah saw 
dan kaum muslimin apabila menghianati perjanjian Hudaibiyah yang baru saja 
ditandatangani itu.

   Jadi, dorongan yang besar dari dalam diri Umar bin Khattab ra yang 
diluapkan dalam bentuk sikap dan diformulasikan dalam pertanyaan “Bukankah 
engkau benar-benar utusan Allah?” kehadapan Rasulullah saw adalah bukan 
diakibatkan oleh adanya rasa munafik dalam diri Umar bin Khattab ra, ataupun 
rasa syak, ragu-ragu, tidak yakin dan tidak pecaya kepada Rasulullah saw dan 
kerasulan, melainkan semata akibat oleh dorongan perasaan yang ditimbulkan 
oleh adanya penyiksaan dan penganiayaan terhadap Abu Jundal, dimana 
Rasulullah saw tidak berdaya dan tidak mampu untuk menolongnya, karena tidak 
mau menghianati perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani.

   Keadaan dan situasi inilah yang tidak dimengerti dan tidak juga dipahami 
oleh sebagian orang yang membaca hadist sahih Muslim, sejarah Rasulullah 
karya Ibnu Jarir ath-Thabari, Syibli Nu’mani, Majid ‘Ali Khan dan yang 
lainnya dihubungkan dengan pertanyaan yang disampaikan oleh Umar bin Khattab 
ra kehadapan Rasulullah saw, sehingga disimpulkan bahwa Umar bin Khattab ra 
telah munafik dan tidak percaya lagi kepada Rasulullah saw dan kerasulannya.

   Terakhir, dengan berdasarkan apa yang dijelaskan diatas, maka kita sudah 
dapat mengambil kesimpulan bahwa pertanyaan yang dikemukakan oleh Umar bin 
Khattab ra “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?” kehadapan Rasulullah 
saw adalah bukan karena kemunafikan atau adanya rasa syak, ragu-ragu, tidak 
yakin dan tidak pecaya kepada Rasulullah saw dan kerasulan, melainkan semata 
akibat oleh dorongan perasaan yang ditimbulkan oleh adanya penyiksaan dan 
penganiayaan terhadap Abu Jundal, dimana Rasulullah saw tidak berdaya dan 
tidak mampu untuk menolongnya, karena tidak mau menghianati perjanjian 
Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani.

   Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada 
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu 
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang 
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel 
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

   Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita 
memohon petunjuk, amin *.*

   Wassalam.

   Ahmad Sudirman

   http://www.dataphone.se/~ahmad
   [EMAIL PROTECTED]
   ----------

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.408 / Virus Database: 268.13.4/480 - Release Date: 2006-10-17

_________________________________________________________________
Prova nya Live Messenger! http://get.live.com/messenger/overview



Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? 
Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan 
ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung 
bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Salam perjuangan. 
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke