Mereka memanfaatkan MoU Helsinki untuk meraih simpati rakyat. Rakyat mana yang 
dapat mereka raih simpatinya?  Orang Acheh yang sadar tau persis bahwa itu 
adalah sandiwara politik. Di MoU Helsinki dinyatakan Acheh _ Sumatra berstatus 
Self Government tapi yang disodorkan Yudhoyono dan Kalla adalah otonomi basi. 
Kalau pihak yang berwewenang di Acheh merasa aman dengan Otonomi basi tampa mau 
meng amandement UUPA hasil rekayasa Jakarta, itu namanya bukan perdamaian tapi 
penyerahan kembali kepangkuan penjajah Hindunesia. Hal ini perlu diingatkan dan 
digarisbawahi agar pihak yang berwenang tidak terlena dengan sandiwara 
Hindunesia yang terkenal "jurus tipunya" dengan gaya   Ewuh Pakewuh sejak jaman 
Abu di Beureueh dulu, dimana pihak Hindunesia mengelabuinya melalui perjanjian 
Lamteh. Apabila kami mengingatkan seperti ini tujuan kami adalah jangan sampai 
terjerumus kedalam lamteh 2.

Yang mengherankan saya, kenapa tidak ada pihak yang menanggapi ketika mereka 
memanfaatkan MoU Helsinki untuk tujuan pribadi mereka? . Dalam perang kita 
tidak takut mati, tapi dalam masa aman dipasung kenapa takut?  Apa juga kita 
mengaku Islam, orang Papua saja yang mayoritas non Islam memiliki nyali tinggi 
dalam menghadapi musuh. Kalau begini sikap pihak yang berwewenang tak usah 
membangga-banggakan diri sebagai orang Acheh atau terlanjur berbicara 
seolah-olah Acheh itu hebat sekali. Hebat tidaknya bukan dengan cara 
berkaok-kaok tapi mengubah ketimpangan kepada realita yang benar. Ironisnya 
yang kami saksikan justru berlomba-lomba menjadi Pakturut

Isu yang banyak diangkat pihak penipu rakyat, baik di Jawa maupun di Acheh 
senantiasa pada jalur ekonomi. Padahal ekonomi yang mereka perjuangkan itu 
bukan untuk orang Acheh pada umumnya tapi untuk apa-apa kapluk, penipu rakyat. 
Lihatlah itu dana milyaran yang telah dilahap para penipu di Lhokseumawe. 
Apakah mampu dikembalikan kepada rakyat sebagai pemiliknya? Bukankah sudah 
dipetieskan? 

Kupersembahkan sebagai 
pembelaan buat kaum dhu'afa

(alasytar, Acheh - Sumatra)
 
From: sunny <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, June 29, 2009 2:37:50 PM
Subject: «PPDi» Yudhoyono Klaim Berperan Damaikan Aceh








 
http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2009/06/29/fks,20090629-694,id.html
 

Yudhoyono Klaim Berperan Damaikan Aceh
Senin, 29 Juni 2009 | 10:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui jasa 
besar Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam keberhasilan perundingan perdamaian Aceh 
di Helsinki, Finlandia, pada 2005. Namun, ia menegaskan, keberhasilan itu tidak 
lepas dari perannya sebagai presiden.

"Di ruangan ini saya mau bicara lebih lebar, kalau di luar malu," kata 
Yudhoyono ketika berkunjung ke kantor redaksi majalah Tempo, Rabu lalu.

Ia ditanya tentang klaim Kalla sebagai tokoh di balik sukses perdamaian Aceh. 
"Kesimpulan saya, perundingan itu memang berhasil di Helsinki. Jasa Pak Jusuf 
Kalla besar, tapi saya juga ada di situ untuk menjaga jangan sampai menyeleweng 
(dari konstitusi), " kata Yudhoyono.

Sebelumnya, Kalla menyatakan perundingan perdamaian itu bisa terjadi berkat 
kenekatannya. "Boleh diperiksa semua dokumen, tidak ada tanda tangan orang lain 
kecuali saya. Kenapa? Karena tidak ada yang berani," katanya di Banda Aceh, 13 
Juni lalu.

Kalla melanjutkan, dirinya dikritik oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan sejumlah 
menteri saat proses perundingan damai. Presiden Yudhoyono, menurut dia, 
mengetahui semua proses itu. "Saya pasti lapor ke presiden. Dan presiden kita 
itu baik karena tidak pernah menolak, tapi juga tidak pernah memberi arahan," 
ujarnya.

Menanggapi serangan Kalla itu, Yudhoyono menyatakan, selaku presiden, justru 
dirinyalah yang membentuk tim perunding dan menentukan parameter agar tidak 
menabrak konstitusi.

Ia pun terlibat langsung dalam perumusan akhir draf perjanjian. "Saya mencoret 
kalimat-kalimat dengan tinta merah pada jam tiga subuh waktu sini, jam tiga 
sore waktu Helsinki," ujarnya. "Kalau berbahaya bagi konstitusi, saya 
intervensi langsung."

Di luar perundingan di Helsinki, menurut Yudhoyono, perdamaian di Aceh tak 
lepas dari jasa para menteri dan dukungan Tentara Nasional Indonesia. "Saya 
harus menyimpulkan Aceh itu kerja kita semua, dengan dukungan semua pihak," 
katanya.

Ia menceritakan, perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka, yang pernah 
ditandatangani di Jenewa beberapa tahun sebelumnya, pernah gagal akibat militer 
tak mendukung.

Itu sebabnya, kata Yudhoyono, agar perjanjian Helsinki didukung militer, ia 
lantas memperpanjang tugas Panglima TNI Endriartono Sutarto. "Saya tidak 
mengangkat Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI meski dia sahabat saya," 
tuturnya. "Ia sangat keras pada Aceh."

Yudhoyono mengatakan dirinya saat itu harus memastikan TNI dan Kepolisian RI 
mendukung penuh perdamaian di Aceh. Sebagai presiden, ia juga mencari dukungan 
dari lembaga legislatif dan lembaga internasional.

Yudhoyono mengisahkan, ia memimpin langsung rapat konsultasi dengan Dewan 
Perwakilan Rakyat, Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan Dewan Perwakilan Daerah. 
"Juga konsultasi dengan para purnawirawan TNI yang sangat keras," katanya.

Untuk mendapat dukungan internasional, Yudhoyono mengatakan, dia bertemu dengan 
pemimpin Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. "Saya temui Sekretaris 
Jenderal PBB Kofi Annan. Saya temui Ketua Urusan Keamanan dan Luar Negeri Uni 
Eropa Javier Solana. Saya katakan, 'oke, terima kasih dunia, tapi no referendum 
di Aceh. Tidak ada internasionalisasi, '" katanya
 



















      _________________________________________________________
Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og
notisblokk. http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke