Omar Puéh menulis:
   
  Kadi Hukum katakan demikian jangan terus emosi, tetapi pikir dan renungkan. 
Kalau renung dalam bahsa Malaysia artinya lain, jadi jangan ikut bahasa 
Malaysialah. Tetapi renung dalam bahasa Indonesia sajalah, karena anda Drs 
Hussaini Daud Sp pun sedang menulis dalam bahasa Indonesia.  Maka pikir dan 
renungkanlah, jangan seperti orang sakit kepala.  
   
  Dan jangan pula sedikit diangkat oleh winwannur, maka Drs Hussaini terus 
mengelarnya winwannur itu sebagai briliant.  Saya tahu bagaimana maksud 
penggunaan kata itu digunakan.
   
  Tetapi apakah Drs Hussaini Daud Sp tahu apa beda intan dengan berlian, sedang 
benda asalnya adalah sama?
   
  Saya seperti terbaca yang Drs Hussaini Daud Sp ada menyebutkan kata 
"tembikar", ketika menceritakan hal Nabi Adam As.  Saya tanyakanlah juga apa 
beda porselin dengan tembikar sedang bahan bakunya (raw material) sama? 
   
  Suka juga saya menayakan apa beda selat dengan terusan?  Sama sukanya saya 
hendaknya menanyakan apa beda laut dengan lautan?
   
  Karena dibawah ini, penggunaan kata filsafat (falsafah), filosof, filosofis, 
ideolgy seperti ngantuk tema(n)ggut-ma(n)ggut, sehingga orang membacanya akan 
bisa terbatuk-batuk.  
   
  Masalah pembangunan yang anda maksudkan seperti itu, seperti yang dibantah 
oleh Hadi Hukum itu, seperti cakap asal sepah, itu salah.
   
  Saya bukan tidak tahu perjalanan sosio-ekonomi dan sosio-politik di Achèh 
sekarang.  Tetapi agak terlalu susah untuk diperkatakan, karena semua serba 
transisi dan terlalu banyak sekali"gangguan".
   
  Terutama sekali adanya transisi mental.  Dan yang lain masalah staffing, visi.
   
  Kita harap Irwandi Yusuf dan M. Nazar musti nekad bekerja kuat.  Dan mereka 
berdua musti mintak Fakultas Ekonomi, Unsyiah menyediakan master plan 
pembangunan berjenjang yang lengkap, agar professor-professor ekonominya tidak 
disebut seperti professor kangkung.
   
  Keluar negeri menjumpai George Soros, untuk tanam modal keladang kelapa 
sawit, sangat menggelikan, karena tanah G.Soros di susuran pantai timur 
Brazillia, lebih besar dari Pulau Sumatra atau Kalimatan.
   
  Uang minyak dan gas urus yang betul. Minyak lepas pantai juga ambil. Minyak 
lepas pantai dalam batai ekonomi eklusif dan ultra eklusif juga untuk Achèh, 
tidak seperti terdengar cerita salah ketika M. Nazar diinterview oleh radio 
Belanda.
   
  Uang Tsunamai yang US ($) billion dolar itu musti diaudit secepat mungkin.  
Bangsa Achèh mau baca laporan yang tranparant, yang tembus pandang dan tidak 
mau pakai model management China, pakai dua kaki buku, karena bangsa Achèh mau 
uang itu untuk pembangunan yang lain lain yang strategis.
   
  Diantara Achèh dan Nias itu ada satu lorong, lorong laluan taktis 
"penggelapan/penyeludupan" uang tsunami.  Kalau tidak buat apa dijamakkan pakai 
Achèh dan Nias, sedangkan petaka yang ditimpa Nias hanya kerupingnya saja.
   
  Anda Drs Hussaini Daud Sp diberitahukan bahwa pembangunan fisik dan non-fisik 
di Achèh dan dimana-mana didunia musti berjalan serentak.
   
