Omar Putéh menulis:
 
Bapak Gubernur/KDH, Achèh, Irwandy Yusuf, sepatutnhya bukan begitu menganjurkan 
agar NAD ditukar menjadi Achèh kembali, tetapi hendaknya dijelaskan dengan 
jelas sejelas-jelasnya setiap perobahan yang dibuat agar perobahan itu akan 
menjadi muktamad dan tidak perlu digugat lagi oleh Achèh yang menggugat.
 
Karena pihak Kantor Pos Dunia yang berpusat di Viena, Austria sana, akan 
menjadi kapok kalau nantinjan nama yang dianjurkan oleh bapak Gubernur/KDH 
Achèh, Irwandy Yusuf itu, akan berobah atau diubah-ubah lagi, kuweuët anak-anak 
jari mereka menyetipnya dan akan juga mengotorkan lembaran bukunya!
 
Kalau seperti pandangan "Sunny" (Mentari/Matahari) dari Swedia dalam bentuk 
pertanyaannya, tentu akan susah untuk dilaksanakan, karena dengan nama Achèh 
saja sudah memadai ingatan dari message kuatnya bapak Gubernur/KDH Achèh, 
Irwandy Yusuf itu, bukan hendak pula menukar kembali dari Nanggroë menjadi 
Propinsi, tetapi mereka-mereka para wartawan elektronik terutamanya, sudah 
dipahamkan bahwa yang dimaksudkan oleh bapak Gubernur/KDH Achèh Irwandy 
Yusuf itu, agar sesiapa yang akan meletakkan nama Achèh itu mustinya selalu 
tetap berada diatas.
 
Misalkan Propinsi Sumatra Utara, tentunya tidak akan disingkat dengan: PSU 
tetapi cukup dengan maksud singkatannya dengan: SU!
 
Maka begitulah sebenarnya dimaksudkan oleh bapak Gubernur/KDH Achèh, Irwandi 
Yusuf, agar mempelakukan Achèh mengikut urutan abjad pertama, tampa 
perlu menuliskan Nanggroë Achèh Darussalam lagi. Dan tentunya tidak juga 
disingkatkan dengan: NAD akan tetapi cukup dengan maksud singkatannya dengan: A 
saja! 
 
Asosiasinya dalam menyebut NAD, sudah bermaksud atau dimaksudkan sebagai Achèh!
 
Atau dalam konteks sejarah yang selalu didengungkan oleh oleh Soekarno dan 
penulis-penulis sejarah dari Jakarta, kalau mennyebut saja Achèh, sudah berarti 
itulah Daerah Modal Indonesia!, atau itulah Negara Achèh Sumatra yang pada 
tahun 1947 lewat Atase Perdagangannya di Singapura telah memberikan bantuan 
dana untuk perjalanan melobby pemerintah India, agar memberikan pengakuan 
internasionalnya keatas Indonesia dan untuk biaya Duta Besar Indonesia yang 
pertama ke India setelah keberhasilan penglobby-an itu dan sekaligus terangkat 
dari kesuksesan penglobby-an itu, Duta Besar Indonesia yang pertama ke PBB, 
yang juga dikantongi dengan biaya dari dana Atase Perdangan Achèh di Singapura 
itu.
 
Atau itulah Achèh, yang telah pernah mengantongkan Soekarno dan seluruh anggota 
Kabinetnya dengan dana dari Achèh Sumatra.  Atau itulah Achèh Sumatra yang 
pertama sekali memodali Garuda Indonesian Airways. Atau itulah Achèh Sumatra 
dengan uang yang pernah dikantongkan Soekarno itu, telah berjasa membesarkan 
Megawati Soekarno Putri, walaupun kemudian setelah membesar dan menggemuk 
si-bibik jamu gendong itu, telah pula  berupaya menyembelih Achèh rata-rata 
12-15 orang Achèh setiap hari dimasa DM dan DS-nya!
 
Achèh pada tahun 1947 masih sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat kata 
Prof Dr Ali Hasyimi!
 
Jadi tidaklah lagi dengan perubahan seperti yang dimaksudkan oleh bapak 
Guberrnur/KDH Achèh, Irwandy Yusuf akan menukar lagi seluruh struktur 
perjanjian MoU Helsinki, Findlandia itu dari Nanggroë Achèh Darussalam menjadi 
Negara Achèh Darussalam!  Tetapi Achèh itu telah dijaga keamanan luarnya dari 
gangguan luar, walaupun TNI tetap tinggal dalam tangsi!
 
Yang paling penting sekarang kita Achèh sudah mulai merasakan banwa Achèh itu 
perlahan-lahan sudah merasakan kembali sebagai tuan ditanah èndatunya sendiri!
 
Jadi saudara Sunny dari Swedia berikanlah bantuan kritikan membangun 
kepada bapak Gubernur/KDH Achèh, Irwandy Yusuf, dengan terus-menerus agar Achèh 
itu kuat, maju dan makmur!
 
Omar Putéh
Meunasah Reudeuep
Achèh Rajeuk.

--- On Fri, 5/22/09, sunny <[email protected]> wrote:


From: sunny <[email protected]>
Subject: «PPDi» Re: [pantau-komunitas] Nama NAD Menjadi Aceh Lagi
To: [email protected], [email protected]
Date: Friday, May 22, 2009, 5:57 PM









Kalau istilahnya berobah, apakah perjanjian yang dicapai di Helsinki juga 
dibatalkan, karena yang ditandatangi atas nama NAD  
 

----- Original Message ----- 
From: rbacako...@yahoo. com 
To: rbacako...@yahoo. com 
Sent: Friday, May 22, 2009 5:03 AM
Subject: [pantau-komunitas] Nama NAD Menjadi Aceh Lagi



Jakarta 20 Mei 2009

Untuk mensosialisasikan nama Aceh bagi warga ibukota Jakarta,
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan:" Hadirin sekalian, perlu
diketahui, sekarang nama Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sudah di ganti
seperti semula menjadi ACEH, tolong di sebarluaskan" .

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf  hadir di acara seminar "Menggerakkan
Kawasan Sabang Sesuai Statusnya", di Hotel Borobudur, Jakarta,
selasa(19/5) siang jam 12:30 WIB, yang di adakan oleh BPKS (Badan
Penguasaan Kawasan Sabang).

Pak Gubernur, kapan nama NAD berubah menjadi Aceh? Setelah berpikir
sejenak, beliau menjawab :Sejak keluar Peraturan Gubernur tanggal 7
April 2009".

Setelah makan siang usai, acara ramah tamah antara para peserta
seminar, saat di tanyai lebih lanjut, mengapa nama NAD di rubah menjadi
Aceh, beliau menjawab: "Aceh ya Aceh, sejak dahulu; nama NAD itu hanya
pemberian pusat (Jakarta) agar menarik perhatian bagi GAM bahwa Aceh
telah menjadi Nanggroe  / Negeri (Nanggroe Aceh Darussalam). "
"Itu hanya akal-akalan pusat saja, yang penting substansinya;
ngapain NAD-NAD, palak kali (marah sekali) Aku saat mendengar orang
ngomong (bicara) NAD-NAD, mau Aku pukul orang itu yang ngomong
NAD-NAD", ujar Irwandi.

Menyinggung baru sekarang tahun 2009 NAD berubah menjadi Aceh,
"Sekarang Aku Gubernur nya, Aku yang berkuasa di Aceh", kata Irwandi
Yusuf berapi-api.

"Lihat saat PON (Pekan Olahraga Nasional) berlangsung, dahulu Aceh
pada parade pembukaan selalu di urutan awal, karena sesuai abjad A
(Aceh); setelah di ganti NAD menjadi paling akhir,sebab abjad N (NAD)".

Tentang perubahan nama provinsi NAD menjadi Aceh kembali, apakah
pusat sudah setuju? " Ya sudah, pusat sudah Aku surati, mereka setuju;
sekarang semua kop surat, nama plang kantor, cap stempel sudah di ganti
menjadi ACEH".

"Kamu sudah makan? makan dulu kesana, sudah pak", menutup percakapan
siang itu. Sebelumnya terlihat Irwandi Yusuf turut antri megambil
makan, setelah itu beliau buru-buru pulang ke Aceh, masih banyak
kerjaan, datang ya ke Aceh, main- main ke Sabang, berkunjung ke kilometer nol, 
berenang di taman laut pulau rubiah, pantai iboih, pantai gapang, pantai kasih, 
lihat ribuan benteng jepang, pergi ke pulau terluar pulau rondo serta nikmati 
segala keindahan kota sabang.

"Aceh sudah aman lho, tidak seperti di Jakarta, banyak copet,
maling, jambret, kita berjalan sering di tabrak orang", kata Irwandi
sambil tertawa.

"Aku capai kerja ngurusin Sabang, tapi pusat (Jakarta) selama
sembilan tahun, status sabang belum dapat bergerak secara optimal,
karena belum ada PP (peraturan pemerintah) yang di keluarin, jadi
implementasi UU NO. 37 tahun 2000 dan UU NO 11 Tahun 2006 terhambat".

Pengembangan kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang
untuk 20 tahun kedepan butuh investasi Rp 11,043 trilyun, saat ini baru
Rp 1,2 trilyun yang di berikan pemerintah kepada Aceh.

wassalam
RACHMAD YULIADI NASIRINDEPENDENTpem erhati public & mediarbacakoran at yahoo 
dot comwww.walikotasaba ng.blogspot. com
















      

Kirim email ke