Manipulasi dalam Fotografi
Link
Oleh Atok Sugiarto
Pada sebuah tampilan foto, yang pertama kali menjadi pusat perhatian adalah sesuatu yang paling mengesankan di dalam foto tersebut. Bila yang paling mengesankan itu adalah tampilan warnanya, warna tersebut pastilah akan menjadi pusat perhatian setiap mata yang melihat. Demikian pula dengan objek yang difoto, bila objeknya sangat menonjol, mungkin gayanya (model) atau bentuknya (benda) serta ketajaman gambarnya - baik ketajaman fotografis maupun fokus ceritanya, maka foto tersebut akan menjadi pusat perhatian.
Karena hal itulah tidak sulit untuk menemukan maksud serta tujuan suatu foto yang dihasilkan seorang pemotret hanya dengan memperhatikan fokus peristiwa yang diabadikannya. Dan karena hal itulah sering kali kita saksikan agar sebuah foto mampu bercerita atau fokus pada masalah - seperti yang diharapkan, maka pada saat mencetak dilakukan manipulasi dengan mempertajam warna suatu objek atau meng-crop - menghilangkan sesuatu yang dianggap merusak fokus (suasananya), yaitu membuang bagian-bagian tertentu yang tidak dikehendaki dalam foto dengan cara tidak mencetaknya.
Meskipun tindakan demikian (manipulasi) sering kali digunakan untuk menyelamatkan atau memperindah sebuah gambar, tak bisa dilakukan begitu saja hanya demi memenuhi keindahan suatu hasil pemotretan. Khususnya dalam hasil ini jika sebuah foto dimaksudkan untuk suatu publikasi atau foto
berita pada sebuah media cetak, karena dianggap menghasilkan foto yang tidak apa adanya. Dalam fotografi jurnalistik, fakta adalah sesuatu yang utama daripada keindahan.
Tindakan menyelamatkan foto sekaligus juga menyelamatkan pemotret yang umumnya dianggap sah dan bebas dilakukan tersebut alangkah baiknya jika tidak memasukkan sesuatu yang mengganggu objek utama atau menghilangkannya dengan cara cropping. Sesungguhnya masih banyak cara manipulasi untuk menyelamatkan sebuah foto yang secara otomatis juga menyelamatkan sang pemotretnya, terlebih di era yang sudah serbadigital ini. Karena hanya dengan menggunakan fasilitas software komputer, segala keinginan memanipulasi foto/gambar dapat dengan mudah dilakukan. Dengan fasilitas ini tak ada lagi kekurangan yang terjadi dengan foto yang tidak dapat diperbaiki.
Lalu bagaimana dengan fotografi analog? Sesungguhnya tindakan cropping, yaitu menghilangkan bagian-bagian tertentu dengan tidak mencetaknya dan tusir, yaitu memperbaiki suatu foto dengan menambahkan sesuatu pada foto objek yang berada dalam bingkai dengan menggunakan pewarna foto ataupun dengan burning in yaitu "membakar" sebagian dari objek juga sudah merupakan tindakan manipulasi.
Tusir Digital
Tusir adalah sebuah kemajuan teknologi kimia di mana dengan suatu alat dapat menghilangkan suatu noda pada sebuah foto. Tusir yang mempunyai fungsi sebenarnya untuk menghilangkan cacat pada foto akibat proses laboratorium. Misalnya negatif tergores atau karena penyimpanan yang kurang tepat, kini telah berkembang menjadi suatu cara atau bentuk penyelamatan foto.
Dengan tusir yang bagus tak jarang menjadikan munculnya pertanyaan-pertanyaan khususnya tentang keindahan suatu foto. Karena dengan tusir kita dapat membuat suatu foto menjadi lebih utuh kembali tanpa terlihat kekurangannya. Pada fotografi analog tusir memang kebanykan hanya dilakukan untuk memperbaiki cacat foto pada saat pencetakan dilakukan dengan menggunakan kuas kecil yang lembut dan lemas. Tetapi tusir pada fotografi digital karena kemampuannya yang lebih luas menjadi lebih bersifat manipulatif. Yaitu memungkinkan terjadinya perubahan keseluruhan isi foto, baik cacat pada foto, warna pada foto hingga berbagai kemungkinan menghilangkan suatu benda pada objek.
Artinya tusir yang pada awalnya hanya untuk mengatasi persoalan cacat atau sedikit kekurangan pada foto, dengan digital hal bersifat darurat tersebut telah berubah menjadi suatu hal yang utama dalam
membuat gambar atau foto. Pergeseran makna tersebut menjadikan hasil gambar atau foto yang dibuat digital sering dianggap sebagai foto yang tidak orisinal.
Sebuah foto yang telah mendapatkan sentuhan tusir, baik analog maupun digital, memang sudah bukan foto asli lagi. Karenanya untuk keperluan fotografi jurnalistik atau fotografi media cetak, di mana keaslian berita gambar merupakan hal yang utama, tidak diangap sah jika telah dimanipulasi. Hilangnya atau berubahnya bagian-bagian tertentu dalam fotografi jurnalistik bisa dianggap sesuatu yang menyesatkan. Akan tetapi sah-sah saja dan memang kegiatan tusir-menusir itu banyak dilakukan media cetak bila foto yang dimaksud digunakan untuk keperluan sampul suatu majalah, misalnya.
Namun demikian hal tersebut pasti juga dilakukan atas dasar pertimbangan atau
kebijaksanaan ingin memasukkan teks-teks artikel dalam majalah pada foto sampul tersebut. Dan jika sudah demikian, rasanya masalahnya sudah bukan lagi masalah tusir yang mempunyai tujuan memperbaiki tampilan sebuah foto, melainkan sebuah garapan seni grafis yang memanfaatkan foto sebagai media utamanya. Sehingga foto sampul majalah tersebut dapat kita artikan sebagai foto ilustrasi.
Ilustratif
Perkembangan dunia fotografi sendiri hingga saat ini memang telah sangat maju. Sehingga untuk keperluan suatu perbaikan pada foto yang dianggap gagal atau kurang pas karena mengalami cacat pada waktu pencetakan sudah bukan masalah yang rumit.
Dengan menggunakan komputer dan software-nya, foto yang dianggap gagal karena suatu goresan atau foto yang
kurang kontras, kurang terang, kurang fokus, kurang blur, dan lain lain, dapat diperbaiki dengan mudah. Karena itu pada perkembangannya foto untuk keperluan apa pun dapat diartikan sebagai foto ilustratif karena dasar pengerjaannya yang cenderung mengandalkan kemampuan software digital.
Jika sudah demikian, memang tak ada lagi kendala yang berarti untuk menghasilkan sebuah foto indah dan menarik, sekalipun itu suatu peristiwa yang teramat sulit difoto atau difoto secara asal-asalan. Karena dengan menggunakan software digital, seorang amatir pun akan dengan mudah menghasilkan sebuah foto yang indah jika dirinya menguasai komputer.
Manipulasi fotografi dengan olahan digital memang sudah dianggap sebagai sesuatu yang sah sebagai karya foto. Cepat atau lambat perkembangan fenomena digital ini pun akan
memicu lahirnya seniman-seniman pixel (bukan lagi seniman foto). Karena itu, pada saatnya nanti, sebaiknya dapat dipisahkan dalam menilai sebuah foto yang betul-betul foto asli (hasil dari sebuah rekaman gambar tanpa manipulasi) dan foto ilustrasi, foto yang sengaja dibuat melalui olahan software komputer.
Manipulasi fotografi itu sendiri, jika fotonya dimaksudkan sebagai suatu karya foto yang tetap asli dan sah sebagai sebuah karya foto - misalnya foto berita yang melaporkan berita gambar - sebaiknya tidak berlebihan dalam melakukan perbaikan (tusir). Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai hasil manipulasi, karena tidak adanya perubahan bentuk, warna atau isi foto.
Siap atau tidak, pemotret yang bergelut dalam bidang fotografi digital harus menguasai komputer. Karena segala sesuatu yang dihasilkan
dengan foto digital harus bersinggungan dengan komputer.
Namun manipulasi gambar digital yang dapat dibuat dengan mudah menggunakan fasilitas yang ada di dalam komputer, sebaiknya tidak menjadikan si fotografer malas untuk membuat foto yang orisinal. Tinggal bagaimana pemotret menyikapi pilihan, apakah ingin tetap menjadi seorang seniman foto (pemotret) atau seniman pixel.*
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less. __._,_.___
Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting : [email protected]
-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------
* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "lensa" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