  Bukan Acheh tidak tahu infra struktur pembangunan non-fisik, seperti anda 
maksudkan, tetapi sebagai dimaksudkan oleh Hadi Hukum bisa dipahami dan juga 
musti anda ikut juga memahami ketransisian dan kebermacam-macaman 
"hambatan/gangguan baik taktis dan strategis" dari syaitan-iblis.  Apakah ada 
do'a sumpah serapah yang lain dari Drs Hussaini Daud Sp?
   
  Diharapkan juga kepada Drs Hussaini Daud Sp agar lebih baik membangun bentuk 
gulungan rokok kertas "bening" anda itu, biar jangan kempes dipangkal isapnya, 
walaupun ukurannya kekal tetap seperti rokok bendi India yang sebesar pangkal 
lidi puréh u.
   
  Satu lagi patut saya beritahukan kepada Drs Hussaini Daud, yang saya akan 
memenuhi segera permintaan Drs Hussaini Daud agar saya memberitahuka: Apa 
pedoman hidup saya, karena nampaknya anda Drs Hussaini Daud coba lari tukar 
topik.  Saya tetap konsekwen dengan apa yang saya katakan bahwa: Al Quran itu 
sebagai hukum-hakam hidup dan kehidupan.  Dan setiap ayat al Quran itu sebagai 
hukum-hakam!   
   
  OK dan tidak mengapa akan saya penuhi segera dan sayapun akan perlu 
secepatnya menyiapkan 5 BM (Lima Bench Mark) saya sehubungan dengan diskusi: 
Tidak Ada Filsafat Islam. 
   
  Tetapi permintaan saya, kalau bisa tolong diberitahukan kepada saya lewat 
milis ini: Bagaimanakah anda sebagai pengikut Syi'ah mengucapkan selengkapnya 
"dua kali masyahadat dalam sembahyang" ketika duduk dalam tahyat. 
   
  Omar Putéh,
  Meunasah Reudeup,
  Achèh Rajeuk. 
   
   
   
   
   
  

Ali Al Asytar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                  Anggapan anda yang keliru itu sudah dijelaskan oleh saudara 
Winwannur. Justru itu takperlu saya tanggapi. Kecuali persoalan memerdekakan 
Acheh saja. Anda sepertinya memiliki keyakinan Acheh akan merdeka dengan cara 
yang sedang ditempuh Irwandi - Nazar, semendara keyakinan saya justru Irwandi - 
Nazar telah membawa Acheh kembali ke nol lagi (baca Otonomi). Merewka memang 
telah merebut kekuasaan tapi dibawah kekuasaan musuh. Justru itu kekuasaan 
seperti itu sedikitpun tidak bermanfaat buat rakyat jelata, kecuali buat 
Irwandi cs dan keluarganya masing-masing. Sepakterjang yang mereka perlihatkan 
terindikasi, itu bukan perdamaian tapi menyerah kepada musuh. Saya yakin anda 
tidak mampu mencerna pernyataan saya ini disebabkan anda barangkali masih 
berada dalam orbitnya system Indonesia yang dhalim dan Hipokrit. Maaf andaikata 
prediksi saya
ini salah.

6 ayat dari surah yasin yang saya ikutkan sebagai penutup tulisan itu, secara 
tersurat memang tidak ada hubungannya dengan apa yang saya bahas tapi secara 
tersirat. Walaupun sebetulnya fungsi ayat-ayat itu sebagai pendamping mottonya. 
saja.

Secara filosofis, siapapun yang bersatupadu dalam system Thaghut kecuali 
taqiyah, mereka termasuk orang-orang yang mengikuti langkah syaithan. Mereka 
terkena dengan surah Al Maidah ayat 44, 45 dan 47. Mereka berada diluar Islam. 
Justru utu perlu kita ingatkan tempelakan Allah kelak dengan ayat-ayat 
tersebut, 

Filosofis disini bermakna hakikat. yang sebenarnya. Filosofis berasal dari kata 
filsafat, Filsafat satu tingkat lebih tinggi dibandingkan ilmu biasa. Justru 
itu orang yang berilmu disebut imuwan sedangkan orang yang (mampu) berfilsafat 
disebut Filosof, yang berarti ahli fikir. Kalau kita tidak mampu berfikir 
secara filkosofis, kita tidak mampu memahami
bahwa orang-orang yang bersatupadu dalam system Indonesia itu adalah diluar 
Islam. Kita hanya melihat bahwa orang tersebut selalu shalat, malah khatib lagi 
atau malah Haji lagi macam Suharto. Ini ada hubungannya sedikit dengan apa yang 
sedang diperdebatkan Razali Paya alias omputeh, Novendra, Rima dan 
lain-lainnya. (meunjena njeng saket ulee lam kawannjan, hek teuh). 


Diatas filsafat itu masih ada satu tingkat lagi dan ini adalah tingkat yang 
tertinggi, yaitu ilmu Hikmah(QS. Jum'h 2). Ilmu dan filsafat adalah producnya 
intelek manusia. Dari itu kalau tidak kita dasarkan dengan Qur-an sebagai 
pedoman Hidup yang dikirim Allah akan keluar dari relnya Islam. Filsafat Yunani 
adalah product ahli pikir Yunani yang bertentangan dengan Qur-an, dengan Islam. 
Ahli fikir Islam mendasarkan filsafatnya dengan Qur-an, maka dsisebut Filsafat 
Islam sedangkan orangnya disebut Filosof Islam seperti Mulla Sadra dari Iran.

Yang harus diingat disini
bahwa kendatipun seorang filosof mendasarkan jalan pikirannya dengan Al Qur-an 
masih belum apa -apa. Mereka adalah termasuk dalam katagory manusia-manusia 
berwajah "pucat". Filosof sebagaimana Ilmuan, netral terhadap kondisi 
lingkungannya yang korup dan anianya. Di Acheh, Indonesia dan negara negara 
Asia - Afrika yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam, banyak sekali 
filosofnya tapi mereka bekerja sama dengan penguasa Dhalim yang menindas 
rakyatnya. Justru para Ideologlah yang merobah realita kepada kebenaran. Para 
Ideologlah yang menggerakkan massa akar rumput, kaum dhu'afa untuk melawan 
kedhaliman. Senmua para Rasul dan para Imam adalah Ideolog. Mereka adalah 
manusia-manusia yang berwajah "merah". Apa kelebihan Ideolog? Mereka memiliki 
ilmu hikmah, yakni ilmu kesadaran. Ilmu yang diturunkan Allah kepada para Rasul 
dan para Imam. Ilmu tersebut adalah sinar yang menerangkan segala jenis 
ilmu-ilmu lainnya. Ilmu tersebut diturunkan di
"Masy'arul haram", malamnya. Sedangkan ilmu-ilmu lainnya termasuk filsafat 
diturunkan di "Arafah". siangnya.

Secara filosofis, manusia 'ideal' adalah, bermula di A'rafah (tahap ilmu 
pengetahuan), lalu menuju Masya'r (tahap kesadaran), dan terus ke Mina (tahap 
keyakinan cinta dan aksi).

Selanjutnya perhatikanlah perbandingan berikut:

1. Filosof, bermula dari A'rafah dan tetap di A'rafah, tidak pernah beranjak ke 
mana-mana.
2. Sufi, bermula di Mina dan juga tetap di Mina, tidak pernah beranjak ke mana-
mana
3. Islam sejati, bermula di A'rafah, lalu ke Masya'r terus ke Mina. 
(Sistematis, Optimis, Kreatif dan Dinamis

Selanjutnya marilah kita ber Afala ta`qilun dan Afala yatazakkarun!

Semua Rasul Allah/Utusan Allah adalah Idiolog-idiolog. Kepada mereka 
diamanahkan untuk menghidupkan/ merealisasikan kekuasaan Allah di atas 
permukaan planet Bumi ini. Setelah priode mereka berakhir, amanah tersebut 
diteruskan oleh Imam-Imam/U'la ma Warasatul Ambia'. Mereka itu semuanya adalah 
Idiolog-Idiolog Islami. Islam yang memiliki ilmu pengetahuan (A'rafah) serta 
memiliki kesadaran suci (Masya'r) untuk apa sesungguhnya hidup di dunia ini, 
beraksi, bertempur (Mina) untuk menumbangkan system Thaghut di permukaan Bumi 
ini, lalu menggantikan dengan system Allah (Kedaula tan Allah). "Qulja al haqqu 
wazahaqal bathil innal bathil lakana zahuqa" ( QS. 17 ; 81 ).

Sedangkan para Filosof asik membangga-banggakan ilmu pengetahuannya, merasa 
sejuk dan aman hidup dibawah kekuasaan Thaghut Dhalim dan Munafiq sekalipun, 
dan membiarkan Kaum Dhua'fa merintih di gubuk-gubuk reot dan menahan beban 
hidup yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Sementara para Sufi juga asik dengan 
angan-angan mereka untuk menggapai Syurga. Betulkah? Tunggu dulu.

Bagaimana mungkin semudah itu bisa dapat Syurga, dengan berkomatkamit membaca 
"mentera-mentera", membisikkan kata-ka ta Syurga ketelinga 
pengikut-pengikutnya, tanpa berjuang sama-sekali untuk membebaskan kaum Dhua'fa 
dari belenggu penindasan dan penjajahan, sebagaimana yang di diperjuangkan para 
Rasul, para Imam dan para U'lama Warasatul Ambia' (Pemimpin Kaum Dhua'fa). 
"Afala ta'qilun? Afala yatazakkarun?". 

Sebagai penutupo, renungkanlah tempelakan Allah ini agar kita memposisikan diri 
dalam barisan "habikl-habil" untuk menentang "qabil-qabil":

"Bukankah sudah kusampaikan kepadamu hai bani Adam agar kamub tidak
mengikuti langkah-langkah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu musuh
yang nyata bagi kamu. Tundukpatuhlah kepadaKu, inilah jalan yang
selurus-lurusnya. Betapa banyak sudah manusia yang rugi karenanya,
apakah kamu tidak berpikir? Inilah Neraka Jahannam yang dahulu kamu
diancam denagnnya. Masuklah kamu hari ini kedalamnya, disebabkan kamu
dahulu mengingkarinya. Hari ini ditutup mulut kamu, tangan dan kaki
diminta persaksian terhadap apa yang telah kamu kerjakan dahulu"
(QS.38 : 60 - 65)

(alstr - Acheh)




-- In [EMAIL PROTECTED] com,
muhammad hadi <hadi_hukum@ ...> wrote:
>
> Anda terlalu banyak berteori Bung Ali Al Asytar...zaman sekarang ini
bukan kumpulan teori yang diperlukan.. .tapi kumpulan praktek yang
ingin dirasakan... .anda juga terlalu jauh menarik sebuah batas
kesimpulan.. sampai2 Orde baru ikut anda libatkan...padahal belum tentu
akan seperti itu..itu wilayah yang belum pasti..zaman sekarang butuh
kepastian, bukan teori prasangka... .esensi pembangunan adalah punya
niat yang tulus dan cerdas dalam melakukan pembangunan yang
diinginkan.. ..anda orang cerdas Bung jadi tak perlu saya jelaskan
maksud tulus dan cerdas disini.
> 
> Apa yang dilakukan oleh Irwandi dan Para Tokoh masyarakat gayo
adalah sesuatu yang sangat berarti dan bermanfaat bagi masa depan
Aceh. sebagai orang yang cerdas, seharusnya anda lebih paham dan
mengerti bukan justru melihat sesuatu dengan tabiat kebencian yang
belum hilang...ini
bukan jamannya lagi memakai tabiat itu...
> 
> JIKA ANDA INGIN MENGALAHKAN MUSUH ANDA...MAKA ANDA HARUS BELAJAR
KELEMAHAN DAN PELUANG DARI MUSUH ANDA UNTUK MEMENANGKAN PERTANDINGAN
INI....INI PERTANDINGAN MODERN BUNG, TERMASUK DALAM MEREBUT TANAH AIR
> 
> saya heran dengan tindakan anda yang melampirkan salah satu ayat
Al Quran...karena tidak nyambung dengan konteks yang kita
bicarakan... termasuk antara ayat dengan argumen anda juga bertolak
belakang...saya tidak membandingkan anda dengan pembuat film
fitna...yang begitu cerdas mendesain sebuah produk kebencian dengan
melampirkan ayat2 yang tujuannya jelas untuk membangun dinasti
kebencian agama dengan melampirkan ayat sesuka hati....
> 
> persoalan BRR...mungkin semua orang tahu bobroknya... .di dunia
boleh2 saja mereka menang dengan lampiran angka...tapi di akhirat
mereka akan kalah dengan lampiran data...disana ada tempat yang
adil
untuk siapapun....
> 
> MARI KITA LANJUTKAN DISKUSI
> 
> salam
> 
> hd 
> 
> Ali Al Asytar <alasytar_acheh@ ...> wrote:
> Anda berbicara pembangunan tapi anda
sepertinya belum memahami esensi pembangunannya. Anda sepertinya
ikut-ikutan tergiring dengan kata yang sudaah terkontaminasi dengan
unsur hipokritnya orde baru..
> 
> Kalau kita berbicara pembangunan tidak akan pernah berhasil sebelum
kita memahami esensinya. Sebelum kita berbicara esensi pembangunan,
terlebih dahulu kita harus memahami esensi kemanusiaan. Pertama
sekali yang perlu kita pahami apakah manusia itu pada hakikatnya,
Apakah tujuan hidupnya (untuk apa dia dijadikan) dan yang terakhir,
> Apa sajakah kebutuhannya? (pelajari filsafat manusia versi Islam via
Qur-an sebagai pedoman Hidup orang-orang yang beriman).
> 
> Kalau tiga hal diatas menyangkut pelaku pembangunan
belum kita
pahaami, pembangunan yang kita bicarakan akan melenceng daripada
kebutuhan manusia itu sendiri. Ketika itu pembangunan yang kita
bicarakan tidak jauh bergeser dibandingkan pembangunan yang digarap
orang- orang Golkar di jaman Suharto dan berakhir dengan penyematan
gelar kepada koruptor nomor wahid di Dunia itu, yaitu "Bapak
Pembangunan" Lalu kita pertanyakan, apakah yang telah dibangun
Suharto? Untuk siapakah pembangunan tersebut?
> 
> Mereka membangun kota Jakarta tampa membangun kemanusiaannya.
Akibatnya siapa yang menikmati gedung-gedung mewah jakarta itu? 
Umumnya para basyar, yakni makhluk yang sekedar exist di permukaan
planet Bumi ini. Sementara rakyat biasa terus digusur hingga
kepinggir-pinggir kota. Lalu Kuntoro dikirim ke Acheh - Sumatra untuk
membangun kota Banda Acheh, bagaikan alimpalsu yang membagikan zakat
kepada 8 senif penerimanya, dimana Kuntoro cs sebagai senif
"amil"
melahap hampir seratusan juta rupiah perbulannya. Bayangkan berapa
banyak sudah mereka lahap dana tsunami itu sampai bulan May 2008 ini?
Lalu lihatlah senif "Fakir dan Miskin", berapa mereka terima
perbulannya? Baru kemudian kita pertanyakan lagi untuk siapakah
pembangunan yang digarap dengan dana yang sehahusnya diprioritaskan
kepada kaum dhu'afa itu? Untuk kaum dhu'afakah? Untuk rakyat Achehkah?
Untuk Cinakah?, Untuk Jawakah? Untuk pejabat-pejabat hindunesia
Acehkah? untuk orang luar negerikah? Siapakah yang menghuni 
> gedung-gedung mewah itu?, rakyat Acheh sederhanakah atau rakyat
Acheh yang menggunakan seragam ketika masuk kantor pejabatnya? 
Bukankah rakyat Acheh juga terus tergusur kepinggirnya? Adakah itu
termasuk pembangunan kemanusiaan?
> 
> Demikian jugalah sekarang Irwandi sedang melakukan hal yang sama
melalui orang Gayo yang kriusis identitas itu untuk membangun
Takengon.
Siapakah yang akan menikmati hasil pembangunan tewrsebut?
Pertama sekali sudah jelas orang - orang yang antithesis dengan
saudara Winwannur yang original Gayon itu, setelah didahului
makhluk-makhluk yang sama sebagaimana pembangunan Jakarta dan Banda Acheh.
> 
> Dan apabila pembangunan yang non esensi itu berhasil di tanah Gayo,
kemungkinan besar bedebah dan begajul di Takengon akan memberikan
titel kepada Irwandi sebagai "bapak pembangunan Acheh", he he he.
> 
> Apakah Irwandi sedang menelusuri sepakterjang Suharto sekarang ini?
Sepertinya demikian keberadaannya sekarang. Yang terperosoki kedalam
lobang yang sama bukan Saja Irwandi tapi seluruh makhluk yang
bersatupadu dalam system Taghut Indonesia Dhalim dan Hipokrit di Acheh
- Sumatra sekarang. Mereka realitanya memang sudah tertutup mata hati
disebabkan setelah Allah memberi petunjuk dulu hingga mengenali betul
siapa musuh mereka, namun
setelah itu mereka berjingkrak- jingkrak
masuk dalam "ketiak" musuh.
> 
> "Bukankah sudah kusampaikan kepadamu hai bani Adam agar kamub tidak
mengikuti langkah-langkah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu musuh
yang nyata bagi kamu. Tundukpatuhlah kepadaKu, inilah jalan yang
selurus-lurusnya. Betapa banyak sudah manusia yang rugi karenanya,
apakah kamu tidak berpikir? Inilah Neraka Jahannam yang dahulu kamu
diancam denagnnya. Masuklah kamu hari ini kedalamnya, disebabkan kamu
dahulu mengingkarinya. Hari ini ditutup mulut kamu, tangan dan kaki
diminta persaksian terhadap apa yang telah kamu kerjakan dahulu"
(QS.38 : 60 - 65)
> 
> ”Yang menang belum tentu benar, yang benar pasti menang”
> 
> 
> Billahi fi sabililhaq
> (alasytar Acheh)
> 
> 
> 
> 
> --- On Sun, 4/27/08, muhammad hadi <hadi_hukum@ ...> wrote:
> From: muhammad hadi
<hadi_hukum@ ...>
> Subject: Re: [IACSF] GUBERNUR IRWANDI BERTEMU TOKOH MASYARAKAT GAYO
> To: [EMAIL PROTECTED] com
> Date: Sunday, April 27, 2008, 3:00 AM
> 
> 
> AlHamdulillah semoga komunikasi ini terus berlanjut dan meluas
sampe ke seluruh Aceh. hanya lewat komunikasi yang intensif...pembangu
nan ini akan berlanjut. tapi jangan hanya sebatas komunikasi namun
perlu realisasinya juga.

kita menyambut baik tindakan Irwandi dan para Tokoh Gayo
ini...semoga Aceh maju bersama dan sejahtera bersama dalam lipatan
kain perdamaian.. .Amin..

salam
  
---------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it 
now.   

                           

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke