Omar Putéh menulis:
Mengapakah tidak kelihatanpun hadhir NaWa ke bengkel diskusi: Tidak Ada
Filsafat Dalam Islam?
Hari ini hadhir dua pendiskusi: DPP PDRM dan Novindra Djamaluddin. Yang
sebelumnya hadhir Rima Mhd Ariefsyah Nasution dan M.Nazar. Sedang Drs Hussaini
Daud kini sedang kita tunggu-tunggui, karena sayapun telah memenuhi
permintaannya dengan tetap mengukuhkan kedudukkan status Al Quran, sebagai
hukum-hakam hidup dan kehidupan, sebagaimana telah pernah saya tuliskan untuk
membetulkan pernyataan Alauddin Ziyadovich Umarov seketika dulu, yang termuat
dalam website: ahmad sudirman, dengan mengenyampingkan pilihan statusnya yang
lemah dengan bahasa filsafat yang lemah, yang mengatakannya sebagai Al Quran
sebagai pedoman hidup dan dalam waktu yang lain pula menstatuskan Al Quran,
sebagai falsafah hidup.
DPP PDRM memuatkan tulisannya tidak sepanjang djelaan dari paparan Novindra
Djamaluddin. Saya baca semuanya dan akan saya berikan komentar saya pula
selaku pendiskusi juga, tentunya sudah pasti dengan menghebahkan 5 BM atau Lima
Bench Mark.
Nah, itulah yang saya beritahukan kepada NaWa dulu, karena ketidaksempatan
nonggolnya NaWa dalam diskusi semalam dan hari ini, pada hal dimeja panjang
kami berjejeran hidangan kebab kegemaran NaWa, yang sudah berbungkus-bungkus
dengan koran Serambi Indonesia, yang dibuat sedemikian rupa seperti bancaan
dalam keduri masyarakat Jawa.
NaWa, Hari Selasa, adalah bertanggal 1 May, 2008! Biarlah dengan mengambil
hari tumbal itu, hari yang NaWa, Vande Charba, Novendra Djamaluddin, Rima, Raja
Perdamaian, Masthur Yahya, Agam Sidroë, Affan Ramly dan lain-lain kamerat saya
ajak mengamalkan bacaan surat AL MAA'UUN (Barang-Barang Yang Berguna) Surat ke
107, yang tujuh ayat itu, yang juga akan mejadi Akar Keadilan Sosial dan
sebagai hukum-hakam hidup dan kehidupan kita, sebagai sumbangan bahan diskusi:
Basis Keadilan Sosial, yang digelar oleh Novendra Djamaluddin, karena ramai
para pendiskusi-pendiskusi undangan berhalangan hadhir ketika itu.
NaWa, saya telah mengamalkan bacaan surat Al Maa'uun ini sejak saya berumur
antara 9-10 tahun dan terus saja saya membacanya sehingga kehari ini, dalam
setiap sembahyang fardhu lima waktu saya, sebagai hukum-hakam hidup dan
kehidupan saya.
Kalau NaWa ikut mengamalkannya sebaik saja membaca kiriman saya ini dan terus
sampai ke ujung usia NaWa, maka ayat Al Maa'uun itu juga akan menemani
jiwa-rohani sepanjang perjalanan hidup dan kehidupan NaWa terhadap Anak-Anak
Yatim dan Mereka-Mereka Yang Hidup Miskin.
Saya akan yaqin jiwa-rohani NaWa akan senantiasa menangis bila terpandang
atau terbayang pri kehidupan Anak-Anak Yatim dan Mereka-Mereka Yang Hidup
Miskin dan NaWa akan menangis sepanjang usia NaWa karena ingatan ayat Allah SWT
itu.
Sebagai mantan anggota Himpunan Mahasiswa Islam, saya beritahukan kepada NaWa
bahwa saya telah juga membaca apa-apa yang NaWa dan rakan-rakan baca,
sebagaimana yang lama saya amati di internet. Tinggalkanlah itu semua, karena
itu tidak akan membantu jiwa NaWa dan rakan-rakan dalam menjiwai kepedihan akan
derita tangisan Anak-Anak Yatim dan Mereka-Mereka Yang Miskin.
Omar Putéh,
Meunasah Reudeup,
Achèh Rajeuek
Omar Putéh menulis:
Tetapi saya perlu juga menyambung apa itu Akar Keadilan Sosial, Landasan
Keadilan Sosial, Azas Keadilan Sosial, karena saya masih belum sepakat lagi
kalau masih lagi lain Na Wa menuliskan sebuah istilah suatu pemahasan dengan
Basis Keadilan Sosial, yang sayakira janggal dan ekspresinya terganjal.
Omar Putéh,
Meunasah Reudeup,
Achèh Rajeuek
semesta nawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kali ini saya bersepakat dengan Om Puteh :)
-NaWa-
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.