Mengoptimalkan Kamera Saku Anda
Link
Oleh Rony Simanjuntak
Lebaran sebentar lagi. Segala rencana untuk menyambut hari raya itu tentunya telah dipersiapkan sedemikian rupa. Termasuk mengabadikan saat indah dan penuh sukacita itu. Bersilahturahmi atau jalan-jalan adalah bagian yang sudah menjadi tradisi. Sayang jika Anda melewatkan kenangan indah itu berlalu begitu saja.
Mungkin selama ini Anda termasuk orang yang rajin memotret. Tak pernah lupa merekam segala aktivitas berlebaran itu, meski cuma menggunakan kamera saku. Namun hasilnya biasa-biasa saja. Kenapa?
Sebenarnya, kamera saku yang Anda miliki itu bisa lebih optimal lagi hasilnya jika tahu tentang kiatnya. Mungkin Anda akan bertanya, apa saja kiatnya. Dalam perkembangannya, kamera saku pun telah memasuki era autofocus (AF), dan juga dengan lensa yang bisa diubah-ubah panjang fokusnya (zoom). Namun bagaimanapun, kamera saku tetap dirancang untuk dipakai dengan mudah.
Pada praktiknya memotret dengan kamera saku secara umum tidak membutuhkan teori fotografi, yang muluk-muluk namun dibutuhkan pengetahuan praktis dalam menyiasati kamera cerdas itu.
Berbagai pengetahuan praktis ini gampang-gampang susah karena menyangkut pengetahuan tentang sifat dasar yang dimiliki sebuah kamera saku. Kalau Anda memiliki sebuah kamera saku dan mengakui tidak memiliki pengetahuan fotografi layak, hal pertama yang harus diingat adalah pakailah hanya film negatif dengan kepekaan ISO 1000, ISO 200 atau ISO 400.
Kamera saku memang terutama direncanakan untuk dipakai memotret dengan film negatif yang akomodatif terhadap kesalahan pencahayaan dalam pemotretan. Dengan mutu film yang ada di pasaran saat ini, kelebihan atau kekurangan pencahayaan pada film yang tidak terlalu besar masih bisa dikoreksi saat pencetakan foto dilakukan.
Selain itu, saat ini kamera saku terbagi menjadi tiga kelas. Kelas pertama adalah kamera saku paling sederhana yang semua perlengkapannya tidak bisa diubah-ubah setelannya. Kamera saku jenis ini adalah yang paling murah, dan di Indonesia harganya berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.
Dengan tidak adanya bagian kamera yang bisa diubah setelannya, maka pabrik telah mendesain agar kamera dapat adaptif terhadap berbagai kondisi cahaya dan berbagai jarak pemotretan. Sebagian besar kamera saku tipe termurah ini mempunyai ketajaman gambar terbaik pada jarak pemotretan (jarak obyek dan pemotretnya) sekitar 1,5 sampai 2 meter. Di luar jarak itu, mutu gambar memang masih bagus terutama kalau cuma untuk dicetak sebesar kartu pos.
Kecepatan rana kamera saku murah ini tidaklah terlalu besar. Hasil buruk, yaitu objek buram, yang dicapai pada pemotretan dengan ka-mera saku umumnya timbul dari camera shake atau ge-taran pada kamera saat tom-bol ditekan. Saat akan mene-kan tombol, sang pemotret harus yakin kameranya sama sekali tidak berpindah tempat atau bergetar sedikit pun sampai suara "ceklek" berakhir.
Kesalahan lain pada pemakaian kamera saku adalah kacaunya gelap terang pada foto yang tercetak. Kesalahan ini timbul karena arah pemotretan menghadap arah datangnya sinar, misalnya memotret orang dalam rumah dengan latar belakang halaman terang benderang.
Pencahayaan pada kamera saku akan mengukur bagian yang terang, sehingga objek yang lebih gelap dari sekelilingnya akan menjadi gelap sama sekali. Memotretlah dengan keadaan objek menghadap sinar, bukan sebaliknya.
Kamera saku jenis kedua adalah kamera saku otofokus (auto focus) yang mempunyai kemampuan menajamkan imaji objek yang akan kita pilih, secara otomatis. Lensa yang terpasang pada kamera ini mampu mengubah-ubah jarak penajamannya sendiri. Jenis ini umumnya ditandai dengan tulisan "AF" pada badan kameranya yang merupakan singkatan Auto Focus.
Pada saat akan dipakai memotret, yaitu saat tombol mulai ditekan, kamera mengeluarkan sinar infra merah yang tidak terlihat mata manusia. Sinar infra merah ini lalu dipantulkan oleh obyek yang akan difoto dan pantulannya diterima kembali oleh kamera. Lewat pantulan inilah kamera tahu jarak penajaman yang harus dipilihnya.
Pemotretan dengan kamera saku AF yang menghasilkan gambar buram (tidak fokus) terjadi karena pemotret terlalu terburu-buru saat memijit tombol. Kamera be-lum sempat menyesuaikan diri, jepretan telanjur terjadi. Sebaiknya kalau memotret dengan kamera saku AF, tekan dulu tombol sedikit sekitar dua detik, baru kemudian ditekan sampai bunyi "ceklek" terjadi.
Kesalahan lain dengan pemakaian kamera ini adalah saat memotret objek yang terpencar, misalnya memotret dua orang di depan kita. Kamera menyesuaikan penyetelan jarak penajaman berdasarkan pantulan yang datang dari benda tepat di depannya.
Jadi bila ada dua orang di depan kamera, dan kebetulan titik tengah bidikan jatuh pada celah antara kedua orang itu, mau tidak mau kamera akan menyesuaikan penyesuaian penajaman pada benda yang ada di antara dua orang itu.
Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya saat menekan tombol penyesuaian fokus (belum menjepret), titik tengah bidang bidik yang tampak dimata di arahkan pada salah satu dari dua orang yang akan dipotret. Lalu dengan hati-hati geserlah kamera sampai mendapatkan komposisi yang diinginkan, barulah jepretkan kamera. Yang perlu diingat lagi adalah, apa yang tampak di mata dari lubang bidik selalu tajam sementara di film belum tentu.
Mata manusia melihat dengan tajam di lubang bidik karena punya fasilitas ter-sendiri untuk itu, sementara kamera butuh penyetelan yang memakan waktu walau cuma sejenak.
Kamera saku jenis ketiga adalah yang paling mutakhir. Di samping memiliki kemampuan otofokus, kamera ini juga bisa diubah-ubah panjang fokalnya. Istilah kerennya bisa di zoom. Bisa menjadi tele dan bisa pula menjadi lensa sudut lebar (wide angle lens). Umumnya rentang zoom kamera ini bervariasi dari 28 mm sampai 135 mm.
Pemakaian kamera dengan kondisi lensa dalam keadaan terpendek umumnya sudah mampu untuk memotret berbagai keperluan umum. Sedangkan Lensa sudut lebar bisa dipakai untuk memotret orang dalam jumlah besar yang berjejer melebar. Atau juga untuk memotret pemandangan dengan bidang cakup seluas-luasnya.
Dengan pemilihan sudut lebar, wajah yang dipotret mau tidak mau harus dekat sekali dengan kamera. Hal ini akan menimbulkan kesalahan paralaks, atau kesalahan letak bidik. Apa yang tampak di mata belum tentu yang tampak di film, terkecuali kamera yang sudah jenis digital sebab objek yang akan dibidik itu akan tampil di layar LCD.
Bagi lubang bidik tampak di tengah, namun bagi lubang lensa bisa menjadi di samping. Sebenarnya di lubang bidik ada garis koreksi, yaitu garis yang membentuk segi empat lebih kecil daripada segi empat tepi lubang bidik. Garis inilah yang harus dijadikan acuan kalau memotret pada jarak sangat dekat.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__._,_.___
Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting : [email protected]
-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------
* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List
SPONSORED LINKS
| Indonesian languages | Indonesian language learn | Kamera digital |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "lensa" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
