Omar Putéh menulis dan tolong mengirimkan untuk saudaraku Wanwinnur ke group 
milis lain, sebagaimana saranan saudara Yusra Habib Abdul Gani

Betul itu saudaraku Wanwinnur, apa yang telah disarankan oleh saudara Yusra 
Habib Abdul Gani itu, sebagai sebuah saranan yang baik.

Begitupun saya berikomentar sedikit: 

Sebenarnya Afrika keseluruhannya dalam perjuangan bangsa-bangsa Afrika merebut 
kemerdekaan mereka, pada umumnya bangsa Afrika sudah memeluk ideology 
"komunisma".

Jadi pengaruh China dan Russia sudah pernah bertapak disana, apalagi banyak 
student-student Afrika diberikan pendidikan di Universitas-Universitas di 
Beijing dan di Moskwa.

Hari ini China, sebaik saja dia mendapatkan laluan lewat WTO, yang disokong 
Amerika sendiri, maka Chinapun mulai mencari market dimana-mana saja dengan 
cara yang pernah dilakukan oleh Jepang: Dumping!

Kalau ada saja mana-mana negara mau beli apa saja barang produksinya dengan 
harga relatip rendah maka China akan melemparkan kepasaran itu, sampai-sampai 
kebarangan yang bisa mengisi kios-kios.

Sampai-sampai barang sovenier, misalnya sovenier kerajinan tangan di Mesir, 
juga mereka hasilkan, persis sama seperti apa-apa yang dibuat disana, tetapi 
dihasilkan dengan "tangan mesin", yang lebih cantik dan lebih menarik.

Sepatu dipasaran Eropah kini sudah didominisasi oleh buatan dari China dan 
Vietnam, sehingga kilang-kilang sepatu Eropah mengeluh, termasuk  kilang 
sepatu Ecco, yang terkenal milik usahawan Danmark-pun bisa kalang kabut menjual 
dagangan mereka. 

Umumnya pasar-pasar di negara-negara Arab dibanjiri barang China dan Korea, 
begitulah juga di Afrika, sehingga sangat terpukul prodak-prodak dari Japan, 
rakan-solid/tradisionil Amerika dari Asia.

Eksport China hari ini, tercatat sebagai yang tertinggi didunia, melangkahi 
dominasi eksport Jerman.

Kegiatan ekplorasi dan produksi minyak di Sudan misalnya sebenarnya bermula 
dari tawaran Petronas-Malaysia dan Bakrie & Co-Indonesia, tetapi mereka 
merangkul China Oil Ltd? agar merekapun bisa berbisnis juga disana. 

Petronas-Malaysia dan Bakri & Co-Indonesia, untuk bisnis mereka di Iran 
merangkul Gazroom dari Rusia, juga sebagai pelindung usaha mereka disana.

Lagi di Afrika, mereka sekarang ini hampir setiap rakyat mereka akan dapat 
membeli tekstil yang sangat murah dari China, sehingga kulit-kulit bangsa 
Afrika sekarang ini, tidak lagi hitam seperti dulu, tetapi sudah berobah 
kecoklat-coklatan, karena sudah bisa ditutupi dengan tekstil China dari terpaan 
cahaya matahari yang menyengat.

Misalnya untuk Ethopia, tanah air King Solomon, Nabi Sulaiman, satu-satunya 
negara yang tidak pernah dijamah oleh penjajah Eropah dan malahan Theodor 
Herzl, Pendiri Negara Yahudi, sebelum mendapatkan tapak negara mereka, setelah 
gagal dari permohonannya dari Ottoman-Turkya, pernah mengahapkan sebuah tapak 
di Ethopia, dimana disanapun bertempat tinggal Yahudi Falasa, pernah menderita 
kelaparan, yang menjadi Agenda Dunia. Dan baru-baru ini juga hampir mengulangi 
pengalaman "kelaparan" lamanya. 

Tun Dr Mahathir Muhammad, Perdana Menteri Malaysia ke 4, terangkat namanya 
ketempat tertinggi dalam pandangan Afrika, adalah karena keberhasilannya 
menghantam Amerika dan Russia, yang menghamburkan uang untuk keangkasa, sedang 
Ethopia, sampai kelaparan tidak bermakan.

Kali ini China, kembali melihat Ethopia, tetapi sekalian melihat ke oil 
reservoirnya, negara berwilayah terbesar kedua di Afrika, yang juga terkenal 
tanah lembahnya dengan kopi Arabiccanya, yang setanding harumnya dengan kopi 
dari dataran tinggi Gayo, di Achèh Sumatra, ketika Eropah dan Amerika 
melengah-lengahkan mereka.

George Walker Bush, dipenghujung masa tugasnya, coba mendekati Afrika kembali 
lewat Tanzania, seperti Barack Hussein Obama lewat Negeria sekalaipun tidak 
melupakan buat pendekatan ke tanah asal orang tuanya di Kenya.

Tetapi sebagimana saudaraku Wanwinnur telah uraikan dibawah, sebenarnya 
bagaimanapun China akan tetap bergantung dengan Amerika, misalnya masalah 
nuklir Iran, tempat bisinis mereka dalam bermain kucing-kucingan!

Apapun China, semjua apa yang dilakukannya seperti mainan tradisi dulu-hingga 
kini: Gambling!

Omar Putéh
Meunasah Reudeuep
Achèh Rajeuk
Achèh Rajeuk 


    




________________________________
From: Yusra Habib Abd Gani Yusra Habib <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, March 31, 2010 7:26:58 AM
Subject: RE: |IACSF| Cina - Amerika: Menonton Pertarungan Koboi Versus Naga

  
 
Win. Ada baiknya kalau artikel ini dikirim juga ke group lain untuk bahan 
diskusi. Atau media cetak, dengan diedit terlebih dahulu tentunya. 
 

________________________________
To: ia...@yahoogroups. com
From: winwan...@yahoo. com
Date: Tue, 30 Mar 2010 11:22:09 -0700
Subject: |IACSF| Cina - Amerika: Menonton Pertarungan Koboi Versus Naga

  
Tanggal 22 dan 23 maret kemarin, dalam artikel http://cetak. kompas.com/ 
read/xml/ 2010/03/22/ 03405994/ china.juga. merangsek. ke..asia. tengah dan 
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2010/03/23/ 03222371/ Rintis.Kembali. 
Jalan.Sutra Kompas dua hari berturut-turut menurunkan berita tentang ekspansi 
Cina membangun pengaruh di Asia Tengah.

Sebelumnya pada awal tahun 2009, Hu Jintao, presiden RRC melakukan safari ke 
Afrika yang kemudian diikuti dengan aksi menebarkan investasi yang hampir 
merata di semua negara afrika, mulai yang terkecil sebesar 330 juta euro untuk 
investasi di bidang pertambangan uranium, minyak dan konstruksi di Niger, 
sampai yang terbesar untuk Sudan dan Ethiopia masing-masing sebesar 15 miliar 
Euro. Di Sudan Cina menggelontorkan uang sebanyak itu untuk berinvestasi di 
bidang perminyakan, pertanian dan konstruksi, sementara di Ethiopia Cina 
menginvestasikan uang sebanyak itu untuk membangun bendungan, perumahan, jalan 
dan telekomunikasi (lengkapnya lihat http://www.lefigaro .fr/assets/ 
pdf/090210- AFRIQUE-CHINE- V2.pdf ). Apa yang dilakukan oleh Cina di Afrika ini 
benar-benar membuat gentar eropa, terutama perancis yang memiliki hubungan 
khusus dengan Afrika karena hampir setengah benua ini adalah bekas jajahan 
mereka dan sampai saat ini pun tetap menggunakan bahasa
 Perancis sebagai bahasa Nasional. Le Figaro, salah satu koran paling 
berpengaruh di negara ini sampai merasa perlu menurunkan berita khusus untuk 
mengulas apa yang dilakukan oleh Cina di Afrika ini dalam artikel ini le Figaro 
menyalahkan sikap perancis yang selama ini kurang begitu mempedulikan Afrika 
sehingga peluang pun disambar oleh Cina (baca : http://www.lefigaro 
.fr/economie/ 2009/02/10/ 04001-20090210AR TFIG00462- pekin-profite- 
des-faiblesses- francaises- en-afrique- .php)

Berita-berita yang diturunkan oleh Kompas dan Le Figaro ini menunjukkan 
tanda-tanda yang begitu jelas kalau di abad ke 21 ini Cina akan dengan serius 
menggerogoti dominasi eropa dan terutama Amerika dalam politik dan ekonomi 
internasional yang telah menjadi hegemoni sejak berakhirnya perang dunia kedua. 
Sekarang dunia melihat Cina begitu giat berusaha membangun pengaruh kuat dalam 
pergaulan internasional.

Dari segi ekonomi apa yang dilakukan Cina ini bisa dipahami sebagai usaha Cina 
untuk membuka pasar baru bagi produk-produk yang mereka hasilkan. Karena 
sebagaimana ekonomi Amerika belakangan ini semakin lama semakin tidak sehat 
karena begitu bergantung pada konsumsi, ekonomi Cina juga juga tidak sehat, 
tapi dengan alasan yang berbanding terbalik dengan Amerika. Ekonomi Cina tidak 
sehat karena justru sangat tergantung pada produksi tanpa didukung oleh 
kemampuan konsumsi yang memadai.

Ekonomi bisa dikatakan sehat wal afiat adalah ketika kemampuan produksi bisa 
diimbangi oleh kemampuan konsumsi. Situasi seperti inilah yang membuat 
Indonesia secara konyol selamat dari terjangan krisis global yang terjadi 
beberapa waktu yang lalu. Saya katakan konyol karena situasi seperti ini 
terjadi bukan karena didesain sedemikian rupa oleh pemerintah Indonesia, tapi 
situasi seperti ini terjadi justru karena ketidak mampuan pemerintah Indonesia 
memacu ekspor. (Jadi teringat ketika dulu ketika krisis ini terjadi saya sempat 
berdebat dengan beberapa miliser perihal efek krisis ini terhadapa Indonesia, 
saat itu banyak miliser yang Amerika sentris yang melecehkan pendapat saya yang 
mengatakan kalau krisis ini tidak akan memiliki dampak yang cukup berarti untuk 
Indonesia)

Krisis yang sama telah membuat negara-negara yang menggantungkan ekonominya 
pada ekspor (di kawasan katakan saja SIngapura dan Thailand) benar-benar babak 
belur dan menderita.

Cina adalah negara yang ekonominya didorong oleh ekspor, bukan impor. Impor 
Cina memang cukup besar juga, tapi barang-barang yang diimpor oleh Cina seperti 
gas, minyak, karet, baja dan berbagai bahan mentah lainnya bukan untuk sekedar 
dikonsumsi sendiri, melainkan digunakan untuk membuat produk yang diolah dan 
kemudian dilempar kembali ke pasar luar negeri.

Pada sisi lain, pada kenyataannya, ekonomi dunia adalah "buyer market" - bukan 
"seller market". Di pasar Internasional, jauh lebih mudah menemukan penjual 
ketimbang pembeli.

Cina sendiri bukan hanya sekedar negara produsen, tapi negara produsen raksasa 
yang benar-benar menggantungkan ekonominya pada kekuatan produksi. Lalu dengan 
status se-raksasa itu kita pun tentu bertanya, siapakah yang menjadi pembeli 
terbesar yang memiliki kemampuan memadai untuk menampung produk Cina yang 
memiliki skala raksasa itu?... jawabannya adalah AMERIKA.

Walmart jaringan supermarket terbesar di Amerika adalah distributor terbesar di 
dunia untuk barang-barang produksi Cina, sebegitu besarnya sampai nilai produk 
Cina yang didistribusikan Walmart bahkan lebih besar daripada ekspor Cina ke 
Jerman.

Dari segi ini, kita bisa melihat bahwa antara Cina dan Amerika terjadi hubungan 
yang dalam pelajaran biologi disebut simbiosis mutualisme, orang Amerika senang 
ke Walmart karena harga produk di sana murah. Dan bagi Cina - Walmart adalah 
motor penggerak ekspor yang menopang ekonomi negara itu.

Tapi masalahnya hubungan seperti ini sifatnya sangatlah rentan alias rapuh, 
karena dalam situasi seperti ini, nasib Cina adalah nasib Amerika. Amerika 
berhenti membeli berarti produk Cina tidak akan laku, artinya menjadi sampah.

Rentannya hubungan seperti ini tampaknya sangat disadari oleh Cina, pada sisi 
lain, mereka juga sadar, adalah sama sekali tidak mungkin untuk memacu 
kemampuan konsumsi warganya secara instant agar mampu mengimbangi dahsyatnya 
kemampuan produksi negara itu.

