Potret Dengan Digital
Link
Oleh Atok Sugiarto
Kebutuhan akan foto terasa tak akan ada habisnya dari waktu ke waktu. Kebutuhan itu bahkan tak mungkin lagi dihindari karena hampir semua kegiatan atau keperluan dalam hidup ini tak pernah lepas dari suatu persyaratan yang mengharuskan seseorang memiliki foto diri. Apakah itu foto diri sebagai identitas (pasfoto tiga perempat badan) atau foto diri yang menampakkan seluruh tubuh dengan sedikit gaya.
Karena hal itulah maka kita tak dapat menutup mata dengan perkembangan yang demikian cepat dalam fotografi dan perannya untuk memenuhi kebutuhan itu. Tentu saja dengan memanfaatkan jasa teknologi digital di dalamnya yang memang telah lebih mampu menjawab tuntutan kebutuhan.
Sekalipun fotografi, foto potret atau pasfoto khususnya sering dianggap sebagai suatu pekerjaan yang remeh dan kecil, serta dikesampingkan (karena hanya sebatas menampilkan potret diri seseorang setengah atau tiga perempat badan yang terasa menjemukan), namun dalam perhitungan bisnis tidaklah demikian.
Foto diri atau pasfoto sangat diperhitungkan karena selain dianggap mudah serta efisien dalam perhitungan materinya juga dianggap lebih menguntungkan dalam perhitungan bisnis. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita hampir selalu membutuhkan potret atau foto diri yang hampir tak ada habisnya. Misalnya untuk melamar pekerjaan, keperluan sekolah, ijazah, KTP, kartu karyawan, SIM hingga keperluan pembuatan kartu kredit. Di luar itu foro diperlukan pula untuk memenuhi syarat-syarat tertentu, misalnya untuk keperluan lomba gadis sampul, loba Abang-None Jakarta atau sejenisnya, juga untuk keperluan casting film, sinetron, mungkin juga untuk suatu acara televisi.
Bedanya, untuk persyaratan-persyaratan lain di luar pasfoto tidak terlalu kaku dalam menampilkan foto diri seperti halnya pada pasfoto KTP. Kalau pun diperlukan foto diri setengah badan tetapi bukan foto diri yang tampak diam, kaku, menatap lurus ke arah kamera. Melainkan bisa foto diri yang sedikit tersenyum atau bahkan berpose macam-macam sesuai ketentuan yang dipersyaratkan.
Persyaratan-persyaratan itu sendiri pada masa kini juga sudah tidak lagi sekadar foto diri ukuran 2 x 3, 3 x 4, 4 x 6 cm atau ukuran lainnya yang dibuat dengan film instan. Melainkan foto diri yang sedikit lebih bebas dalam gaya atau pose, tidak frontal menghadap ke depan dan bisa dibuat dengan kamera digital. Pembuatan foto potret, pasfoto atau foto diri dengan kamera digital memang cukup menghemat biaya.
Kelebihan
Memang sayang bila foto diri masih terpola pada sistem lama yang tetap menampilkan orang dalam format setengah badan menghadap kamera secara frontal dan dibuat dengan film instan (Polaroid). Beberapa kelemahan pembuatan foto diri dengan film instan adalah:
- Kualitasnya kurang dibandingkan dengan pemotretan menggunakan film atau cetakan biasa.
- Keawetannya pun kalah dibandingkan dengan cetakan film biasa.
- Tidak aman jika terjadi kesalahan, baik teknis misalnya kurang cahaya (underexposed) atau kelebihan cahaya (overexposed ), kesalahan memfokus maupun kesalahan karena mata subjeknya terpejam.
- Perkembangan fotografi digital telah memberikan solusi amat mudah dan menjawab semua kekurangan yang dilakukan kamera konvensional. Dengan memakai kamera digital pemotret akan menuai beberapa keuntungan seperti:
- Kualitas hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemotretan menggunakan film instan.
- Lebih awet (tahan lama) karena dapat disimpan dalam disket atau CD.
- Menggunakan jenis kertas yang tahan terhadap sinar sehingga tak diperlukan kamar gelap untuk mencetaknya.
- Dijamin aman saat melakukan pemotretan, sebab bila terjadi kesalahan teknis atau hasilnya kurang memuaskan maka foto dapat dihapus kemudian langsung menjepret ulang.
- Untuk menghasilkan cetakan berwarna atau hitam-putih cukup mengganti dan menekan tombol yang tersedia.
- Dapat dicetak dalam berbagai bentuk media, misalkan untuk stiker.
- Berbagai ukuran yang dikehendaki dapat diatur dengan mudah, misalnya 2 x 3, 3 x 4, 4 x 6 cm, dan seterusnya.
- Bisa distempel dan mudah dalam pengoperasian.
Namun demikian, sekalipun kita tahu berbagai kelebihan dan keunggulan serta kemudahan sistem digital, selayaknya pemotret tak perlu mende-dewakan sistem ini. Baik atau buruknya foto tetap tergantung pada kemampuan si pemotret.
Kamera
Untuk membuat potret atau pasfoto, pemotret dapat menggunakan jenis kamera kompak digital yang berkemampuan jepret, hapus dan tanpa risiko biaya.
Namun sekalipun dianggap praktis dan mampu menjawab semua kebutuhan pemotretan, masih perlu diperhatikan berbagai faktor yang memungkinkan timbulnya kesalahan dalam pemotretan, antara lain:
- Harus diketahui unsur kepekaannya, setara dengan apa yang dinamakan ISO pada film konvensional.
- Berapa bukaan diafragmanya saat melakukan pemotretan dengan menggunakan lampu-kilat.
- Setting kualitas gambar sesuai tujuan yang hendak dicapai.
- Bagaimana mengatur white balance (setting filter yang sesuai dengan panas warna sumber cahaya).
- Penggunaan fasilitas zoom jika ada.
Sebagian kamera kompak digital ada yang tidak dilengkapi dengan terminal sinkro dan hot shoe untuk dihubungkan dengan lampu kilat tambahan. Karena itu perlu trik khusus yaitu penggunaan filter warna yang biasanya digunakan untuk lampu kilat.
Cahaya
Baik memotret dengan kamera konvensional, Polaroid maupun digital, soal cahaya atau lighting tetap memegang peranan kunci. Dengan cahaya yang baik pemotret tidak perlu lagi melakukan berbagai koreksi yang memakan waktu dan sangat merepotkan. Persiapan dan perhitungan untuk membuat potret yang baik dan efisien dapat dilakukan sebagai berikut:
- Gunakan lampu kilat dengan payung atau soft-box, cukup dengan satu cahaya saja ditambah reflektor.
- Dekatkan payung atau soft-box sedekat mungkin untuk menghasilkan cahaya yang merata dan tetap halus.
- Letakkan pula reflektor sedekat mungkin secara tepat agar pemantulan cahaya dapat terjadi dengan sempurna.
- Letakkan model atau objek dengan mengambil jarak kurang lebih 30 cm dari background.
Bila lampu-kilat yang digunakan sudah diatur paling kecil tetapi intensitasnya masih terasa lebih besar dari bukaan diafragma, tambahkan filter ND yaitu penyaring lembar plastik tahan panas yang diletakkan di depan lampu-kilat, berwarna abu-abu tetapi tidak menimbulkan efek warna pada objek yang dipotret. Filter ini dapat mengurangi intensitas cahaya hingga 1 sampai 2 stop tergantung tebal tipisnya film agar intensitas cahaya sesuai dengan bukaan diafragma pada kamera.
Potret atau foto diri umumnya memang dibuat dengan menggunakan setting pencahayaan yang baik dan berimbang, misalnya dengan menggunakan lampu minimal dua buah. Akan tetapi dengan menggunakan kamera digital,untuk membuat potret atau foto diri yang baik seorang pemotret cukup menggunakan sebuah lampu, mungkin juga tanpa lampu bila suasana ruangan cukup terang.
Kamera digital mampu melihat dengan baik secara otomatis (menyesuaikan dengan cahaya suatu ruangan) dan menghasilkan foto yang baik serta normal dari sisi pencahayaan.
Hal seperti itu membuat pemotret tak perlu repot-repot mengurus pencahayaan saat membuat pasfoto. Itulah keuntungan menggunakan kamera digital dalam membuat foto diri atau potret. Sederhana, efisien tapi tetap indah.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting : [email protected]
-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------
* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List
SPONSORED LINKS
| Indonesian languages | Indonesian language learn | Kamera digital |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "lensa" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
