Link
Oleh Atok Sugiarto
Sepandai-pandai tupai melompat, sesekali gagal (terjatuh) juga. Hal itu bukan sekadar pepatah karena sesungguhnya bisa menjadi kenyataan dan terjadi demikian. Hal itu berlaku bagi siapa pun dalam melakukan suatu pekerjaan atau tugas - tak terkecuali bagi seorang pemotret. Karena itu tak heran bahwa semahir-mahirnya seorang pemotret dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya, suatu saat dia akan mengalami kekeliruan atau kesalahan.
Namun, bagi seorang pemotret yang mahir, kekeliruan atau kesalahan itu setidaknya tak akan sampai membuatnya gagal membuat foto. Kalau pun gagal, tentu bukan kegagalan dalam arti sesungguhnya. Melainkan kurang berhasil mendapatkan suatu hasil pemotretan seperti yang telah dibayangkan dan direncanakan sejak awal.
Mungkin juga bila betul-betul mengalami kegagalan, bisa dipastikan hal itu terjadi karena "kecelakaan" yang di luar batas kemampuannya. Dalam hal ini "kegagalan" seperti itu sangat mungkin bisa terjadi, khususnya pada pemotret yang dikejar-kejar waktu, misalnya wartawan foto.
Mengapa demikian? Tuntutan waktu yang sangat cepat untuk sesegera mungkin membawa hasil pemotretan yang dalam media cetak dikenal dengan istilah dead line (batas waktu) menyerahkan foto. Hal itu memungkinkan untuk terjadinya "kecelakaan" karena si wartawan foto yang bertugas menjadi tidak berkonsentrasi secara penuh.
Pemotret/wartawan foto yang juga sering melakukan pemotretan tanpa perencanaan alias dadakan, atau lebih dikenal dengan istilah on the spot, sangat mungkin mengalami "kecelakaan" alias gagal karena kurang cepat dan sigap melakukan berbagai teknis pemotretan.
Misalnya kesalahan dalam menggunakan kecepatan rana dan diafragma untuk menetapkan pencahayaan yang tepat, atau mungkin juga fokus lensa yang kurang pas (buram).
Meskipun demikian, bukanlah seorang wartawan foto yang baik bila kemudian ia tak mampu menyiasati kegagalan atau kurang berhasilnya suatu pemotretan.
Karena melalui beberapa teknik tertentu, kegagalan sebuah pemotretan memang masih dapat diselamatkan sehingga cukup layak tampil serta dapat dimuat sebagai berita foto dalam media penerbitannya.
Demikian pula halnya bagi seorang pemotret yang kreatif, tentu tak ada istilah gagal dalam menghasilkan foto. Karena foto-foto yang dianggap gagal atau kurang berhasil masih dapat diselamatkannya dengan mempergunakan berbagai teknik. Berarti membuang atau menelantarkan foto-foto yang dianggap gagal merupakan hal yang tak akan dilakukannya.
Mendayagunakan dengan menciptakan berbagai kreasi foto yang dianggap gagal dalam suatu pemotretan, dengan cara mendaur ulang foto-foto tersebut dan menambahkan beberapa unsur penolong adalah pilihan si pemotret tadi. Foto-foto gagal tersebut tidak dibuangnya begitu saja namun diselamatkan.
Secara umum kita memang mengenal berbagai cara untuk menyelamatkan sebuah foto yang dianggap gagal alias kurang bagus karena terjadi suatu keadaan seperti pencahayaan, latar belakang atau mungkin juga karena kesalahan-kesalahan teknis lain yang tak sengaja dilakukan.
Satu di antaranya adalah dengan mentusir. Tapi tusir hanya menyelamatkan foto dalam artian mengoreksi bagian-bagian tertentu yang dianggap mengganggu atau mungkin karena timbul cacat dalam pencetakan. Karena itu meski tusir dapat menyelamatkan sebuah cetakan foto yang gagal, dalam praktiknya tidak banyak membantu mengatasi kegagalan. Khususnya bila kegagalan itu terjadi karena pencahayaan yang kurang tepat (over maupun under).
Selain itu karena tusir secara umum memang tidak sekadar menambal cacat sebuah foto tetapi juga mungkin membuang beberapa bagian dalam foto. Misalnya bagian latar belakang objek karena suatu pertimbangan khusus, di mana foto akan digunakan pada sampul depan suatu majalah sehingga memerlukan teks masuk di dalam foto.
Cara penyelamatan foto yang lain adalah dengan teknik sandwich yaitu teknik menggabungkan dua buah foto. Dalam hal ini sebab negatif atau positif film gagal atau kurang menarik karena terjadi teknik pencahayaan yang kurang (under) mungkin pula karena kelebihan penyinaran (over).
Sandwich
Seperti diketahui, sandwich dalam fotografi adalah penggabungan dua film positif (slide) atau dua film negatif (klise) dalam satu bingkai (frame), untuk direproduksi atau dicetak. Hasil yang diharapkan adalah sebuah foto baru yang berhasil setelah melalui beberapa pengoreksian terutama berhubungan dengan pencahayaan. Karena itu umumnya sandwich dilakukan untuk menyelamatkan sebuah foto yang dianggap gagal karena kelebihan (over) pencahayaan.
Meskipun metode penyelamatannya hanya dengan cara menggabungkan dua foto, pemotret harus berupaya untuk menghasilkan sebuah foto baru yang lebih baik dari foto semula.
Artinya tidak asal menggabungkan dengan menumpuknya begitu saja, meainkan pemotret wajib mempertimbangkan beberapa hal yang agar didapat foto baru yang lebih baik.
Pemotret wajib menentukan dan mempertimbangkan masalah yang menyangkut keindahan suatu gambar, katakanlah dari segi warnanya, penca-hayaan, komposisi atau objek pemotretan itu sendiri. Sehingga dihasilkan foto yang baik, tampak natural, seolah tanpa melalui manipulasi atau suatu proses penggabungan gambar. Lihat foto "Pekerja Listrik" yang menggambarkan sekelompok pekerja sedang memperbaiki kawat listrik tegangan tinggi.
Mengapa foto yang dari sisi objek sudah demikian kuat masih perlu perbaikan atau penyelamatan, dalam hal ini dengan teknik sandwich? Memang untuk keperluan foto berita, foto tersebut sudah cukup berhasil menggambarkan pesannya.
Artinya foto berita yang lebih cenderung menampilkan fakta apa adanya tak memerlukan lagi manipulasi fotografis, sekalipun langit yang melatarbelakangi hasil pemotretan foto "Pekerja Listrik" tersebut kurang mendukung.
Tapi untuk menampilkannya sebagai suatu foto ilustrasi tentang kelistrikan, maka latar belakang langit yang polos itu bisa berarti kegagalan foto. Karena itu bila peruntukannya sebagai foto ilustrasi, maka memang perlu dilakukan penyelamatan sehingga menghasilkan foto yang lebih baik dari aslinya dan tampak wah.
Untuk itu, sebuah foto langit yang memerah dan tampak dramatis dapat dijadikan sebagai pilihan penyelamatan yang menggantikan latar belakang putih polos pada foto asli. Maka kedua foto digabungkan dan hasilnya bisa kita lihat sebagai sebuah foto baru yang berhasil. Paling tidak jika dibandingkan dengan foto asli.
Teknik Sandwich
Secara teknis memang tidak terlampau sulit menyelamatkan foto dengan menggunakan teknik sandwich, setiap pemotret dapat membuatnya. Namun meskipun mudah, satu hal tak boleh dilupakan yaitu berkaitan dengan masalah teknis.
Karena itu bagi yang belum pernah melakukannya, perlu suatu cara tersen-diri agar berhasil. Misalnya memperhatikan dan memperhitungkan pencahayaan kedua film yang akan digabungkan.
Jika gambar utama (dalam hal ini para pekerja listrik tegangan tinggi) yang ingin lebih ditonjolkan, maka sebaiknya pilihan film lain sebagai latar belakang yang akan digabungkan harus yang lebih over pencahayaannya (tampak lebih terang jika menggunakan slide) daripada foto utama.
Demikian juga dengan masalah komposisi, hendaknya menjadi suatu hal yang juga harus diperhitungkan dengan cermat. Agar penumpukan satu bingkai film dengan bingkai film lain menghasilkan suatu foto dengan komposisi yang baik.
Dalam pembuatan foto sandwich "Pekerja Listrik", foto aslinya adalah hasil cetakan foto (print), karena itu saya reproduksi menggunakan film positif (slide) yang dilebihkan pengukuran penyinarannya.
Reproduksi tersebut menghasilkan slide yang over, yang tampak lebih terang (latar belakangnya). Hasil inilah yang kemudian digabungkan dengan slide lain (tentang langit) sebagai latar belakang seperti yang terlihat pada foto kedua.
Tidak semudah itu memang untuk menghasilkan foto sandwich yang baik khususnya berkaitan dengan pencahayaannya. Karena itu pada proses reproduksi slide gabungan tersebut harus dilakukan dengan beberapa kali bidikan (bracketing), dengan melebihkan pengukuran pencahayannya dari 1/2 stop di atas normal, 1 stop di atas normal, hingga 2 stop di atas normal.
Yang juga perlu dipertimbangkan adalah kemampuan pemotret memadukan dua foto yang gagal secara baik. Hal ini berkaitan dengan pemilihan objek dan tentang komposisinya, sehingga tidak menghasilkan foto yang terlampau ramai serta tampak tumpang-tindih.
Tentu saja teknik sandwich dalam fotografi bukan hanya untuk menyelamatkan foto yang gagal tetapi sering dibuat dengan sengaja pada foto atau film yang sesungguhnya cukup baik. Tujuannya adalah untuk mengasah kreativitas atau juga untuk mengusir kejenuhan seorang pemotret. Foto "Pekerja Listrik" jelas tidak terlalu buruk tetapi teknik sandwich dilakukan pada foto itu agar diperoleh foto yang lebih wah, menarik serta menonjol dengan hasil yang tidak terlalu menyimpang dari aslinya.
Bermain-main dengan teknik sandwich adalah sesuatu yang mengasyikkan. Pembuatannya tidak harus dilakukan dengan menggunakan peralatan yang serba mahal. Cukup dengan kamera yang dimiliki maka apa pun yang kita imajinasikan untuk penciptaan sebuah gambar yang lebih indah dapat kita visualkan. Teknik sandwich pun dapat mengusir kejenuhan pada diri seorang pemotret karena dia akan bisa menciptakan gambar yang agak lain daripada yang lain.*
Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.
Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting : [email protected]
-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------
* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List
SPONSORED LINKS
| Indonesian languages | Indonesian language learn | Kamera digital |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "lensa" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
