http://www.youtube.com/watch?v=HJxxhCIJMk8&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=QU_eqSPa3EY&feature=related



--- Den tis 2009-12-08 skrev aroen jeram <[email protected]>:

Från: aroen jeram <[email protected]>
Ämne: |IACSF| prestasi Irwandi-Nazar tahun ini
Till: [email protected]
Datum: tisdag 8 december 2009 10.36







 



  


    
      
      
      APBA 2009 bernilai Rp 9,7 triliun, di hari ultah 4 Desember 2009, yang 
terserap 45 persen (Rp 4,4 triliun). Sementara bendahara tutup buku 15 Desember.
inilah cara ukur prestasi Irwandi-Nazar yang paling mudah, yakni sejauhmana 
bisa menyerap anggaran pembangunan yang mereka susun sendiri atas persetujuan 
DPRA.
tahun depan, masalahnya lebih rumit lagi. Sudah terjadi perlambatan perihal 
penyusunan APBA, karena dinamika politek di DPRA. Belum faktor relasi DPRA-Irna 
dalam tahun 2010, apakah harmonis atau disharmonis.


From: Tanoh Aceh <tanoh_a...@yahoo. com>
To: ia...@yahoogroups. com
Sent: Tue, December 8, 2009 12:30:26 PM
Subject: Re: |IACSF| intimidasi dan kemenangan PA
















 



    
      
      
      Ada semacam persepsi dalam masyarakat bahwa kalau PA kalah, konflik akan 
merebak kembali. Masyarakat Aceh tak ingin adanya konflik,” sebut Ben Hillman. 
Ya, intimidasi spt it yg ditampilkan oleh anggota2 KPA sehingga agar lbh aman 
rakyat bersikap: Untuk x ini biarlah kita pilih GAM sx utk kita lihat, kalau 
teryata lebih buruk, ya tinggalkan di 2011...

--- On Mon, 12/7/09, omar puteh <om_pu...@yahoo. com> wrote:


From: omar puteh <om_pu...@yahoo. com>
Subject: Re: |IACSF| intimidasi dan kemenangan PA
To: ia...@yahoogroups. com
Date: Monday, December 7, 2009, 1:40 PM


  



Tengku Muhammad Dahlan Tangsé, nah sekarang anda bisa membandingkan tuturan 
dari tulisan aroen jeram, yang semua sebelumnya keasyiakan memanggilakan 
sebagai Bang Otto dari Swedia, seperti dibawah ini dengan tuturan tulisan Otto 
Syamsuddin dari Kutaraja : LAGEE LANGAI PUTOH KLAH dalam institute aceh! 





From: aroen jeram <aroen_jeram@ yahoo.com>
To: ia...@yahoogroups. com
Sent: Mon, December 7, 2009 9:07:50 AM
Subject: |IACSF| intimidasi dan kemenangan PA

  




ini hasil penelitian yang menarik. perhatikan apa yang dikatakan oleh mawardi 
berikut.


“Responden kami mengatakan ada mendapatkan intimidasi. Tapi intimidasi tersebut 
sama sekali tidak mempengaruhinya dalam menentukan pilihan dalam pemilu lalu,” 
ujar Mawardi Ismail SH MHum, peneliti dari Unsyiah,


<ADA intimidasi, tapi intimidasi tak mempengaruhi kemenangan politik>


Lalu perhatikan pikiran peneliti lainnya, berikut ini:


“Ada semacam persepsi dalam masyarakat bahwa kalau PA kalah, konflik akan 
merebak kembali. Masyarakat Aceh tak ingin adanya konflik,” sebut Ben Hillman.


maka ada 2 hal yang perlu dipertanyakan: 
1. Bagaimana mawardi menjelaskan nalarnya bahwa intimidasi tak mempengaruhi 
kemenangan?
2. Kalo ada persepsi: PA kalah, maka konflik merebak; lalu masyarakat tak ingin 
konflik----bagaiman a Ben Hilman menjelaskan kemenangan PA ada atau tidak ada 
kaitannya dg persepsi dan sikap politik memilihnya?


ini belum lagi soal metode yang dipakai.









Hasil Penelitian:
Kemenangan Partai Aceh tak Terkait Intimidasi
Serambi, 6 December 2009, 10:33 Nusantara Administrator 
JAKARTA - Peneliti dari Universitas Nasional Australia dan peneliti Universitas 
Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh menemukan adanya praktek intimidasi dalam 
Pemilu 2009 lalu di Aceh. Tapi kemenangan Partai Aceh (PA) sama sekali tidak 
ada hubungan dengan praktek intimidasi tersebut. “Responden kami mengatakan ada 
mendapatkan intimidasi. Tapi intimidasi tersebut sama sekali tidak 
mempengaruhinya dalam menentukan pilihan dalam pemilu lalu,” ujar Mawardi 
Ismail SH MHum, peneliti dari Unsyiah, saat menyampaikan hasil penelitian yang 
dilakukan pihaknya bersama Ben Hillman dari Universitas Nasional Australia, 
Sabtu (5/12) di Jakarta. 
 
Penelitian bertajuk “Partai Politik Lokal di Indonesia: Uji Coba di Aceh,” 
melibatkan dua peneliti Unsyiah, Mawardi Ismail dan Syaifuddin Bantasya,m serta 
dua peniliti Australia, Ben Hillman dan Benjamin Reilly. Penelitian tersebut 
dibiayai oleh Pemerintah Australia melalui Australia Indonesia Governance 
Reasearch Partnership (AIGRP), sebuah proyek kemitraan Australia-Indonesia .
 
Disebutkan, kemenangan partai lokal PA di Aceh karena masyarakat menginginkan 
adanya perdamaian. “Ada semacam persepsi dalam masyarakat bahwa kalau PA kalah, 
konflik akan merebak kembali. Masyarakat Aceh tak ingin adanya konflik,” sebut 
Ben Hillman. Partai Aceh berhasil merebut 33 kursi di DPRA atau 46,91 persen, 
unggul di 14 (dari 23) kabupaten/kota di Aceh. Menurut para peniliti tersebut, 
keberadaan PA dianggap sebagai wakil dari seluruh masyarakat Aceh, dan itulah 
yang membedakan PA dengan partai politik lokal lainnya yang kalah dalam Pemilu.
 
Faktor kemenangan PA lainnya, sebut Ben Hillman, partai tersebut didukung 
infrastruktur yang cukup baik dengan jaringan yang mengakar hingga ke grass 
root (akar rumput), menggunakan organisasi Komite Peralihan Aceh (KPA), yang 
menghimpun aktivis-aktivis GAM. Menurut dia, hal inilah yang membedakan PA 
dengan parpol lokal lainnya.
 
Mengenai praktek intimidasi, lanjut Mawardi Ismail, hasil penelitian mereka 
menyatakan bukan hanya dilakukan Partai Aceh melainkan juga partai politik 
lain. “Bahkan dulu pada zaman Orde Baru praktek intimidasi dilakukan dengan 
terang, tapi yang menang di Aceh bukan Golkar. Itu artinya rakyat Aceh tidak 
takut dengan intimidasi,” sebut Mawardi.
 
Mawardi Ismail dan Ben Hillman mengatakan Pemilu 2009 lalu merupakan tonggak 
penting bagi bagi GAM untuk melakukan transformasi dari gerakan bersenjata ke 
gerakan politik dalam bingkai NKRI. “Keberadaan parlok di Aceh merupakan solusi 
konflik yang sudah berlangsung lama,” kata keduanya. Para peneliti itu kemudian 
mengusulkan agar eksistensi partai politik lokal mendapat tempat yang kuat 
dalam sistem partai secara nasional dan perlu ada hubungan mekansime tersendiri 
anatar parlok dan partai nasional.
 
Undang-Undang N0 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh memang mengakomodir 
keberadaan partai politik lokal, tapi berlawanan dengan Undang-Undang tentang 
Partai Politik. “Dalam UU Parpol, dilarang melakukan rangkap keanggotaan dengan 
partai lain. Sementara dalam UUPA dibolehkan anggota partai nasional menjadi 
anggota partai lokal,” kata Mawardi.(fik) 
Copyright © 2009 Serambinews







      

    
     


















      

    
     

    
    


 



  






      __________________________________________________________
Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
http://www.kelkoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052

Kirim email ke