"ANDAIKATA IMAN ITU BERADA DIBINTANG SURAYYA, 
PENDUDUK DIKAWASAN INI SANGGUP MENGGAPAINYA". 
Demikian sabda Rasulullah sambil meletakkah tangannya atas kepala Salman al 
Faraisi, ketika menjawab pertanyaan sahabatnya, siapa yang dimaksudkan kaum 
yang lain itu 
(waakharina minhum . . .) Surah Jum'at ayat 3.

Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra



Pemerintah Indonesia, tepatnya kita panggil penguasa. Jadi fokusnya untuk 
berkuasa secara mayoritas. Siapa yang mereka kuasai?  Rakyat jelata. Ekonominya 
buat penguasa, rakyat jelata dijauhkan dari pembendaharaan Dunia. Sepintas 
group penguasa itu terkesan pintar tapi sebetulnya bodoh dan bahkan dungu, he 
he he. Analisanya begini. Mereka dibawah persekongkolan "firaun, Hamman, Karun 
dan Bal-am" bergegas memperkaya diri. Makanya setiap 5 tahun sekali mereka 
membuat sandiwara pemilu agar terkesan mereka itu pilihan rakyat. 

Setelah 1 priode saja mereka sudah kaya tapi masih saja melotot matanya untuk 
mengumpulkan rupiahnya dipriode-priode lainya. Hal ini sesuai dengan apa yang 
dikatakan Rasulullah bahwa "basyar basyar" andaikata dapat satu lembah emas, 
masih saja menghendaki lembah lainnya. 

Nah. . . setelah mereka kaya mereka juga tidak aman hidupnya. Terjadinya 
penculikan anak mereka oleh pihak yang merasa dirugikan ataupun memang tumbuh 
subur golongan jahat atau gengster yang pada mulanya berasal dari kaum yang 
takpunya dan juga tidak tahan ujian kemiskinan. Kalau mereka kita kutuk, 
sebetulnya penguasa itu justru lebih terkutuk dari mereka. Penguasalah yang 
membuat kondisi mereka menjadi jahat. Justru itulah kita dilarang Allah untuk 
mentaati penguasa dhalim. Apabila kita tunduk patuh kepada penguasa dhalim, 
pastinya kita tidak tundukpatuh kepada Allah, kendatipun orang seperti itu 
marah besar ketika kita katakan mereka tidak termasuk dalam golongan Ummat 
Islam yang sebenarnya tapi munafiq sesuai firman Allah:" Dan diantara manusia 
ada yang mengatakan kami beriman kepada Allah dan hari Akhirat, (padahal) 
mereka tidak termasuk orang yang beriman  . . . . . . ." (QS. 2 : 8 & 9)

Pemimpin Islam sejati tidak mencari kesenangan atas penderitaan orang lain. 
Ekonomi rakyatlah yang diutamakan duluan. Apabila rakyat sudah tercapai 
finansialnya, baru pemimpin tersebut merasa puas atas kepemimpinannya. Kepuasan 
yang demikianlah sebagai kesenangan sejati (baca kesenangan spirituil, bukan 
kesenangan materiil) 

Kalau kita berbicara seperti ini lazimnya pihak yang kontra mempertanyakan mana 
contohnya. Contoh yang pertama pastinya Rasulullah sendiri yang sandalnya putus 
tali, diperbaiki oleh Imam Ali. Setelah itu Imam Ali sendiri yang banyak sekali 
dalam aplikasi kehidupannya mengutamakan rakyat jelata. Diantaranya ketika 
beliau membuka baitulmal yang dulunya tersimpan banyak dirham dan emas 
sementara penduduknya menderita kelaparan kecuali golongan penguasanya, di 
bagikan Imam secara adil baik yang mula masuk Islam ataupun yang sudah senior. 
Pembantu Imam menjembunjikan sebuah piala emas untuk Imam. Pembantunya 
mengatakan bahwa dia melihat Imam tidak mengambil sedikitpun dari Baitulmal 
itu. Imam berkata: "Celaka kamu!  Apakah kamu hendak memasukkan api neraka 
kerumahku?" Lalu imam memukul piala tersebut dengan pedang Zulfikarnya hingga 
hancur untuk dibagikan secara merata.

"Itu kan dulu"  kata sebagian orang. Sekarangpun, alhamdulillah masih ada 
contoh pemimpinnya. Mahmoud Ahmadinejad, Presidenya Republik Islam Iran, dulu 
adalah seorang dosen bergelar Ph D Transportasi kota, tinggal di gang buntu 
(sampai sekarang masih tetap tinggal disitu, meski statusnya adalah seorang 
presiden!). Kemewahan terbesarnya Ahmadinejad hanyalah mobil Peogeot 504 buatan 
tahun 1977 dan sebuah rumah kecil warisan ayahnya 40 tahu lalu yang terletak di 
salah satu daerah miskin di Teheran (seorang presiden! rumahnya terletak di 
daerah miskin!)  Bahkan, kendatipun sudah diangkat menjadi presiden, beliau 
masih sering menggunakan pakaian biasa dan sepatu bolong. Sebelum menjabat 
sebagai Presiden, beliau adalah seorang gubernur. Jangan berfikir kalau ‘rumah 
dinas’-nya sbg gubernur akan ditempati. Tidak. Beliau tetap mencintai rumah di 
gang buntunya, rumahnya yang jelek (dinding luarnya masih bata, belum ditembok) 
di kawasan Teheran Timur, dan
 ‘rumah dinas’-nya akhirnya dijadikan museum!. meski menjabat sebagai Gubernur, 
Beliau tidak segan membersihkan got jika selokan mampet, bahkan kerap menyapu 
jalan sebagai bukti solidaritas sosialnya.

Ketika pencalonan presiden pun, ia tidak bermodalkan apa-apa dibandingkan lawan 
politiknya yang menghabiskan miliaran untuk dana kampanye. Akan tetapi, 
kesederhanaannyalah yang membuat ia dipilih 61% rakyat Iran sebagai presiden. 
Selanjutnya, setelah jadi Presiden………….apakah beliau berubah? Sok berkuasa? 
Sombong? Angkuh sebagaimana umumnya penguasa di Hindunesia dan Acheh?

Inilah yang beliau lakukan setelah menjadi Presiden:
- press release pertama Ahmadinejad setelah menjadi Presiden: Semua pihak 
dihimbau untuk tidak memasang iklan ucapan selamat di koran-koran dan semua 
kantor dilarang memasang foto presiden! 
- membagi-bagikan saham gratis kepada rakyat Iran
- melipatduakan Pinjaman modal bagi pasangan baru menikah 
- mendirikan program pengayaan uranium
- menyumbangkan karpet Istana Presiden (berkualitas tinggi tentunya) ke sebuah 
masjid di Teheran. Ia lalu mengganti karpet istana dengan karpet murah.
- menutup ruangan kedatangan tamu VIP karena dinilai terlalu besar. Ia lalu 
meminta sekretariat istana mengganti dengan ruangan sederhana dan mengisi 
dengan kursi kayu! 
- setiap menteri yang diangkat selalu menandatangani perjanjian dengan banyak 
ketentuan, terutama yang ditekankan adalah agar setiap menteri tetap hidup 
sederhana . Seluruh rekening pribadi dan keluarganya akan diawasi dan kelak 
jika masa tugasa berakhir sang menteri harus menyerahkan jabatannya dengan 
kewibawaan, adalah agar dirinya dan keluarganya tidak memanfaatkan keuntungan 
sepeser pun dari jabatannya.
- tidak mengambil gajinya sebagai presiden (yang merupakan haknya). Alasannya 
seluruh kekayaan adalah milik Negara dan ia hanya bertugas menjaganya.
- menghentikan semua makanan istimewa yang biasa disediakan untuk presiden. 
Sebuah tas selalu dibawa setiap hari. Isinya adalah bekal sarapan, beberapa 
potong roti sandwinch dengan minyak zaitun dan keju . Ahmadinejad menyantap 
dengan nikmat makanan buatan isterinya tersebut.
- mengalihkan pesawat kepresidenan menjadi pesawat angkutan barang (cargo) 
dengan alasan untuk menghemat pengeluaran Negara. Presien juga memilih terbang 
dengan pesawat biasa di kelas ekonomi.
- Semua menteri bisa masuk ke ruangannya tanpa harus izin.Ia juga menghapus 
semua acara seremonial seperti red carpet, foto-foto dan iklan pribadi ketika 
jika mengunjungi Negara lain.
- Jikalau harus menginap di hotel ia selalu memastikan untuk tidak tidur dengan 
ruangan dan tempat tidur mewah. Alasannya ia tidak tidur di tempat tidur tetapi 
tidur di lantai beralaskan matras sederhana dan sepotong selimut.
Inilah Ahmadinejad salah satu Presiden Negara terpenting di dunia secara 
strategi, ekonomi, politik dan tentunya minyak dan pertahanannya. Bahkan, saat 
menjabat menjadi Presiden pun, beliau juga sempat bergabung dengan petugas 
kebersihan kota untuk membersihkan jalan di sekitar rumah dan istana Presiden.
Salah satu kata-katanya saat menjadi pembicara di Columbia University AS 
berkaitan dengan program nuklirnya adalah: “Kami ingin mempunyai hak untuk 
menentukan nasib kami sendiri di masa depan. Kami ingin independen. Jangan 
mengintervensi kami. Jika kalian tidak memberikan kepada kami suku cadang 
pesawat terbang sipil, mengapa kami harus berharap bahwa kalian akan memberikan 
kepada kami bahan bakar untuk pengembangan nuklir demi tujuan-tujuan damai?”.
Dilain kesempatan, beliau juga pernah mengatakan : “Program nuklir kami 
ditentang oleh negara yang setiap bulannya membangun 10 reaktor nuklir. Kalau 
memang energi nuklir berbahaya, mengapa mereka masih memilikinya? Dan kalau 
memang energi nuklir membawa begitu banyak kebaikan, mengapa kami tidak boleh 
memilikinya?” 

Dan yang paling berkesan menurut adalah kata-katanya ketika Televisi Fox 
Amerika bertanya kepadanya: ”Saat anda bercermin di pagi hari, apa yang anda 
katakan pada diri anda?” 
Ahmadinejad menjawab:
”Saya melihat seseorang di cermin dan berkata padanya , ”Ingatlah, anda tidak 
lebih dari seorang pelayan kecil. Di depanmu hari ini ada tanggungjawab besar 
dan itu adalah melayani bangsa Iran”.

Ini masukan buat KPA berada di Legislatif Acheh sekarang dan tanggung jawabnya 
untuk pembebasan Acheh dan seluruh pejuang Acheh - Sumatrra musti tundukpatuh 
kepada Allah bukan kepada penguasa yang sudah sesat sejak lahir kedunia.  Kalau 
kalian gak mampu mencontohi Ahmadinejat, berhenti saja dari wakil Rakyat 
sebelum kami gelar sebagai Penipu rakyat. Maaf demi kesejahteraan bangsa Acheh 
- Sumatra pada Khususnya.
Billahi fi sabilil haq
(Muhammad al Qubra)
Di Ujung Dunia


      

Kirim email ke