----- Forwarded Message ----
From: omar puteh <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, May 8, 2010 4:15:00 PM
Subject: Re: |IACSF| Hari ini MPU Aceh menjelaskan hukum mengikuti Paham
Pluralisme dkk..
Omar Putéh menulis:
Gulam Pawoun janganlah menjadikan diri anda sebagai Gulam Berkah, dengan
memberkah semua dengan urot lambidéng.
Dalam diskusi "ulama", saya pun pernah memberikan sedikit masukan,
tetapi saudara Gulam Pawoun belum nonggol lagi, ketika itu, tetapi anak anda
mungkin: Rima binti Gulam Pawoun, dimana disana saya telah mengetengahkan
bahwa, seorang "ulama" Syi'ah dari United Kingdom, dalam sebuah
wawancara prihal fatwa di BBC London-Wold News, pernah mengklaim berbeda dengan
ulama Sunny, yang tampaknya pengklaiman Gulam Pawoun, bapak dari Rima binti
Gulam Pawoun menyamai-nya.
Saya, bukanlah alumnus Balé atau Rangkang atau Dajah atau Dajah Manjang, tetapi
"alumnus" SLA (umum), tetapi bagaimanapun diri saya ini sangat
menyanjung tinggi Keinstitusian Ulama di Achèh.
Dr Tengku Hasan di Tiro dianugrahi gelar dari Keinstusian Tinggi Ulama di Tiro,
dari Dayah Tinggi Tiro dengan gelaran itu sebagai: Tengku Tjhik di Tiro,
sehingga tertulislah nama beliau sebagai Tengku Tjik di Tiro Hasan Muhammad,
yang selalu terkesampingkan titel Doktor Philosophi beliau, menyertai nama
beliau, ketika gelaran tinggi Adat dan Tradisi dari Dayah Tinggi Tiro itu ada
disana.
Dr Tengku Hasan Muhammad dalam kuliah oral dan tulisan beliau telah
pernah berulangkali mengatakan agar masalah Mashab/Khilafiah, Sunni dan Syi'ah
pun tidak perlu diperdebatkan ketika kita sedang memperjuangkan kemerdekaan
Bangsa dan kedaulatan Negara Achèh, ini jauh sebelum MoU Helsinki, Findlandia
2005.
Karena kata beliau lagi, semua masalah di Achèh baik masalah Agama dan
Pemerintahan Negara Achèh, akan diserahkan kepada Ulama. Begitulah penghargaan
yang tinggi dan lambung Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro, sebagai menjanjung
keinstusian tinggi ulama Achèh di Achèh. Beliau pernah juga berkunjung ke
Qom, tempat pusat institusi tinggi dari ulama Syi'ah ketika kunjungan beliau ke
Iran seketika dulu.
Ulama di Achèh, terutama dari Arraniry, Darussalam, juga membaca seluruh
buku-buku atau kitab-kitab dari seluruh buku-buku atau kitab-kitab ulama
didunia sebagaimana Gulam Pawoun pernah baca "barangkali".
Dan Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro dalam sebuah wejangan yang lain pernah
mengatakan dengan menekankan bahwa, tidak ulama dimanapun didunia ini, yang
sebaik ulama-ulama di Achèh, walaupun mereka yang anti terhadap ulama-ulama di
Achèh atau mereka yang berada di luar Achèh menepiknya, itu urusan mereka.
Apalagi mereka-mereka dari orang-orang yang memuji dan memuja "ulama" jenis
dari (George) Berkeley University of California, yang sedang bergentayangan
sekarang dimana-mana, yang kalau dibandingakan dengan jebolan Balai, Rangkang,
Dajah Tjut dan Dajah Manjang, cara mereka beribadah dan bertaqwa kehadapan
Allah SWT, seperti ulama Planet Senen.
Saudara Gulam Pawoun, saya juga belum sempat merespokan tulisan kiriman dari
Harry Ganussy, yang menyimplak anak-anak lulusan pesantren: Balai, Rangkang,
Dajah, Dajah Tjut dan Dajah Manjang, agar hendaknya musti menyerupai benak
pikirannya, yang sebenarnya inmstitusi pendidikan Dajah itu, adalah
berbeda dengan institusi pedidikan Islam lainnya.
Lihat istitusi pendidikan agama Budha dan agama Yahudi misalnya, adalah sama
seperti kehendak arah institusi pendidikan Dajah, dalam membimbing anak
didik-anak didik mereka untuk menjadi Bhiksu dan Rabbi, sebagaimana Ulama di
Achèh.
Sebagai orang Achèh, Gulam Pawoun dibenarkan memakai gelaran Tengku disisi nama
Gulam Pawoun atau dipanggilkan dengan panggilan Tengku Gulam Pawoun, tetapi dua
gelaran lain yang tulisan huruf-nya sama: Tengku, hanya diberikan sebutan itu,
pada Dajah Scholar atau yang di-Tuakan.
Jadi kembali pada masalah sebutan predikat Ulama yang Gulam Pawoun
permasalahkan itu, biarlah saya kemukan lagi bahwa, di Achèh punya kapasitas
Ulama, sehingga dini lagi dari pihak orang tua Achèh sejak dini lagi kembali,
sejak selesai MoU Helsinki, Findlandia temetrai, maka dibentuklah kembali
sebuah wadah baru institusi ulama: MUNA (Majelis Ulama Nanggroë Achèh), yang
Gulam Pawoun dijemput menyertainya, tetapi sedianya sertailah juga Partai Achèh
dengan segera melambaikan nyiur dipantai terhadap Partai Rakjat Aceh!
Saudara Guøam Pawoun, hari saya usahakan bagaimanapun dapat kiranya mengirimkan
overhaul kecil saya terhadap tulisan Jupe-nya Indra Jaya Piliang, nanti kalau
sudah siap dan kalau Gulam Pawoun mau sambung tambahan overhaul, dipersilahkan
dan ditanyakan apa kabar dengan Rima binti Gulam Pawoun? Kirim salam saya dan
saya minggu depan akan bersama Nawa Semesta ke 'Lham Buk.
Omar Putéh
Meunasah Reudeuëp
Achèh Rajeuk
________________________________
From: Teuku Zulkhairi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, May 8, 2010 5:56:22 AM
Subject: Re: |IACSF| Hari ini MPU Aceh menjelaskan hukum mengikuti Paham
Pluralisme dkk..
jadi, Gulam Pawoun yang kita sebut sebagai ulama? ha ha ha ha
--- On Sat, 5/8/10, Gulam Pawoun <gulam.pawoun@ gmail.com> wrote:
>From: Gulam Pawoun <gulam.pawoun@ gmail.com>
>Subject: Re: |IACSF| Hari ini MPU Aceh menjelaskan hukum mengikuti Paham
>Pluralisme dkk..
>To: ia...@yahoogroups. com
>Date: Saturday, May 8, 2010, 3:27 AM
>
>
>
>Teuku, kalo cuma sekedar pendapat nyan hana masalah ... Tapi jgn pake
>embel2 ulama dunk ... Bukannya apa2, banyak orang yang meng-klaim ataw
>di-klaim sebagai ulama tanpa pernah tahu syarat2 seseorang disebut
>ulama ... Coba buka2 kembali arsip milist ni, pernah ada debat soal
>"kelayakan ulama" setahun lalu ... Sejauh ini yang saya fahami, Aceh
>tidak lagi memiliki Ulama Faqih/Teungku Pakeh, jadi apa dasarnya
>sejumlah orang mengaku diri sebagai Majelis Ulama?
>
>On 5/8/10, Teuku Zulkhairi <khairi_panglima@ yahoo.com> wrote:
>> Oh ya itu terserah Gulam Pawoun... La ikraha fiddiin...
>> Tugas org yg menyampaikan ya menyampaiakn saja, urusan percaya atau tdk ya
>> terserah pendengarnya. ..
>> yang penting sudah disampaiakn sebelum semuanya terlambat... .
>> Kalau saya pribadi tdk melihat orangnya, tapi melihat apa yang dikatakannya
>> Gulam Pawoun... jadi bukan krn Prof. Muslim Ibrahim-nya, tapi krn substansi
>> yg beliau sampaikan... .
>>
>> --- On Sat, 5/8/10, Gulam Pawoun <gulam.pawoun@ gmail.com> wrote:
>>
>>
>> From: Gulam Pawoun <gulam.pawoun@ gmail.com>
>> Subject: Re: |IACSF| Hari ini MPU Aceh menjelaskan hukum mengikuti Paham
>> Pluralisme dkk..
>> To: ia...@yahoogroups. com
>> Date: Saturday, May 8, 2010, 3:10 AM
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> Ah Teuku ...
>> Tgk. Muslim Ibrahim tak saya kenali kompetensi fiqih-nya ... Selain
>> belum teruji dalam lapangan filsafat dan hukum kontemporer, dia juga
>> bukan marja' saya, jadi ga da kepatutan bagi saya untuk mengadopsi
>> pandangannya ...
>> Secara pribadi, saya meragukan kompetensi agama dari semua orang yang
>> mengaku Teungku, Abu, Waled, Abon, Abi, Teungku Chik, dll gelar yang
>> biasa mereka pakai di Aceh ...
>> Secara pribadi, saya mengadopsi pandangan "penaklukan intelektual" ...
>> Means, kalo tu orang punya argumen, burhany, atawa practice yg lbh
>> baik, baru saya ikut dia ...
>>
>> On 5/7/10, Teuku Zulkhairi <khairi_panglima@ yahoo.com> wrote:
>>>
>>> Assalamu'alaikum Wr Wbr...
>>> Bagi teman2 di Aceh yg masih bimbang menyikapi serbuan paham pluralisme,
>>> sekulerisme dan liberalisme yang akhir2 ini begitu dahsyat, hari ini ada
>>> penjelasan dari Prof.Dr.Muslim Ibrahim(ketua MPU Aceh) di rubrik
>>> 'Konsultasi
>>> Agama Islam' media Serambi Indonesia(linknya belum bisa sy tampilkan krn
>>> di
>>> web
>>> Serambi blum muncul). Semoga kita masih setia dan tegar berjalan dengan
>>> para
>>> ulama agar kita menjadi org2 yg selamat dunia akhirat...amiin
>>> Ulama adalah pewaris Para Nabi kata Baginda Nabi Besar Muhammad SAW....
>>>
>>>
>>>
>>>
>>
>> --
>> Sent from my mobile device
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
>--
>Sent from my mobile device
>