Meminimalkan Kerugian Saat Memotret


http://www.suarapembaruan.co.id

Kedengarannya sepele, tapi akibatnya cukup fatal. Begitulah masalah yang timbul jika kita salah memegang kamera. Ironisnya, kesalahan ini bukan hanya monopoli para pemula, bahkan juga kalangan profesional terkadang tidak memegang kamera dengan benar. Secara jujur, kesalahan memegang kamera ini terkait erat dengan masalah kebiasaan. Lantas, apakah kita mau terus-menerus menanggung banyak sekali kerugian yang bisa terjadi itu?

Kerugian-kerugian itu antara lain adalah tidak lincah dalam memfokus atau bergoyangnya kamera saat menjepret rana. Pada fotografer jurnalistik (wartawan foto), ketidaklincahan dalam memotret akan merupakan kerugian besar sebab banyak kejadian yang hanya berlangsung sekejap.

Pada prinsipnya, kamera dirancang untuk dijepretkan dengan telunjuk tangan kanan, bukan dengan jari lain atau bahkan dengan tangan kiri. Maka untuk pemotret yang kidal, hal ini sedikit banyak mungkin tidak nyaman, namun harus dilawan dengan kebiasaan.

Pada pemakaian kamera yang berfasilitas otofokus, tangan kiri akhinya semata dipakai untuk menambah kestabilan dalam memegang kamera. Kalau pada kamera sedang terpasang lensa yang panjang, peran tangan kiri dalam menyangga berat kamera memang tidak bisa dihindari.

Untuk kamera saku yang ringan dan berfasilitas otofokus, pemotretan bisa dilakukan dengan satu tangan saja. Dan kamera saku yang beredar memang umumnya dirancang untuk bisa dioperasikan dengan satu tangan.

Pertanyaan yang sering diajukan pemula adalah, perlukah menutup satu mata saat memotret. Untuk menjawab pertanyaan ini, masalah kebiasaan kembali menjadi jawabannya.

Namun kalau belum terlambat, biasakan membidik sambil membuka kedua mata. Fotografer profesional hampir semua membuka kedua matanya saat membidik dan memfokus.

Satu matanya melihat dari jendela bidik sementara mata lain menyaksikan adegan di luar kamera untuk berjaga agar jangan sampai kehilangan beberapa adegan lain yang saat itu tidak terbidik.

Pada pemotretan yang tidak membutuhkan "kewaspadaan" ekstra seperti memotret peragaan busana, konsentrasi mata pada satu titik memang penting.
Namun hal ini pun tidak usah dikaitkan dengan memicingkan salah satu mata. Memicingkan satu mata jelas menuntut konsentrasi ekstra dan ini sering membuat kita terlambat dalam memotret cepat.


Kalau kita membidik dengan mata kiri, maka mata kanan mau tidak mau tertutup secara otomatis oleh badan kamera atau oleh tangan kanan. Dengan membidik memakai mata kiri, tanpa memicingkan mata pun kita sudah mendapat "konsentrasi" dalam membidik.

Setelah paham dengan teknik di atas. Hal lain yang tak kalah penting adalah: perawatan film. Kualitas gambar dan warna pada film sangat dipengaruhi oleh perlakuan kita terhadap film itu sendiri.

Untuk itu sangat penting menjaga kestabilan suhu film sebelum dan sesudah dipakai (18-21 derajat Celcius) selalu memastikan bahwa film itu dalam keadaan baik sejak dibeli (ada di lemari pendingin), memakainya sampai kembali ke laboratorium untuk dicuci.

Letakkan stok film di tempat yang dingin selama berada di lapangan, misalnya memasukkan film ke freezer di hotel. Bila harus masuk ke pedalaman, gunakan cairan khusus pendingin atau es batu yang dimasukkan ke kantong plastik.

Setelah itu masukkan ke kotak kedap udara, di mana udara dingin tidak keluar dan panas tidak masuk. Ambil film untuk pemakaian sehari, misalnya 10 rol, setelah itu dimasukkan lagi.

Letakkan film pada bagian tas yang tidak terlalu kena panas. Misalnya bagian bawah tas. Jauhkan pula dari panas atau uap tubuh. Jangan
 
meletakkan film di dalam mobil, apalagi saat cuaca panas. Setiap film, khususnya slide memiliki kecenderungan warna yang berbeda-beda.

Setelah film aman, kita perlu riset lokasi. Tujuannya adalah mempelajari daerah yang akan dikunjungi atau diliput. Misalnya, berapa besar daerahnya, apa daya tariknya. Jenis foto yang akan diambil. Mengetahui apa yang akan difoto pada akhirnya berpengaruh pada persiapan lensa yang dibawa ke lokasi.

Misal, acara kesenian di malam hari memerlukan aperture yang besar, foto olahraga membutuhkan lensa tele, sementara lensa wide banyak digunakan untuk memotret arsitektur dan lansekap. Selain itu perlu mengetahui fasilitas transportasi dan akomodasi yang ada.

Lalu merencanakan paket kamera. Dalam membuat foto wisata, misalnya, sebaiknya membawa peralatan seringan dan seringkas mungkin.

Untuk itu cukup membawa dua bodi kamera (format medium), lensa pendukungnya masing-masing wide, semi wide, normal, semi tele, tele. Flash, tripod, extension tube, konverter dan prism finder.

Extension tube digunakan untuk menambah kemampuan lensa dalam pemotrean makro atau menambah kemampuan makro pada beberapa lensa yang tak memiliki fasilitas ini.

"Lensa tele yang bisa dibawa adalah 300 mm. Sementara kalau perlu lensa panjang pakai konverter. Untuk yang lebih close-up, bunga misalnya, pakai lensa 250 mm dengan extension tube. Dengan alat ini bisa memotret makro kapan saja. Bawa tripod, selain agar hasil fotonya benar-benar tajam, tripod juga sangat membantu fotografer yang gemar menggunakan film ber-ISO rendah.

Peralatan itu juga harus dikemas dengan baik dan aman. Aman dari perubahan cuaca panas, hujan dan aman dari tangan-tangan jahil di tempat keramaian. Untuk tas kamera, selain kedap air dan memiliki pembagian ruang yang baik, sebaliknya juga tidak menyolok.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah menjaga sebaik mungkin film yang telah terpakai. Setelah selesai memotret, bawalah selalu sendiri film yang telah terpakai di dalam tas. Film itu sangat berarti.

Apalagi bila kita pulang naik pesawat terbang. Kalau diletakkan di dalam koper lalu kena sinar X saat melalui pintu periksa, film akan rusak.

Sementara itu, Informasi yang lengkap tentang daerah itu sangat penting. Saat mengunjungi sebuah tempat, Anda akan bertanya, apakah daya tarik atau kekhasan daerah tersebut. Konsep foto seperti apa yang akan saya buat. Demikian pula saat memotret alam, di mana setiap daerah memiliki kekuatan sendiri.

Yang penting, setelah mengetahui kekuatannya kita juga tahu bagaimana cara menangkap atau membuat fotonya. Soal gaya, bergantung pada masing-masing fotografer, baik teknis maupun pendekatan terhadap objeknya. Setiap fotografer memiliki sudut pandang dan nilai artistik yang berbeda-beda.

Sedangkan untuk mengambil pemandangan yang lebih berdimensi, ada 3 hal yang ditekankan yaitu unsur latar depan (foreground), tengah (objek utama) dan latar belakang (background). Dahan, batang pohon, batu, serumpun bunga, bisa dijadikan latar depan.

Dengan berpindah tempat sedikit saja, kita bisa mendapat foto yang baik. Banyak gambar yang nampaknya biasa saja, tetapi menjai lebih baik setelah saya bergeser sedikit dan menemukan sesuatu, yang bisa menjadi latar depan.

Pada kenyataannya dalam memotret, tentu tidak setiap saat kita menghasilkan foto hebat. Tetapi keinginan untuk membuat seperti itu harus selalu ada. Setidaknya, dalam sehari kita menghasilkan satu saja foto hebat, yang membuat kita benar-benar merasa puas.


RONY SIMANJUNTAK




Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.






Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive  : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting  : [email protected]

-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------

* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List




SPONSORED LINKS
Indonesian languages Indonesian language learn Kamera digital


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke