Omar Putéh menulis:  

Saya ingat cerita dari tulisan saya ini, terjadi di tahun 1996 atau disekitaran 
itu dan pernah diantara isinya pernah saya eksposekan, ketika meresponin 
tulisan Lamkaruna Fauzi Hasbi, yang terkorban dalam kecelakaan pesawat terbang 
di Medan. 

Seorang yang memperkenalkan dirinya Sudirman (saya tidak pasti apakah itu nama 
asli?) asal Sunda dan istrinya asal Minang, menyewa sebuah rumah bersebelahan 
dengan Meunasah Achèh di Malaysia, yang rumah itu suatu petang menjelang senja, 
bertepatan malam Jum'at, telah didatangi oleh sebuah Jema'ah.

Malamnya "bermuzakarahlah" mereka disana, tetapi dalam masa "muzakarah", itu 
keluarlah salah seorang anggota Jema'ah dan setengah berteriak mengatakan apa 
itu, bacaan-bacan apa itu, sebagai menghina Al Qurän, membaca bersora-sorakan, 
yang ditujukan terhadap kumpulan Dalaé, anak-anak Achèh di Meunasah Achèh yang 
bersebelahan itu, yang merasakan jema'ah mereka tgerganggu dalam "bermuzakarah".

Saya diam saja dan tidak pula mejelaskan bahwa apa yang sedang dilakukan oleh 
anak-anak Achèh itu sebagai sebuah seni Dalaé, karena saya tahu di Achèh 
sendriri ada yang tidak menyukai seni Dalaé seperti itu, apalagi mereka, yang 
tidak tahu seni itu, mungkin akan lebih lagi mencelainya.

Di hari-hari sebelumnya, saya juga pernah diundang bertamu kerumah itu, karena 
pihak tuan rumah, berbaik-budi memperkenalkan beberapa orang tamu-nya yang 
datang berkunjung, yang katanya berasal dari Medan, yang kemudian mendakwakan 
diri bahwa, mereka adalah dari kumpulan Komando Jihad dari kumpulan Zubil 
Usman, yang pernah disidangkan dimahkamah Medan, yang mungkin berbuat demikian 
setelah menyadari yang orang-orang Achèh, tetangga Sudirman itu adalah kumpulan 
pelarian  prang Achèh di Malaysia.

Setelah kejadian dari malam "permuzakaran" akibat suara kuat bacaan seni Dalaé 
anak-anak Achèh, maka tidak lah terlihatlah lagi kedatangan ulangan Jema'ah 
beriktunya dan malahan Sudirman dan keluarganya sudahpun 
berpindah...........................entah kemana.

Di hari Raya 'Idul Fitri, ditahun itu juga saya diajak oleh Said Qasim al 
Muthawali Al Idrus al Yamani, berjiarah kesebuah rumah besar, bangunan lama, 
yang disewa oleh anggota Jema'ah yang sama seperti yang saya sebutkan diatas 
(rumah itu dan seluruh rumah diareal perumahan disitu, telah disunglap menjadi 
lapangan Golf ditengah-tengah kota Kuala Lumpur, yang dikenal sebagai lapangan 
Golf Sentul.

Disitu mereka menampkakkan kesombongan dan keangkuhan mereka, seolah-olah 
seperti sedang mencemo-ohkan dan mencibir akan diri saya, lain halnya terhadap 
dengan Said Qasim al Muthawali Al Idrus al Yamani, yang senantiasa berseragam 
jubah anggota Tabligh, mirip model seragam jema'ah mereka dan ketika itupun 
saya terpikir mungkin sejumlah diantara mereka pernah berada di rumah keluarga 
Sudirman atau diantaranya pernah berhujahan dengan saya masalah AM, yang mereka 
tuduh sebagai gerakan Assobiah, sama seperti bayangan tuduhan yang pernah 
dibawa oleh Tengku Yus, yang kemudian menjadi ketua DPRD, yang didampingi 
seorang mahasiswa Achèh di UIA dan anaknya Kausar (mungkin baru berumur (antara 
9-10 tahun).

Jema'ah ini, dengan kasar menolak teori kebangsaan dan hanya menerima Islam, 
sebagai sebuah negara sejagat-universil, sebagai bangsa Islam, macam kerajaan 
Roma di Vatikan dengan bangsa Katholik-nya?

Yang herannya dari mana datangnya biaya hidup mereka se-jemaah itu, yang juga 
diketahui bermukim di Kuala Pilah, Negeri Sembilan, tempat kediaman Ustadz 
Abdullah Sungkar asal Sunda juga.

Suatu hari saya mendapat berita dengan sebuah cerita, yang delegasi mereka baru 
saja balik dari Afrika Utara.  Delegasi itu menggunakan seorang anak Achèh, 
sarjana pendidikan asal Achèh Rajeuk, yang beristirikan seorang Minang, yang 
sama sependidikan di IKIP-Bandung dan seorang rakyat Malaysia asal Minang serta 
sekumpulan orang dari jema'ah itu sendiri.

Kesemua mereka ditolak untuk mendapatkan bantuan dari negara di Afrika Utara 
itu, dan dimintakan serta merta meninggalkan negara itu, sebaik delegasi "AM 
Gadungan" (ingat pada point ini!), mereka gagal meyakinkan negara itu, sebagai 
delegasi"AM/GAM", karena dengan rahmat Allah SWT, kebetulan salah seorang 
Petinggi AM (GAM), sedang berada disana.

Tetapi tidak berapa lama, terbetik kabar baru, yang jema'ah mereka sudah 
mendapat dana besar dan meluak dari (seorang pejuang kaya asal) "Arab Saudi" 
(?)  dan mendapatkan cerita diantara anggota kumpulan jema'ah itu sudah 
berbalahan, sudah bertengkaran: Ada yang mintakan agar jumlah itu dibagi sama 
rata.

Untuk diketahui ada diantara jema'ah itu terekrut adalah pendatang-pendatang 
gelap (haram) Indonesia, yang dengan "berseragam", jema'ah itu dan kumpulan 
itu, terselamat dari gangguan pihak kepolisian Malaysia dan dengan mudah 
mencari makan dengan bebas menjual kitab-kitab agama (Islam) dikaki-kaki lima 
dan disetiap hari Juma'at atau diwaktu bersalat Maghrib dan Insya, didepan 
mana-mana mesjid atau dihari lain, dimalam-malam pekan sari (pekan sehari dalam 
setiap minggu), kini telah membuat tuntutan agar jumlah itu dibagikan sebagai 
untuk membesarkan modal "dagangan" mereka.

Jadi setelah mendapatkan dana besar dan meluak itu, mereka sudah jarang 
kelihatan di persekitaran Kuala Lumpur, kecuali si "jema'ah pedagang" itu dan 
terdengar  berita yang mereka senantiasa di Kuala Pilah, Seremban di markas 
Ustadz Abdullah Sungkar, kecuali seorang asal Kalimatan, yang katanya seorang 
jurnalis dari pihak jema''ah itu, kecuali ada sedikit embelan berita baru yang 
mengatakan mereka sudah mendapatkan "latihan" dari Afganistan?

Seperti diketahui, masa itu Dr Mahathir Muhammad, PM Malysaia, telah juga 
membenarkan kantor perwakilan Afganistan dibuka di Kuala Lumpur. 

Yang menjadi tanda tanya dan terasa pelik, kepada kita, selain dari dana hidup 
jema'ah sebelum mendapakan dana besar dan meluak itu, adalah tentang istri anak 
Achèh yang sarjana pendidikan itu, yang memang berasal dari Achèh Rajeuk, yang 
pernah dipakai sebagai anggota delegasi "AM Gadungan" ke Afrika Utara, yang 
istrinya bekerja sebagai guru, disebuah sekolah yang dikelola oleh pihak KBRI, 
Kuala Lumpur, Malaysia..................................

Sementara kita berbalik ke cerita anak-anak Medan, yang mendakwa sebagai 
anggota Komando Jihad Zubil Usman, yang pernah diketahui Gerakan Komando jihad 
itu sesungguhnya tidak pernah wujud, kecuali terwujud dalam 
file-file dibenak Jenderal Ali Murtopo, sebagai komando jihad, yang dirancang 
khusus oleh Jenderal Ali Murtopo sendiri. 

Seperti anggota-anggota yang terlibat dengan pengeboman-pengebom 
dihalaman gereja-geraja di beberapa kota di Sumatra dan kumpulan Zubil Usman 
sendri, tergulung dengan cepat dalam waktu singkat, seperti menggulung tikar 
plastik China, dikarenakan pengrekrut awal adalah pengrekrut yang pernah 
direkrut oleh Jenderal Ali Murtopo sendiri. 

Dan akhirnya setelah saya berhijrah dan sedang berada di luar Malaysia barulah 
saya ketahui bahwa, jema'ah itu sebagai jema'ah dari kumpulan Jema'ah Islamiah 
dan baru saya sadari pernah ada dua orang anak "Achèh satu macam", seorang asal 
Samalanga dan seorang lagi asal Bayu, pernah dikibuli oleh jema'ah ini dan 
hanya sempat beberapa bulan di Pakistan, tetapi kemudian terus balik kembali ke 
Kuala Lumpur. 

Jadi sehubungan dengan penembakan sipil di Achèh Rajeuk yang sangat-saangat 
dikesali, sudah pasti itu adalah sebuah rekayasa baru, yang lain lagi dan 
sedangkan diyakini bahwa, Bapak Kapolda Achèh, sesungguhnya tidak mengetahui 
telah dibuka kembali file-file "model Jenderal Ali Murtopo" oleh elit yang 
diatas sana dan orang-orang yang dikirim kesana adalah diantara oknum-oknum 
terpilih dengan tugas tertentu dan coba mengibuli anak-anak Achèh tertentu yang 
sudah lama "disuapi" dengan sebuah terminologi lain, ketika Presiden 
Barack Husein Obama akan berkunjung ke Indonesia. 

Dan tidak pula mungkin si "ex-delegasi AM Gadungan", yang asal Achèh Rajeuk itu 
ada peranan, karena si sarjana pendidikan itu, si sarjana teungeuët 24 djeum 
dan sayapun tidak pasti apakah dia itu masih hidup dan bernafas!?

Omar Putéh
Meunasah Reudeuep
Achèh Rajeuk.



Re: |IACSF| TERORIS DI ACEH???
Thu, February 25, 2010 6:22:53 PM
From: Win Wan Nur <[email protected]> View Contact 
To: [email protected] 
 


Itulah susahnya kalau reputasi terlanjur rusak. Padahal, kali ini bisa jadi 
tuduhan mereka itu memang benar, cuma kita memang udah susah untuk percaya 
begitu saja.

Dalam keadaan normal, berita seperti ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan.

Cuma dengan begitu seringnya kebiasaan buruk polisii yang suka merekayasa kasus 
(meskipun tidak mungkin bisa dibuktikan melalui pengadilan) diekspos secara 
nasional oleh media massa, telah membuat berita apapun yang menyangkut tentang 
prestasi polisi, sulit untuk begitu saja dipercaya oleh masyarakat. Termasuk 
soal tertangkapnya sekelompok orang yang berlatih militer yang diduga terkait 
dengan kelompok Jamaah Islamiah ini.

Akibatnya semua jadi terlihat abu-abu

Ketika berita seperti ini mengemuka masyarakat jadi skeptis, apakah memang 
klaim polisi ini benar, atau jangan-jangan seperti yang dialami Antasari.

Padahal kenyataannya, bukan tidak mungkin pula kelompok JI ini memang sudah ada 
di Aceh, karena sekarang kita pun bisa menyaksikan penganut ideologi Islam 
radikal di Aceh sudah mulai berani menunjukkan wajah secara terang-terangan.

Dapat berita seperti ini, bukannya kita bisa mengambil sikap,  yang ada malah 
kebingungan sendiri membuat penafsiran.


________________________________


      

Kirim email ke