Saudara Ali Al Asytar ahlul baitnya Muhammad Al Qobra menanyakan kepada pemilis: APAKAH ANDA KONSEKWEN DALAM MENCINTAI KELUARGA NABI SAWW (AHLULBAYT)? Saudara Ali Al Asytar ahlul baitnya Muhammad Al Qobra, kami ingin menanyakan siapakah itu: NABI SAWW (AHLULBAYT)?
Setahu saya dan juga setahu Tengku Muhammad Dahlan Al Tangsée, semua muslimin dan muslimat mencintai Allah SWT, tuhan yang disembah dengan sebenar sembah dan Nabi Muhammad SAW, Rasulullah. Lantas kalau Nabi SAWW, itu nabi siapa? Kalau dibilangkan nabi orang Syi'ah bukan, karena nabi orang Syi'ah kalau tidak salah, adalah Saidina Ali ra. Makanya Nabi Muhammad SAW, hanya meminta semua para muslimin dan muslimatnya, agar berpegang kepada apa yang telah dideklarisakan: Aku naik saksi tidak ada tuhan yang disembah disembah dengan sebenar sembah selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah Rasullullah. Jadi bukanlah Saidina Ali ra sebagai Nabi anda tetapi adalah tetap Nabi Muhammad SAW, tidak ada yang lain. Dan kalau ada orang yang masih juga mau mengatakan yang lain, maka berarti orang itu telah memilih sesat! --- On Mon, 10/5/09, Ali Al Asytar <[email protected]> wrote: From: Ali Al Asytar <[email protected]> Subject: «PPDi» APAKAH ANDA KONSEKWEN DALAM MENCINTAI KELUARGA NABI SAWW (AHLULBAYT)? To: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Date: Monday, October 5, 2009, 11:10 AM Bismillaahirrahmaan irrahiim “قل لا اسألكم عليه اجراً الاّ المودّة في القربى " NABI MUHAMMAD SAWW TIDAK MEMINTA DARI KITA SESUATUAPAPUN ATAS DAKWAHNYA KECUALI KECINTAAN KEPADA AHLULBAYTNYA AS Ali al Asytar Acheh - Sumatra Cinta kita kepada Keluarga Nabi saww (Ahlulbayt as) adalah cinta kita kepada Nabi saww itu sendiri, tanpa kecintaan kita kepada Ahlulbayt as maka kecintaan kita kepada Nabi saww tidak terhitung sebagai cinta, jika kecintaan kita kepada Nabi saww tidak ada maka mustahil kita bisa mencintai Allah swt, karena Nabi saww adalah orang yang paling Allah swt cintai dan kecintaan kepadanya adalah kewajiban bagi kita dari sisiNya. Karena Ahlulbayt adalah dari Nabi saww dan Nabi saww dari Ahlulbayt as maka kecintaan kepada Ahlulbayt adalah kewajiban dari kita. Cinta kepada Ahlulbayt as adalah keindahan. Cinta kepada Ahlulbayt as adalah kesuksesan. Cinta kepada Ahlulbayt as adalah kemenangan. Cinta kepada Ahlulbayt as adalah "rizki" yang melimpah. Cinta kepada Ahlulbayt as adalah kedahsyatan energi. Cinta kepada Ahlulabyt as adalah kebaikan. Cinta kepada Ahlulabyt as adalah keselamatan. Cinta kepada Ahlulbayt as adalah kebahagiaan. Cinta kepada Ahlulabyt as adalah keabadian. Cinta kepada Ahlulabyt as adalah keridhaan Allah swt. Nabi saww adalah orang yang paling Allah swt cintai, dan Allah swt wajibkan bagi para makhluknya untuk mencintainya, dan Allah swt tekankan bahwa kecintaan kepadanya tidak ada gunanya tanpa kecintaan kepada keluarganya (Ahlulbaytnya as).(قل لا اسألكم عليه اجراً الاّ المودّة في القربى ومن يقترفْ حسنةً نزد له فيها حسناً) {الشورى:23} Nabi saw bersabda: “sesungguhnya Allah swt telah menciptakan para Nabi as dari pohon-pohon yang berbeda-beda dan menciptakanku dari pohon yang satu dan aku adalah aslinya/akarnya/ pankalnya, Ali adalah batangnya, Fatimah adalah bunganya, Hasan dan Husain adalah buahnya, maka siapa yang bergantung di salah satu ranting dari ranting-rantingnya maka akan selamat dan siapa yang menyimpang darinya maka akan jatuh dan celaka, walaupun telah beribadah antara shofa dan marwa selama seribu tahun kemudian seribu tahun lagi kemudian seribu tahun lagi kemudian tidak memahami perkataan kami maka Allah swt akan memasukkannya kedalam neraka” kemudian Nabi saww membaca ayat: “قل لا اسألكم عليه اجراً الاّ المودّة في القربى” hadis ini terdapat di kitab-kitab sunni (ahlu sunnah) seperti di Tarikh Demasyq 12/143 , di kitab syawahid al-Tanzil (2/203 hadis837) dan di kitab Kifayah al-Thalib:178 (h318 bab87). Nabi saww tidak meminta dari kita sesuatu apapun atas dakwahnya kecuali kecintaan kepada Ahlulbaytnya as, permintaan ini adalah kemuliaan bagi kita. Karena kecintaan kepada Ahlulbayt as adalah perintah Allah swt dan keridhaanNya. Setiap musibah menimpa Mukmin betul, akan mendapat ampunan dari Allah swt. Masalahnya yang mana yang dikatakan mukmin menurut kacamata Allah itulah persoalannya. Kaum nabi Nuh juga mengaku diri sebagai orang yang benar, namun mereka tidak patuh kepada Allah dan Nabi Nuh sendiri kecuali sedikit. Yang sedikit itu selamat dari musibah bersama nabi Nuh. Apakah yang menimpa musibah itu mendapat ampunan Allah, tidak, kan ? Ketika musibah diturunkan kepada orang-orang dhalim terimbas juga kepada orang-orang yang beriman, namun orang-orang yang beriman itu akan mendapat ampunan Allah, ampunan itu tidak diberikan kepada orang-orang yang dhalim. Perlu kita ketahui bahwa Allah memberikan nikmatnya dan kedamaian didunia ini kepada siapa saja yang Dia kehendaki, baik kepada orang benar ataupun orang jahat. Hal ini dapat membuat orang yang tidak memahami agama secara maksimal, keliru dalam melihat realita atau wujutnya. Kita memang mudah mengatakan bahwa orang-orang yang beriman itu akan mendapat ampunan Allah, tapi yang menjadi persoalan ketika hal itu kita hadapkan pada realitanya. Dalam musibah di Acheh dan Yokyakarta, tidak diketahui mana orang-orang yang beriman dan yang dhalim, kecuali oleh orang-orang yang benar-benar beriman itu sendiri. Apakah anda termasuk orang beriman? Kita tidak boleh mengatakan orang lain tidak beriman tanpa pengetahuan yang benar dari Allah. Tinggal lagi disini saya hendak mengingatkan pembaca bahwa ada beberapa tanda orang yang beriman, diantaranya pantang bekerja dalam system Thaghut, kecuali taqiyyah. Taqiyyah hanya dibenarkan Allah bagi orang-orang yang benar-benar terpaksa atau memang tidak ada daya sama sekali untuk hidjrah dari negara yang dhalim seperti Hindunesia itu. Adapaun orang-orang Acheh yang tinggal di negara Thaghut Eropa yang tidak dhalim walau terhadap binatang sekalipun, adalah terpaksa untuk menghindar diri dari perlakuan dhalim Thaghut Hindonesia. Sesungguhnya Allahlah yang menggerakkan pemimpin-pemimpin di negara thaghut itu untuk melindungi orang-orang Acheh itu. Dulu sahabat Rasulullah juga ada yang diperintahkan hijrah ke Thaif yang bukan negara/daerah Islam. Namun mereka terpaksa keluar dari thaif disebabkan penduduknya mendhalimi mareka. Kelebihan orang Acheh disebabkan mereka memiliki pemimpin yang dapat menyadari mereka untuk tidak bersatupadu dalam system thaghut yang Dhalim tambah munafiq lagi, sementara bangsa-bangsa lain dikepulauan Melanesia itu tetap bersatupadu dalam system Hindunesia munafik dan dhalim itu, kecuali West Papua dan RMS, bahkan posisi mereka sekarang lebih baik dari Acheh - Sumatra yang sudah terlanjur tidak mematuhi pemimpin yang diwakilinya hingga masuk perangkap "Demokrasi" gadongan.. Semua orang-orang yang bersatupadu dalam system Hindunesia itu tidak termasuk orang-orang yang beriman kendatipun mereka itu guru Pesantren, Khatib-khatib, Ulama-ulama gadongan, para Dosen Agama dan lain-lain. Kecuali kalau mereka-mereka yang saya sebutkan itu sedang berencana untuk mendirikan System Allah. Perlu kita pertanyakan disini apakah Hizbut Tahrir, Hidayatullah, JIL, Muhammaddiah, Sunni dan Syi'ah dan lain-lain sedang mengarahkan diri untuk mendirikan system Allah atau bersatupadu dalam kelanggengan systen thaghut itu sendiri. Apabila mereka mengaku diri orang-orang beriman tapi tetap bersatupadu dalam system Thaghut yang Dhalim dan Hipokrit lagi, sesungguhnya mereka itu adalah pembohong yang nyata. Semua kejahatan yang dilakukan penguasa dhalim itu, kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban juga kepada orang-orang alim palsu itu. Mereka akan menerima tempelakan yang sama dengan penguasa dhalim itu dengan surah Yasin ayat 60 s/d 65. Andaikata kami tanya pada pembela system Hindunesia dhalim, apa fungsinya Al Qur'an untuk manusia ? Mereka akan menjawab: "sebagai Pedoman Hidup". Jawaban mereka benar 100% (QS,2:2). Namun realitanya mereka tidak berpedoman pada Al Qur'an, tapi mereka menempatkan Al Qur'an dibawah Pancasila, Fiqh Shalafiah, Manhaj dan entah apa lagi yang mengkaburkan persoalan utama yaitu tentang ketentuan Allah perihal kedudukan orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah (Q.S, Al Maidah ayat 44, 45 dan 47) Tidak ada Hadist, Sirah Rasul, Fiqh, Jamaah tertentu (baca Ahlu Sunnah wa al-Jamaah), Salafiah, Manhaj dan Pancasila yang dapat membatalkan ayat-ayat Allah (Al Qur'an). Membantah ayat-ayat Allah = membantah Allah. Allah berfirman: ". . . . . .Waman lam yahkum bima anzalallah faulaika humul kafirun (Q.S, 5 : 44). Ayat ini adalah ayat muhkamat atau ayat kath’i, namun bagi orang-orang yang terlanjur bersatupadu dalam system Hindunesia dhalim dan Hipokrit dipelintirkan dengan dalih bahwa itu adalah ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat Mutasyabihat tidak dapat dipahami kecuali oleh ahlulbayt Rasulullah, para Imam dan orang-orang yang mengikuti mereka. Sesungguhnya mereka itu adalah Al Qur-an yang berjalan. Al Qur-an tanpa Rasul atau Ahlulbaytnya atau para Imam yang telah dinyatakannya tidak ada artinya sama sekali. Mereka itulah yang memahami Al Qur-an keseluruhanbnya. Orang - orang beriman hanya memahami ayat muhkamat, sementara ayat mutasyabihat dapat memahaminya melalui petunjuk Rasulullah dan Imam-imam yang di utus. Justru itulah Rasulullah berkata: “ Kutinggalkan kepada kalian dua perkara yaitu Al Qur-an dan Ahlulbaytku. Barang siapa berpegang teguh kepada keduanya tidak akan sesat selamalamanya sampai menemuiku di pancutan Kautsar”. Ketika Negara dikuasai oleh Muawiyah bin Abu Sofyan, Al Qur-an itu dikaburkan dengan hadist-hadist palsu dari Abu Hurairah cs, untuk ini beliau mendapat finansialk hidup dari Muawiyah sebagaimana orang-orang alim lugu yang berjingkrak- jingkrak dalam ketiak penguasa dhalim Hindunesia hipokrit sekarang ini. Andaikata kita hanya berpedoman pada hadist yang berasal dari Ahlulbayt Rasulullah saja sebagai syarat untuk mengukur benar tidaknya terhadap suatu persoalan sudah barang pasti Islam itu tidak akan pecah kepada 23 firqah sebagaimana di nyatakan oleh Rasulullah. Untuk menguatkan suatu thesis, mereka tidak hanya menggunakan Hadist non Ahlulbayt, tapi juga menggunakan pepatah, kata orang bijak, sya’ir dan Hadist maja. Namun kalau tidak dapat kita buktikan dengan Al Qur-an atau Hadist dari Ahlulbayt, sesungguhnya thesis tersebut perlu dipertanyakan keabsahan dan kebenarannya. Seorang teman saya pergi ke Malaysia dan melihat tuan rumah juga mengumpulkan shalat Dhuhurnya dengan shalat ‘Asar. Teman itu heran kenapa orang yang keliru itu diangkat menjadi ketua pergerakan Acheh Sumatra kawasan itu yang menurut dugaannya tidak berilmu disebabkan menggabungkan shalatnya, sementara dia sendiri menggabungkan shalatnya disebabkan musafir, dimana menurut Sunni sebagai syaratnya untuk bergabung. Ketika teman itu menyampaikan persoalan itu kepada saya saya katakan justru dia yang keliru. Lalu untuk beliau saya kirimkan hadist yang ada di Bukhari dan juga di Muslim tentang kebiasaan Rasulullah sendiri menggabungkan shalat Dhuhur dengan ‘Asar dan Maghrib dengan ‘Isya tanpa halangan apapun (lihat kitab sahih Muslim dan Muwatta Malik, bab ‘Jama’a bainas-shalatain. Lihat juga di Sahih Bukhari yang dengan sengaja memuat hadist tersebut pada bab lain, bukan pada bab penyatuan dua Shalat tapi pada bab Taakhiruz-zuhr lil –’Asr min kitabi mawaqitus-shalat dan bab dhikrul-’isha wal-atma’ serta bab Waqtul-maghrib) . Perkara tersebut terdapat di banyak kitab shahiuh lainnya seperti Nisa’I, Ahmad bin Hanbal, Zarqani, dan lain-lain. Kendatipun persoalan ini saya sampaikan selayang pandang, namun cukup bermanfaat bagi orang-orang yang mau berfikir kenapa Orang Sunni demikian yakin bahwa shalat itu tidak boleh digabungkan sebagaimana keyakinan orang Syi’ah Imamiah 12. Padahal hadist mengenai persoalan tersebut jelas tercantum dalam kitab pegangan Sunni, yaitu Bukhari dan Muslim. Hal yang demikian perlu kita pertanyakan apakah ulama-ulama Sunni tidak membaca seluruh kitab shahih Bukhari dan Muslem itu, sementara mereka berani berhujjah bahwa tidak sah digabungkan shalat dhuhur dengan ‘asar dan magrib dengan ‘isya. Hal seperti itu juga dapat kita saksikan semua Hadist penting seperti hadist Tsaqalain di Ghadirkhum, hadist Safina, hadist Manzila, hadist Bahtera, hadist Saqifa dan lain-lainnya semua terdapat dalam kitab ulama Sunni. Sebagai penutup perlu saya kemukakan bahwa Thesis dan Antithesis perlu berhadapan dengan lapang dada secara jujur untuk mencari kebenaran bukan untuk mencari menang sebagai ego sejati. Adapun diskusi antara Acheh-Sumatra dengan Hindunesia hipokrit pasti tidak dapat berjalan dengan mulus disebabkan itu adalah antara orang-orang terdhalimi dengan orang-orang pencetus kedhaliman, jelasnya antara orang yang terjajah dengan pihak penjajah. Antara musuh yang terjadi adalah perang fisik atau perang urat saraf, termasuk perang internet. Billahi fi sabililhaq. Ali Al Asytar, Acheh - Sumatra http://achehkarbala .blogspot. com From: muhammad dahlan <tang...@yahoo. com> To: ia...@yahoogroups. com Sent: Mon, October 5, 2009 4:22:31 AM Subject: Re: [IACSF] HSNDWSP TIDAK KE ACHEH - SUMATRA DAN TIDAK JUGA KE RII, TIDAK KE TIMUR DAN KEBARAT TAPI KEPADA ALLAH SWT Syi'ah di Acheh bisa diditeksi bagi orang yang dalam hatinya ada penyakit. wassalam. --- On Sun, 4/10/09, omar puteh <om_pu...@yahoo. com> wrote: From: omar puteh <om_pu...@yahoo. com> Subject: Re: [IACSF] HSNDWSP TIDAK KE ACHEH - SUMATRA DAN TIDAK JUGA KE RII, TIDAK KE TIMUR DAN KEBARAT TAPI KEPADA ALLAH SWT To: ia...@yahoogroups. com Received: Sunday, 4 October, 2009, 1:38 PM Kapan bangsa Parsia tahu bagaimana membuat perahu? Kapan bangsa Parsia mulai ramai masuk Islam? Bangsa Parsi yang masuk Islam keluar dari agama zoroaster atau bahai ataupun dari agama yang sembah hantu nenek moyang? Yang mana yang pertama sekali terbanyak memeluk Islam diantara agama-agama itu, setelah Salman al Parasi? Baca yang lebih dulu sejarah Parsia baru tulis sejarah mereka! --- On Fri, 10/2/09, Ali Al Asytar <alasytar_acheh@ yahoo.com> wrote: From: Ali Al Asytar <alasytar_acheh@ yahoo.com> Subject: [IACSF] HSNDWSP TIDAK KE ACHEH - SUMATRA DAN TIDAK JUGA KE RII, TIDAK KE TIMUR DAN KEBARAT TAPI KEPADA ALLAH SWT To: lan...@yahoogroups. com, achehn...@yahoogrou ps.com, gamrms...@yahoogrou ps.com, kota_jakarta@ yahoogroups. com, am...@yahoogroups. com, Komunitas_Papua@ yahoogroups. com, p...@yahoogroups. com, politikmahasiswa@ yahoogroups. com, kuasa_rakyatmiskin@ yahoogroups. com, oposisi-list@ yahoogroups. com, am...@yahoogroups. com, ia...@yahoogroups. com Cc: tgkcoetticem@ yahoo.com Date: Friday, October 2, 2009, 1:04 PM Bismillaahirrahmaani rrahiim HADIST RASULULLAH MENGGAMBARKAN KEUTAMAAN BANGSA PARSI DIATAS BANGSA MANAPUN DI DUNIA INI TERMASUK BANGSA ARAB SEKALIPUN Ali al Asytaar Acheh - Sumatra SALMAN AL FARAISI ADALAH PENGIKUT SETIA IMAM ALI AS. BELIAU SAMPAI KEDERAJAT IMAN TERTINGGI SETELAH AHLULBAYT RASULULLAH DAN PARA IMAM YANG DIUTUS ALLAH PASKA ERA KENABIAN MEREKA ADALAH HUJJAH ALLAH BUAT MANUSIA DI KOLONG LANGIT Sebelum Islam datang ke Acheh, Hindu dan Budha adalah tuan Rumah di Nusantara ini termasuk Acheh didalamnya. Ratusan tahun kemudian barulah Islam datang dari Gujarat dan Persia. Dari Gujarat saya tidak begitu fokus disebabkan masih kurang buktinya, sementara dari Persia bukan saja mendapat dukungan Al Qur-an tapi juga historis dimana hal tersebut dapat kita pelajari Al Qur-an Surah Jum’at ayat 3, sementara secara historis, Islam berkembang di Parsi paska Syahidnya Imam Hussein di Karbala Irak. Syiah di Acheh juga dapat di deteksi melalui “tanda-tanda” bagi orang yang jujur dan ikhlas serta bertanggung jawab. Read more Get more done like never before with Yahoo!7 Mail. Learn more.
