"Tsunami dan MoU Helsinki tak dapat menyadarkan Penjajah Indonesia jawa beserta 
antek-anteknya di Acheh " 
Oleh: Fadlon Tripa.
Sumber: http://www.krueng.org/ - Acheh yang terluka 

Dengan lahir/disahkan UU-PA oleh DPR-RI ( Dewan pembohong/penipu Rakyat RI 
)pada tgl 11 Juli 2006 di Batavia/Jakarta, ini menandakan bahwa masih sangat 
kuatnya pengaruh Agressor Barbaris Indonesia jawa di Acheh dan UU-PA ini akan 
dijadikan payung Hukum Agressor Barbaris/penjajah Indonesia jawa di Acheh yang 
sangat merugikan kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan 
Ideologi Neugara Acheh.







Fadlon Tripa: "siapa saja yang mendukung UU-PA dialah antek-antek Penjajah 
Indonesia di bumi Acheh. UU-PA ini bagi bangsa Acheh suatu malapeta yang sangat 
berbahaya dari pada Tsunami 26-12-2004"




 

Dan siapa saja yang mendukung UU-PA ini dialah antek-antek Penjajah Indonesia 
di bumi Acheh. UU-PA ini bagi bangsa Acheh suatu malapeta yang sangat berbahaya 
dari pada Tsunami 26-12-2004 yang telah meluluhlantakkan Acheh dan musibah 
Tsunami ini datangnya dari Allah hanya dalan tempo yang sangat singkat dan 
cepat berlalu sedangkan UU-PA ini akan meracuni, melukai,mencedrai dan 
mematikan setiap hari bangsa Acheh dalam tempo yang tak terhingga tak ubahnya 
seperti manusia kena Virus HIV atau penyakit AIDS.

UU-PA ini cikal bakalnya di ciptakan oleh anggeta delegasi Helsinki baik dari 
GAM maupun dari mantan delegasi Angressor Barbaris Indonesia jawa yang didukung 
oleh para anggota CMI dan AMM/Uni Eropa yang tidak mengerti dengan akar konflik 
Acheh walaupun telah lahir sebatas MoU 15-8-2005 Helsinki.
Kalau para pihak menghargai sistem Negosiasi/Negotiate seharusnya MoU yang 
diciptakan para pihak tetap dijalankan oleh para pihak, yang tidak lagi harus 
direnegosiasi oleh pihak musuh/indonesia yang serta merta melumpuhkan hasil 
Negosiasi itu sendiri dan meluluhlantakkan serta tunduk dan patuh kepada salah 
satu pihak baca tunduk dan menyerah kepada pihak Agressor barbaris indonesia 
jawa.

Jadi malapetaka ini buat bangsa Acheh harus benar-benar disadari jangan sampai 
bangsa Acheh terhepnotis dengan sistim rimbanya Negara Kaum Rakus Indonesia ( 
NKRI ) karena bagai manapun manisnya seruan para penjilat Agressor barbaris 
Indonesia jawa untuk mempertahankan Agressor Barbaris Indonesia jawa di Acheh 
khususnya para opportunist di Acheh baca ( para anggota pansus UU-PA DPR-RI ) 
tetap kekuasaan penuh ditangan serdadu TNI/Polri murahan.

Perkara UU-PA yang disahkan oleh bandit-bandit Jakarta ( DPR-RI ) 11-7-2006 
maknanya;
1. Penghinaan/pengkhianatan terhadap nilai-nilai Perjuangan bangsa Acheh dan 
Ideologi Negara Acheh.
2. Penghinaan terhadap isi perjanjian MoU Helsinki 15-8-2005 itu sendiri
3. Penghinaan terhadap nilai HAM
4. Penghinaan terhadap Demokrasi 
5. Penghinaan dan merendahkan nilai terhadap yang namanya Self Government 
6. Penghinaan terhadap anggota AMM di Acheh sekalipun mereka kurang peka 
terhadap sikon di Acheh dan Indonesia.
7. Bagi TNI/Polri UU-PA ini hanya sebuah cerpen biasa karena mereka terlanjur 
telah bertuhan dengan Sumpah Prajurit dan Pancasial / UUD 1945 

Sebenarnya apapun yang diolah/diproduk oleh pihak jakarta NKRI terhadap Acheh 
hanya masih berkisar tentang keadilan, ketimpangan sosial dan politik rebus 
batu NKRI.
Jadi akar konflik/perang di Acheh sama sekali belum tersentuh oleh para pihak ( 
GAM, RI , AMM dan CMI ).

Untuk mengingatkan kita bersama sejak Raja Ali Muqajatsjah 1500 M, 
Perang/konflik Acheh bukanlah masalah Ekonomi/Keadilan, Demokrasi dan politik 
NKRI, Melainkan Konflik/perang di Acheh adalah tentang Penjajahan dan 
Kemerdekaan yang wajib diselesaikan oleh para pihak dengan jalan non kekerasan.

Bangsa Acheh wajib kembali dan berpegang teguh dengan ideologi Neugara Acheh 
dengan demikian kita tetap dihargai dan disegani karena kita memiliki 
harkat/martabat, Prinsip dan aqidah perjuangan yang tidak dapat dibeli dengan 
apapun sehingga musuh tak berani mempermainkan bangsa Acheh. Dan Allah tetap 
meridhai perjuangan suci bangsa Acheh kecuali kepada orang-orang yang 
munafik,....

