Banda Aceh, 13/9

Menyikapi Insiden Mapolres Berdarah, Mahasiswa Aceh di Banda Aceh yang
tergabung dalam berbagai kelompok Aksi seperti WAKAMPAS, SMUR Aceh, MAFIA,
FARMEDIA akan menggelar Aksi di DEpan POLDA Aceh. Mahasiswa mengutuk
insiden tersebut dan menuntut tanggung jawab militer yang teruas-menerus
membantai rakyat. Dan kali ini justru masyarakat yang sedang melakukan aksi
secara damai di Tapak Tuan.Hingga berita ini diturunkan mahasiswa sedang
bergerak menuju Polda Aceh.  






Ekses Penyerbuan Polres Aceh Selatan:
                         15 Tertembak, 2 Tewas, Ratusan Hilang

     BANDA ACEH (Waspada): Ekses penyerbuan Mapolres Aceh Selatan, di
Tapaktuan,
     menyebabkan 15 orang tertembak, dua di antaranya tewas dan ratusan
lainnya belum kembali ke
     rumah. 

     Dua orang yang tewas, M. Yusuf, 46, warga Desa Silalo, Kec. Kluet
Utara, luka tembak pada
     rusuk kiri menembus ke kanan dan tewas di TKP, Sabtu (12/9). Sedangkan
Abubakar, 45, warga
     Ladang Tuha, Kec. Kluet Utara, meninggal pada malam harinya di RSU
dr.Yulidin Away. 

     Enam dari 13 orang yang menderita luka tembak terpaksa dirujuk ke RSU
Cut Nyak Dhien,
     Meulaboh, karena luka serius yang dialaminya. Satu orang dirawat di
RSU dr. Yulidin Away,
     Tapaktuan, dan enam lainnya berstatus berobat jalan. 

     Para korban penembakan yang dirawat di Meulaboh, Zainun AR, 41, warga
Sineubok, luka tembak
     pada mata kiri hingga ke telinga kiri, Suardi, 29, warga Terbangan,
luka tembak pada perut
     menembus ke ginjal dan bahu kiri, Rustam, 21, warga Kota Fajar, luka
tembak menembus kaki
     kanan, Samsuar, 41, warga Rasian, luka tembak menembus lutut kanan,
Sulaiman, 25, warga
     Teupin Gajah, luka tembak pada bahu kanan menembus ke belakang,
Mustazar, 26, warga Suak
     Geringging, Kuala Bak U, luka tembak menembus pada bagian perut. Semua
korban yang dirawat
     ini, warga Kecamatan Kluet Utara. 

     Desi, 15, warga Ujong Pasi, Lhok Bengkuang, Tapaktuan, luka tembak
pada kaki kanan dan lecet
     pada bagian belakang kepala masih dirawat di RSU dr. Yulidin Away,
Tapaktuan. 

     Enam lainnya yang menderita luka tembak dan sekarang berstatus rawat
jalan, Mawardi, 32, warga
     Terbangan, luka tembak di kaki kanan, Bahrum, 29, warga Teupin Gajah,
luka lecet pada bagian
     tubuh, Buchari, 32, juga warga Teupin Gajah, luka tembak pada perut,
Nasruddin, 30, warga
     Padang Rasian, luka tembak pada kepala bagian kiri, semuanya berasal
dari Kec. Kluet Utara, serta
     Salmina, 22, warga Rantau Benuang, Kec. Kluet Selatan, luka tembak
menembus siku kiri dan
     Hasbar, 22, Lurah Pasar Tapaktuan, Kec. Tapaktuan, luka tembak di bahu
kiri. 

     Menurut saksi mata kepada Waspada, selain memburu penduduk, aparat
kepolisian juga menembak
     sejumlah ban dan memecahkan kaca depan truk pengangkut massa, Ratusan
warga yang sempat
     ditahan sudah dilepas pihak aparat. Sedangkan puluhan lainnya, masih
diperiksa untuk mencari
     dalang pelaku. 

     Suasana pada hari itu, persis bagai arena perang, tembak-menembak
berlangsung sekitar setengah
     jam lebih. Ratusan penduduk yang lari ke gunung-gunung belum kembali. 

     Kota Tapaktuan sejak peristiwa itu sunyi senyap pada malam hari karena
ketakutan dan hari pekan
     di Kota Fajar, Kluet Utara, yang semestinya berlangsung Minggu (12/9),
batal karena masyarakat
     tidak berani keluar rumah. 

     Kapolda Aceh, Kol. Pol. Drs Bahrumsyah, ketika Waspada hubungi, Senin
(13/9) dinihari sekitar
     pukul 00:30 menyayangkan peristiwa itu terjadi. Ia menduga, ada pihak
lain yang bermain di balik
     peristiwa ini dengan mencoba menjadikan masyarakat sebagai tameng
seperti dalam peristiwa
     Simpang KKA. 

     Buktinya, kata Bachrum, seyogianya polisi sudah setuju untuk menerima
enam wakil dari
     masyarakat. Tapi suasana tiba-tiba menjadi gaduh setelah adanya pihak
di deretan belakang
     kerumunan massa dan belakang penduduk, serentak menghujani peluru ke
arah Mapolres. 

     Aksi rada brutal ini, didahului dengan pelemparan yang mengenai lima
polisi. Namun juga polisi tidak
     terpancing untuk membalasnya. Mereka datang menuntut agar Raja Faisal,
yang diduga keras
     terlibat penganiayaan dan pembunuhan terhadap Kopka Solihin, Anggota
Polsek Kluet Utara, Rabu
     (8/9). supaya dilepas dari tahanan Polres. 

     Kata Kapolda melalui telepon mereka mengaitkan penahanan Raja Faisal
dalam kasus razia jilbab.
     Padahal tidak ada hubungan sama sekali. Ia mengimbau agar masyarakat
tidak gampang diboncengi
     dan dipengaruhi oleh sikap kelompok tertentu yang bertujuan
mengacaukan daerah ini.
     (b02/b24/cik) 

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]



Kirim email ke