Lalu apa solusi yang harus diambil dalam menghadapi situasi seperti ini, 
PERLUAS dan kalau perlu CIPTAKAN PASAR BARU! Dan inilah yang tampaknya 
belakangan ini sedang dilakukan dengan gencar dan agresif oleh Cina (salah 
satunya dengan bergabung di CAFTA). Untuk mencapai maksud ini Cina bahkan 
merambah wilayah Asia Tengah dan Afrika, yang selama ini banyak dilupakan oleh 
kekuatan tradisional ekonomi dunia, seperti

Melihat perkembangan aktivitas yang dilakukan oleh Cina ini, Amerika patut 
ketar-ketir. Karena dengan agresifnya Cina menyebarkan pengaruh ini, 
negara-negara yang selama ini bisa dengan mudah disetir oleh Amerika dengan 
memaksakan demokrasi ala mereka dengan berbagai ancaman, sekarang jadi punya 
alternatif lain. Sekarang, kalau Amerika menekan sebuah negara terlalu keras 
dengan alasan HAM dan demokrasi, negara yang bersangkutan akan dengan mudah 
berpaling ke Cina.

Ambil contoh Indonesia misalnya, sekarang Amerika pasti ketar-ketir jika 
terlalu keras menekan Indonesia. Mereka pasti berhitung, bagaimana kalau nanti 
Indonesia mengancam balik dan mengatakan bukan hanya ingin sekedar 
menandatangani perjanjian perdagangan dengan Cina, tapi juga berencana 
melakukan kerja sama militer. Jika ini dilakukan oleh Indonesia, Cina juga 
pasti akan sennang sekali, karena dengan posisi geografisnya yang sangat 
strategis, Indonesia akan bisa menghadang pengaruh Australia di Selatan. 
Apalagi kemudian faktanya Indonesia memiliki sumber daya energi yang sangat 
dibutuhkan Cina.

Keagresifan Cina ini bisa jadi semakin membuat gusar Amerika karena faktanya 
selama ini, sejarah menunjukkan, dari semua musuh Amerika, hanya Cinalah yang 
benar-benar bisa membuat Amerika limbung.

Dulu suatu ketika (seperti AC Milan) pernah ada Uni Sovyet yang pernah menjadi 
superpower menandingi Amerika, tapi sejarah juga menunjukkan kalau dalam 
perkembangan selanjutnya Uni Soviet hancur berantakan, kalah dalam permainan 
politik internasional dengan Amerika.

Dulu ada Sukarno yang begitu garang menyuarakan sikap anti Amerika, tapi 
kemudian dia pun selesai, digulingkan oleh Soeharto yang oleh banyak peneliti 
independen disinyalir dibekingi CIA, dan secara tragis Soeharto juga kemudian 
dia pun terjembab oleh orang yang dulu menaikkannya.

Lalu dalam kelompok anti Amerika ini, ada negara-negara Islam seperti Iran, 
tapi sayangnya negara ini hanya bisa melawan dengan sikap dan kata-kata tanpa 
pernah benar-benar bisa menyakiti Amerika. Dalam kelompok ini ada juga Iraq 
dengan Saddam Hussein-nya, tapi sejarah kembali menunjukkan kalau di amblas 
remuk hancur lebur dihina Amerika dan Irak yang dulu tampak begitu perkasa pun 
menjadi negara tak bertuan yang babak belur sampai hari ini.

Di belahan dunia lain ada Che Guevara dan Fidel Castro yang setengah mati 
melawan pengucilan Amerika, di Chili ada Alliande yang senasib dengan Soekarno 
terkapar di K.O oleh Pinochet yang seperti Soeharto sama-sama dibekingi CIA.

Lalu bagaimana dengan Cina?. Saat masih dipimpin oleh Mao Tse Tung, Cina pernah 
secara gemilang berhasil mengalahkan Amerika dalam perang Korea. Saat itu 
tentara Cina berhasil membunuh banyak tentara Amerika yang dipimpin oleh 
Jendral Mac Arthur yang legendaris, yang mencari gara-gara untuk berperang 
melawan Cina.

Tapi meskipun menang, Cina malah menjadi sangat menderita sebagai akibat dari 
pertempuran yang dimenangkannya itu. Akibat dari perang melawan Amerika itu, 
Cina jadi berhutang banyak pada Uni Soviet yang memberinya hutang senjata. 
Kemudian, Amerika yang sangat malu karena dikalahkan Cina pun semakin parah 
mengucilkan Cina. Lebih parah lagi kemudian hubungan antara Cina dan Soviet pun 
merenggang.

Masalah yang bertubi-tubi ini tentu membuat situasi yang dihadapi Cina menjadi 
sangat sulit. Tapi anehnya, meskipun begitu Cina di bawah pimpinan Mao tidak 
malah mengemis-ngemis minta dikasihani oleh Uni Soviet. Mereka juga sama sekali 
menolak untuk pun mundur dari tantangan Amerika. Dalam menghadapi situasi 
seperti itu, Cina malah menutup diri, bekerja keras dan kemudian Cina membayar 
lunas semua hutangnya kepada Uni Soviet.

Cina di bawah Mao saat itu mirip seperti tim Inter Milan yang merupakan tim 
favorit saya di Liga Italia. Dipuntir begini, diisolasi begitu, di kata-katain 
begini begitu, tetap saja tidak bergeming.

Setelah diperlakukan sedemikian rupa, tapi tidak juga hancur. Seperti Juventus 
dan AC Milan di Liga Italia yang mati kutu menghadapi Inter Milan dengan Jose 
Mourinho-nya (sayangnya dua hari yang lalu Inter dikalahkan Roma), Amerika 
sendiri pun akhirnya mati kutu menghadapi Cina dengan Mao-nya.

Dua kali berperang melawan Cina di bawah Mao, Amerika kalah total, baik di 
Korea maupun di Vietnam. Di Vietnam Cina membantu menyelundupkan senjata, tapi 
akhirnya Cina ikut masuk memerangi dan mengalahkan Vietnam setelah Vietnam 
mulai membunuhi orang-orang etnis Cina di Vietnam.

Keberhasilan Cina mengalahkan Vietnam ini seperti menampar Amerika dengan telak 
di wajah. Dengan keberhasilannya di Vietnam itu, Cina seolah-olah sedang 
mengajari Amerika berperang. Karena sebagaimana kita ketahui bersama, selain 
John Rambo yang perkasa dan tak terkalahkan, tentara yang tergabung dalam 
pasukan Amerika yang lain semua mati kutu di Vietnam (baca : http://www.onwar. 
com/aced/ data/charlie/ chinavietnam1979 .htm)

Akhirnya, mau tidak mau, Amerika melalui Nixon terpaksa berkunjung ke Cina pada 
tahun 1972. Presiden Amerika, mengunjungi negara penganut ideologi komunias 
yang sagat dibencinya, membuat orang pun tidak bisa tidak, membaca kalau 
kunjungan Amerika ini tidak lain adalah "pengakuan Amerika atas kehebatan Cina 
di bawah Mao".

Dalam pertarungan melawan Amerika, Cina pasca Mao malah makin menggila. Cina 
pasca-Mao ini malah berhasil menisbikan kebijakan moneterisme di Amerika dengan 
cara meng-peg mata uangnya (ini membuat Amerika sangat gusar, bahkan beberapa 
hari yang lalu kita membaca berita Amerika mengancam akan melaporkan Cina ke 
WTO). Cina berhasil memaksa Inggris dan Portugis mengembalikan Hong Kong dan 
Makau kepada mereka, Cina berhasil menggerogoti pengaruh Amerika di Asia 
Tenggara. Cina juga berhasil menggoyang loyalitas sekutu Amerika, contohnya 
Australia yang takut ekspor bajanya terganggu secara nyata mengatakan kalau 
mereka tidak akan ikut-ikutan kalau Amerika berperang melawan Cina.

Sial untuk Amerika, ketika Cina demikian lucu-lucunya, yang dengan agresif 
melebarkan pengaruh dalam politik luar negeri, Amerika si super power malah 
dipimpin oleh Barrack Hussein Obama, presiden yang meskipun memiliki latar 
belakang sangat menginternasional tapi kenyataannya spesialisasinya adalah pada 
isu-isu domestik saja. Bukti paling nyata dari hal ini adalah bagaimana Obama 
menghabiskan satu tahun pertama masa pemerintahannya hanya untuk menggoalkan UU 
jaminan kesehatan yang adalah permasalahan domestik. Pilihan yang membuat 
mereka semakin tertinggal oleh Cina dalam berebut pengaruh di dunia.

Wassalam

Win Wan Nur
Fans Inter Milan yang Suka Mengamati Apa Saja.

www.winwannur. blog.com
www.winwannur. blogspot. com



________________________________
Hotmail: Free, trusted and rich email service. Get it now. 



      

Kirim email ke