http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED]
Stockholm, 20 Oktober 2006 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. ALLAMAH SYARAFUDDIN AL-MUSAWI PANDAI MENGUTIP TETAPI TIDAK MENGERTI DAN TIDAK PAHAM APA YANG DIKUTIPNYA. Ahmad Sudirman Stockholm - SWEDIA. CONTOH ORANG YANG HANYA PANDAI MENGUTIP TETAPI TIDAK MENGERTI DAN TIDAK PAHAM APA YANG DIKUTIPNYA. Setelah membaca tulisan Allamah Syarafuddin Al-Musawi dari Sudan yang menulis buku berjudul Kebenaran Yang Hilang dalam bagian Sejarah Hidupku, Hari-Hari Masa Kecilku ( http://www.al-shia.com/html/id/books/Kebenaran-Hilang/index.htm ), ternyata ditemukan ketidak-logisan, kontradiksi dan tidak masuk akal dalam uraian cerita sejarah hidupnya di Sudan. Nah, Allamah Syarafuddin Al-Musawi dalam tulisan Sejarah Hidupku, Hari-Hari Masa Kecilku itu menulis sebagai berikut: Kebetulan, dekan fakultas kami adalah Profesor Alwan. Dia mengajar mata kuliah tafsir bagi kami. Pada suatu hari dia berbicara tentang tafsir firman Allah SWT yang berbunyi, Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum dia menyeru manusia, maka mereka pun berkumpul. Lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali as seraya berkata, Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali sebagai pemimpinnya. Berita itu pun tersebar ke seluruh pelosok negeri, dan sampai kepada Harits bin Nukman al-Fihri. Lalu dia mendatangi Rasulullah saw dengan menunggang untanya. Kemudian dia menghentikan untanya dan turun darinya. Harits bin Nukman al-Fihri berkata, Hai Muhammad, kamu telah menyuruh kami tentang Allah, supaya kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa kamu adalah utusan-Nya, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk menunaikan salat lima waktu, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk menunaikan zakat, dan kami pun menerimanya. Kamu peritahkan kami untuk berpuasa di bulan Ramadhan, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk melaksakan ibadah haji, dan kami pun menerimanya. Kemudian kamu tidak merasa puas dengan semua ini sehingga kamu mengangkat tangan sepupumu dan mengutamakannya atas kami semua dengan mengatakan, Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya. Apakah ini dari kamu atau dari Allah? Rasulullah saw menjawab, Demi Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya ini berasal dari Allah SWT. Mendengar itu Hants bin Nukman al-Fihri berpaling dari Rasulullah saw dan bermaksud menuju ke kendaraannya sambil berkata, Ya Allah, seandainya apa yang dikatakan Muhammad itu benar maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. Maka sebelum Harits bin Nukman al-Fihri sampai ke kendaraannya tiba-tiba Allah menurunkan sebuah batu dari langit yang tepat mengenai ubun-ubunnya dan ke mudian tembus keluar dari duburnya, dan dia pun mati. Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya, Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya.(Kitab Nur al-Abshar, karya asy-Syabalanji, hal. 75.) Setelah selesai pelajaran salah seorang teman saya menemuinya dan berkata kepadanya, "Apa yang telah Anda katakan adalah perkataan Syi'ah." Bapak dekan tertegun sejenak, kemudian memandang ke arah pemerotes seraya berkata, "Panggil Mu'tashim ke ruang kantor...!" Nah, coba kita secara seksama menggali, meneliti dan menganalisa apa yang ditulis oleh Allamah Syarafuddin Al-Musawi tersebut diatas. Ada dua faktor besar yang sangat bertentangan dan tidak masuk akal serta kontradiksi dalam tulisan tersebut yaitu, pertama, kalimat Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum dia menyeru manusia, maka mereka pun berkumpul.. Kedua, kalimat Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya, Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya. Sekarang, kita teliti dan analisa sedikit lebih mendalam. Dalam kalimat Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum dia menyeru manusia, maka mereka pun berkumpul. Dimana kalimat itu menceritakan kejadian pada tahun kesepuluh Hijrah setelah Rasulullah saw menjalankan ibadah Haji Wada. Sepulang dari Haji Wada Rasulullah saw berhenti di Ghadir khum dan menyeru manusia, menurut cerita tersebut diatas itu. Adapun kalimat Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya, Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya. . Ternyata itu adalah bunyi ayat 1 dan ayat 2 surat Al-Ma'aarij yaitu Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa, (QS Al-Ma'aarij, 70: 1) orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya, (QS Al-Ma'aarij, 70: 2). Nah sekarang yang dipertanyakan adalah apakah benar ayat 1 dan ayat 2 surat Al-Ma'aarij ini diturunkan setelah Rasulullah saw menjalankan ibadah Haji Wada pada tahun kesepuluh Hijrah? Jawabannya adalah surat Al-Ma'aarij yang terdiri atas 44 ayat diturunkan di Mekkah sesudah surat Al-Haaqqah. Jadi ayat 1 dan ayat 2 surat Al-Ma'aarij ini diturunkan di Mekkan bukan setelah Rasulullah saw menjalankan ibadah Haji Wada seperti yang ditulis oleh Allamah Syarafuddin Al-Musawi dalam tulisan Sejarah Hidupku, Hari-Hari Masa Kecilku. Jadi disini kelihatan dengan jelas dan nyata bahwa Allamah Syarafuddin Al-Musawi ketika menuliskan hubungan antara kejadian di Ghadir khum setelah Haji Wada dan turunnya ayat 1 dan ayat 2 surat Al-Ma'aarij ini tidak bisa diterima oleh akal yang sehat atau tidak logis atau kontradiksi. Atau dengan kata lain Allamah Syarafuddin Al-Musawi menuliskan cerita sejarah hidupnya itu penuh dengan kebohongan dan memanipulasi fakta dan bukti. Selanjutnya kita secara bersama-sama juga meneliti dan menganalisa kalimat: Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum dia menyeru manusia, maka mereka pun berkumpul. Lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali as seraya berkata, Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali sebagai pemimpinnya. Nah, disini walaupun Allamah Syarafuddin Al-Musawi ketika menuliskan kejadian tersebut tidak memakai dan mendasarkan pada nash, tetapi kejadian tersebut dihubungkan dengan ayat 67 surat Al-Maidah. Nah yang sekarang dipertanyakan adalah apakah ayat 67 surat Al-Maidah ini ada hubungan dengan Rasulullah saw mengangkat dan melantik Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dalam pidato Rasulullah saw di lembah bernama Ghadir Khum sepulang Haji Wada? Sebenarnya jawaban dari pertanyaan ini sudah ditulis dalam tulisan Menggali Al-Maidah 5:55,67 untuk melihat apakah Al-Wilayah adalah Ali bin Abi Thalib ( http://www.dataphone.se/~ahmad/061007a.htm ). Tetapi untuk sekedar memperkuat, tidak mengapa kita tuliskan kembali jawaban tersebut, yaitu: Dimana dalam ayat 67 surat Al-Maidah Allah SWT berfirman: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS Al-Maidah 5:67) Nah, sekarang mari kita kupas secara bersama-sama untuk menjawab pertanyaan diatas. Kalau kita memperhatikan, membaca dan menelaah ayat 67 surat Al-Maidah ini, maka tidak ada ditemukan maksud dan tujuan pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Melainkan isinya merupakan tugas misi dakwah Rasulullah saw untuk menyampaikan risalah islam kepada ummat manusia, yaitu: Pertama, Ya ayyuhar Rosulu balligh ma unjila ilaika mir Robbika (Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu ) yaitu sampaikan risalah Islam kepada ummat manusia. Kedua, wa in lam taf al fa ma ballaghta risalatahu (Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.) secara lengkap dan menyeluruh. Ketiga, wallahu yashimuka minannas (Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia) yang mengancam ketika kamu menjalankan dan menyampaikan risalah Islam kepada ummat manusia. Keempat, Innalloha la yahdil qaomal kafirin (Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir) yaitu orang-orang yang mengingkari risalah yang kamu sampaikan kepada mereka. Jadi, dalam ayat 67 surat Al-Maidah itu memang tidak ditujukan dan tidak dimaksudkan untuk pengangkatan dan pelantikan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah penerus Rasulullah saw. Apabila memang Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah penerus Rasulullah saw langsung oleh Allah SWT, mengapa tidak langsung ditujukan dan disebutkan sebagaimana Nabi Sulaiman mewarisi ke-khilafahan atau kerajaan Nabi Daud Wa waritsa Sulaimanu Dawuda... (Dan Sulaiman telah mewarisi Daud) Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata." (QS An-Naml 27:16) Atau ketika Allah SWT menunjuk dan mengangkat Nabi Daud sebagai khalifah: Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS Ash-Shaad 38:26) Jadi, sebenarnya orang yang menghubungkan ayat 67 surat Al-Maidah dengan pengangkatan Ali bin Abi Thalib oleh Rasulullah saw adalah tidak memiliki kekuatan nash yang kuat. Kemudian kalau ada orang yang menghubungkan ayat 67 surat Al-Maidah ini dengan perkataan Abu Said al-Khudri ra, yang menyatakan bahwa ayat tersebut diturunkan berhubungan dengan Ali bin Abi Thalib yang mengarah kepada pelantikan sebagai khalifah di Ghadir Khum. Dimana pelantikan ini dikenal dengan khutbah Ghadir Khum, maka perlu diteliti riwayat tersebut terlebih dahulu. Nah, sebenarnya yang dirujuk oleh orang itu untuk memperkuat ayat 67 surat Al-Maidah bukan hadits Rasulullah saw, melainkan hanya ucapan dan kata-kata Abu Said al-Khudri yang isinya: Daripada Abu Said al-Khudri, dia berkata: Diturunkan ayat ini: Wahai Rasul Allah! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu ke atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada Hari Ghadir Khum berkenaan Ali bin Abi Thalib. Dimana, sanad riwayat ini adalah dhaif. Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim di dalam Tafsir al-Quran al-Azhim no: 6609 (tafsir ayat 67 surah al-Maidah), al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul, ms. 233 (ayat 67 surah al-Maidah) dan Ibn Asakir di dalam Tarikh Dimasq al-Kubra, jld. 45, ms. 179 (biografi Ali bin Abi Thalib), kesemuanya dengan sanad yang berpangkal kepada Ali bin Abas, daripada al-Amasy, daripada Athiyah, daripada Abu Said al-Khudri. Athiyah adalah Athiyah bin Saad Abu al-Hasan al-Aufiy dari Kufah. Beliau dihukum dhaif oleh Hisyam, Yahya bin Said al-Qathan, Ahmad bin Hanbal, Sufyan al- Tsauri, Abu Zarah al-Razi, Ibn Main, Abu Hatim al-Razi, al-Nasai, al-Jauzajani, Ibn Adiy, Abu Daud, Ibn Hibban, al-Daruquthni dan lain-lain lagi. Selain itu beliau masyhur dengan sifat tadlis yang amat buruk. (Al-Uqaili al-Dhuafa al-Kabir biografi no: 1392; Ibn Hajar al-Asqalani Thabaqat al-Mudallisin biografi no: 122 dan Syuaib al-Arnauth & Basyar Awwad Maruf Tahrir Taqrib al-Tahzib, biografi no: 4616.) Jadi, kalau berdasarkan riwayat diatas, maka riwayat yang menyatakan bahwa ayat 67 surat Al-Maidah ada hubungannya dengan pengangkatan Ali bin Abi Thalib oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum adalah tidak memiliki kekuatan nash yang kuat atau dhaif atau lemah. Nah sekarang, kesimpulan yang bisa diambil dari apa yang dijelaskan diatas adalah ayat 67 surat Al-Maidah yang dihubungkan dengan pengangkatan dan pelantikan Ali bin Abi Thalib oleh Rasulullah saw sebagai khalifah adalah tidak memiliki kekuatan nash yang kuat. Begitu juga ayat 55 surat Al-Maidah yang menghubungkan dengan khalifah adalah sangat lemah. Karena itu baik dalam ayat 55 ataupun ayat 67 surat Al-Maidah adalah sama sekali tidak ada hubungannya yang kuat dengan pengangkatan dan pelantikan Ali bin Abi Thalib oleh Rasulullah saw sebagai khalifah penerus Rasulullah saw. Terakhir, dengan adanya penjelasan diatas kita sekarang sudah bisa mendapatkan gambaran bahwa Allamah Syarafuddin Al-Musawi dalam tulisan Sejarah Hidupku, Hari-Hari Masa Kecilku itu ternyata isinya kontradiksi, tidak logis dan tidak masuk akal. Ditambah tidak adanya nash yang sahih yang bisa dijadikan sandaran atas ceritanya mengenai kejadian di Ghadir Khum yang dihubungkannya dengan pengangkatan dan pelantikan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah penerus Rasulullah saw apabila Rasulullah saw telah menghadap Allah SWT. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] ---------- From: Muhammad al qubra <[EMAIL PROTECTED]> Reply-To: [EMAIL PROTECTED] To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Subject: [www.aceh-online.com] KONSPIRASI JAHAT DAN KEJAM TERHADAP KEBENARAN IMAM 'ALI AS DAN MAZHAB AHLULBAYTNYA ATAU SYI'AH IMAMIAH 12 (LANJUTANNYA) Date: Fri, 20 Oct 2006 16:17:26 +0200 (CEST) MIME-Version: 1.0 X-Originating-IP: 217.12.13.62 X-Sender: [EMAIL PROTECTED] Received: from n19c.bullet.sc5.yahoo.com ([66.163.187.210]) by bay0-mc8-f7.bay0.hotmail.com with Microsoft SMTPSVC(6.0.3790.2444); Fri, 20 Oct 2006 07:23:30 -0700 Received: from [66.163.187.123] by n19.bullet.sc5.yahoo.com with NNFMP; 20 Oct 2006 14:21:11 -0000 Received: from [66.218.69.1] by t4.bullet.sc5.yahoo.com with NNFMP; 20 Oct 2006 14:21:11 -0000 Received: from [66.218.67.96] by t1.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 20 Oct 2006 14:21:11 -0000 Received: (qmail 28095 invoked from network); 20 Oct 2006 14:19:46 -0000 Received: from unknown (66.218.66.172) by m39.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 20 Oct 2006 14:19:46 -0000 Received: from unknown (HELO web86910.mail.ukl.yahoo.com) (217.12.13.62) by mta4.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 20 Oct 2006 14:19:44 -0000 Received: (qmail 41049 invoked by uid 60001); 20 Oct 2006 14:17:26 -0000 Received: from [83.108.189.45] by web86910.mail.ukl.yahoo.com via HTTP; Fri, 20 Oct 2006 16:17:26 CEST X-Message-Info: LsUYwwHHNt0WlhyaEmUl5zgB8IJxhjngBkf+ifblxrc= Comment: DomainKeys? See http://antispam.yahoo.com/domainkeys DomainKey-Signature: a=rsa-sha1; q=dns; c=nofws; s=lima; d=yahoogroups.com;b=WoOCZcygOtygXIKREsG+CesOq8a0cqe3fs6kNZwk7nG+YAIQKFFrSss5ur+XGTSJlCq85bAs0k0rcWZN6jYOLvfJMykziyAGZgDxdRkyW8+wcsdIlUjqvvUbPBVsZIeI; X-Yahoo-Newman-Id: 11350788-m3257 X-Apparently-To: [EMAIL PROTECTED] X-eGroups-Msg-Info: 1:0:0:0 X-Yahoo-Profile: acheh_karbala Mailing-List: list [EMAIL PROTECTED]; contact [EMAIL PROTECTED] Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED] List-Id: <achehnews.yahoogroups.com> Precedence: bulk List-Unsubscribe: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> X-Yahoo-Newman-Property:groups-email-trad Return-Path: [EMAIL PROTECTED] X-OriginalArrivalTime: 20 Oct 2006 14:23:30.0136 (UTC) FILETIME=[50C79D80:01C6F453] Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya Sekarang, coba lihat, bagaimana Bukhari menyelewengkan sesuatu yang memburukkan Muawiyah dan Marwan: "Marwan berkuasa atas Hijaz. Muawiayah menggunakanya. Marwan berpidato, dan menyebut Yazid bin Muawiyah supaya orang-orang berbaiat kepadanya sepeninggal ayahnya. Kemudian Abdurrahman bin Abu Bakar mengatakan sesuatu, lalu Marwan berkata, 'Tangkap dia', maka Abdurrahman bin Abu Bakar masuk ke rumah Aisyah, sehingga mereka tidak mampu menangkapnya. Marwan ber-kata, 'Orang inilah yang Allah telah turunkan padanya ayat, 'Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, 'Cis, bagi kamu berdua.' Apakah Anda menerima alasan saya?!' Kemudian Aisyah berkata dari balik tabir, 'Allah tidak menurunkan sesuatu dari Al-Qur'an padanya, kecuali Allah menurunkan alasan saya.'"[125] Bukhari membuang perkataan Abdurrahman dan menggantinya dengan mengatakan "Abdurrahman mengatakan sesuatu", sebagaimana juga dia mengganti perkataan Aisyah. Semua ini dilakukan Bukhari untuk menjaga nama baik Muawiyah dan Marwan. Ibnu Hajar telah menceritakan peristiwa ini secara panjang lebar di dalam kitabnya Fath al-Bari. Perhatikanlah, sampai sejauh mana kelurusan Bukhari di dalam menukil kenyataan. 2. ContohKedua. Bukhari membuang fatwa Umar tentang tidak salat. Muslim meriwayatkan dari Syu'bah yang berkata, "Al-Hakam berkata kepada saya, dari Sa'id bin Abdurrahman, dari ayahnya yang berkata, "Seorang laki-laki mendatangi Umar dan berkata, 'Saya berjunub, namun saya tidak menemukan air.' Umar menjawab, 'Jangan kamu salat.' Lalu Ammar berkata, 'Apakah kamu ingat, wahai Amirul Mukminin, tatkala kamu dan saya berada di dalam pasukan. Pada saat itu kita berjunub, dan kita tidak menemukan air. Kamu pada saat itu tidak mengerjakan salat, sedangkan saya berguling-guling di atas tanah dan kemudian salat. Kemudian Rasulullah saw berkata, 'Cukup kamu memukulkan kedua telapak tanganmu ke atas tanah, kemudian meniup keduanya, dan lalu mengusapkannya ke wajahmu dan kedua punggung tanganmu.' Umar berkata, 'Bertakwalah kepada Allah, wahai Ammar.' Ammar berkata, 'Jika kamu tidak ingin, saya tidak akan ceritakan."'[126] Padahal hadis ini dengan jelas menunjukkan kebodohan Umar akan hukum agama yang paling sederhana dan penting, yang diketahui oleh seluruh kaum Muslimin (yaitu hukum tayammum), dan yang dengan jelas dikatakan oleh Al-Qur'an dan diajarkan oleh Rasulullah saw kepada mereka tentang tata caranya. Namun demikian, Umar memberikan fatwa untuk tidak salat. Yang pertama, ini tidak lain merupakan salah satu indikasi kebodohan Umar, dan menunjukkan bahwa Umar tidak begitu menaruh perhatian kepada salat, dan bahkan me-nunjukkan bahwa Umar tidak mengerjakan salat pada saat dia junub, sebagaimana yang dijelaskan oleh riwayat. Saya ingat, salah seorang teman saya pernah berdiskusi dengan saya tentang ilmunya Umar. Dia berkata kepada saya, "Sesungguhnya Umar sejalan dengan Al-Qur'an sebelum Al-Qur'an turun." Saya katakan kepadanya, "Ini hanya cerita yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan. Karena bagaimana mungkin Umar sejalan dengan Al-Qur'an sebelum Al-Qur'an diturunkan, padahal dia tidak sejalan dengan Al-Qur'an setelah Al-Qur'an turun tentang masalah tayammum dan penentuan mahar wanita. Hadis ini merupakan guncangan yang paling keras yang saya alami selama saya mengkaji tentang pribadi Umar. Karena hadis ini menyingkap secara sempurna sampai sejauh mana tingkat keilmuan dan keberagamaan Umar. Yang lebih mengherankan saya ialah sikap Umar yang tetap bersikeras dengan kebodohannya setelah diberitahukan oleh Ammar tentang hukum agama mengenai masalah itu. Kemudian, lihatlah bagaimana Bukhari tidak sampai hati meriwayatkan fatwa Umar ini, yang tidak mungkin ada seorang pun yang memfatwakannya meski orang pasar sekali pun. Bukhari mengeluarkan di dalam kitab sahihnya dengan sanad dan redaksi yang sama, namun dengan membuang fatwanya, "Seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab dan berkata, 'Saya berjunub namun saya tidak menemukan air.' Lalu Ammar bin Yasir berkata kepada Umar bin Khattab, 'Apakah kamu ingat, wahai Amirul Mukminin, tatkala kamu dan saya ..."[127] 3. Contoh Ketiga: Ibnu Hajar mengeluarkan di dalam kitabnya Fath al-Barifi Syarh Shahih al-Bukhari, jilid 17, halaman 31, hadis yang berbunyi, "Seorang laki-laki bertanya kepada Umar tentang firman Allah SWT yang berbunyi, 'Dan buah-buahan serta rumput-rumputan', apakah rumput-rumputan itu?' Umar menjawab, 'Kita dilarang untuk mendalami dan memberatkan diri.'" Ibnu Hajar berkata, "Di dalam riwayat lain yang berasal dari Tsabit, dari Anas yang berkata bahwa Umar membaca, 'Dan buah-buahan serta abb (sejenis rerumputan).' Lalu orang bertanya, 'Apa abb itu?' Umar menjawab, 'Kita tidak diperintahkan untuk memberatkan diri', atau 'Kita tidak diperintahkan dengan yang demikian ini.'" Kemudian, perhatikanlah bagaimana Bukhari mengerahkan segenap usahanya untuk membersihkan Umar dari segala sesuatu yang menempel padanya. Kenapa dia tidak meriwayatkan hadis yang membuktikan kebodohan Umar akan Al-Qur'an ini. Karena masalah yang ditanyakan adalah masalah yang sangat sederhana bagi orang yang mengenal Al-Qur'an dan gaya bahasanya. Argumentasi Umar tentang tidak adanya perintah memberatkan diri bukanlah pada tempatnya, karena masalah ini bukan merupakan sebuah tindakan pemberatan diri. Dan membuat-buat alasan dalam urusan ini adalah lebih buruk dari dosa. Ketika Imam Ali as ditanya dengan pertanyaan yang sama, Imam Ali as menjawab berkenaan dengan ayat yang sama, 'Dan buah-buahan serta abb (sejenis rerumputan), untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu', 'Buah-buahan adalah kesenangan untuk kita sedangkan abb adalah kesenangan untuk binatang-binatang ternak. Abb adalah sejenis rerumputan.'" Bukhari berkata di dalam kitab sahihnya, dari Tsabit, dari Anas yang mengatakan, "Kami berada di samping Umar, lalu dia berkata, 'Kita dilarang untuk memberatkan diri.'"[128] Hadis ini dan hadis-hadis lainnya termasuk ke dalam kelompok hadis yang tidak sejalan dengan keyakinan Bukhari. Oleh karena itu, dengan sengaja dia pun menghilangkan sebagian, mengganti atau membuang hadis secara keseluruhan. Persis, sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap hadis tsaqalain, "Kitab Allah dan 'itrah Ahlul Baitku ...", yang mana Muslim dan al-Hakim telah mengeluarkannya sesuai dengan syarat Bukhari. Demikian juga dengan hadis-hadis sahih lainnya yang Bukhari tidak mampu menjelaskan dan menyimpangkannya, maka dia pun tidak memasukkannya ke dalam kitab sahihnya. Inilah yang menjadi sebab dasar kenapa kitab Sahih Bukhari dijadikan sebagai kitab yang paling sahih setelah Kitab Allah oleh para penguasa. Saya tidak tahu ada sebab lain selain sebab ini yang dijadikan dasar pertimbangan ini. 4. Contoh Keempat: Berikut ini saya ketengahkan kepada Anda suatu peristiwa yang darinya Anda dapat mengetahui dengan jelas sampai sejauh mana Bukhari secara sengaja menyelewengkan fakta dan kebenaran. Para ulama Ahlus Sunnah beserta para huffazhnya, seperti Turmudzi di dalam Sahihnya, al-Hakim di dalam Mustadraknya, Ahmad bin Hanbal di dalam Mustadraknya, Nasa'i di dalam Khasha'ishnya, Thabari di dalam Tafsirnya, Jalaluddin as-Suyuthi di dalam tafsirnya ad-Durr al-Mantsur, Muttaqi al-Hindi di dalam kitabnya Kanz al-'Ummal, Ibnu Atsk di dalam kitab Tarikhnya, dan banyak lagi yang lainnya, mereka meriwayatkan, "Sesungguhnya Rasulullah saw mengutus Abu Bakar dan memerintahkannya untuk menyeru dengan kalimat ini, yaitu pengingkaran dari Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan Ali untuk menyusul Abu Bakar dan memerintahkannya untuk menyeru dengan kalimat yang sama. Maka Ali as berdiri pada hari-hari tasyrig dan berseru, 'Sesungguhnya Allah SWT dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Maka berjalanlah selama empat bulan di muka bumi. Dan setelah tahun ini tidak boleh ada orang Musyrik yang berhaji, dan tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan telanjang.' Abu Bakar ra kembali dan berkata, 'Apakah ada ayat yang turun berkenaan denganku?' Rasulullah saw menjawab, 'Tidak. Jibril telah datang kepadaku dan berkata, 'Tidak boleh ada yang menunaikan tugas ini selain kamu atau seorang laki-laki dari kamu.'" Di sini, Bukhari menghadapi dilema. Riwayat ini bertentangan sama sekali dengan mazhab dan keyakinannya. Riwayat ini menetapkan keutamaan Ali as, dan itu pun keutamaan yang sangat besar, sementara pada saat yang sama riwayat ini merendahkan Abu Bakar, atau setidaknya tidak menetapkan sesuatu apa pun bagi Abu Bakar. Bagaimana caranya dia bisa menyelewengkan riwayat ini bagi kepen-tingan keyakinannya, sehingga dengan begitu dia bisa menetapkan keutamaan bagi Abu Bakar dan tidak sesuatu pun bagi Ali. Marilah Anda perhatikan, bagaimana dengan kelihaiannya Bukhari dapat keluar dari keadaan yang sulit ini. Bukhari mengeluarkan di dalam Sahihnya, kitab tafsir al-Quran, bab firman Allah SWT "Maka berjalanlah selama empat bulan di muka bumi", Bukhari berkata, "Humaid bin Abdurrahman telah memberitahukan saya bahwa Abu Hurairah ra telah berkata, 'Abu Bakar mengutus saya pada ibadah haji itu ke dalam kelompok orang yang diutus olehnya pada harian menyembelih kurban di Mina untuk mengumumkan bahwa setelah tahun ini tidak boleh ada orang musyrik yang berhaji, dan tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan telanjang.' Humaid bin Abdurrahman menambahkan 'Kemudian Rasulullah saw mengikutkan Ali bin Abi Thalib as dan memerintahkannya untuk mengumumkan bara'ah (pengingkaran terhadap orang musyrik). Lalu Abu Hurairah berkata, 'Maka Ali bin Abi Thalib pun bersama-sama kami mengumumkan bara 'ah kepada orang-orang yang sedang ada di Mina pada harian menyembelih kurban, dan bahwa setelah tahun ini tidak boleh ada orang musyrik yang berhaji serta tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan telanjang."'[129] Saya berikan kesempatan kepada Anda, wahai para pembaca, untuk berkomentar, supaya Anda dapat melihat sendiri kepada penyimpangan dan pemutar-balikkan ini. Bagaimana Bukhari melenyapkan keutamaan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib as, dan sebagai gantinya dia menetapkan keutamaan bagi Abu Bakar, padahal Allah SWT telah memakzulkannya dengan wahyu yang diturunkan olehNya. Jibril Berkata kepada Rasulullah saw, "Tidak boleh ada yang menunaikan tugas ini kecuali kamu atau seorang laki-laki dari kamu." Kemudian, coba lihat, bagaimana Bukhari menjadikan urusan ini berada di tangan Abu Bakar, sehingga dengan begitu Abu Bakar menjadi orang yang memerintah dan menetapkan urusan dengan kehadiran Rasulullah saw! Masya Allah, bagaimana dia merubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. 5. Contoh Kelima: Muslim berserikat di dalam sahihnya dengan Ibnu Hisyam dan Thabari di dalam membuang bagian dari hadis yang mendiskreditkan kedudukan Abu Bakar dan Umar. Setelah Ibnu Hisyam menukil berita tentang peperangan Badar dan informasi yang sampai kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya tentang kafilah dagang Quraisy, Ibnu Hisyam menyebutkan Rasulullah saw mengajak para sahabatnya untuk bermusyawarah. Ibnu Hisyam berkata, "Rasulullah saw mendapat berita tentang perjalanan kafilah dagang Quraisy, dan beliau bermaksud mencegat kafilah dagang tersebut. Maka Rasulullah saw mengajak orang-orang untuk bermusyawarah dan memberitahukan mereka tentang kafilah dagang Quraisy. Maka berdirilah Abu Bakar ash-Shiddiq mengatakan sesuatu, lalu Rasulullah saw berkata, 'Bagus!' Lalu berdiri Umar dan mengatakan sesuatu, kemudian Rasulullah saw berkata, 'Bagus!' Selanjutnya Miqdad bin 'Amr berdiri dan berkata, 'Ya Rasulullah, berjalanlah sesuai dengan apa yang telah Allah perlihatkan kepada Anda, niscaya kami bersama Anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kepada Anda sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa manakala mereka mengatakan, 'Pergilah kamu berdua denganmu Tuhanmu dan berperanglah, adapun kami biar duduk di sini saja menunggu; melainkan kami mengatakan, 'Pergilah kamu berdua dengan Tuhanmu dan berperanglah, dan kami pun ikut berperang bersama Anda berdua.' Demi Zat yang mengutus Anda dengan kebenaran, meski pun Anda membawa kami ke dalam lautan, kami akan tetap berperang bersama Anda sehingga Anda sampai kepadanya.' Maka Rasulullah saw berkata kepadanya, 'Bagus!', dan beliau berdoa untuknya." Yang menjadi pertanyaan kita ialah, apa yang dikatakan oleh Abu Bakar dan Umar kepada Rasulullah saw. Jika memang bagus, lalu kenapa Bukhari tidak menyebutkannya. Kenapa Bukhari menyebutkan apa yang dikatakan oleh Miqdad namun tidak menyebutkan apa yang dikatakan oleh keduanya?! Selanjutnya, marilah kita kembali kepada Muslim, untuk melihat apakah dia juga melakukan hal yang sama sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibnu Hisyam dan Thabari. Muslim meriwayatkan, "Rasulullah saw bermusyawarah dengan para sahabatnya manakala sampai berita kepadanya tentang kedatangan (kafilah) Abu Sufyan.." Muslim berkata, "Maka Abu Bakar berkata, namun Rasulullah saw berpaling darinya. Kemudian berkata Umar, namun Rasulullah saw berpaling darinya... kemudian Muslim menyebutkan kelanjutan hadis."[130] Muslim juga tidak menyebutkan apa yang telah dikatakan oleh Abu Bakaar dan Umar, namun dia lebih jujur dari Ibnu Hisyam dan Thabari. Karena Muslim mengatakan , "Rasulullah saw berpaling darinya", dan tidak mengatakan, "Bagus!" Meski pun apa yang telah dilakukannya tetap merupakan kejahatan terhadap hadis. Karena dia harus menyebutkan perkataan keduanya. Dan keputusannya untuk tidak menyebutkan perkataan keduanya, menunjukkan adanya kedengkian di dalam perkara ini. Kenapa Rasulullah saw berpaling dari perkataan keduanya, jika perkataan keduanya bagus?! Dari kedua hadis di atas setelah terbukti secara jelas pemalsuan yang telah mereka lakukan menjadi jelas bagi kita bahwa di sana terdapat sesuatu yang tidak layak bagi kedua Syeikh (Abu Bakar dan Umar penerj.) yang tidak mereka sebutkan. Namun, Allah SWT tetap menampakkan cahaya-Nya meski pun orang-orang kafir tidak suka. Kitab al-Maghazi, karya al-Waqidi, dan kitab Imta' al-Asma, karya Muqrizi, menceritakan kisah