Jadi para Pihak ( GAM, Agressor Barbaris Indonesia jawa, CMI dan AMM ) wajib 
bertanggungjawab terhadap situasi dan kondisi Acheh sebelum dan pasca MoU 
Helsinki 15-8-2006. Bangsa Acheh telah terlanjur mempercayai para pihak ini 
sehingga bangsa Acheh khususnya TNA rela isteri keduanya baca senjata TNA 
dicincang oleh para pihak.
============================



To: [email protected], <[EMAIL PROTECTED]> 
From: "Mustafa Abubakar" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 26 Jul 2006 11:37:31
Subject: «PPDi» Re: BREAKING NEWS 

Malik Mahmud <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
BREAKING NEWS ASIA: ATJEH TIME

Merebaknya kebangkitan semangat Bangsa Aceh untuk membunuh atau menembak para 
gerombolan gubernur penjajah hindia jawa yang bertugas di BRR, maka satu 
langkah baru telah diambil oleh ketua gubernur penjajah hindia jawa yang 
ditempatkan di BRR tersebut. Sudah tentu inisiatif ini datang dari gubernur 
penjajah hindia jawa itu sendiri yang bernama kuntoro mangkusubroto setelah 
mengadakan rapat rahasia dengan wakil-wakil penjajah hindia jawa yang lain yang 
ditempatkan di situ.

Langkah baru yang diambil oleh gubernur penjajah hindia jawa tersebut adalah 
untuk melantik seorang pengawal keselamatan atau keamanan yang mempunyai 
pengalaman bekerja dalam bidang keamanan sekurang-kurangnya selama 5 tahun. 
Kalau dilihat dari syarat tersebut dan sekaligus untuk menjalankan dwi fungsi 
TNI yang telah lama dipraktekkan oleh penjajah hindia jawa di tanah Aceh, maka 
dirasakan pengaktifan kembali jenderal-jenderal mereka yang telah pensiun 
adalah lebih sesuai. Antara mereka adalah Wiranto, Sutrisno, Bambang Dharmono, 
Pramono atau mana-mana sahaja bekas serdadu mereka yang mempunyai nama yang 
berbunyi "o" atau yang sejenisnya. Satu syarat lagi yang perlu ditambah adalah 
mereka yang melamar itu hendaklah mempunyai pengalaman dalam membunuh Bangsa 
Aceh dalam operasi mereka, termasuk operasi jaring merah atau yang lainnya.
http://e-aceh-nias.org/files/Iklanlowong_5.pdf

Dengan cara ini maka akan berleluasalah para gubernur penjajah atau wakil-wakil 
penjajah hindia jawa yang bertugas di BRR untuk melahap semua wang dan bantuan 
yang disediakan untuk membangun dan membantu masyarakat Bangsa Aceh yang 
mengahadapi perang melawan penjajah hindia jawa dan korban tsunami. Alasan yang 
digunakan adalah gaji mereka secara bulanan yang belum mendapat pengesahan dari 
menteri atau presiden mereka di pulau jawa:

Dengan cara ini pula para gubernur dan wakil penjajah jawa yang dihantar dan 
ditempatkan di BRR akan dengan segar bugar dapat melakukan "push-up" atau 
senaman yang serupa untuk meningkatkan kekuatan tubuh badan bagi kelangsungan 
perampokan dan penghabisan wang yang ada dalam budget BRR.

Cara lain yang ditempuh secara rahasia adalah dengan mengadakan rapat-rapat 
rahasia antara gubernur dan wakil penjajah hindia jawa di BRR dengan pihak 
ketua serdadu TNI dan POLRI yang ditugaskan untuk membungkam perjuangan Bangsa 
Aceh menentang penjajah hindia jawa, dengan mencari jalan penyelesaian dengan 
menggunakan dana dalam BRR untuk membangun tangsi-tangsi atau kompi baru untuk 
para serdadu di seluruh tanah negeri Aceh. Alasan yang digunakan adalah untuk 
memindahkan pasukan organik yang sebenarnya serdadu-serdadu hindia jawa yang 
disusupkan secara rahasia dan para transmigran jawa yang dilatih sebagai milisi.

Wahai Bangsa Aceh semua. Bangsa Aceh tidak akan bebas dari kekejaman penjajahan 
penjajah hindia jawa sebelum penjajah hindia jawa tersebut diusir dari Negrei 
Aceh secara 100%.

Maka tekad kita dalam berjihad untuk mengisir penjajah hindia jawa dari bumi 
Aceh jangan sekali-kali dipadamkan. Mereka wajib ditebas dengan apa senjata jua 
walaupun harus menggunakan air ludah untuk meludah muka mereka. Gunakan parang 
kalau ada parang. Gunakan rintjong kalau kita ada rintjong. Dimana sahaja kita 
berjumpa dengan gubernur penjajah jawa dan wakil-wakilnya yang lain, maka 
wajiblah kita menghabiskannya.

Mati kerana mempertahankan maruah dan tanah air kita Aceh adalah lebih mulia 
daripada hidup dan harus menyerah diri untuk dijajah oleh penjajah hindia jawa 
laknat itu.

Mari kita terus mengasah semangat perjuangan kita untuk terus mengusir dan 
memburu penjajah hindia jawa yang datang ke negeri kita untuk merampok dan 
mencari kesenangan yang tidak pernah diperolehinya di pulau jawa.

Sekian dan wassalam.

TOLONG SEBARKAN PESAN INI KEPADA SEMUA BANGSA ACEH YANG MEMPUNYAI SEMANGAT 
IKHLAS DALAM PERJUANGAN DAN BUKAN MENGHARAP KERJA DAN WANG DARI PENJAJAH HINDIA 
JAWA.
Copyright 2006 Gubernur Aceh. 
_________________________________________________________________
What can you do with the new Windows Live? Find out
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

Kirim email ke