Foto Celah Kehidupan
Link
Oleh Atok Sugiarto
Celah kehidupan memang selalu menarik untuk dijadikan objek pemotretan. Kemenarikan yang tidak hanya karena kemudahan menemukannya, tetapi lebih sering dipicu oleh apa yang terjadi, dilihat, dan terasa menyentuh bagi kita. Baik itu aktivitas manusia dalam adat budaya suatu masyarakat tertentu maupun aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang sering terasa biasa bagi mata namun menarik bagi berita gambar.
Bagi pemotret yang terbiasa mengamati masalah-masalah sosial atau yang selalu menempatkan diri sebagai pengamat, untuk mendapatkan suatu rekaman foto mengenai celah kehidupan tak akan terlalu sulit dilakukan. Untuk memotret celah kehidupan manusia khususnya, kebanyakan dari para pemotret sering menggunakan teknik candid atau cara memotret yang dilakukan dengan "sembunyi-sembunyi" sehingga menghasilkan foto yang alamiah karena objek tidak tahu jika dirinya sedang dipotret.
Apa pun alasannya, memotret dengan cara candid memang sering digunakan khususnya oleh para wartawan foto karena memang dianggap cara yang efektif, baik dan cepat guna mendapatkan foto yang tampak wajar. Di media cetak foto-foto celah kehidupan (yang mengandung berita) mengesankan kewajaran sehingga tampak betul-betul asli dalam aktivitas objeknya. Foto seperti ini memiliki nilai lebih tersendiri.
Namun, foto celah kehidupan bisa saja dibuat tanpa dimaksudkan sebagai suatu laporan berita foto. Hal ini tentu saja dilakukan dengan menggunakan suatu pendekatan tertentu pada objeknya serta mengatur berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan khususnya berkaitan dengan penyinaran. Dengan demikian dapat dihasilkan foto yang betul-betul baik sekaligus indah dan menyentuh.
Pendekatan langsung pada objek dengan memintanya melakukan aktivitasnya memang terasa lebih baik dan etis. Terlebih bila objek dengan senang hati mau melakukannya. Hal seperti itu akan memberikan keleluasan bagi pemotret untuk mengatur pose, penyinaran maupun latar belakang pemotretannya. Tapi ada kelemahan dari melakukan cara ini. Yaitu bila pemotret tidak betul-betul dapat mengatasi keadaan atau mendramatisasi situasinya maka hanya akan menghasilkan foto yang tampak kaku, tidak wajar dan kurang kuat ekspresinya. Karena meskipun objek tidak melihat langsung ke arah kamera, sesungguhnya dia sudah tahu bahwa sedang dijadikan objek pemotretan. Karena itu maka satu hal yang patut dikuasai pemotret adalah menjadikan objeknya seolah-olah betul-betul tidak sedang berhadapan dengan kamera.
Persiapan
Untuk menghasilkan foto celah kehidupan yang baik, menarik dan tentu saja tetap indah dan menyentuh, secara teknis dapat dilakukan dengan mengadakan persiapan. Hal ini bisa saja dilakukan dengan memilih kamera dan lensa yang akan digunakan. Sebuah kamera berfasilitas lensa zoom 80-200 mm dan 20-35 mm adalah kombinasi yang cukup baik. Peralatan memotret seperti ini menjadikan pemotret hampir dapat melakukan pemotretan sekaligus dari jarak dekat, sedang dan jauh bila diperlukan.
Untuk merekam celah kehidupan manusia sehari-hari dengan lensa 80-200 mm rasanya sudah cukup dapat memenuhi keinginan untuk menghasilkan foto yang diinginkan dengan baik. Khususnya bila pemotret memiliki kepekaan yang baik serta cermat mengamati keadaan sekeliling.
Setelah persiapan kamera dan lensanya, maka tentu saja perlu menyiapkan film yang digunakan. Dalam hal ini film dengan kepekaan atau ISO 100 sudah memadai untuk menangkap aktivitas manusia dan lingkungannya atau kegiatan sehari-hari yang terjadi pada pagi, siang hingga sore hari di luar ruangan. Namun bila aktivitas manusia itu berhubungan erat dengan gerak yang cepat dan pemotret ingin menangkap gerakan-gerakan tersebut, maka perlu disiapkan atau digunakan film yang mampu membekukan gerakan tadi. Yaitu film ber-ISO tinggi misalnya ISO 400. Tujuannya agar gerakan dapat terekam dengan baik tanpa goyang.
Bagi yang menggunakan kamera digital persoalan film/memory card memang tidak menjadi masalah. Soalnya pada sistem kerja kamera digital dapat dilakukan proses jepret lalu hapus sesaat sesudah menekan tombol pelepas rana kamera. Jika foto yang dibuat kurang sesuai keinginan maka dapat langsung dilakukan pengulangan dengan menghapus yang jelek dan menggantinya dengan memotret lagi tanpa risiko biaya dan habisnya memory card. Namun jika dikehendaki untuk menyimpan hasil pemotretan yang banyak menggunakan kamera digital, tetap harus disiapkan tambahan memory card.
Dengan kamera digital maka persoalan ISO pada film tak perlu dikhawatirkan. Perlu ISO berapa tinggal ubah saja pada tiap bingkai pemotretan. Bahkan dengan kamera digital pilihan foto berwarna atau hitam-putih dapat diubah-ubah sesuai keinginan.
Aksesori tambahan terkadang diperlukan dalam memotret celah kehidupan, untuk mendramatisir keadaan. Karena itu sesekali juga perlu membawa filter. Filter polarisasi (PL) misalnya dapat membantu menggelapkan atau membirukan langit serta mengurangi refleksi. Beberapa filter koreksi warna untuk menghangatkan juga perlu dibawa. Pada kamera digital hal koreksi warna ini memang dapat dilakukan di komputer, tapi alangkah lebih baik bila soal ini sudah langsung dikerjakan saat pemotretan dengan bantuan filter.
Bila pemotretan dilakukan pada waktu hari menjelang malam atau mungkin juga pada malam hari, maka lampu kilat (flash) perlu disiapkan. Lampu kilat dengan jenis TTL adalah lampu kilat yang sangat menguntungkan untuk perburuan celah kehidupan.
Beberapa Saran
Saya pribadi dalam memotret celah kehidupan lebih sering dengan cara candid atau sembunyi-sembunyi. Hal itu tentu karena kecenderungan ingin menampilkan foto yang apa adanya. Akan tetapi tehnik candid menjadikan seorang pemotret harus bekerja secara cermat, tangkas dan refleks. Akibatnya si pemotret perlu latihan yang baik tentang cara menggunakan kamera dan lensa serta melatih diri untuk jeli mengamati kejadian-kejadian yang menyentuh.
Memotret celah kehidupan juga sering saya kerjakan melalui proses kerja melakukan pendekatan terhadap situasi maupun objeknya jika ada. Hal ini lebih karena lensa yang saya gunakan mengharuskan untuk memotret dari jarak dekat. Kelemahan dari cara ini, yaitu sering menghasilkan foto dengan objek yang tampak tidak wajar alias kaku. Untuk mengatasinya maka pemotret perlu berupaya menyatu lebih dahulu dengan lingkungan atau objeknya. Bila kehadiran pemotret sudah dirasa tidak mengganggu dan terasa telah menyatu dengan objek maka baru dilakukan pemotretan.
Pada banyak kejadian celah kehidupan memang banyak saya buat dengan menggunakan lensa zoom 80-200 mm. Tapi bukan berarti lensa lain tidak andal untuk mendapatkan foto celah kehidupan. Lensa apa pun dapat digunakan untuk membuat foto celah kehidupan yang baik, kuncinya pada kemampuan pemotret dalam mencairkan suatu suasana sehingga apa yang dilakukan objek menjadi tampak wajar.
Pilihan sudut pandang atau sudut pengambilan foto yang tepat dan baik juga ikut menentukan. Dengan kata lain, keberhasilan pemotretan itu sangat berkaitan erat pula dengan hal-hal di luar teknis pemotretan. Celah kehidupan secara umum adalah peristiwa kemanusian, karena itu sebagai manusia tentu kita akan dengan mudah membuatnya jika kita mengerti dan menghayati segala aktivitas dalam kehidupan ini secara wajar, dramatis, utuh dan menyentuh.
Sneak preview the all-new Yahoo.com. It's not radically different. Just radically better. __._,_.___
Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting : [email protected]
-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------
* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List
SPONSORED LINKS
| Indonesian languages | Indonesian language learn | Kamera digital |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "lensa" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