ini. Setelah kedua kitab ini menyebutkan khabar di atas, kedua kitab ini menyebutkan, "Maka Umar berkata, 'Ya Rasulullah, Demi Allah, sesungguhnya mereka itu bangsa Quraisy. Demi Allah, kemuliaan mereka belum melemah sejak mereka mulia. Demi Allah, mereka belum beriman sejak mereka kafir. Dan demi Allah, selamanya mereka tidak akan menyerahkan kemuliaannya. Mereka pasti akan memerangi Anda, maka oleh karena itu bersiap sedialah dengan perlengkapan untuk itu." Dari sini kita dapat mengetahui kenapa Rasulullah saw berpaling dari perkataan Umar. Karena perkataan yang dikatakan oleh Umar ini tidak pantas dikatakan oleh seorang sahabat Rasulullah saw. Bagaimana bisa Umar menyatakan orang musyrikin Quraisy mempunyai kemuliaan? Apakah Rasulullah saw bermaksud hendak menghinakan mereka? Sungguh amat disayangkan. Namun, inilah tingkat pengetahuan Umar terhadap Islam, dan begitu juga tingkat peradabannya. Demikianlah, Bukhari dan Muslim senantiasa mencampurkan kebenaran dengan kebatilan, dan mengganti hadis-hadis yang mereka rasakan menjelekkan Abu Bakar dan Umar. Ketiga: PENULIS, DAN PERANAN MEREKA DI DALAM MENYELEWENGKAN KEBENARAN Peranan para muhaddis dan sejarahwan mengukuhkan orang-orang yang datang sesudah mereka, yaitu para penulis. Mereka mengerahkan segenap usaha mereka untuk memalsukan kebenaran dan menjelek-jelekkan mazhab Ahlul Bait, dengan menggunakan berbagai macam propaganda dan penyebaran berita dusta. Mereka para penulis telah memperoleh keberhasilan besar di dalam memperdalam kebodohan pada diri anggota mazhab mereka, dan memperlebar jurang di antara mereka dengan pengenalan kepada kebenaran. Mereka telah menggambarkan Syi'ah dalam rupa yang paling buruk. Ini semua disebabkan berbagai khurafat dan sangkaan yang mereka rangkai. Saya tidak mengatakan ini hanya sekedar berupa asumsi, melainkan saya sendiri pernah mengalami kebodohan ini untuk beberapa waktu. Dan saya dapat merasakan lebih besar lagi kebodohan saya tersebut manakala hati saya telah terbuka dan diterangi oleh Allah SWT dengan cahaya Ahlul Bait. Saya menemukan masyarakat saya tenggelam di dalam timbunan kebodohan dan berbagai kebohongan atas Syi'ah. Setiap kali saya bertanya tentang Syi'ah, baik yang ditanya itu seorang ulama atau seorang yang terpelajar, mereka menjawab saya dengan serangkaian kebohongan atas Syi'ah. Misalnya, mereka menjawab bahwa Syi'ah itu mengatakan Ali adalah Rasul Allah yang sebenarnya, namun Jibril melakukan kesalahan dan menurunkan risalah kepada Muhammad. Atau, mereka mengatakan bahwa orang-orang Syi'ah menyembah Ali, atau kebohongan-kebohongan lainnya yang sama sekali bertentangan dengan kenyataan. Dan, cobaan yang paling berat dari semua itu ialah manakala kepada Anda dilontarkan pertanyaan yang mengherankan, Apakah orang-orang Syi'ah itu Muslim? Apa perbedaan antara Syi'ah dengan syuyu'iyyah (komunis)? Kebodohan akan Syi'ah ini, yang dialami oleh sebagian besar dari umat Islam, adalah merupakan hasil logis dari segenap usaha dan kerja keras para penulis, sebagai akibat dari kebodohan yang diterapkan atas generasi-generasi umat ini, supaya mereka menolak dan tidak mengakui mazhab Syi'ah. Ini merupakan kelanjutan dari rencana yang telah dimulai sejak dahulu, dan diteruskan hingga hari ini. Oleh karena itu, Anda dapat menemukan beratus-ratus buku beracun yang menghujat Syi'ah, yang mereka sebarkan ke tengah-tengah masyarakat, dan biasanya dibagi-bagikan secara gratis oleh pihak Wahabi. Alangkah baiknya, jika sekiranya di tengah-tengah atmosfir yang dipenuhi dengan sikap penentangan terhadap Syi'ah, dibolehkan juga buku-buku Syi'ah beredar di tengah-tengah masyarakat, sehingga dengan begitu akan tercipta keseimbangan. Namun, ini tidak terjadi. Cobalah tengok perpustakaan-perpustakaan Islam dari kalangan Ahlus-Sunnah, mereka jarang sekali dan bahkan dapat dikatakan tidak sama sekali memuat buku-buku Syi'ah. Sebaliknya perpustakaan-perpustakaan Syi'ah, baik itu yang untuk dijual maupun yang terdapat di lembaga-lembaga ilmiah, mereka tidak kosong dari kitab-kitab dan referensi-referensi rujukan Ahlus-Sunnah, dengan berbagai macam garis dan pandangannya. Dan yang lebih parah dari semua itu, jika seandainya Anda memberikan sebuah buku Syi'ah kepada salah seorang dari mereka, mereka tidak akan membacanya, bahkan mungkin akan membakarnya, dengan alasan bahwa dia tidak boleh membaca buku-buku sesat. Saya masih ingat bagaimana imam mesjid di desa kami dengan lantang menyatakan kekufuran dan kesesatan saya, dan melarang semua orang untuk duduk bersama saya atau membaca buku-buku tulisan saya. Logika macam apakah ini, yang memberangus manusia dari kebebasannya berpikir. Namun, memang beginilah siasat kebodohan dan pembodohan yang mereka tempuh. Beberapa Kitab Yang Ditulis Untuk Menentang Syi'ah: 1. Muhadharat fi Tarikh al-Umam al-Islamiyyah (Ceramah-Ceramah Tentang Sejarah Umat Islam), karya al-Khudhari. 2. As-Sunnah wa asy-Syi'ah (Sunnah dan Syi'ah), karya Muhammad Rasyid Ridha, penulis tafsir al-Manar. 3. Ash-Shira' Baina al-Watsaniyyah wa al-Islam (Pertarungan Antara Paganisme Dengan Islam), karya al-Qashimi. 4. Fajr al-Islam wa Dhuha al-Islam (Fajar Islam), karya Ahmad Amin. 5. Al-Wasyi'ah fi Naqd asy-Syi'ah (Kumpulan Kritikan Terhadap Syi'ah), karya Musa Jarullah. 6. Al-Khuthuth al-'Aridhah (Jaringan yang luas), karya Muhibuddin Khathab. 7. Asy-Syi'ah wa as-Sunnah, asy-Syi'ah wa al-Qur'an, asy-Syi'ah wa Ahlul Bait, dan asy-Syi'ah wa at-Tasyayyu'', karya Ihsan Ilahi Zhahir. 8. Minhaj as-Sunnah, Ibnu Taimiyyah. 9. Ibthal al-Bathil, Fadhl bin Ruzbahan. 10. Ushul Madzhab asy-Syi'ah, Nashir al-Ghifari. 11. Wa Ja'a Dawr al-Majus, Abdullah Muhammad al-Gharib. 12. At-Tuhfah al-Itsna 'Asyariyyah, ad-Dahlawi. 13. Jawlahfi Rubu'asy-Syarq al-Adna, Muhaddis Tsabit alMishri. Dan kitab-kitab lainnya yang tendensius. Para ulama Syi'ah telah menjawab kitab-kitab ini dan kitab-kitab yang semisalnya dengan jawaban rinci dan cukup. Anda dapat saksikan adanya perbedaan metode pembahasan di antara kedua jenis kitab di atas. Anda mendapati kitab-kitab Syi'ah bertujuan untuk membuktikan dan mengokohkan kebenaran mazhabnya dengan dalil-dalil yang kuat dan argumentasi-argumentasi yang cemerlang, yang bersandar kepada kitab-kitab referensi Ahlus Sunnah, dengan tanpa menyerang mazhab lain. Adapun kitab-kitab yang berusaha menolak Syi'ah, sejak awal mereka bertujuan untuk menyerang mazhab Syi'ah dengan berbagai cara, meskipun dengan cara menuduh dan menciptakan kebohongan-kebohongan. Banyak sekali bukti-bukti yang mendukung ucapan kami. Insya Allah, kami akan kemukakan beberapa contoh darinya dalam pembahasan ini. Kitab-Kitab Syi'ah Yang Menjawab Dan Mengokohkan Kebenaran Mazhabnya 1. Asy-Syafi fi al-Imamah. Kitab ini terdiri dari empat jilid. Di dalam kitab ini, penulisnya Syarif al-Murtadha membuktikan keimamaham sebagai dasar agama, sosial dan politik. Dia juga membuktikan dengan dalil naql dan akal yang lurus bahwa keimamahan merupakan keharusan agama dan sosial, bahwasannya Ali as adalah khalifah sepeninggal Rasulullah saw yang telah ditetapkan dengan nas, dan barangsiapa yang menentangnya maka berati dia telah menentang kebenaran. Di dalam kitabnya ini juga Syarif al-Murtadha menjawab seluruh kecurigaan maupun kesamaran yang dikatakan atau yang mungkin akan dikatakan di seputar masalah keimamahan, dan kemudian dia menggugurkannya dengan logika akal dan hujjah yang cemerlang.[131] 2. Nahj al-Haq wa Kasyf ash-Shidq, karya Allamah al-Hilli. Kitab ini membahas sekumpulan masalah berikut ini, a. Pemahaman (al-Idrak). b. Pandangan (an-Nazhar). c. Sifat-sifat Allah. d. Kenabian. e. Keimamahan. f. Maad (hari kiamat). g. Ushul Fikih. h. Masalah-masalah yang berkaitan dengan fikih. Tampak sekali bagi para pembaca kitab ini bahwa penulisnya adalah seorang pengkaji yang objektif, yang tidak ta'assub terhadap pandangannya, dan tidak mendukung salah satu keyakinan pada permulaannya. Dia tidak membahas dan mencari dalil untuk medukung keyakinannya, melainkan dia menempatkan pendapat dan keyakinannya mengikuti Al-Qur'an, serta pendapat dan keyakinannya tunduk kepada dalil. Fadhl bin Ruzbahan al-Asy'ari telah menulis sebuah kitab untuk mengkritik kitab ini, dan memberinya judul Ibthal al-Bathil wa Ihmal Kasyf al-'Athil. Namun dia tidak menggunakan metode sebagaimana yang digunakan oleh Allamah al-Hilli. Dia justru banyak menyerang dan mengecam. Namun, secara relatif kitab ini dapat dikatagorikan sebagai kitab yang dapat dipegang hujjahnya dan berisi diskusi ilmiah. 3. Ihqaq al-Haq, karya Sayyid Nurullah al-Husaini al-Tusturi. Sebuah kitab yang besar, yang ditulis oleh penulisnya untuk menjawab kitab Ibthal al-Bathil yang ditulis oleh Fadhl bin Ruzbahan. Kitab lhqaq al-Haq ini telah diberi catatan oleh Ayatullah Syihabuddin al-Mar'asyi an-Najafi, sehingga tebalnya mencapai dua puluh lima jilid ukuran besar. Penulis kitab ini telah melakukan usaha yang besar dan tidak kenal lelah di dalam meneliti dan mengeluarkan hadis-hadis dan riwayat-riwayat dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Sungguh, alangkah bagusnya jika kitab ini ditempatkan di tempat-tempat penyimpanan barang berharga, karena dapat dikatakan sebagai sebuah karya besar, yang mungkin sebuah tim khusus pun tidak dapat menghasilkannya. 4. Jawaban terhadap Fadhl bin Ruzbahan juga diberikan oleh Allamah al-Mudzaffar, di dalam tiga jilid kitab yang berjudul Dala'il ash-Shidq. Kitab ini juga merupakan jawaban terhadap kitab Minhaj as-Sunnah, karya Ibnu Taimiyyah, yang ditulis untuk menjawab Allamah al-Hilli di dalam kitabnya yang berjudul Minhaj al-Karamah. Namun, Allamah al-Mudzaffar tidak membahas secara panjang lebar di dalam menjawab Ibnu Taimiyyah. Dia memberikan isyarat di dalam mukaddimahnya, "Apabila tidak ada kerendahan pada point-point pembahasannya, kekotoran lidah pada penanya, bertele-telenya ungkapannya, serta permusuhannya terhadap diri Nabi al-Amin dan anak-anaknya yang suci, maka tentu layak melakukan pembahasan dengannya."[132] 5. Ensiklopedia al-Ghadir, terdiri dari 11 jilid, karya Allamah Abdul Husain al-Amini. Ini merupakan karya besar yang dipersembahkan oleh penulisnya. Kitab ini membuktikan kebenaran mazhab Ahlul Bait melalui segenap jalan dan argumentasi. Yang lebih mengagumkan ialah, bahwa penulisnya telah menghimpun kurang lebih sembilan puluh empat ribu kitab rujukan Ahlus Sunnah di dalamnya. Kitab al-Ghadir ini ditujukan untuk menjawab beberapa kitab Ahlus Sunnah yang ditulis untuk menentang Syi'ah, seperti kitab: a. al-'Iqd al-Farid. b. al-Farq Baina al-Firaq. c. al-Milal wa an-Nihal. d. al-Bidayah wa an-Nihayah. e. al-Mahshar. f. as-Sunnahwaasy-Syi'ah. h. ash-Shira''. i. Fajr al-Islam. j. Zhuhr al-Islam. k. Dhuha al-Islam. l. 'Agidah asy-Syi'ah. m. al-Wasyi'ah. n. Minhaj as-Sunnah. Allamah al-Amini telah menjawab mereka dengan baik, dengan menggunakan dalil-dalil yang terang dan argumentasi-argumentasi yang cemerlang. Dia memiliki kelebihan dari sisi kajian yang objektif, yang tidak cenderung kepada sikap ta'assub. 6. Juga termasuk salah satu ensiklopedia besar yang membuktikan kebenaran mazhab Syi'ah, yang menjawab serangan musuh-musuhnya ialah kitab 'Abagat al-Anwar fi Imamah al-Aimmah al-Athhar, karya Sayyid Hamid Husain Ibnu Sayyid Muhammad Qili al-Hindi, namun saya belum mendapatkan naskah aslinya. Saya baru mendapat kitab ringkasannya yang berjudul Khulashah 'Abagat al-Anwar, karya Ali Husain al-Milani. Kitab ini terdiri dari 10 jilid. Kitab ini merupakan jawaban atas kitab at-Tuhfah al-Itsna 'Asyariyyah, karya Abdul Aziz ad-Dahlawi, yang mengkritik keyakinan-keyakinan Syi'ah. Sekumpulan para ulama Syi'ah telah menjawab kitab at-Tuhfah ini dengan beberapa kitab, yang di antaranya adalah kitab as-Saif al-Maslul 'ala Mukhrib Din ar-Rasul, karya Abu Ahmad bin Abdun Nabi an-Naisaburi, kitab yang terdiri dari empat jilid, yang masing-masing jilidnya dengan nama Sayyid Deldor Ali Taqi; kitab an-Nazhah al-ltsna 'Asyariyyah, karya Muhammad Qili, yang terdiri dari sekumpulan beberapa jilid kitab besar; berikutnya kitab al-Wajiz fi al-Ushul, karya Syeikh Subhan Ali Khan al-Hindi; dan kitab al-Imamah, karya Sayyid Muhammad bin Sayyid. Sayyid Muhammad bin Sayyid juga mempunyai kitab jawaban terhadap kitab at-Tuhfah dalam bahasa Persia, yang berjudul al-Bawariq al-Ilahiyyah. Dan kitab-kitab lainnya yang merupakan jawaban terhadap ad-Dahlwi, yang disebutkan oleh penulis kitab adz-Dzari'ah dan kitab A'yan asy-Syi'ah. Dari kitab-kitab jawaban ini yang terbesar adalah kitab al- 'Abagat. Tampak dengan jelas, dari isi kitab ini, kebesaran penulis, ketajaman pandangannya, keluasan ilmunya, ketelitiannya terhadap berbagai perkataan, dan keamanahannya di penukilan ilmiah terhadap berbagai pembahasan, dan di dalam metodologinya di dalam menjawab berbagai kritikan dan sanggahan terhadap argumentasi-argumentasi yang diajukan. Dia telah memutus seluruh jalan dan alasan dengan sekuat-kuatnya hujjah dan sekokoh-kokohnya argumentasi, dan telah menolak berbagai keraguan, sehingga tidak tersisa lagi celah bagi musuh untuk menikam mazhab Syi'ah, mencela dalil dan melemahkan hadis. Dia telah menangkis semuanya dengan cara yang paling baik, dan telah menjawabnya dengan jawaban yang indah, disertai dengan penelitian yang anggun, penyelidikan yang cekatan, argumentasi yang kokoh, istidlal Alawi dan kebangkitan Ridhawi, dengan bersandar seluruhnya kepada kitab-kitab Ahlus Sunnah, dan berargumentasi dengan perkataan pilar-pilar ulama mereka, di dalam berbagai macam disiplin ilmu."[133] Untuk melakukan itu dia telah dibantu oleh perpustakaan keluarganya yang terkenal yang terdiri lebih dari 30 ribu kitab, baik yang berupa kitab cetakan maupun kitab yang masih berupa transkrif, dari berbagai mazhab dan golongan. Hingga saat sekarang ini kita belum menemukan adanya kitab jawaban terhadap kitab al-'Abaqat, padahal kitab at-Tuhfah telah banyak mendapat jawaban. Adapun yang pertama menjawab kitab at-Tuhfah adalah Sayyid Deldor Ali di dalam kitabnya yang berjudul ash-Shawarim alllahiyyah dan kitab Sharim al-hlam. Lantas kedua kitab Sayyid Deldor itu dijawab oleh Rasyi-duddin ad-Dahlawi, murid penulis kitab at-Tuhfah, dengan kitabnya yang berjudul asy-Syawkah al'Umariyyah. Selanjutnya kitab asy-Syawkah al-'Umariyyah itu dijawab oleh Baqir Ali dengan kitabnya al-Hamlah al-Haidariyyah. Demikian juga kitab at-Tuhfah dijawab oleh al-Mirza di dalam kitabnya an-Nazhah al-Itsna 'Asyariyyah. Lalu salah seorang Ahlus Sunnah menjawab kitab an-Nazhah al-Itsna 'Asyariyyah dengan kitab Rujum asy-Syayathin. Selanjutnya kitab ar-Rujum asy-Syayathin dijawab oleh Sayyid Ja'far al-Musawi dengan kitabnya Mu'in ash-Shadiqin fl Radd Rujum asy-Syayathin. Begitu juga kitab at-Tuhfah dijawab oleh Sayyid Muhammad Qili, ayah penulis kitab al- 'Abagat dengan kitabnya yang berjudul al-Ajnad al-Itsna 'Asyariiyah al-Muhammadiyyah. Selanjutnya kitab tersebut dijawab oleh Muhammad Rasyid ad-Dahlawi. Lalu Sayyid Muhammad Qili kembali menjawabnya dengan kitab al-Ajwibah al-Fakhirahfi ar-Radd 'ala al-Asya'irah, hingga akhrinya polemik ini disudahi oleh penulis kitab al'Abaqat, dan hingga sekarang belum ada yang menjawabnya. Ini cukup untuk membuktikan kelemahan dari pihak Ahlus Sunnah. 7. Ma'alim al-Madrasatain, karya Murtadha al-'Askari. Kitab ini merupakan kitab perbandingan di antara madrasah Ahlul Bait dengan madrasah para khulafa. Penulis kitab ini bersandar kepada sikap objektif dan kajian ilmiah yang teliti. Kitab ini terdiri dari tiga juz. 8. Kitab al-Muraja'at (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Dialog Sunnah Syi'ah" penerj.), karya Abdul Husain Syarafuddin. Kitab ini merupakan hasil dialog di antara penulisnya dengan Syeikh al-Azhar, Salim al-Bisyri. Kitab ini terhitung sebagai dialog yang langka, di mana di dalamnya kedua orang yang berdialog menggunakan metode yang tenang dan percakapan yang santun. Abdul Husain juga mempunyai banyak kitab lain di dalam masalah ini, di antaranya adalah kitab an-Nash wa al-ljtihad, kitab al-Fushul al-Muhimmah fi Ta'lif al-Ummah, kitab al-Kalimah al-Gharra' fi Tafdhil az-Zahra, dan kitab Abu Hurairah. Juga terdapat berbagai jawaban dari kalangan ulama Syi'ah terhadap kitab-kitab Ahlus Sunnah, seperti: 1. Ajwibah Masa'il Jarullah, oleh Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi. 2. Ma 'a al-Khathibfi Khuthuth al- 'Aridhah, karya Luthfullah ash-Shafi. 3. Syubhat Hawla asy-Syi'ah. 4. Kadzib 'ala asy-Syi'ah. Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya _________________________________________________________________ Gör karriär! http://monster.msn.se/ Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan ini)... beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Salam perjuangan. -------------- ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!! **UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK: kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED] http://lantak.cjb.net *PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Lantak/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Lantak/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
