http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 20 Oktober 2006

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.


ALLAMAH SYARAFUDDIN AL-MUSAWI PANDAI MENGUTIP TETAPI TIDAK MENGERTI DAN 
TIDAK PAHAM APA YANG DIKUTIPNYA.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.


CONTOH ORANG YANG HANYA PANDAI MENGUTIP TETAPI TIDAK MENGERTI DAN TIDAK 
PAHAM APA YANG DIKUTIPNYA.

Setelah membaca tulisan Allamah Syarafuddin Al-Musawi dari Sudan yang 
menulis buku berjudul “Kebenaran Yang Hilang“ dalam bagian “Sejarah Hidupku, 
Hari-Hari Masa Kecilku“ ( 
http://www.al-shia.com/html/id/books/Kebenaran-Hilang/index.htm ), ternyata 
ditemukan ketidak-logisan, kontradiksi dan tidak masuk akal dalam uraian 
cerita sejarah hidupnya di Sudan.

Nah, Allamah Syarafuddin Al-Musawi dalam tulisan “Sejarah Hidupku, Hari-Hari 
Masa Kecilku“ itu menulis sebagai berikut:

“Kebetulan, dekan fakultas kami adalah Profesor ’Alwan. Dia mengajar mata 
kuliah tafsir bagi kami. Pada suatu hari dia berbicara tentang tafsir firman 
Allah SWT yang berbunyi, “Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang 
bakal terjadi“, “Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum 
dia menyeru manusia, maka mereka pun berkumpul. Lalu Rasulullah saw 
mengangkat tangan Ali as seraya berkata, ’Barangsiapa yang aku sebagai 
pemimpinnya maka inilah Ali sebagai pemimpinnya.’ Berita itu pun tersebar ke 
seluruh pelosok negeri, dan sampai kepada Harits bin Nukman al-Fihri. Lalu 
dia mendatangi Rasulullah saw dengan menunggang untanya. Kemudian dia 
menghentikan untanya dan turun darinya. Harits bin Nukman al-Fihri berkata, 
’Hai Muhammad, kamu telah menyuruh kami tentang Allah, supaya kami bersaksi 
bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa kamu adalah utusan-Nya, dan kami 
pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk menunaikan salat lima waktu, 
dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk menunaikan zakat, dan 
kami pun menerimanya. Kamu peritahkan kami untuk berpuasa di bulan Ramadhan, 
dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk melaksakan ibadah 
haji, dan kami pun menerimanya. Kemudian kamu tidak merasa puas dengan semua 
ini sehingga kamu mengangkat tangan sepupumu dan mengutamakannya atas kami 
semua dengan mengatakan, ’Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka 
inilah Ali pemimpinnya. ’Apakah ini dari kamu atau dari Allah?’ Rasulullah 
saw menjawab, ’Demi Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya 
ini berasal dari Allah SWT.’ Mendengar itu Hants bin Nukman al-Fihri 
berpaling dari Rasulullah saw dan bermaksud menuju ke kendaraannya sambil 
berkata, ’Ya Allah, seandainya apa yang dikatakan Muhammad itu benar maka 
hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab 
yang pedih.’ Maka sebelum Harits bin Nukman al-Fihri sampai ke kendara­annya 
tiba-tiba Allah menurunkan sebuah batu dari langit yang tepat mengenai 
ubun-ubunnya dan ke mudian tembus keluar dari duburnya, dan dia pun mati. 
Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya, ’Seorang peminta telah meminta 
kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak 
seorangpun dapat menolaknya.’(Kitab Nur al-Abshar, karya asy-Syabalanji, 
hal. 75.) Setelah selesai pelajaran salah seorang teman saya menemuinya dan 
berkata kepadanya, "Apa yang telah Anda katakan adalah perkataan Syi'ah." 
Bapak dekan tertegun sejenak, kemudian memandang ke arah pemerotes seraya 
berkata, "Panggil Mu'tashim ke ruang kantor...!"

Nah, coba kita secara seksama menggali, meneliti dan menganalisa apa yang 
ditulis oleh Allamah Syarafuddin Al-Musawi tersebut diatas.

Ada dua faktor besar yang sangat bertentangan dan tidak masuk akal serta 
kontradiksi dalam tulisan tersebut yaitu, pertama, kalimat “Sesungguhnya 
Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum dia menyeru manusia, maka 
mereka pun berkumpul.”. Kedua, kalimat  ”Kemudian Allah SWT menurunkan 
firman-Nya, ’Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal 
terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya.’ ”

Sekarang, kita teliti dan analisa sedikit lebih mendalam. Dalam kalimat 
“Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum dia menyeru 
manusia, maka mereka pun berkumpul.” Dimana kalimat itu menceritakan 
kejadian pada tahun kesepuluh Hijrah setelah Rasulullah saw menjalankan 
ibadah Haji Wada. Sepulang dari Haji Wada Rasulullah saw berhenti di Ghadir 
khum dan menyeru manusia, menurut cerita tersebut diatas itu.

Adapun kalimat ”Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya, ’Seorang peminta 
telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, 
yang tidak seorangpun dapat menolaknya.’ ”. Ternyata itu adalah bunyi ayat 1 
dan ayat 2 surat Al-Ma'aarij yaitu ”Seseorang telah meminta kedatangan azab 
yang akan menimpa,” (QS Al-Ma'aarij, 70: 1) ”orang-orang kafir, yang tidak 
seorangpun dapat menolaknya,” (QS Al-Ma'aarij, 70: 2).

Nah sekarang yang dipertanyakan adalah apakah benar ayat 1 dan ayat 2 surat 
Al-Ma'aarij ini diturunkan setelah Rasulullah saw menjalankan ibadah Haji 
Wada pada tahun kesepuluh Hijrah?

Jawabannya adalah surat Al-Ma'aarij yang terdiri atas 44 ayat diturunkan di 
Mekkah sesudah surat Al-Haaqqah. Jadi ayat 1 dan ayat 2 surat Al-Ma'aarij 
ini diturunkan di Mekkan bukan setelah Rasulullah saw menjalankan ibadah 
Haji Wada seperti yang ditulis oleh Allamah Syarafuddin Al-Musawi dalam 
tulisan Sejarah Hidupku, Hari-Hari Masa Kecilku.

Jadi disini kelihatan dengan jelas dan nyata bahwa Allamah Syarafuddin 
Al-Musawi ketika menuliskan hubungan antara kejadian di Ghadir khum setelah 
Haji Wada dan turunnya ayat 1 dan ayat 2 surat Al-Ma'aarij ini tidak bisa 
diterima oleh akal yang sehat atau tidak logis atau kontradiksi. Atau dengan 
kata lain Allamah Syarafuddin Al-Musawi menuliskan cerita sejarah hidupnya 
itu penuh dengan  kebohongan dan memanipulasi fakta dan bukti.

Selanjutnya kita secara bersama-sama juga meneliti dan menganalisa kalimat: 
” “Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum dia menyeru 
manusia, maka mereka pun berkumpul. Lalu Rasulullah saw mengangkat tangan 
Ali as seraya berkata, ’Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah 
Ali sebagai pemimpinnya.’”

Nah, disini walaupun Allamah Syarafuddin Al-Musawi ketika menuliskan 
kejadian tersebut tidak memakai dan mendasarkan pada nash, tetapi kejadian 
tersebut dihubungkan dengan ayat 67 surat Al-Maidah.

Nah yang sekarang dipertanyakan adalah apakah ayat 67 surat Al-Maidah ini 
ada hubungan dengan Rasulullah saw mengangkat dan melantik Ali bin Abi 
Thalib sebagai khalifah dalam pidato Rasulullah saw di lembah bernama Ghadir 
Khum sepulang Haji Wada?

Sebenarnya jawaban dari pertanyaan ini sudah ditulis dalam tulisan ”Menggali 
Al-Maidah 5:55,67 untuk melihat apakah Al-Wilayah adalah Ali bin Abi Thalib” 
( http://www.dataphone.se/~ahmad/061007a.htm ). Tetapi untuk sekedar 
memperkuat, tidak mengapa kita tuliskan kembali jawaban tersebut, yaitu:

Dimana dalam ayat 67 surat Al-Maidah Allah SWT berfirman:

”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika 
tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak 
menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. 
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” 
(QS Al-Maidah 5:67)

Nah, sekarang mari kita kupas secara bersama-sama untuk menjawab pertanyaan 
diatas.

Kalau kita memperhatikan, membaca dan menelaah ayat 67 surat Al-Maidah ini, 
maka tidak ada ditemukan maksud dan tujuan pengangkatan Ali bin Abi Thalib 
sebagai khalifah. Melainkan isinya merupakan tugas misi dakwah Rasulullah 
saw untuk menyampaikan risalah islam kepada ummat manusia, yaitu:

Pertama, ”Ya ayyuhar Rosulu balligh ma unjila ilaika mir Robbika…” (Hai 
Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…) yaitu 
sampaikan risalah Islam kepada ummat manusia.

Kedua, ”wa in lam taf ’al fa ma ballaghta risalatahu…” (Dan jika tidak kamu 
kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan 
amanat-Nya.) secara lengkap dan menyeluruh.

Ketiga, ”wallahu y’ashimuka minannas…” (Allah memelihara kamu dari 
(gangguan) manusia) yang mengancam ketika kamu menjalankan dan menyampaikan 
risalah Islam kepada ummat manusia.

Keempat, ”Innalloha la yahdil qaomal kafirin” (Sesungguhnya Allah tidak 
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir) yaitu orang-orang yang 
mengingkari risalah yang kamu sampaikan kepada mereka.

Jadi, dalam ayat 67 surat Al-Maidah itu memang tidak ditujukan dan tidak 
dimaksudkan untuk pengangkatan dan pelantikan Ali bin Abi Thalib sebagai 
khalifah penerus Rasulullah saw.

Apabila memang Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah penerus 
Rasulullah saw langsung oleh Allah SWT, mengapa tidak langsung ditujukan dan 
disebutkan sebagaimana Nabi Sulaiman mewarisi ke-khilafahan atau kerajaan 
Nabi Daud “Wa waritsa Sulaimanu Dawuda...“ (Dan Sulaiman telah mewarisi 
Daud)

”Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah 
diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. 
Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata." (QS An-Naml 
27:16)

Atau ketika Allah SWT menunjuk dan mengangkat Nabi Daud sebagai khalifah:

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka 
bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan 
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari 
jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan 
mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan“. (QS 
Ash-Shaad 38:26)

Jadi, sebenarnya orang yang menghubungkan ayat 67 surat Al-Maidah dengan 
pengangkatan Ali bin Abi Thalib oleh Rasulullah saw adalah tidak memiliki 
kekuatan nash yang kuat.

Kemudian kalau ada orang yang menghubungkan ayat 67 surat Al-Maidah ini 
dengan perkataan Abu Sa‘id al-Khudri ra, yang menyatakan bahwa ayat tersebut 
diturunkan berhubungan dengan Ali bin Abi Thalib yang mengarah kepada 
pelantikan sebagai khalifah di Ghadir Khum. Dimana pelantikan ini dikenal 
dengan khutbah Ghadir Khum, maka perlu diteliti riwayat tersebut terlebih 
dahulu.

Nah, sebenarnya yang dirujuk oleh orang itu untuk memperkuat ayat 67 surat 
Al-Maidah bukan hadits Rasulullah saw, melainkan hanya ucapan dan kata-kata 
Abu Sa’id al-Khudri yang isinya: Daripada Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: 
Diturunkan ayat ini: “Wahai Rasul Allah! Sampaikanlah apa yang telah 
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” ke atas Rasulullah shallallahu 'alaihi 
wasallam pada Hari Ghadir Khum berkenaan Ali bin Abi Thalib.

Dimana, sanad riwayat ini adalah dha’if. Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibn 
Abi Hatim di dalam Tafsir al-Quran al-Azhim – no: 6609 (tafsir ayat 67 surah 
al-Maidah), al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul, ms. 233 (ayat 67 surah 
al-Maidah) dan Ibn Asakir di dalam Tarikh Dimasq al-Kubra, jld. 45, ms. 179 
(biografi ‘Ali bin Abi Thalib), kesemuanya dengan sanad yang berpangkal 
kepada Ali bin Abas, daripada al-Amasy, daripada Athiyah, daripada Abu Sa‘id 
al-Khudri. Athiyah adalah Athiyah bin Sa’ad Abu al-Hasan al-Aufiy dari 
Kufah. Beliau dihukum dha’if oleh Hisyam, Yahya bin Sa’id al-Qathan, Ahmad 
bin Hanbal, Sufyan al- Tsauri, Abu Zar’ah al-Razi, Ibn Ma’in, Abu Hatim 
al-Razi, al-Nasa’i, al-Jauzajani, Ibn Adiy, Abu Daud, Ibn Hibban, 
al-Daruquthni dan lain-lain lagi. Selain itu beliau masyhur dengan sifat 
tadlis yang amat buruk. (Al-’Uqaili – al-Dhu’afa’ al-Kabir – biografi no: 
1392; Ibn Hajar al-’Asqalani – Thabaqat al-Mudallisin – biografi no: 122 dan 
Syu’aib al-Arna’uth & Basyar ’Awwad Ma’ruf – Tahrir Taqrib al-Tahzib, 
biografi no: 4616.)

Jadi, kalau berdasarkan riwayat diatas, maka riwayat yang menyatakan bahwa 
ayat 67 surat Al-Maidah ada hubungannya dengan pengangkatan Ali bin Abi 
Thalib oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum adalah tidak memiliki kekuatan 
nash yang kuat atau dha’if atau lemah.

Nah sekarang, kesimpulan yang bisa diambil dari apa yang dijelaskan diatas 
adalah ayat 67 surat Al-Maidah yang dihubungkan dengan pengangkatan dan 
pelantikan Ali bin Abi Thalib oleh Rasulullah saw sebagai khalifah adalah 
tidak memiliki kekuatan nash yang kuat. Begitu juga ayat 55 surat Al-Maidah 
yang menghubungkan dengan khalifah adalah sangat lemah. Karena itu baik 
dalam ayat 55 ataupun ayat 67 surat Al-Maidah adalah sama sekali tidak ada 
hubungannya yang kuat dengan pengangkatan dan pelantikan Ali bin Abi Thalib 
oleh Rasulullah saw sebagai khalifah penerus Rasulullah saw.

Terakhir, dengan adanya penjelasan diatas kita sekarang sudah bisa 
mendapatkan gambaran bahwa Allamah Syarafuddin Al-Musawi dalam tulisan 
“Sejarah Hidupku, Hari-Hari Masa Kecilku“ itu ternyata isinya kontradiksi, 
tidak logis dan tidak masuk akal. Ditambah tidak adanya nash yang sahih yang 
bisa dijadikan sandaran atas ceritanya mengenai kejadian di Ghadir Khum yang 
dihubungkannya dengan pengangkatan dan pelantikan Ali bin Abi Thalib sebagai 
khalifah penerus Rasulullah saw apabila Rasulullah saw telah menghadap Allah 
SWT.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada 
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu 
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang 
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel 
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita 
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------



From: Muhammad al qubra <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: [www.aceh-online.com] KONSPIRASI JAHAT DAN KEJAM TERHADAP KEBENARAN 
IMAM 'ALI AS DAN MAZHAB AHLULBAYTNYA ATAU SYI'AH IMAMIAH 12  (LANJUTANNYA)
Date: Fri, 20 Oct 2006 16:17:26 +0200 (CEST)
MIME-Version: 1.0
X-Originating-IP: 217.12.13.62
X-Sender: [EMAIL PROTECTED]
Received: from n19c.bullet.sc5.yahoo.com ([66.163.187.210]) by 
bay0-mc8-f7.bay0.hotmail.com with Microsoft SMTPSVC(6.0.3790.2444); Fri, 20 
Oct 2006 07:23:30 -0700
Received: from [66.163.187.123] by n19.bullet.sc5.yahoo.com with NNFMP; 20 
Oct 2006 14:21:11 -0000
Received: from [66.218.69.1] by t4.bullet.sc5.yahoo.com with NNFMP; 20 Oct 
2006 14:21:11 -0000
Received: from [66.218.67.96] by t1.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 20 Oct 
2006 14:21:11 -0000
Received: (qmail 28095 invoked from network); 20 Oct 2006 14:19:46 -0000
Received: from unknown (66.218.66.172)  by m39.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 
20 Oct 2006 14:19:46 -0000
Received: from unknown (HELO web86910.mail.ukl.yahoo.com) (217.12.13.62)  by 
mta4.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 20 Oct 2006 14:19:44 -0000
Received: (qmail 41049 invoked by uid 60001); 20 Oct 2006 14:17:26 -0000
Received: from [83.108.189.45] by web86910.mail.ukl.yahoo.com via HTTP; Fri, 
20 Oct 2006 16:17:26 CEST
X-Message-Info: LsUYwwHHNt0WlhyaEmUl5zgB8IJxhjngBkf+ifblxrc=
Comment: DomainKeys? See http://antispam.yahoo.com/domainkeys
DomainKey-Signature: a=rsa-sha1; q=dns; c=nofws; s=lima; 
d=yahoogroups.com;b=WoOCZcygOtygXIKREsG+CesOq8a0cqe3fs6kNZwk7nG+YAIQKFFrSss5ur+XGTSJlCq85bAs0k0rcWZN6jYOLvfJMykziyAGZgDxdRkyW8+wcsdIlUjqvvUbPBVsZIeI;
X-Yahoo-Newman-Id: 11350788-m3257
X-Apparently-To: [EMAIL PROTECTED]
X-eGroups-Msg-Info: 1:0:0:0
X-Yahoo-Profile: acheh_karbala
Mailing-List: list [EMAIL PROTECTED]; contact 
[EMAIL PROTECTED]
Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED]
List-Id: <achehnews.yahoogroups.com>
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
X-Yahoo-Newman-Property:groups-email-trad
Return-Path: 
[EMAIL PROTECTED]
X-OriginalArrivalTime: 20 Oct 2006 14:23:30.0136 (UTC) 
FILETIME=[50C79D80:01C6F453]

           Sebelumnya  Daftar Isi  Selanjutnya

   Sekarang, coba lihat, bagaimana Bukhari menyelewengkan sesuatu yang 
memburukkan Muawiyah dan Marwan:
   "Marwan berkuasa atas Hijaz. Muawiayah menggunakanya. Marwan berpidato, 
dan menyebut Yazid bin Muawiyah supaya orang-orang berbaiat kepadanya 
sepeninggal ayahnya. Kemudian Abdurrahman bin Abu Bakar mengatakan sesuatu, 
lalu Marwan berkata, 'Tangkap dia', maka Abdurrahman bin Abu Bakar masuk ke 
rumah Aisyah, sehingga mereka tidak mampu menangkapnya. Marwan ber-kata, 
'Orang inilah yang Allah telah turunkan padanya ayat, 'Dan orang yang 
berkata kepada kedua orang tuanya, 'Cis, bagi kamu berdua.' Apakah Anda 
menerima alasan saya?!' Kemudian Aisyah berkata dari balik tabir, 'Allah 
tidak menurunkan sesuatu dari Al-Qur'an padanya, kecuali Allah menurunkan 
alasan saya.'"[125]
   Bukhari membuang perkataan Abdurrahman dan menggantinya dengan mengatakan 
"Abdurrahman mengatakan sesuatu", sebagaimana juga dia mengganti perkataan 
Aisyah. Semua ini dilakukan Bukhari untuk menjaga nama baik Muawiyah dan 
Marwan. Ibnu Hajar telah menceritakan peristiwa ini secara panjang lebar di 
dalam kitabnya Fath al-Bari. Perhatikanlah, sampai sejauh mana kelurusan 
Bukhari di dalam menukil kenyataan.
   2. ContohKedua.
   Bukhari membuang fatwa Umar tentang tidak salat. Muslim meriwayatkan dari 
Syu'bah yang berkata, "Al-Hakam berkata kepada saya, dari Sa'id bin 
Abdurrahman, dari ayahnya yang berkata, "Seorang laki-laki mendatangi Umar 
dan berkata, 'Saya berjunub, namun saya tidak menemukan air.' Umar menjawab, 
'Jangan kamu salat.'
   Lalu Ammar berkata, 'Apakah kamu ingat, wahai Amirul Mukminin, tatkala 
kamu dan saya berada di dalam pasukan. Pada saat itu kita berjunub, dan kita 
tidak menemukan air. Kamu pada saat itu tidak mengerjakan salat, sedangkan 
saya berguling-guling di atas tanah dan kemudian salat. Kemudian Rasulullah 
saw berkata, 'Cukup kamu memukulkan kedua telapak tanganmu ke atas tanah, 
kemudian meniup keduanya, dan lalu mengusapkannya ke wajahmu dan kedua 
punggung tanganmu.'
   Umar berkata, 'Bertakwalah kepada Allah, wahai Ammar.' Ammar berkata, 
'Jika kamu tidak ingin, saya tidak akan ceritakan."'[126]
   Padahal hadis ini dengan jelas menunjukkan kebodohan Umar akan hukum 
agama yang paling sederhana dan penting, yang diketahui oleh seluruh kaum 
Muslimin (yaitu hukum tayammum), dan yang dengan jelas dikatakan oleh 
Al-Qur'an dan diajarkan oleh Rasulullah saw kepada mereka tentang tata 
caranya. Namun demikian, Umar memberikan fatwa untuk tidak salat. Yang 
pertama, ini tidak lain merupakan salah satu indikasi kebodohan Umar, dan 
menunjukkan bahwa Umar tidak begitu menaruh perhatian kepada salat, dan 
bahkan me-nunjukkan bahwa Umar tidak mengerjakan salat pada saat dia junub, 
sebagaimana yang dijelaskan oleh riwayat.
   Saya ingat, salah seorang teman saya pernah berdiskusi dengan saya 
tentang ilmunya Umar. Dia berkata kepada saya, "Sesungguhnya Umar sejalan 
dengan Al-Qur'an sebelum Al-Qur'an turun."
   Saya katakan kepadanya, "Ini hanya cerita yang tidak ada hubungannya 
dengan kenyataan. Karena bagaimana mungkin Umar sejalan dengan Al-Qur'an 
sebelum Al-Qur'an diturunkan, padahal dia tidak sejalan dengan Al-Qur'an 
setelah Al-Qur'an turun tentang masalah tayammum dan penentuan mahar wanita. 
Hadis ini merupakan guncangan yang paling keras yang saya alami selama saya 
mengkaji tentang pribadi Umar. Karena hadis ini menyingkap secara sempurna 
sampai sejauh mana tingkat keilmuan dan keberagamaan Umar. Yang lebih 
mengherankan saya ialah sikap Umar yang tetap bersikeras dengan kebodohannya 
setelah diberitahukan oleh Ammar tentang hukum agama mengenai masalah itu.
   Kemudian, lihatlah bagaimana Bukhari tidak sampai hati meriwayatkan fatwa 
Umar ini, yang tidak mungkin ada seorang pun yang memfatwakannya meski orang 
pasar sekali pun. Bukhari mengeluarkan di dalam kitab sahihnya dengan sanad 
dan redaksi yang sama, namun dengan membuang fatwanya,
   "Seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab dan berkata, 'Saya 
berjunub namun saya tidak menemukan air.' Lalu Ammar bin Yasir berkata 
kepada Umar bin Khattab, 'Apakah kamu ingat, wahai Amirul Mukminin, tatkala 
kamu dan saya ..."[127]
   3. Contoh Ketiga:
   Ibnu Hajar mengeluarkan di dalam kitabnya Fath al-Barifi Syarh Shahih 
al-Bukhari, jilid 17, halaman 31, hadis yang berbunyi, "Seorang laki-laki 
bertanya kepada Umar tentang firman Allah SWT yang berbunyi, 'Dan 
buah-buahan serta rumput-rumputan', apakah rumput-rumputan itu?'
   Umar menjawab, 'Kita dilarang untuk mendalami dan memberatkan diri.'"
   Ibnu Hajar berkata, "Di dalam riwayat lain yang berasal dari Tsabit, dari 
Anas yang berkata bahwa Umar membaca, 'Dan buah-buahan serta abb (sejenis 
rerumputan).' Lalu orang bertanya, 'Apa abb itu?' Umar menjawab, 'Kita tidak 
diperintahkan untuk memberatkan diri', atau 'Kita tidak diperintahkan dengan 
yang demikian ini.'"
   Kemudian, perhatikanlah bagaimana Bukhari mengerahkan segenap usahanya 
untuk membersihkan Umar dari segala sesuatu yang menempel padanya. Kenapa 
dia tidak meriwayatkan hadis yang membuktikan kebodohan Umar akan Al-Qur'an 
ini. Karena masalah yang ditanyakan adalah masalah yang sangat sederhana 
bagi orang yang mengenal Al-Qur'an dan gaya bahasanya. Argumentasi Umar 
tentang tidak adanya perintah memberatkan diri bukanlah pada tempatnya, 
karena masalah ini bukan merupakan sebuah tindakan pemberatan diri. Dan 
membuat-buat alasan dalam urusan ini adalah lebih buruk dari dosa. Ketika 
Imam Ali as ditanya dengan pertanyaan yang sama, Imam Ali as menjawab 
berkenaan dengan ayat yang sama, 'Dan buah-buahan serta abb (sejenis 
rerumputan), untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu', 
'Buah-buahan adalah kesenangan untuk kita sedangkan abb adalah kesenangan 
untuk binatang-binatang ternak. Abb adalah sejenis rerumputan.'"
   Bukhari berkata di dalam kitab sahihnya, dari Tsabit, dari Anas yang 
mengatakan, "Kami berada di samping Umar, lalu dia berkata, 'Kita dilarang 
untuk memberatkan diri.'"[128]
   Hadis ini dan hadis-hadis lainnya termasuk ke dalam kelompok hadis yang 
tidak sejalan dengan keyakinan Bukhari. Oleh karena itu, dengan sengaja dia 
pun menghilangkan sebagian, mengganti atau membuang hadis secara 
keseluruhan. Persis, sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap hadis 
tsaqalain, "Kitab Allah dan 'itrah Ahlul Baitku ...", yang mana Muslim dan 
al-Hakim telah mengeluarkannya sesuai dengan syarat Bukhari. Demikian juga 
dengan hadis-hadis sahih lainnya yang Bukhari tidak mampu menjelaskan dan 
menyimpangkannya, maka dia pun tidak memasukkannya ke dalam kitab sahihnya. 
Inilah yang menjadi sebab dasar kenapa kitab Sahih Bukhari dijadikan sebagai 
kitab yang paling sahih setelah Kitab Allah oleh para penguasa. Saya tidak 
tahu ada sebab lain selain sebab ini yang dijadikan dasar pertimbangan ini.
   4. Contoh Keempat:
   Berikut ini saya ketengahkan kepada Anda suatu peristiwa yang darinya 
Anda dapat mengetahui dengan jelas sampai sejauh mana Bukhari secara sengaja 
menyelewengkan fakta dan kebenaran. Para ulama Ahlus Sunnah beserta para 
huffazhnya, seperti Turmudzi di dalam Sahihnya, al-Hakim di dalam 
Mustadraknya, Ahmad bin Hanbal di dalam Mustadraknya, Nasa'i di dalam 
Khasha'ishnya, Thabari di dalam Tafsirnya, Jalaluddin as-Suyuthi di dalam 
tafsirnya ad-Durr al-Mantsur, Muttaqi al-Hindi di dalam kitabnya Kanz 
al-'Ummal, Ibnu Atsk di dalam kitab Tarikhnya, dan banyak lagi yang lainnya, 
mereka meriwayatkan,
   "Sesungguhnya Rasulullah saw mengutus Abu Bakar dan memerintahkannya 
untuk menyeru dengan kalimat ini, yaitu pengingkaran dari Allah dan 
Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan Ali untuk menyusul Abu 
Bakar dan memerintahkannya untuk menyeru dengan kalimat yang sama. Maka Ali 
as berdiri pada hari-hari tasyrig dan berseru, 'Sesungguhnya Allah SWT dan 
Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Maka berjalanlah selama 
empat bulan di muka bumi. Dan setelah tahun ini tidak boleh ada orang 
Musyrik yang berhaji, dan tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan 
telanjang.' Abu Bakar ra kembali dan berkata, 'Apakah ada ayat yang turun 
berkenaan denganku?' Rasulullah saw menjawab, 'Tidak. Jibril telah datang 
kepadaku dan berkata, 'Tidak boleh ada yang menunaikan tugas ini selain kamu 
atau seorang laki-laki dari kamu.'"
   Di sini, Bukhari menghadapi dilema. Riwayat ini bertentangan sama sekali 
dengan mazhab dan keyakinannya. Riwayat ini menetapkan keutamaan Ali as, dan 
itu pun keutamaan yang sangat besar, sementara pada saat yang sama riwayat 
ini merendahkan Abu Bakar, atau setidaknya tidak menetapkan sesuatu apa pun 
bagi Abu Bakar. Bagaimana caranya dia bisa menyelewengkan riwayat ini bagi 
kepen-tingan keyakinannya, sehingga dengan begitu dia bisa menetapkan 
keutamaan bagi Abu Bakar dan tidak sesuatu pun bagi Ali.
   Marilah Anda perhatikan, bagaimana dengan kelihaiannya Bukhari dapat 
keluar dari keadaan yang sulit ini.
   Bukhari mengeluarkan di dalam Sahihnya, kitab tafsir al-Qur’an, bab 
firman Allah SWT "Maka berjalanlah selama empat bulan di muka bumi",
   Bukhari berkata, "Humaid bin Abdurrahman telah memberitahukan saya bahwa 
Abu Hurairah ra telah berkata, 'Abu Bakar mengutus saya pada ibadah haji itu 
ke dalam kelompok orang yang diutus olehnya pada harian menyembelih kurban 
di Mina untuk mengumumkan bahwa setelah tahun ini tidak boleh ada orang 
musyrik yang berhaji, dan tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan 
telanjang.' Humaid bin Abdurrahman menambahkan 'Kemudian Rasulullah saw 
mengikutkan Ali bin Abi Thalib as dan memerintahkannya untuk mengumumkan 
bara'ah (pengingkaran terhadap orang musyrik). Lalu Abu Hurairah berkata, 
'Maka Ali bin Abi Thalib pun bersama-sama kami mengumumkan bara 'ah kepada 
orang-orang yang sedang ada di Mina pada harian menyembelih kurban, dan 
bahwa setelah tahun ini tidak boleh ada orang musyrik yang berhaji serta 
tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan telanjang."'[129]
   Saya berikan kesempatan kepada Anda, wahai para pembaca, untuk 
berkomentar, supaya Anda dapat melihat sendiri kepada penyimpangan dan 
pemutar-balikkan ini. Bagaimana Bukhari melenyapkan keutamaan yang dimiliki 
oleh Ali bin Abi Thalib as, dan sebagai gantinya dia menetapkan keutamaan 
bagi Abu Bakar, padahal Allah SWT telah memakzulkannya dengan wahyu yang 
diturunkan olehNya. Jibril Berkata kepada Rasulullah saw, "Tidak boleh ada 
yang menunaikan tugas ini kecuali kamu atau seorang laki-laki dari kamu." 
Kemudian, coba lihat, bagaimana Bukhari menjadikan urusan ini berada di 
tangan Abu Bakar, sehingga dengan begitu Abu Bakar menjadi orang yang 
memerintah dan menetapkan urusan dengan kehadiran Rasulullah saw!
   Masya Allah, bagaimana dia merubah dari satu keadaan kepada keadaan yang 
lain.
   5. Contoh Kelima:
   Muslim berserikat di dalam sahihnya dengan Ibnu Hisyam dan Thabari di 
dalam membuang bagian dari hadis yang mendiskreditkan kedudukan Abu Bakar 
dan Umar. Setelah Ibnu Hisyam menukil berita tentang peperangan Badar dan 
informasi yang sampai kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya tentang 
kafilah dagang Quraisy, Ibnu Hisyam menyebutkan Rasulullah saw mengajak para 
sahabatnya untuk bermusyawarah. Ibnu Hisyam berkata, "Rasulullah saw 
mendapat berita tentang perjalanan kafilah dagang Quraisy, dan beliau 
bermaksud mencegat kafilah dagang tersebut. Maka Rasulullah saw mengajak 
orang-orang untuk bermusyawarah dan memberitahukan mereka tentang kafilah 
dagang Quraisy. Maka berdirilah Abu Bakar ash-Shiddiq mengatakan sesuatu, 
lalu Rasulullah saw berkata, 'Bagus!' Lalu berdiri Umar dan mengatakan 
sesuatu, kemudian Rasulullah saw berkata, 'Bagus!' Selanjutnya Miqdad bin 
'Amr berdiri dan berkata, 'Ya Rasulullah, berjalanlah sesuai dengan apa yang 
telah Allah perlihatkan kepada Anda,
  niscaya kami bersama Anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kepada 
Anda sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa manakala 
mereka mengatakan, 'Pergilah kamu berdua denganmu Tuhanmu dan berperanglah, 
adapun kami biar duduk di sini saja menunggu; melainkan kami mengatakan, 
'Pergilah kamu berdua dengan Tuhanmu dan berperanglah, dan kami pun ikut 
berperang bersama Anda berdua.' Demi Zat yang mengutus Anda dengan 
kebenaran, meski pun Anda membawa kami ke dalam lautan, kami akan tetap 
berperang bersama Anda sehingga Anda sampai kepadanya.' Maka Rasulullah saw 
berkata kepadanya, 'Bagus!', dan beliau berdoa untuknya."
   Yang menjadi pertanyaan kita ialah, apa yang dikatakan oleh Abu Bakar dan 
Umar kepada Rasulullah saw.
   Jika memang bagus, lalu kenapa Bukhari tidak menyebutkannya. Kenapa 
Bukhari menyebutkan apa yang dikatakan oleh Miqdad namun tidak menyebutkan 
apa yang dikatakan oleh keduanya?!
   Selanjutnya, marilah kita kembali kepada Muslim, untuk melihat apakah dia 
juga melakukan hal yang sama sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibnu 
Hisyam dan Thabari. Muslim meriwayatkan, "Rasulullah saw bermusyawarah 
dengan para sahabatnya manakala sampai berita kepadanya tentang kedatangan 
(kafilah) Abu Sufyan.." Muslim berkata, "Maka Abu Bakar berkata, namun 
Rasulullah saw berpaling darinya. Kemudian berkata Umar, namun Rasulullah 
saw berpaling darinya... kemudian Muslim menyebutkan kelanjutan hadis."[130]
   Muslim juga tidak menyebutkan apa yang telah dikatakan oleh Abu Bakaar 
dan Umar, namun dia lebih jujur dari Ibnu Hisyam dan Thabari. Karena Muslim 
mengatakan , "Rasulullah saw berpaling darinya", dan tidak mengatakan, 
"Bagus!" Meski pun apa yang telah dilakukannya tetap merupakan kejahatan 
terhadap hadis. Karena dia harus menyebutkan perkataan keduanya. Dan 
keputusannya untuk tidak menyebutkan perkataan keduanya, menunjukkan adanya 
kedengkian di dalam perkara ini. Kenapa Rasulullah saw berpaling dari 
perkataan keduanya, jika perkataan keduanya bagus?!
   Dari kedua hadis di atas —setelah terbukti secara jelas pemalsuan yang 
telah mereka lakukan— menjadi jelas bagi kita bahwa di sana terdapat sesuatu 
yang tidak layak bagi kedua Syeikh (Abu Bakar dan Umar —penerj.) yang tidak 
mereka sebutkan. Namun, Allah SWT tetap menampakkan cahaya-Nya meski pun 
orang-orang kafir tidak suka. Kitab al-Maghazi, karya al-Waqidi, dan kitab 
Imta' al-Asma, karya Muqrizi, menceritakan kisah ini. Setelah kedua kitab 
ini menyebutkan khabar di atas, kedua kitab ini menyebutkan, "Maka Umar 
berkata, 'Ya Rasulullah, Demi Allah, sesungguhnya mereka itu bangsa Quraisy. 
Demi Allah, kemuliaan mereka belum melemah sejak mereka mulia. Demi Allah, 
mereka belum beriman sejak mereka kafir. Dan demi Allah, selamanya mereka 
tidak akan menyerahkan kemuliaannya. Mereka pasti akan memerangi Anda, maka 
oleh karena itu bersiap sedialah dengan perlengkapan untuk itu."
   Dari sini kita dapat mengetahui kenapa Rasulullah saw berpaling dari 
perkataan Umar. Karena perkataan yang dikatakan oleh Umar ini tidak pantas 
dikatakan oleh seorang sahabat Rasulullah saw. Bagaimana bisa Umar 
menyatakan orang musyrikin Quraisy mempunyai kemuliaan?
   Apakah Rasulullah saw bermaksud hendak menghinakan mereka?
   Sungguh amat disayangkan. Namun, inilah tingkat pengetahuan Umar terhadap 
Islam, dan begitu juga tingkat peradabannya.
   Demikianlah, Bukhari dan Muslim senantiasa mencampurkan kebenaran dengan 
kebatilan, dan mengganti hadis-hadis yang mereka rasakan menjelekkan Abu 
Bakar dan Umar.
   Ketiga:  PENULIS, DAN PERANAN MEREKA DI DALAM MENYELEWENGKAN KEBENARAN  
Peranan para muhaddis dan sejarahwan mengukuhkan orang-orang yang datang 
sesudah mereka, yaitu para penulis. Mereka mengerahkan segenap usaha mereka 
untuk memalsukan kebenaran dan menjelek-jelekkan mazhab Ahlul Bait, dengan 
menggunakan berbagai macam propaganda dan penyebaran berita dusta. Mereka 
para penulis telah memperoleh keberhasilan besar di dalam memperdalam 
kebodohan pada diri anggota mazhab mereka, dan memperlebar jurang di antara 
mereka dengan pengenalan kepada kebenaran. Mereka telah menggambarkan Syi'ah 
dalam rupa yang paling buruk. Ini semua disebabkan berbagai khurafat dan 
sangkaan yang mereka rangkai. Saya tidak mengatakan ini hanya sekedar berupa 
asumsi, melainkan saya sendiri pernah mengalami kebodohan ini untuk beberapa 
waktu. Dan saya dapat merasakan lebih besar lagi kebodohan saya tersebut 
manakala hati saya telah terbuka dan diterangi oleh Allah SWT dengan cahaya 
Ahlul Bait. Saya
  menemukan masyarakat saya tenggelam di dalam timbunan kebodohan dan 
berbagai kebohongan atas Syi'ah. Setiap kali saya bertanya tentang Syi'ah, 
baik yang ditanya itu seorang ulama atau seorang yang terpelajar, mereka 
menjawab saya dengan serangkaian kebohongan atas Syi'ah. Misalnya, mereka 
menjawab bahwa Syi'ah itu mengatakan Ali adalah Rasul Allah yang sebenarnya, 
namun Jibril melakukan kesalahan dan menurunkan risalah kepada Muhammad. 
Atau, mereka mengatakan bahwa orang-orang Syi'ah menyembah Ali, atau 
kebohongan-kebohongan lainnya yang sama sekali bertentangan dengan 
kenyataan. Dan, cobaan yang paling berat dari semua itu ialah manakala 
kepada Anda dilontarkan pertanyaan yang mengherankan,
   Apakah orang-orang Syi'ah itu Muslim?
   Apa perbedaan antara Syi'ah dengan syuyu'iyyah (komunis)?
   Kebodohan akan Syi'ah ini, yang dialami oleh sebagian besar dari umat 
Islam, adalah merupakan hasil logis dari segenap usaha dan kerja keras para 
penulis, sebagai akibat dari kebodohan yang diterapkan atas 
generasi-generasi umat ini, supaya mereka menolak dan tidak mengakui mazhab 
Syi'ah. Ini merupakan kelanjutan dari rencana yang telah dimulai sejak 
dahulu, dan diteruskan hingga hari ini. Oleh karena itu, Anda dapat 
menemukan beratus-ratus buku beracun yang menghujat Syi'ah, yang mereka 
sebarkan ke tengah-tengah masyarakat, dan biasanya dibagi-bagikan secara 
gratis oleh pihak Wahabi. Alangkah baiknya, jika sekiranya di tengah-tengah 
atmosfir yang dipenuhi dengan sikap penentangan terhadap Syi'ah, dibolehkan 
juga buku-buku Syi'ah beredar di tengah-tengah masyarakat, sehingga dengan 
begitu akan tercipta keseimbangan. Namun, ini tidak terjadi. Cobalah tengok 
perpustakaan-perpustakaan Islam dari kalangan Ahlus-Sunnah, mereka jarang 
sekali dan bahkan dapat dikatakan tidak
  sama sekali memuat buku-buku Syi'ah. Sebaliknya perpustakaan-perpustakaan 
Syi'ah, baik itu yang untuk dijual maupun yang terdapat di lembaga-lembaga 
ilmiah, mereka tidak kosong dari kitab-kitab dan referensi-referensi rujukan 
Ahlus-Sunnah, dengan berbagai macam garis dan pandangannya.
   Dan yang lebih parah dari semua itu, jika seandainya Anda memberikan 
sebuah buku Syi'ah kepada salah seorang dari mereka, mereka tidak akan 
membacanya, bahkan mungkin akan membakarnya, dengan alasan bahwa dia tidak 
boleh membaca buku-buku sesat.
   Saya masih ingat bagaimana imam mesjid di desa kami dengan lantang 
menyatakan kekufuran dan kesesatan saya, dan melarang semua orang untuk 
duduk bersama saya atau membaca buku-buku tulisan saya. Logika macam apakah 
ini, yang memberangus manusia dari kebebasannya berpikir. Namun, memang 
beginilah siasat kebodohan dan pembodohan yang mereka tempuh.
   Beberapa Kitab Yang Ditulis Untuk Menentang Syi'ah:  1. Muhadharat fi 
Tarikh al-Umam al-Islamiyyah (Ceramah-Ceramah Tentang Sejarah Umat Islam), 
karya al-Khudhari.
   2. As-Sunnah wa asy-Syi'ah (Sunnah dan Syi'ah), karya Muhammad Rasyid 
Ridha, penulis tafsir al-Manar.
   3. Ash-Shira' Baina al-Watsaniyyah wa al-Islam (Pertarungan Antara 
Paganisme Dengan Islam), karya al-Qashimi.
   4. Fajr al-Islam wa Dhuha al-Islam (Fajar Islam), karya Ahmad Amin.
   5. Al-Wasyi'ah fi Naqd asy-Syi'ah (Kumpulan Kritikan Terhadap Syi'ah), 
karya Musa Jarullah.
   6. Al-Khuthuth al-'Aridhah (Jaringan yang luas), karya Muhibuddin 
Khathab.
   7. Asy-Syi'ah wa as-Sunnah, asy-Syi'ah wa al-Qur'an, asy-Syi'ah wa Ahlul 
Bait, dan asy-Syi'ah wa at-Tasyayyu'', karya Ihsan Ilahi Zhahir.
   8. Minhaj as-Sunnah, Ibnu Taimiyyah.
   9. Ibthal al-Bathil, Fadhl bin Ruzbahan.
   10. Ushul Madzhab asy-Syi'ah, Nashir al-Ghifari.
   11. Wa Ja'a Dawr al-Majus, Abdullah Muhammad al-Gharib.
   12. At-Tuhfah al-Itsna 'Asyariyyah, ad-Dahlawi.
   13. Jawlahfi Rubu'asy-Syarq al-Adna, Muhaddis Tsabit alMishri.
   Dan kitab-kitab lainnya yang tendensius. Para ulama Syi'ah telah menjawab 
kitab-kitab ini dan kitab-kitab yang semisalnya dengan jawaban rinci dan 
cukup.
   Anda dapat saksikan adanya perbedaan metode pembahasan di antara kedua 
jenis kitab di atas. Anda mendapati kitab-kitab Syi'ah bertujuan untuk 
membuktikan dan mengokohkan kebenaran mazhabnya dengan dalil-dalil yang kuat 
dan argumentasi-argumentasi yang cemerlang, yang bersandar kepada 
kitab-kitab referensi Ahlus Sunnah, dengan tanpa menyerang mazhab lain. 
Adapun kitab-kitab yang berusaha menolak Syi'ah, sejak awal mereka bertujuan 
untuk menyerang mazhab Syi'ah dengan berbagai cara, meskipun dengan cara 
menuduh dan menciptakan kebohongan-kebohongan.
   Banyak sekali bukti-bukti yang mendukung ucapan kami. Insya Allah, kami 
akan kemukakan beberapa contoh darinya dalam pembahasan ini.
   Kitab-Kitab Syi'ah Yang Menjawab Dan Mengokohkan Kebenaran Mazhabnya  1. 
Asy-Syafi fi al-Imamah.
   Kitab ini terdiri dari empat jilid. Di dalam kitab ini, penulisnya Syarif 
al-Murtadha membuktikan keimamaham sebagai dasar agama, sosial dan politik. 
Dia juga membuktikan dengan dalil naql dan akal yang lurus bahwa keimamahan 
merupakan keharusan agama dan sosial, bahwasannya Ali as adalah khalifah 
sepeninggal Rasulullah saw yang telah ditetapkan dengan nas, dan barangsiapa 
yang menentangnya maka berati dia telah menentang kebenaran. Di dalam 
kitabnya ini juga Syarif al-Murtadha menjawab seluruh kecurigaan maupun 
kesamaran yang dikatakan atau yang mungkin akan dikatakan di seputar masalah 
keimamahan, dan kemudian dia menggugurkannya dengan logika akal dan hujjah 
yang cemerlang.[131]
   2. Nahj al-Haq wa Kasyf ash-Shidq, karya Allamah al-Hilli.
   Kitab ini membahas sekumpulan masalah berikut ini,
   a. Pemahaman (al-Idrak).
   b. Pandangan (an-Nazhar).
   c.  Sifat-sifat Allah.
   d. Kenabian.
   e. Keimamahan.
   f.  Ma’ad (hari kiamat).
   g. Ushul Fikih.
   h. Masalah-masalah yang berkaitan dengan fikih.
   Tampak sekali bagi para pembaca kitab ini bahwa penulisnya adalah seorang 
pengkaji yang objektif, yang tidak ta'assub terhadap pandangannya, dan tidak 
mendukung salah satu keyakinan pada permulaannya. Dia tidak membahas dan 
mencari dalil untuk medukung keyakinannya, melainkan dia menempatkan 
pendapat dan keyakinannya mengikuti Al-Qur'an, serta pendapat dan 
keyakinannya tunduk kepada dalil.
   Fadhl bin Ruzbahan al-Asy'ari telah menulis sebuah kitab untuk mengkritik 
kitab ini, dan memberinya judul Ibthal al-Bathil wa Ihmal Kasyf al-'Athil. 
Namun dia tidak menggunakan metode sebagaimana yang digunakan oleh Allamah 
al-Hilli. Dia justru banyak menyerang dan mengecam. Namun, secara relatif 
kitab ini dapat dikatagorikan sebagai kitab yang dapat dipegang hujjahnya 
dan berisi diskusi ilmiah.
   3. Ihqaq al-Haq, karya Sayyid Nurullah al-Husaini al-Tusturi.
   Sebuah kitab yang besar, yang ditulis oleh penulisnya untuk menjawab 
kitab Ibthal al-Bathil yang ditulis oleh Fadhl bin Ruzbahan. Kitab lhqaq 
al-Haq ini telah diberi catatan oleh Ayatullah Syihabuddin al-Mar'asyi 
an-Najafi, sehingga tebalnya mencapai dua puluh lima jilid ukuran besar. 
Penulis kitab ini telah melakukan usaha yang besar dan tidak kenal lelah di 
dalam meneliti dan mengeluarkan hadis-hadis dan riwayat-riwayat dari 
kitab-kitab Ahlus Sunnah. Sungguh, alangkah bagusnya jika kitab ini 
ditempatkan di tempat-tempat penyimpanan barang berharga, karena dapat 
dikatakan sebagai sebuah karya besar, yang mungkin sebuah tim khusus pun 
tidak dapat menghasilkannya.
   4. Jawaban terhadap Fadhl bin Ruzbahan juga diberikan oleh Allamah 
al-Mudzaffar, di dalam tiga jilid kitab yang berjudul Dala'il ash-Shidq. 
Kitab ini juga merupakan jawaban terhadap kitab Minhaj as-Sunnah, karya Ibnu 
Taimiyyah, yang ditulis untuk menjawab Allamah al-Hilli di dalam kitabnya 
yang berjudul Minhaj al-Karamah. Namun, Allamah al-Mudzaffar tidak membahas 
secara panjang lebar di dalam menjawab Ibnu Taimiyyah. Dia memberikan 
isyarat di dalam mukaddimahnya, "Apabila tidak ada kerendahan pada 
point-point pembahasannya, kekotoran lidah pada penanya, bertele-telenya 
ungkapannya, serta permusuhannya terhadap diri Nabi al-Amin dan anak-anaknya 
yang suci, maka tentu layak melakukan pembahasan dengannya."[132]
   5. Ensiklopedia al-Ghadir, terdiri dari 11 jilid, karya Allamah Abdul 
Husain al-Amini.
   Ini merupakan karya besar yang dipersembahkan oleh penulisnya. Kitab ini 
membuktikan kebenaran mazhab Ahlul Bait melalui segenap jalan dan 
argumentasi. Yang lebih mengagumkan ialah, bahwa penulisnya telah menghimpun 
kurang lebih sembilan puluh empat ribu kitab rujukan Ahlus Sunnah di 
dalamnya.
   Kitab al-Ghadir ini ditujukan untuk menjawab beberapa kitab Ahlus Sunnah 
yang ditulis untuk menentang Syi'ah, seperti kitab:
   a. al-'Iqd al-Farid.
   b. al-Farq Baina al-Firaq.
   c.  al-Milal wa an-Nihal.
   d. al-Bidayah wa an-Nihayah.
   e. al-Mahshar.
   f.  as-Sunnahwaasy-Syi'ah.
   h. ash-Shira''.
   i.   Fajr al-Islam.
   j.   Zhuhr al-Islam.
   k. Dhuha al-Islam.
   l.   'Agidah asy-Syi'ah.
   m. al-Wasyi'ah.
   n. Minhaj as-Sunnah.
   Allamah al-Amini telah menjawab mereka dengan baik, dengan menggunakan 
dalil-dalil yang terang dan argumentasi-argumentasi yang cemerlang.
   Dia memiliki kelebihan dari sisi kajian yang objektif, yang tidak 
cenderung kepada sikap ta'assub.
   6. Juga termasuk salah satu ensiklopedia besar yang membuktikan kebenaran 
mazhab Syi'ah, yang menjawab serangan musuh-musuhnya ialah kitab 'Abagat 
al-Anwar fi Imamah al-Aimmah al-Athhar, karya Sayyid Hamid Husain Ibnu 
Sayyid Muhammad Qili al-Hindi, namun saya belum mendapatkan naskah aslinya. 
Saya baru mendapat kitab ringkasannya yang berjudul Khulashah 'Abagat 
al-Anwar, karya Ali Husain al-Milani. Kitab ini terdiri dari 10 jilid. Kitab 
ini merupakan jawaban atas kitab at-Tuhfah al-Itsna 'Asyariyyah, karya Abdul 
Aziz ad-Dahlawi, yang mengkritik keyakinan-keyakinan Syi'ah. Sekumpulan para 
ulama Syi'ah telah menjawab kitab at-Tuhfah ini dengan beberapa kitab, yang 
di antaranya adalah kitab as-Saif al-Maslul 'ala Mukhrib Din ar-Rasul, karya 
Abu Ahmad bin Abdun Nabi an-Naisaburi, kitab yang terdiri dari empat jilid, 
yang masing-masing jilidnya dengan nama Sayyid Deldor Ali Taqi; kitab 
an-Nazhah al-ltsna 'Asyariyyah, karya Muhammad Qili, yang terdiri dari 
sekumpulan beberapa
  jilid kitab besar; berikutnya kitab al-Wajiz fi al-Ushul, karya Syeikh 
Subhan Ali Khan al-Hindi; dan kitab al-Imamah, karya Sayyid Muhammad bin 
Sayyid. Sayyid Muhammad bin Sayyid juga mempunyai kitab jawaban terhadap 
kitab at-Tuhfah dalam bahasa Persia, yang berjudul al-Bawariq al-Ilahiyyah.
   Dan kitab-kitab lainnya yang merupakan jawaban terhadap ad-Dahlwi, yang 
disebutkan oleh penulis kitab adz-Dzari'ah dan kitab A'yan asy-Syi'ah. Dari 
kitab-kitab jawaban ini yang terbesar adalah kitab al- 'Abagat. Tampak 
dengan jelas, dari isi kitab ini, kebesaran penulis, ketajaman pandangannya, 
keluasan ilmunya, ketelitiannya terhadap berbagai perkataan, dan 
keamanahannya di penukilan ilmiah terhadap berbagai pembahasan, dan di dalam 
metodologinya di dalam menjawab berbagai kritikan dan sanggahan terhadap 
argumentasi-argumentasi yang diajukan. Dia telah memutus seluruh jalan dan 
alasan dengan sekuat-kuatnya hujjah dan sekokoh-kokohnya argumentasi, dan 
telah menolak berbagai keraguan, sehingga tidak tersisa lagi celah bagi 
musuh untuk menikam mazhab Syi'ah, mencela dalil dan melemahkan hadis. Dia 
telah menangkis semuanya dengan cara yang paling baik, dan telah menjawabnya 
dengan jawaban yang indah, disertai dengan penelitian yang anggun, 
penyelidikan yang cekatan,
  argumentasi yang kokoh, istidlal Alawi dan kebangkitan Ridhawi, dengan 
bersandar seluruhnya kepada kitab-kitab Ahlus Sunnah, dan berargumentasi 
dengan perkataan pilar-pilar ulama mereka, di dalam berbagai macam disiplin 
ilmu."[133]
   Untuk melakukan itu dia telah dibantu oleh perpustakaan keluarganya yang 
terkenal yang terdiri lebih dari 30 ribu kitab, baik yang berupa kitab 
cetakan maupun kitab yang masih berupa transkrif, dari berbagai mazhab dan 
golongan. Hingga saat sekarang ini kita belum menemukan adanya kitab jawaban 
terhadap kitab al-'Abaqat, padahal kitab at-Tuhfah telah banyak mendapat 
jawaban. Adapun yang pertama menjawab kitab at-Tuhfah adalah Sayyid Deldor 
Ali di dalam kitabnya yang berjudul ash-Shawarim alllahiyyah dan kitab 
Sharim al-hlam. Lantas kedua kitab Sayyid Deldor itu dijawab oleh 
Rasyi-duddin ad-Dahlawi, murid penulis kitab at-Tuhfah, dengan kitabnya yang 
berjudul asy-Syawkah al'Umariyyah. Selanjutnya kitab asy-Syawkah 
al-'Umariyyah itu dijawab oleh Baqir Ali dengan kitabnya al-Hamlah 
al-Haidariyyah. Demikian juga kitab at-Tuhfah dijawab oleh al-Mirza di dalam 
kitabnya an-Nazhah al-Itsna 'Asyariyyah. Lalu salah seorang Ahlus Sunnah 
menjawab kitab an-Nazhah al-Itsna 'Asyariyyah
  dengan kitab Rujum asy-Syayathin. Selanjutnya kitab ar-Rujum asy-Syayathin 
dijawab oleh Sayyid Ja'far al-Musawi dengan kitabnya Mu'in ash-Shadiqin fl 
Radd Rujum asy-Syayathin.
   Begitu juga kitab at-Tuhfah dijawab oleh Sayyid Muhammad Qili, ayah 
penulis kitab al- 'Abagat dengan kitabnya yang berjudul al-Ajnad al-Itsna 
'Asyariiyah al-Muhammadiyyah. Selanjutnya kitab tersebut dijawab oleh 
Muhammad Rasyid ad-Dahlawi. Lalu Sayyid Muhammad Qili kembali menjawabnya 
dengan kitab al-Ajwibah al-Fakhirahfi ar-Radd 'ala al-Asya'irah, hingga 
akhrinya polemik ini disudahi oleh penulis kitab al'Abaqat, dan hingga 
sekarang belum ada yang menjawabnya. Ini cukup untuk membuktikan kelemahan 
dari pihak Ahlus Sunnah.
   7. Ma'alim al-Madrasatain, karya Murtadha al-'Askari.
   Kitab ini merupakan kitab perbandingan di antara madrasah Ahlul Bait 
dengan madrasah para khulafa. Penulis kitab ini bersandar kepada sikap 
objektif dan kajian ilmiah yang teliti. Kitab ini terdiri dari tiga juz.
   8. Kitab al-Muraja'at (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia 
dengan judul "Dialog Sunnah Syi'ah" —penerj.), karya Abdul Husain 
Syarafuddin.
   Kitab ini merupakan hasil dialog di antara penulisnya dengan Syeikh 
al-Azhar, Salim al-Bisyri. Kitab ini terhitung sebagai dialog yang langka, 
di mana di dalamnya kedua orang yang berdialog menggunakan metode yang 
tenang dan percakapan yang santun. Abdul Husain juga mempunyai banyak kitab 
lain di dalam masalah ini, di antaranya adalah kitab an-Nash wa al-ljtihad, 
kitab al-Fushul al-Muhimmah fi Ta'lif al-Ummah, kitab al-Kalimah al-Gharra' 
fi Tafdhil az-Zahra, dan kitab Abu Hurairah.
   Juga terdapat berbagai jawaban dari kalangan ulama Syi'ah terhadap 
kitab-kitab Ahlus Sunnah, seperti:
   1. Ajwibah Masa'il Jarullah, oleh Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi.
   2. Ma 'a al-Khathibfi Khuthuth al- 'Aridhah, karya Luthfullah ash-Shafi.
   3. Syubhat Hawla asy-Syi'ah.
   4. Kadzib 'ala asy-Syi'ah.
         Sebelumnya  Daftar Isi  Selanjutnya

_________________________________________________________________
Gör karriär! http://monster.msn.se/



Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? 
Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan 
ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung 
bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Salam perjuangan. 
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke