----- Forwarded Message ----
From: omar puteh <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, January 31, 2010 1:36:54 AM
Subject: Re: |IACSF| APA PETUAH WALI NANGGROE...
Omar Putéh merespon keatas tulisan dari:
Effendi Hasan: Penulis adalah mahasiswa program S3 bidang falsafah Politik
Universiti Kebangsaan Malaysia.
Perjuangan Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro adalah berbeda sekali dengan
perjuangan Ayatollah Khomeni!
Perjuangan Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro adalah untuk memerdekakan bangsa
Achèh dan mendaulatkan kembali Negara Achèh Sumatra, sebagai sebuah
negara, dengan memproklamirkan diri beliau sendiri lebih dahulu sebagai: Bangsa
Achèh, sebelum beliau meng-reproklamasikan Negara Achèh Sumatra, pada 4
Desember, 1976 sebagai successor state, sebagai neugara sinambông, sebagai
Achèh kelahiran baru. Sila juga baca Achèh Kelahiran Baru yang sempat
dibawakan oleh Lord Avebury kepengetahuan rakan-rakan beliau di House of Lord,
Parlemen Inggeris di London, yang beliau sendiri ikut meletakkan tanda tangan
beliau keatas buku itu.
Mengapakah sebagai Negara Achèh Sumatra? Patut dijelaskan kembali, karena
setiap pembawa nama Achèh Sumatra dalam milis ini, dilihat telah memberikan
gambaran yang tidak tepat.
Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro telah menjelaskan sehubungan dengan Achèh
Sumatra itu, yang pernah dituliskan dengan bentuk susunan: Achèh
(Atjèh)-Sumatra atau Achèh (Atjèh), Sumatra, mengikut latar belakng sejarah
Achèh dan sejarah Sumatra itu sendiri.
Seperti nama organisasi perjuangan memerdekakan Achèh Sumatra bermula dengan
nama NLFAS (National Liberation Front of Achèh Sumatra) bertukar dengan ASNLF
(Achèh Sumatra National Liberation Front), telah beliau utamakan susunannya
dengan nama Sumatra diawalnya, maka seterusnya beliaupun telah mengatakan
bentuk susunan Achèh Sumatra tampa bergaris: - atau berkoma:, akan kita gunakan
terus sementara atau sebelum Negara Achèh Sumatra itu mencapai kemerdekaannya
dan tulisan Atjèh-pun akan kita biasakan dengan Achèh Sumatra tidak lagi dengan
Atjèh Sumatra, agar nama Negara Achèh Sumatra akan diletakkan dalam deretan
list teratas dari seluruh list nama bangsa-bangsa atau negara-negara didunia di
kantor PBB b New York, USA, begitu juga dikantor PBB di Geneve, Switzerland.
Kita menuliskan Achèh Sumatra seperti dimaksudkan diatas adalah berhubungan
dengan sejarah vertikal Kerajaan (Negara) Achèh, yang wilayah status quo ante
bellumnya meliputi: Sumatra, Semenanjung Malaya, Sebahagian Kalimantan Barat
dan Jawa Barat.
Jadi sebaik kita menyebutkan saja nama Achèh maka sudah barang tentu, nama
Sumatra akan tersebut sama dan begitulah sebaliknya, agar duniapun akan
memalingkan muka mereka keakar sejarah Achèh atau Sumatra sekaliannya, apalagi
peta wilayah status quo ante bellumnya meliputi: Sumatra, Semenanjung Malaya,
Sebahagian Kalimantan Barat dan Jawa Barat, itu dapat kita lihat sebagaimana
peta-peta (sejarah) yang sebuah dikeluarkan oleh Perancis, yang lebih
lengkap dan dua lagi oleh Inggeris.
Ibnu Khaldun telah menamakan Achèh itu, sebagai lima negara besar Islam didunia
ketika itu sebagai Andalusia Timur, yang kemudian nama itu, telah juga kita
abadikan nama Andalas anugrah Ibnu Khaldun itu, untuk nama Pulau Sumatra
kita, selain telah diabadikan pada sebuah Universitas di Padang: Universitas
Andalas.
Begitulah nama Achèh dengan Sumatra-nya tidak bisa dipisahkan lagi seperti adat
Achèh tidak bisa dipisahkan lagi dengan Islamya, seperti tidak terpisahnya
daging dengan kulit!
Di tahun 1995 di Kuala Lumpur telah dicetuskan sebuah deklarasi yang kemudian
dinamakan: Deklarasi Kuala Lumpur 1995, oleh anak-anak Sumatra, yang datang
dari seluruh Pulau Sumatra, yang telah semupakat dan berjanji akan membentuk
Negara Federasi Sumatra, yang Kepala Negara dari Negara Federasi Sumatra itu
akan bergilir-gilir menduduki kursi kepresidenan bagi setiap kepala negara dari
negara-negara bahagian di Sumatra, yang telah terbentuk, yang diawali oleh
Kepala Negara Achèh Sumatra.
Kursi kepresidenan yang telah ditetapkan dalam Deklarasi Kuala Lumpur 1995 itu,
telah lebih dahulu dijelaskan hubung-kaitnya dengan sejarah vertikal kerajaan
(negara) Achèh yang telah melindungi alam perdagangan se-Sumatra dari gangguan
awal kuasa Eropah, ketika kuasa Eropah itu telah melakukan ekspansi ke Afrika,
Asia dan Latin Amerika.
Bagi sebuah organisasi WAA (World Achèh Association) sepatutnya juga organisasi
itu, mengambil bentuk lambang organisasinya ikut pada historical background
dari Sumatra itu sendiri, sehingga bentuk lambang organisasi masyarakat Achèh
sedunia dengan gambar Pulau Sumatra dengan meletakkan nama WAA diatasnya dan
bukan gambar peta wilayah Pemerintahan Achèh, seperti yang dilukiskan di
Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus, 2005.
Mengapa demikian? Memang demikianlah kejadiannya! Sebuah contoh "sejarah"
ajakan kami kepada salah seorang anggota keluarga dari Trio Sumatra di Jakarta:
Dr Chairul Saleh, Adam Malik dan Pak Bujung Nasution, yang pernah memaksa
Soekarno ke Jakarta Utara, pada malam 16 Agustus, 1945, agar menyiapkan Teks
Proklamasi 17 agustus, 1945 agar meyertai Negara Federasi Sumatra.
Apakah kata salah seorang keluarga itu, setelah kami perjelaskan kedudukan
tentang akar sejarah Sumatra? Dijelaskan: Bagaimana kami bisa keluar dari RI,
sedangkan RI itu, keluarga kami yang memerdekakannya, anak-anak Sumatra yang
memerdekakannya, orang tua kami, anak-anak Sumatra yang meletakkan pistol
kekepala Soekarno, agar segera meyiapkan teks proklamsi untuk proklamasi 17
Agustus, 1945 itu! ..........................Orang-orang Jawa tidak mau
merdeka, begitulah dengusan tangkisnya.
Jadi nama (Pulau) Sumatra itu penting untuk Achèh, untuk WAA dan untuk
kemerdekaan RI!
Sebut saja Achèh maka akan terikut sama penyebutan Sumatra! Sebut saja Achèh
maka akan terikut sama penyebutan Sumatra yang memerdekakan RI, yang
perbelajaan untuk mendapatkan pengakuan Internasional dari India, dan biaya
hidup Duta Besar pertamanya ke India dan Duta Besar RI-nya ke PBB pada tahun
1947-pun, dengan uang Achèh Sumatra dari Atase Perdagangan Negara
(Kerajaan) Achèh Sumatra, di Singapura.
Maka begitulah agaknya penting gambar peta (Pulau) Sumatra itu sebagai lambang
WAA, seperti pentingya WAA untuk lambang perjuangan Achèh sedunia, Ban Sigom
Donjä!
Ini sama seperti penting bagai penulis sejarah Malaysia yang tidak bisa
memisahkan tulisan sejarahnya yang kini sedang dituliskan dalam:Hari Ini Dalam
Sejarah dengan guratan sejarah Achèh disana, walaupun hendak coba dituliskan
dengan berjungkir balik. Semenanjung Malaya atau Malaysia kini, selain sebagai
sebahagian dari wilayah status quo ante bellum, juga sebagai negara protektorat
Achèh.
Atau sama penting diamnya Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro tidak lagi mau
menyebutkan Sumatra, karena beliau telah memberikan petua: Dengan menyebut
Achèh berarti sudah menyebutkan juga Sumatra atau dengan menyebutkan saja
Achèh, berarti sebutan itu sebagai sudah menyebutkan Achèh itu sebagai sebuah
bangsa!
Dijelaskan lagi perjuangan Achèh tidak sama dengan perjuangan Parsia atau Iran
atau perjuangan Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro tidak sama dengan perjuangan
Ayatollah Khomeni, karena perjuangan Achèh atau perjuangan Dr Tengku Hasan
Muhammad di Tiro adalah perjuangan memerdekakan bangsa Achèh dan memerdekakan
Negara Achèh Sumatra, sedangkan perjuangan Ayatollah Khomeni adalah perjuangan
menumbangkan Shah Iran: Shah Reza Pahlevi dan mendobrak struktur
pemerintahannya dan kemudiannya membangun Republik Islam (Syi'ah) Iran di Iran.
Juga patut diingatkan kepada Effendi Hasan yang gerakan perjuangan Dr Tengku
Hasan Muhammad di Tiro bukan sebagai seperatis, kalau anda mau belajar
menarikkan garis sejarah vertikal Negara (Kerajaan) Achèh dan anda mau
menela'ah teks reproklamasi 4 Desember, 1976-nya.
Effendi Hasan,sebagai seorang mahasiswa program S3 bidang falsafah Politik
Universiti Kebangsaan Malaysia perlu membaca sejarah Parsi atau Iran bahwa
kemerdekaan negara Parsi atau Iran itu adalah sebagai anugrah dari Kerajaan
Inggeris, dikarenakan Parsia tidak pernah memihak Jerman dalam perang dunia
keII.
Pernah Jamaluddin Al Afgani coba menentang pemerintahan Inggeris, tetapi beliau
ditangkap dan disekap dalam tahanan rumah, seperti ditangkapnya Abu Beureuh-éh
dan disekap dalam tahanan rumah (walaupun dirumah anaknya di Jakarta) ketika
beliau telah coba ikut menentang Jakarta dan telah ikut menyertai gerakan
perjuangan Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro, dengan sokongan (lewat dua
lembaran kartu lebaran) dari Mohammad Nasir mantan PM RI dan Dr Mohammad Hatta
mantan Wakil Presiden RI dan juga seorang Proklamator RI, yang sebelum
penglibatan beliau itu dengan gerakan itu, tidak pernah ada penghantaran
dibuat, sebagaimana beliau beritahukan dan perlihatkan kepada saya di Mesjid
Jamik Beureunun, Achèh.
Dan saya cukupkan saja demikian dulu sambil menjelaskan: Berdiam diri
"sedemikian rupa" itulah sebagai petuah dari mantan Wali Negara, Negara Achèh
Sumatra: Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro.
Omar Putéh
Meunasah Reudeuep
Achèh Rajeuk
________________________________
From: Haji Umar <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, January 29, 2010 7:15:22 AM
Subject: |IACSF| APA PETUAH WALI NANGGROE...
>Serambinews, 28 Januari 2010, 09:02
>Apa Petuah Wali Nanggroe
>Effendi Hasan - Opini
>TGK HASAN M. DI TIRO sudah empat bulan bermukim di Aceh. Beliau kembali ke
>tanah kelahiran setelah ditandatangani perjanjian damai antara GAM dan
>pemerintah RI di Helsinki. Kini Aceh sudah sediakala, aman dan damai. Keadaan
>ini tak lepas dari keinginan serta persetujuan beliau (Wali Nanggroe). Itu
>sebabnya, rakyat Aceh sekarang berharap ada petuah-petuah politik dalam masa
>damai ini.
>
>Sudah hampir empat bulan menetap di Aceh, namun belum ada petuah apapun.
>Banyak hal semestinya ingin didengar, misal berkait dengan substansi
>perjanjian Hensinky atau tentang self gevorment Aceh. Juga keputusan-keputusan
>politik lainnya untuk pembangunan Aceh ke depan. Selama di Aceh, hanya sekali
>bicara lewat teks pidato yang dibacakan oleh pembantu dekatnya di halaman
>Mesjid Raya Baiturrahman. Namun itu tidak menyentuh subtansi
>persoalan-persoalan keputusan politik untuk Aceh yang telah diambil. Pidato
>itu hanya sebagai ucapan terimakasih serta seruan kepada rakyat untuk
>sama-sama menjaga perdamaian Aceh. Itulah yang sampai saat ini, menimbulkan
>pertayaan dari rakyat Aceh.
>
>Mengapa Wali diam saat Aceh telah damai? Sebab keinginan rakyat Aceh mendengar
>petuah-petuah politik Wali cukup punya alasan. Bahwa beliau merupakan sosok
>penggerak perjuangan Aceh, komitmen ke-aceh-annya telah terbukti sejak masih
>berstatus sebagai mahasiswa pada fakultas Hukum Columbia Universiti. Beliau
>pernah mengirim surat terbuka kepada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo untuk
>memproklamirkan dirinya sebagai Duta Besar Republik Islam Indonesia di
>Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sehingga efek dari surat tersebut Wali
>ditahan oleh pihak Imigrasi Amerika dan paspor diplomatiknya sempat
>dibekukan.
>
>Kecuali itu, Tgk Hasan di Tiro juga dikenal sangat gigih dan komit atas
>perjuangannya bagi kejayaan Aceh. Terbukti dari keberanian menerima
>konsekwensi harus hidup di luar negeri, terutama sejak beliau mendekralasikan
>GAM pada 4 Desember 1976 lalu. Tgk Hasan juga harus meninggalkan kehidupan
>mewah di Amerika dan mengembara di hutan bersama pasukannya, apalagi ketika
>rezim Orde Baru yang hendak menghapus perjuangan Aceh yang beliau gerakkan.
>
>Saya pikir ketika rezim militer Orde Baru, tidak ada manusia Aceh yang berani
>melawan pemerintahan yang sedang berkuasa. Bagi Hasan Tiro itu resiko atas
>perjuangan untuk rakyat Aceh dan masa depan mereka agar lebih baik. Obsesi
>beliau ketika itu adalah bagaimana rakyat Aceh bisa berdaulat di negeri
>sendiri. Itulah yang jadi misi perjuangan Aceh yang digagas Tgk Hasan di Tiro
>sehingga beliau rela nyawanya digadaikan. Obsesi Wali Nanggroe adalah
>gambaran keadaan Aceh masa 30 tahun yang lalu ketika ia masih menatap masa
>depan Aceh penuh kesuraman. Inilah kemudian agaknya yang jauh berbeda dengan
>paradigm perjuangan masa komtemporer Aceh sekarang.
>
>Wali nanggroe, sudah kembali ke Aceh. Perjanjian damai di Helsinki adalah
>titik awal perubahan bagi Aceh. Aceh kini sedang menuju era pembangunan dan
>kemajuan. Jika 30 tahun yang lalu GAM pernah dianggap sebagai gerakan
>separatis, kini GAM berganding bahu dengan pemerintah Indonesia membangun
>Aceh. GAM telah diberi kesempatan mendirikan partai politik lokal untuk
>memperjuangkan Aceh dalam lunas-lunas demokrasi dan politik. Sehingga
>kebebasan berdemokrasi di Aceh telah memberi kesempatan bagi mantan-mantan
>kombatan GAM memimpin Aceh baik di lembaga Legislatif maupun Eksekutif.
>
>Pertanyaannya; apakah kebebasan berpolitik dan pesatnya pembangunan yang
>sedang berjalan di Aceh saat ini menunjukan obsesi perjuangan Wali telah
>mencapai titik klimak? Lebih jauh, apakah dengan kemenangan Partai Aceh (PA)
>menunjukkan kemenangan cita-cita Wali dan kemenangan perjuangan Aceh?
>
>Mungkinkah Wali masih mempunyai obsesi yang lebih besar bagi rakyat Aceh.
>Pertayaan-pertayaan ini menjadi kunci yang perlu dicari jawaban dari Wali
>sendiri sebagai pilar depan penggerak perjuangan Aceh. Kita memang tidak bisa
>menginterpretasi obsesi-obsesi tersebut, cuma bisa berharap mudah-mudahan Wali
>memberi petuah-petuah politik serta pencerahan-pencerah an baru bagi rakyat
>Aceh untuk membangun Aceh yang berkeadilan.
>
>Keberadaan Wali di Aceh memberi sesuatu yang bermanfaat bagi rakyat Aceh
>terutama ide-ide brilian untuk pembangunan Aceh di masa damai. Selemah apapun
>Wali sekarang, kita tetap yakin ide, semangat serta komitmen beliau untuk
>membangun kehidupan rakyat Aceh yang berkeadilan tetap membara. Memang kini
>ketokohan Wali tidak seagresif masa mudanya. Beliau sudah mencecah usia 83
>tahun, telah banyak kelemahan di sana sini. Berbagai penyakit pun sudah
>menghinggapinya. Begitu pun, kita bisa membandingkan ketokohan Wali Teungku
>Hasan M. Di Tiro dengan Imam Khomeini pemimpin revolusi Islam Iran. Ideologi
>perjuangan kedua tokoh ini berbeda akan tetapi tujuan perjuangan sama.
>
>Imam Khomeini saat pulang ke Iran juga telah lanjut usia, akan tetapi di usia
>senjanya beliau masih memimpin revolusi Islam Iran sehingga rakyat Iran tidak
>seperti anak ayam kehilangan induknya. Beliau sering mengeluarkan
>pernyataan-pernyata an politik di media dan menyeru rakyat Iran untuk menjaga
>revolusi Islam yang telah beliau perjuangkan. Tindakan-tindakan beliau telah
>mampu menyelamatkan revolusi Islam Iran sampai hari ini walaupun beliau telah
>tiada.
>
>Kita memang tidak bisa mengharapkan sepenuhnya seperti dilakukan oleh
>Ayatullah Imam Khomeini akan dilakukan oleh Teungku Hasan M.di Tiro di Aceh
>diusia senja beliau. Namun kita yakin apa yang dilakukan oleh Imam Khomeini
>akan mampu dilakukan oleh Teungku Hasan M. Di Tiro membimbing rakyat Aceh di
>masa damai membangun Aceh yang lebih mandiri dalam kontek pemerintahan sendiri
>(self goverment).
>
>Mudah-mudahan keberadaan Wali di Aceh tidak hanya untuk menghabiskan masa
>tuanya, sedangkan pada sisi lain masih banyak ide-ide beliau yang bisa
>dikontribusikan untuk rakyat Aceh. Selama ini beliau tinggal di Aceh, akan
>tetapi bagaikan jauh dari rakyat Aceh. Rakyat Aceh hanya tau ketika beliau
>sakit, setelah itu hilang begitu saja. Rakyat Aceh juga tidak mau keadaan Wali
>sebagaimana gurunya Teungku Muhammad Daud Beureueh. Abu selalu dicurigai dan
>pernah diasingkan ke Jakarta.
>
>Keinginan Wali tinggal di Aceh saat ini menunjukkan keikhlasan beliau menjaga
>perdamaian Aceh dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia. Beliau tidak
>menginginkan Aceh terjerumus lagi ke dalam kancah peperangan, perang telah
>mengorbankan beribu-ribu rakyat serta memusnahkan masa depan rakyat Aceh,
>baginya perang telah menjadi pengalaman pahit bagi rakyat Aceh. Kini beliau
>ingin perdamaian Aceh tetap langgeng. Maka gerakan beliau tidak perlu dibatasi
>dan dicurigai. Biarkan beliau mengekpresikan sisa hidupnya untuk membimbing
>rakyat Aceh demi membangun Aceh baru yang lebih maju serta
>sejahtera.
>
>* Penulis adalah mahasiswa program S3 bidang falsafah Politik Universiti
>Kebangsaan Malaysia.
>