GAYA DAN LANGKAH MODEL AMR BIN ASH DITIRU PETINGGI HINDUNESIA.
Ali Al Asytar
Stavanger - NORWEGIA.


MENYOROT GAYA DAN LANGKAH MODEL AMR BIN ASH YANG MENJADI DUPLIKAT BAGI 
PARA PETINGGI HINDUNESIA 

Jawaban untuk saudaraku, Ismail Asso dari West Papua. 
Allah berfirman: "Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya 
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. 
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah 
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki 
keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan 
sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia"(Q.S. Ar Ra'du:11)

Itu bermakna Allah tidak akan memerdekakan Acheh - Sumatra kecuali bangsa Acheh 
- Sumatra itu mau merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Allah 
tidak akan memerdekakan bangsa West Papua kecuali bangsa West Papua itu mau 
merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Allah tidak akan 
memerdekakan Ambon kecuali bangsa Ambon itu mau merobah keadaan yang ada pada 
diri mereka sendiri.

Ayat diatas adalah ayat muhkamat (Qat'i), bukan ayat mutasyabihat yang sukar 
dipahami kecuali "Ulul albab" (Para Imam yang diutus). Ayat tersebut sangat 
jelas maksudnya. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga 
mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. 

Ayat tersebut ada hubungan sebab akibatnya. Artinya kalau Acheh, Papua dan 
Ambon tidak merdeka bukan Allah tidak memerdekakannya tapi Acheh, Papua dan 
Ambon sendiri tidak mau merobak keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Disini perlu kita analisa apa yang perlu di robah oleh Acheh, Papua dan Ambon. 
Andaikata ketiga komunitas itu itu tidak merdeka berarti mereka masih dalam 
keadaan tidak benar menurut kacamata Allah. Kalau kita berbicara seperti ini, 
pastinya Platform kita secara mayoritas belum betul. Aqidah kita secara 
mayoritas belum betul, Ideology kita secara mayoritas belum betul. Kita belum 
tundukpatuh kepada Allah secara sungguh-sungguh. Perlu digarisbawahi, secara 
mayoritas. 

Barangkali ada yang bertanya, aqidah orang Timor timur tidak betul secara 
mayoritas, kenapa mereka bisa merdeka? Jawabnya, secara syar'i mereka sudah 
merdeka tapi secara filosofis merekaa belum merdeka. Kaum dhuafa masih merintih 
hidupnya. Dengan kata lain, mereka belum merdeka pada hakikatnya. Untuk 
memperjelas persoalan ini dapat kita dalami persoalan Indonesia. Secara 
tersurat mereka telah merdeka dari penjajah Belanda tapi secara filosofis atau 
pada hakikatnya mereka belum merdeka. Dalam konteks ini kita perlu memahami 
makna Merdeka secara filosofis. Secara filosofis mayoritas penduduk Indonesia 
terjajah oleh kaum minoritas dariI "bangsanya" sendiri (baca persekongkolan 
Penguasa Dhalim/"Fir'aun, Hamman, Karun dan Bal'am")

Mengapa Allah membiarkan penguasa dhalim sejak dari Sukarno, Suharto, Gusdur, 
Megawati dan Yudhoyono mendhalimi komunitas Acheh, Papua, Ambon dan rakyat 
mereka sendiri (baca kaum dhuafa?) Hal ini disebabkan kita secara mayoritas 
baik di Acheh, Papua, Ambon dan lain-lainnya belum mampu merobah keadaan kita 
sendiri. Dengan kata lain kita secara mayoritas masih salah dimata Allah, 
Pemilik Dunia ini.

Ketika kita berbicara ayat Allah tersebut diatas, sesungguhnya kita sedang 
berbicara makna "Merdeka" secara filosofis atau pada hakikatnya. Nah merdeka 
pada hakikatnya adalah merdeka menurut kacamata Allah bukan menurut kacamata 
manusia secara mayoritas pendudum planet Bumi ini. Menurut kaca mata Allah 
Republik Islam Iranlah satu-satunya sekarang yang benar-benar merdeka. 

Hal ini sesuai dengan realita dan pengakuan Rasulullah sendiri ketika Allah 
menurunkan surah Jum'at ayat 3 (wa akharina minhum lamma yal haqu bihim wahual 
'azizul hakim), para sahabat bertanya kepada Rasulullah saww: "Siapakah mereka 
itu ya Rasulallah ? Rasulullah meletakkan telapak tangannya diatas kepala 
Salman al Faraisi (orang Parsi Iran) sambil bersabda: "Golongan inilah. 
Andaikata Iman itu berada di bintang Suraiya, namun mereka sanggup 
menggapainya". Hadist ini banyak dikomentari kalangan kita Sunni, sementara 
Syiah masih memiliki dalil akli dan naqli lainnya.

Hadist Rasulullah tersebut meggambarkan keutamaan bangsa Parsi diatas bangsa 
manapun di dunia termasuk bangsa Arab sendiri. Hal ini disebabkan kesangupan 
bangsa tersebut menerima Islam secara kaffah sebagaimana di nyatakan Rasul 
sendiri berkenaan Al Qur - an Surah Jum'at ayat 3 itu. Hal ini juga dibuktikan 
realitanya sampai hari ini tidak ada sebuah negarapun yang beride ologi Islam 
termasuk Saudi Arabia dan Mesir, kecuali Republik Islam Iran.

Persoalannya maukah bangsa Acheh, West Papua dan Ambon memerdekakannya dengan 
syarat yang dikemukakan Allah diatas? Bagaimana ? Menganalisa secara cermat 
dimanaa sesungguhnya kesaalahan kita secara mayoritas. Apabila kita telah 
menemukan dimanaa kesalahan kita kenapa Allah tidak menganugerahkan kita 
kemerdekaan sebagaimana dialaami bangsa Parsi dalam menghadapi despotiknya Syah 
Reza Palevi, disaat itulah kita akan menemukan kemerdekaan sejati.

Bagaimana caranya? 
Lihatlah contoh orang-orang sebelum kita bagaimana mereka berjuang. Bagaimana 
Ibrahim berjuang melawan Namrud, Musa dan Harun melawan Fir'aun yang perkasa, 
I'sa bin Maryam melawan Kaisar-kaisar diroma, Muhammad melawan Abu Sofyan. 'Ali 
bin Abi Thalib melawan Mu'awiyah bin Abi Sofyan, Hussein bin Ali melawan Yazid 
bin Mu'awiyah, Khomaini melawan Syah Redha Palevi.

Kalau Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Muhammad saww berhasil di dunia dan 
Akhirat, namun Nabi 'Isa bin Maryam dan Hussein hanya menang di Akhirat saja. 
Di Dunia ini mereka dikalahkan. 'Ali bin Abi Thalib sebetulnya tak terkalahkan, 
namun karena politik keji yang dimainkan Amr bin Ash untuk menipu pengikut Imam 
'Ali yang kebanyakan terdiri dari orang-orang yang baru masuk Islam, akhirnya 
terkalahkan. 

Amr bin Ash menggunakan Lembaran Al Qur-an untuk menipu orang-orang yang belum 
berpengalaman dalam perjuangan. Hanya sedikit pengikut Imam Ali yang memahami 
sebagaimana dipahami Imamnya. Mereka ini juga tuntuk patuh kepada Imam 
sebagaimana perintah Allah: "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah, 
Rasul Nya dan Ulul amri mingkum . Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang 
sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar 
beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi mu) 
dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa', 4: 59)

Nah, model Amr bin Ash inilah yang harus diwaspadai oleh bangsa manapun 
sekarang ini dalam perjuangannya. Dia menjadi simbolisasi sebagai orang-orang 
yang menjual ayat-ayat Allah atau menggunakan agama untuk mencapai tujuannya 
yang bathil dan dhalim. Kalau kita tidak dapat mengenal tipe manusia seperti 
Amr bin Ash itu, yakinlah kita akan gagal dalam perjuangan. Sekali lagi 
telitilah makhluk seperti itu yang bersatupadu dalam system pejajahan didepan 
anda hari ini agar kita tidak terkecoh sebagaimana yang dialami sebahagian 
besar pengikut Imam 'Ali dahulu.

Benar sekali apa yang dikatakan saudara Ismail Asso dari West Papua itu: 
"Jangan saudara-saudara banyak berharap lagi pada pemeluk agama, tapi 
percayalah pada agama, kalau mau, tapi kalau bisa sesungguhnya peran agama 
adalah hanya, sekali lagi hanya, hiburan atas kekalahan."

Amru bin Ask itu mengaku beragama Islam, tapi Islamnya tidak sama dengan Islam 
Imam 'Ali bin Abi Thalib. Sukarno, Suharto, Gusdur, Megawati dan Yudhoyono juga 
mengaku beragama Islam. Tapi Islamnya tidak sama dengan Islam Tgk Hasan 
Muhammad Ditiro.

Semua pejabat Indonesia itu sesungguhnya bukan orang Islam benaran tapi palsu. 
Mereka adalah bangsa Munafiq/Hipokrit modern. Mereka tidak menggunakan Al 
Qur-an sebagai pedoman Hidup. Mereka menggunakan Al Qur-an sebagai bacaan untuk 
orang mati agar memperoleh pahala, sebagai Hiasan dinding dengan kaligrafinya, 
memusabaqahkan sebagaimana layaknya perlombaan olimpiade.

"Betapa banyak pembaca Al Qur-an sementara Al Qur-an itu sendiri melaknat nya." 
(Hadist). Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai kemungkinan tafsiran. 
Di dalamnya ada yang mutasyabihat dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya 
mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh-ikut istilah AlQuran-atau yang 
sangat dalam ilmunya, dan ikut bimbingan Ahlul Bait Nabi seperti yang ada di 
dalam hadist-hadist Nabi saww.

Perhatikanlah misalnya didalam Al Qur-an dipesankan Allah agar tidak membunuh 
biarpun seorang manusia kecuali untuk membela diri. Membunuh seorang manusia 
sama dengan membunuh manusia seluruhnya dan pembunuh itu kekal didalam Neraka. 
Namun demi untuk melanggingkan kekuasaan majikannya, mereka membunuh hatta anak 
kecil sekalipun sebagaimana kita saksikan di West Papua, Ambon dan Acheh- 
Sumatra. Demikian juga Allah melarang mencuri, berzina,merampok menganianya dan 
lain-lain sebagainya, namun mereka malah menggunakan agama made in Bal'am untuk 
membenarkan pembantaian, pembunuhan, penganianyaan, perampokan, pemerkosaan dan 
bermacam bentuk kedhaliman lainnya.

Amir Sembiring, Albert Dien, Sudomo dan LB Murdani mengaku beragama Kristiani 
namun agama mereka tidak sama dengan agama Kristiani orang-orang West Papua. 
(baca: Amir Sembirng telah banyak membantai masyarakat Pulau Biak dalam tahun 
1999, Albert Dien di Wamena 1977, Sudomo yang datang ke Papua merebutnya tahun 
1962, dan LB Murdani yang datang berperang dengan Belanda untuk merebut Papua)

Kita dapat menganalisa apa yang dikatakan saudara Ismail Asso bahwa apapun 
agamanya kalau orang tsb terlibat dalam pembunuhan manusia , sesungguhnya agama 
mereka itu adalah palsu alias hypokrit. Itulah pengertian daripada "Jangan 
berharap lagi pada pemeluk agamanya tapi percayalah pada agama". Disini mungkin 
timbul pertanyaan apakah manfa'atnya kita percaya pada agama ?

Berhubung saya penganut Islam, maka saya akan menjawabnya menurut ilmu yang 
saya milikinya. Di Islam dikatakan Allah dan RasulNya bahwa ada dua tempat 
untuk menikmati kebahagiaan yaitu kebahagiaan Dunia dan kebahagiaan Akhirat. 
Kebahagiaan di Dunia hanya bersifat sementara (kalau rata-rata manusia sekarang 
berumur 80 tahun. Potong masa belum tau apa-apa dan masa tua bangka tinggal 
kira-kira 60 tahun) lalu mati masuk kubur mendapat azab kubur bagi pembunuh, 
penzina, penjajah dan sebagainya. Setelah itu dibangkit dari kubur menuju 
pemeriksaan atau sidang Yaumil Mahsyar, barulah setelah itu orang-orang yang 
tunduk patuh kepada Allah sa'at di Dunia memperoleh kebahagiaan yang kekal 
selama-lamanya di dalam Syurga dengan fasilitas yang gemerlap tanpa bandingan 
dengan nikmat di dunia.

Justru itulah makanya sebahagian manusia meninggalkan gemerlapnya dunia ini 
untuk bersatu dengan orang-orang yang seide demi membebaskan kaum 
Dhu'afa/rakyat yang tidak berdaya dari ”jeratan labalaba”, beban yang menimpa 
kuduk-kuduk mereka (Q.S,7:157 & Q.S,90:12-18). Ketika pejuang - pejuang sejati 
menyaksikan banyaknya korban yang berjatuhan, mereka terhibur (pakai istilah 
saudara Ismail Asso). Maksud terhibur disini meyakini bahwa itu bukanlah suatu 
kerugian, namun merupakan pengorbanan dari orang-orang yang berjuang di jalan 
Allah yang harganya adalah kebahagiaan di akhirat. Lihatlah di Acheh, kalau 
memang ajalnya sudah tiba tidak berperangpun akan mati juga melalui musibah 
tsunami. Hal ini perlu sekali kita camkan mengingat masih banyak orang yang 
salah paham sehingga menyalahkan GAM atas kematian banyak orang di Acheh - 
Sumatra.

Dalam urusan tersebut diatas sudah barang pasti memiliki resiko yang paling 
besar seperti: Dianianya, dibunuh, diperkosa bagi yang perempuan, Kehilangan 
mata pencaharian untuk keluarga dan boleh jadi kehilangan keluarga itu sendiri 
disebabkan tidak seide dengan kita untuk berjuang (keluarga negativ) atau 
keluarga dibantai pihak musuh disebabkan merekaa seperjuangan dan seideology 
dengan kita (keluarga positiv, menderita didunia beruntung di Akhirat)

Allah SWT juga berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya 
apabila dikatakan kepada kamu: 'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah' 
kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan 
kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan 
kehidupan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah 
sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu 
dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu 
tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa 
atas segala sesuatu." (QS. At Taubah: 38, 39)

Jadi kesimpulannya justru dengan kepercayaan pada agama yang sesungguhnyalah 
kita berani berjuang betapapun resikonya sebagaimana yang dialami Imam Hussein 
bin 'Ali bersama seluruh keluarga dan sahabat setianya di Karbala, mengorbankan 
kesenangan dunia demi mendapat redha Allah di akhirat kelak. Mereka 
mengorbankan nyawa darah dan airmata.



Billahi fi sabililhaq

Ali al Asytar 

ACHEH - SUMATRA
----------



Ismail Asso
[email protected]
wrote:

Mohon Maaf, jika saya ingin berkomentar atas masalah ini, walaupun sebelumnya 
saya "DI KENAL DI KALI SEBELAH", namun berkomentar dalam soal ini adalah tugas 
pembebasan atas nama Papua, tidak untuk tujuan lain.

PERAN AGAMA BAGI KEBEBASAN DAN KEBENARAN

Jangan saudara-saudara banyak berharap lagi pada pemeluk agama, tapi percayalah 
pada agama, kalau mau, tapi kalau bisa sesungguhnya peran agama adalah hanya, 
-sekali lagi hanya, hiburan atas kekalahan. Hiburan itu yang karena 
ketidakmampuan kita, kita katakan sebagai ada "tangan-tangan tak kelihatan akan 
menolong", itulah isi sesungguhnya pesan agama yang kita alami.

Bagi yang percaya akan adanya kebenaran peran agama untuk kemerdekaan Papua 
silahkan, tapi ingat saya katakan jasa langsung dari Tuhan atau peranan manusia 
atas nama seagama itu tidak ada sama sekali, sungguh itu utopia psikologi dan 
terapi bagi orang kalah.

Bagi kita agama hanya sebagai spirit bagi kemantapan mental dalam berjuang 
kalau bukan hanya sekedar hiburan. Alloh sekalipun tidak perduli akan nasib 
orang Papua. Semua hanya perasaan pemeluk agama belaka, atas ketidak berdayaan 
dan karena kalah.

Semua manusia mengatakan Tuhan akan menolong tapi kenyataannya sesungguhnya 
tidak pernah terbukti, namun semua keberhasilan atas jerih-payah itu oleh 
manusia sendiri tanpa bekerja secara fisik bersama apa yang dinamakan Tuhan 
kecuali hasil akhir kerja manusia sebagai karunia Tuhan atau berkat Tuhan.

Padahal manusia hanya ada rasa solidaritas, namun dalam konteks yang 
dibicarakan kawan-kawan Papua diatas adalah adanya suatu harapan yang karena 
rasa solidaritas itu muncul dari bibir yang jujur karena percaya pada satu 
Tuhan, Yakni Yesus Kristus, namun kenyataannya telah banyak terbukti bahwa 
semua itu adalah jauh dari harapan itu, malah sebaliknya bertolak belakang dari 
yang kita harapkan sebelum ini.

Banyak pejabat baik milter maupun non militer seagama dengan kita, namun 
kelakuan tidak sesuai harapan sebagimana harapan kita karena satu iman dan 
agama, malah karena satu iman ia yang kita percayai berbuat baik pada kita itu, 
berbuat baik untuk demi jabatan, demi uang, dan demi nasionalismenya NKRI, 
bukan atas nama Yesus Kristus yang membawa pesan kedamaian untuk umat manusia.

Semua pejabat mengatasnamakan Agama kita berharap dapat berpihak kepada kita, 
justeru kebalikannya terbukti Amir Sembirng telah banyak membantai masyarakat 
Pulau Biak dalam tahun 1999, Albert Dien di Wamena 1977, Sudomo yang datang ke 
Papua merebutnya tahun 1862, dan LB Murdani yang datang berperang dengan 
Belanda untuk merebut Papua, dan banyak kasus lain lagi yang melibatkan para 
pejabat Indonesia beragama dengan agama kita umumnya orang Papua yakni beragama 
Kristiani lakukan itu.

Kita sekarang Orang Papua jangan percaya pada mereka yang membunuh, merampok, 
mencuri, dan menindas hak-hak atas tanah air kita atas nama Yesus ata apapun, 
sebab mereka semua omong kosong belaka. Mereka-mereka para Amber ini yang 
seagama dengan Agama kita Orang Papua telah memainkan kekuasaan atas nama Tuhan 
demi kepentingan urusan perut dan iblis NKRI, sekali lagi Tuhan Mereka Bukan 
Tuhan Yesus Kristus lagi namun Tuhan mereka Tuhan Nasionalisme NKR, Jabatan / 
naik pangkat dan Uang.

MANUSIA BERBEDA DENGAN TUHAN DAN AGAMA

Kesimpulannya kita kecewa, karena manusia yang seagama dengan kita yang 
sebelumnya yang kita harapkan dapat menolong malah sebaliknya membunuh kita. 
Adalah suatu kesimpulan cara berfikir kita yang sudah salah sebelumnya, karena 
sesungguhnya agama tidaklah sama dengan manusia yang menganut agama, manusia 
berbeda dengan agama. Demikian sama halnya dengan Tuhan, sebab Tuhan juga 
sangat lain, Tuhan sesungguhnya adalah damai, kebenaran, keadilan kebebasan, 
karena itu Tuhan kita adalah Tuhan Papua, titik. Karena itu kebenaran 
kesimpulan kebenaran logika demikian adalah bahwa yang akan membebaskan manusia 
Papua adalah oleh Papua sendiri, bukan siapa-siapa. Terimakasih atas 
perhatiannya. Nayak-Lauk, Howuk Apiasugun.(bersambung!) 
---------- 


      _________________________________________________________
Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og
notisblokk. http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke