Munculnya "Seniman" Pixel




Link

Oleh Rony Simanjuntak

Transformasi dunia fotografi dari analog ke digital tampaknya mengalami percepatan oleh karena kehadiran teknologi komputer. Software Adobe Photoshop, misalnya, memudahkan kita mengolah foto, mulai dari membentuk, mengubah hingga memperbaiki gambar di layar komputer dengan melakukan perubahan pada pixel-pixelnya.

Semakin membuminya komputer juga akan berdampak pada si fotografer maupun pendesain itu sendiri. Saat ini saja di kota-kota besar di Indonesia minilab digital sudah mulai menggeser keberadaan mesin-mesin analog. Bahkan sudah bisa dirasakan adanya ketergantungan dunia fotografi pada teknologi komputer itu dewasa ini. Sebagai konsekuensinya adalah semakin dibutuhkannya orang/SDM yang mampu, piawai dalam mengendalikan komputer. Di samping itu tentunya harus pula memiliki kreativitas dan ide.

Mereka adalah para "seniman" pixel bila kita setuju menyebutnya demikian. Lahan bagi para "seniman" pixel ini masih terbuka lebar. Suatu lahan bagi mereka yang kreatif dan punya ide brilian. Seorang "seniman" pixel yang baik akan mampu mengubah sebuah foto yang biasa-biasa saja menjadi "foto yang aneh" dan menarik perhatian. Bidang pekerjaan seorang "seniman" pixel memang tidak hanya mengutak-atik pixel semata, tetapi ia harus betul-betul mengetahui seluk beluk pixel. Bahkan format yang digunakan dalam pemotretan.

Tidak bisa dimungkiri oleh kita, bahwa hal terpenting dalam membicarakan foto digital adalah masalah resolusi, sebab dari resolusi inilah seorang fotografer atau pun para desainer bisa merekayasa suatu foto menjadi foto yang citranya sama sekali baru. Sesuatu yang belum bisa dilakukan pada 10 tahun lalu.

Dalam fotografi konvensional, kehalusan sebuah gambar jarang dipermasalahkan, sebuah foto nyaris mempunyai kehalusan seperti mata kita memandang sebuah imaji asli. Fotografi konvensional adalah masalah kimia sehingga gambar yang terbentuk adalah masalah kimiawi, sehingga baru memasalahkan kehalusan sebuah gambar kalau sudah mencetak sebesar daun pintu misalnya.

Tidak demikian halnya dengan foto digital. Di sini resolusi sangat berperan. Foto digital selalu menuntut besarnya kehalusan yang diinginkan saat pengolahannya. Meski memang sampai saat ini dalam kehalusan gambar bila dibandingkan dengan foto analog, foto digital relatif sudah tidak kalah lagi.

Di samping itu resolusi sangat terkait dengan potensi pembesaran hasil foto tersebut. Namun, bukan berarti hanya dengan pixel saja Anda dapat menentukan seberapa besar Anda dapat mencetak foto Anda. Karena masih ada satu variabel lagi yaitu resolusi output. Misalnya bila Anda mengambil dengan kamera 6 megapixel (resolusi input), potensi pembesarannya hanya dapat ditentukan jika Anda juga tahu seberapa besar resolusi outpu-tnya, yang dinyatakan dengan satuan dot per inch (dpi) atau pixel per inch (ppi). Perhitungan ini pada dasarnya sangat rumit, namun dapat Anda permudah dengan program Photoshop di menu image size.

Misalnya dengan resolusi input sebesar 6 megapixel tadi (3000 x 2000 pixel), tanpa interpolasi dengan resolusi output sebesar 72 dpi akan dapat menghasilkan pembesaran hingga 70 x 105 cm. Bila diubah ke 150 dpi, akan menjadi 33 x 50 cm dan pada 300 dpi akan menjadi 16 x 25 cm. Berarti bisa disimpulkan bahwa potensi pembesaran sebenarnya lebih banyak bergantung bukan saja hanya kepada jumlah resolusi input itu sendiri, tetapi juga bagaimana Anda mengalokasikan resolusi input tersebut pada suatu bidang cetak. Untuk cetak yang disajikan oleh Photoshop bukanlah harga mati, tetapi nilai rata-rata hasil cetak yang optimal dapat dicapai.

