Foto Musibah
yang Menggugah
yang Menggugah
Link
Oleh Eddy Suntoro
Kalau kita perhatikan, beberapa minggu terakhir ini, berita-berita tragedi kemanusiaan yang menyedihkan hampir mewarnai semua media massa, khususnya surat kabar di Tanah Air. Berita tersebut tidak hanya dalam bentuk tulisan laporan kejadian, tetapi ditampilkan pula foto berita untuk mendukung berita tulis.
Melihat foto-foto musibah yang merenggut jiwa manusia seperti tabrakan, wabah penyakit demam berdarah, gempa bumi di Alor, Nabire, kecelakaan pesawat Lion di Bandara Adi Sumarmo, Solo, dan yang baru terjadi adalah gempa disertai gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam serta Sumatera Utara, tentu selain menimbulkan rasa duka mendalam, menggugah rasa kemanusiaan kita.
Musibah atau tragedi pada dasarnya selalu akrab dengan kehidupan manusia karena bisa terjadi dan menimpa siapa saja. Manakala peristiwa tragedi nun jauh di sana, dan dapat disajikan dalam bentuk berita gambar hanya selang beberapa waktu setelah peristiwa terjadi, maka ia mampu dengan cepat menimbulkan perhatian dan simpati serta menggugah perasaan kemanusiaan seseorang. Tentu hal tersebut bisa membuat simpati, bahkan ada yang siap membantu orang yang mendapat musibah.
Di balik tersajinya gambar-gambar dramatis tersebut, tentu tidak terlepas berkat kerja keras para fotografer, baik yang bekerja di media massa maupun amatir yang meliput kejadian tersebut.
Mereka inilah yang dengan gigih melihat dan mendengar terjadinya suatu peristiwa. Lalu, tanpa diperintah segera datang ke lokasi untuk melakukan pemotretan bagi wartawan foto atau penulisan berita pada wartawan tulis.
Khususnya di kalangan fotografer, mereka bahkan seakan-akan berlomba-lomba datang secepatnya ke lokasi kejadian, hanya untuk merekam berita foto terkini dan eksklusif.
Membawa Kamera
Salah satu kiat para fotografer agar bisa cepat datang ke lokasi dan menghasilkan gambar ekslusif adalah ke mana dan di mana saja selalu membawa kamera. Sehingga begitu ada kejadian/peristiwa penting yang perlu secepatnya diketahui khalayak, dapat langsung diabadikan dan disajikan di medianya masing-masing.
Melihat persaingan yang begitu ketat antar media massa untuk dapat menyajikan berita dan gambar eksklusif, maka hampir semua pemimpin media massa selalu mengingatkan semua koresponden yang ada di daerah, selain lebih proaktif dalam memburu berita, juga tidak lupa agar saat mengirim laporan tertulis, juga disertai foto (gambar). Terutama jika peristiwa itu adalah peristiwa besar sehingga berita dan fotonya bisa eksklusif. karena hanya media itulah yang paling utama menyajikannya.
Kecepatan para fotografer dalam memburu gambar-gambar tersebut sangat penting. Sebab jika sedikit saja terlambat tiba di lokasi, besar kemungkinan momen atau objek yang akan dipotret tidak ada lagi karena sudah dilakukan evakuasi, berubah posisinya, atau pemotret dilarang masuk ke lokasi kejadian.
Kalau sudah kehilangan momen, maka berita yang dikirim akan kalah bersaing, karena tidak ada gambarnya. Untuk mengatasi kesulitan mencari gambar, karena koresponden di daerah tidak memiliki fotonya, biasanya media massa berani membeli gambar hasil bidikan fotografer amatir, walaupun dengan harga tinggi.
Mengingat peristiwa atau tragedi di belahan bumi ini tidak dapat diketahui kapan terjadinya, dan walaupun dapat diketahui, jangkauan atau medan yang dituju sulit didatangi, maka hal tersebut merupakan peluang besar bagi para fotografer untuk "menjual hasil bidikannya" kepada media massa.
Kiat Fotografer
Selain keterampilan memotret yang memadai, bagi para fotografer yang ingin berburu peristiwa-peristiwa besar dan mengomersialkan hasil bidikannya, selain syarat tidak lupa membawa kamera ke mana dan di mana saja, juga ada persyaratan lain. Yaitu kecepatan dan keterampilan membuat keterangan gambar (caption).
Selain cepatnya si fotografer datang ke lokasi kejadian, dia pun harus cepat dalam menawarkan dan mengirimkan gambar hasil bidikannya ke media massa yang mau menggunakan foto hasil bidikannya itu. Kecepatan tersebut sangat penting untuk mengejar aktualitas berita, sehingga beritanya tidak basi karena sudah dimuat media massa lain.
Agar gambar yang dihasilkan dapat memenuhi standar foto berita untuk media massa, disarankan agar si fotografer memotret subjek dari berbagai sudut pemotretan atau komposisi yang berbeda. Sehingga dihasilkan beragam gambar di lokasi kejadian.
Urut-urutan foto juga baik, misalnya ada gambar pesawat yang mengalami celaka, pelaksanaan evakuasi korban dan sebagainya. Foto-foto tersebut diharapkan mampu menggugah perasaan kemanusiaan bagi siapa saja yang melihatnya.
Agar gambar yang dijual atau dikirim ke media massa dapat menerangkan apa yang ditampilkan dalam gambar, maka sertakan keterangan foto (caption) pada masing-masing foto yang dihasilkan. Keterangan tersebut harus memenuhi kaidah jurnalistik yang lebih dikenal dengan rumusan 5W dan 1H, yaitu what, where, who, when, why dan how. Keterangan tersebut akan memudahkan redaksi media massa memahami pesan yang disampaikan dalam gambar dan melakukan editing seperlunya.
Dari uraian di atas, setiap fotografer pada dasarnya dapat menghasilkan gambar-gambar musibah dan dramatik yang mampu menggugah perasaan kemanusiaan seseorang. Masalahnya terpulang kembali pada setiap fotografer. Apakah akan membiarkan begitu saja sebuah peristiwa-sekalipun di depan mata-berlalu begitu saja, atau maukah ia bekerja keras dan berkreasi untuk berburu dan mengabadikan momen-momen tersebut?
Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out. __._,_.___
http://lensa.multiply.com/
SPONSORED LINKS
| Kamera digital | Indonesian language course | Indonesian language learn |
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