Satu hal lain yang perlu diingat bahwa, bila Anda menggunakan metode interpolasi, perhitungan di atas akan berubah. Perubahannya bisa dilihat pada menu yang sama di Photoshop. Akibatnya kekurangan resolusi input, adalah munculnya gerigi digital pada tepi subjek foto (jaggies). Sedang kekurangan resolusi output akan mengakibatkan foto Anda tampak kasar, karena dengan semakin jauhnya jarak antar pixel, maka pixel tersebut akan tampak seolah membesar. Karenanya penting bagi Anda untuk menentukan nilai yang ideal antara resolusi input dengan resolusi output, agar kemampuan kamera digital Anda lebih optimal lagi.

Selain itu, resolusi sebuah foto digital amat erat hubungannya dengan besarnya file komputer yang terjadi untuk menyimpan foto itu. Semua vendor kamera digital biasanya telah memiliki sebuah metode yang telah distandardisasi mengenai format file (kompresi warna). Anda pun bisa memilih tingkat kompresi warna sesuai kebutuhan. Jika kebutuhannya kuantitas penyimpanan hasil foto di kartu memori, maka format file dengan kompresi yang besarlah pilihannya.

Berbeda dengan resolusi (image size) yang mempengaruhi bagian tepi subjek, sebaliknya format file akan memengaruhi warna yang terkandung dalam sebuah subjek. Logikanya, semakin tinggi kompresi sebuah format file, maka akan semakin sedikit pulalah nilai warna yang terkandung dalam subjek tersebut, akibatnya subjek akan terlihat pecah (warnanya) jika diperbesar, dan kekosongan tangga nada warna akan terlihat, terutama di bagian gelap/abu-abu. Sebaliknya, jika nilai warna ini tidak mengalami kompresi, maka kualitas dan potensi pembesaran hasil foto akan mengikuti kemampuan resolusi kamera tersebut.

Oleh pengguna kamera digital saat ini format file JPEG adalah yang paling akrab ditelinga. JPEG merupakan kepanjangan dari Joint Photograph Expert Group. Format file ini merupakan solusi bagi fotografer akan file yang kecil, namun tetap berkualitas. Jadi tidak mengherankan jika file berformat JPEG itu bisa berukuran sangat kecil. Hal itu berbeda dengan format (Tagged Image Format) TIFF dan RAW. Mode ini tanpa kompresi atau standar warna tanpa kompresi. Karena sifatnya yang tidak terkompresi, maka filenya akan berukuran sangat besar, dan oleh karenanya akan mengandung lebih banyak gradasi warna.

Di sinilah seorang "seniman" pixel itu dituntut keahliannya untuk membedakan sifat dari masing-masing format file. Bukan apa-apa, format file TIFF misalnya mengambil nilai gradasi warna sebesar 12 bit. Keunggulannya, selain bebas kompresi, file ini dapat langsung dibaca dan diedit oleh perangkat lunak umum, seperti Adobe Photoshop, ACDSee dan lain-lain. Sedang file RAW merupakan bentuk file non-kompresi yang diperoleh langsung dari CCD, besar filenya menjadi setengahnya TIFF. Harus diproses menggunakan perangkat kamera bersangkutan. Kelebihannya, format RAW selain karena file pengambilannya yang lebih kecil dari TIFF, setelah dikonversi ia akan memiliki file yang lebih besar dengan kedalaman warna sebesar 16 bit/chanel.

Sementara itu, foto dengan format JPEG hasilnya tampak sedikit lebih kontras, karena nilai kedalaman yang menurun. Jika Anda menggunakan TIFF atau RAW, warna hasil foto akan terlihat lebih lembut dan halus, karena nilai kedalaman warna yang naik. Kamera-kamera digital kelas atas justru akan memberikan hasil foto yang berkontras lembut, namun kaya warna dan warna tidak melenceng sekalipun diperbesar.





Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less.

Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive  : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting  : [email protected]

-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------

* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List




SPONSORED LINKS
Indonesian languages Indonesian language learn Kamera digital


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke