Kawan-kawan, 

Untuk menyambung diskusi mengenai rekayasa genetika, berikut ini sebuah
surat terbuka dari beberapa ilmuwan dunia, termasuk dari AS dan Eropa serta
Jepang yang mewanti-wanti bahaya lingkungan dan kesehatan dari pelepasan
danpenggunaan produk rekayasa genetika. Teks lengkapnya dapat diperoleh
dengan membuka website mereka. Demikian pula referensi dari beberapa temuan
ilmiah. 

Berkaitan dengan isi surat ini maka artikel dari Witjak yang menggambarkan
manfaat rekayasa genetika mungkin bisa dijadikan bahan pembanding. 

Salam
hira


Surat Terbuka
Institute of Science in Society
Website: www.i-sis.dircon.co.uk

21 Oktober,1999

Surat Terbuka dari Ilmuwan Dunia kepada Seluruh Pemerintah



Kami para ilmuwan yang bertandatangan dibawah ini, meminta penghentian
sementara (suspension)  dengan segera  seluruh pelepasan tanaman hasil
rekayasa genetika (GM crops/Genetically Modified Crops) dan produk hasil
rekayasa genetik (GM Product/Genetically Modified Products) ke alam;
pembatalan dan larangan pemberian paten atas makhluk hidup dan
proses-proses hidup (living processes); dan  penyelidikan publik  yang
komprehensif tentang masa depan pertanian dan keamanan pangan untuk seluruh
umat manusia. 
1.      Paten atas makhluk hidup dan  proses mengancam kemananan pangan, 
memperkuat  penjarahan  pengetahuan tradisional (indigenous knowledge) dan
sumber daya genetik,  melanggar hak asasi  dan martabat manusia,
mempertaruhkan kesehatan, merintangi riset keilmuwan  dan medis, dan
bertentangan dengan kesejahteraan hewan. Jasad hidup seperti organisme,
benih-benih, garis  sel (cell line) dan gen merupakan penemuan 
(discoveries) dan tidak dapat dipatenkan. Teknik-teknik GM yang
mengekploitasi proses-proses hidup tidak dapat diandalkan,  tidak dapat
dikontrol dan tidak dapat diperkirakan, serta tidak memenuhi kualifikasi
sebagai penciptaan (invention). Lebih jauh lagi, teknik-teknik tersebut
berbahaya secara ineheren sebagaimana banyak produk atau organisme hasil
rekayasa genetika. 
2. Semakin jelas bahwa tanaman hasil rekayasa genetika saat ini tidak
dibutuhkan dan juga tidak menguntungkan. Tanaman transgenik merupakan
penyimpangan yang berbahaya dari pekerjaan menyediakan  pangan dan
kesehatan di seluruh dunia.
3. Janji yang diberikan oleh tanaman rekayasa genetik, seperti untuk
mengikat nitrogen, tahan kemarau, meningkatkan hasil, dan "memberi makan"
bagi dunia telah didengung-dengungkan sejak 30 tahun lalu. Janji-janji
tersebut telah membangun industri bernilai jutaan dolar yang dikontrol
hanya oleh sekelompok kecil perusahaan raksasa. 

4. Keajaiban tanaman hasil rekayasa genetika tak terwujud. Sebaliknya,   
semua tanaman hasil rekayasa genetika di dunia hanya mempunyai dua ciri
sederhana. Lebih dari 70 %  tanaman hasil rekayasa genetika tahan terhadap
herbisida berspektrum  luas, dimana  perusahaan merekayasa  tanaman  agar 
menjadi tahan terhadap herbisida buatan mereka sendiri. Sisanya direkayasa
dengan toksin bt (bt-toxins) untuk membunuh hama serangga.  Sekitar 65 juta
acre lahan di AS, Argentina, dan Kanada ditanami dengan tanaman hasil
rekayasa genetika pada tahun 1998. Survey  terakhir di AS sebagai negara
pengembang tanaman hasil rekayasa genetika terbesar, memperlihatkan tidak
adanya keuntungan yang signifikan.  Panen kedelai tahan herbisida, tanaman
hasil rekayasa genetika yang paling banyak dibudidayakan ternyata  6.7 %
lebih rendah  dibandingkan dengan kedelai biasa, dan membutuhkan herbisida
dua sampai lima kali lebih banyak dari herbisida yang dibutuhkan untuk
penanaman kedelai alami.
   
5. Menurut Program pangan PBB,  terdapat cukup pangan untuk memberikan
makan orang sejumlah 1,5 kali populasi dunia. Hasil sereal dunia secara
konsisten telah melampaui pertumbuhan populasi sejak tahun 1980, tetapi
masih ada satu milyar  orang yang kelaparan. Hal ini merupakan akibat dari
praktek monopoli yang dilakukan perusahaan dibawah bendera globalisasi
ekonomi dimana yang miskin semakin menjadi miskin dan lapar. Petani kecil
di seluruh dunia menjadi semakin miskin dan terpaksa 'bunuh diri'  akibat
kondisi tersebut.  Antara tahun 1993 dan 1997 jumlah pertanian ukuran
menengah di AS turun sebanyak 74.440 dan saat ini  petani mendapat
penghasilan dibawah biaya produksi rata-rata untuk produksi mereka. Kini,
empat perusahaan  mengkontrol 85 % perdagangan sereal seluruh dunia.
6. Paten baru atas benih akan mengintensifkan monopoli perusahaan dengan
mencegah petani  menyimpan dan menanam kembali benih-benih mereka, dimana
dua kegiatan tersebut masih dilakukan oleh para petani di negara dunia
ketiga. Christian Aid, sebuah organisasi sosial besar yang bekerja dengan
negara dunia ketiga, menyimpulkan bahwa tanaman hasil rekayasa genetika
akan menyebabkan pengangguran, membuat hutang negara dunia ketiga semakin
banyak, mengancam sistem pertanian berkelanjutan, dan merusak lingkungan
hidup. Sehingga dapat diramalkan akan terjadi kelaparan di negara-negara
termiskin dunia.

7. Sebuah koalisi kelompok keluarga petani (family farming) di AS,
mengeluarkan  daftar tuntutan  yang komprehensif, termasuk penolakan
terhadap kepemilikan segala bentuk makhluk hidup; penangguhan penjualan,
pelepasan, dan persetujuan lebih jauh terhadap semua tanaman dan produk
hasil rekayasa genetika sampai dihasilkan suatu analisis yang komprehensif
(assesment) mengenai dampak sosial, lingkungan hidup, kesehatan dan
ekonomis yang ditimbulkan tanaman hasil rekayasa genetika; dan agar 
perusahaan dibebani  pertanggungjawaban atas semua kerusakan yang
disebabkan oleh tanaman hasil rekayasa genetika dan produknya terhadap
ternak, manusia dan lingkungan. Mereka juga meminta penangguhan atas semua
merger dan akuisisi perusahaan, penangguhan atas penutupan  lahan
pertanian, dan permintaan untuk mengakhiri kebijakan-kebijakan pemerintah
yang 'melayani' kepentingan agribisnis besar yang mengorbankan keluarga
petani,  pembayar pajak, dan lingkungan hidup.

8. Bahaya tanaman hasil rekayasa genetika kini mulai nampak, beberapa
diantaranya bahkan diakui oleh sumber-sumber di pemerintahan  AS dan
Inggris. Sebagai contoh,  Kementrian Pertanian, Perikanan dan Pangan atau
MAFF ( Ministry of Agriculture, Fisheries and Food) Inggris mengakui bahwa
perpindahan (transfer) tanaman hasil rekayasa genetika maupun pollennya
(serbuk sari)  ke luar lahan tak dapat dicegah, dan hal ini telah
menciptakan gulma  yang tahan herbisida. Hama Serangga yang tahan terhadap
Bt-toxin lambat laun berkembang sebagai respon keberadaan toxin tersebut
secara terus menerus dalam tanaman hasil rekayasa genetika selama musim
tanam, dan lembaga Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (U.S.
Environment Protection Agency) memberikan rekomendasi kepada para petani
untuk menanam  tanaman non-rekayasa  hingga  40% dengan maksud untuk 
menciptakan 'tempat aman' bagi hama serangga  yang tidak resisten. 
Herbisida berspektrum luas yang digunakan dengan tanaman hasil rekayasa
genetika yang resisten terhadap herbisida tak hanya membunuh spesies liar
secara tak pandang bulu, tetapi juga beracun bagi binatang-binatang. Satu
diantaranya, yaitu glufosinat' menyebabkan cacat lahir pada  mamalia.
Sebuah studi yang Swedia sekarang ini mengkaitkan herbisida terlaris,
'glyphosate' dengan penyakit non-Hodgkin Lymphoma. Tanaman hasil rekayasa
genetika dengan bt-toxin membunuh serangga yang menguntungkan seperti,
lebah dam  dan serbuk sari dari jagung-bt mematikan kupu-kupu.  Ditemukan
fakta bahwa kentang yang direkayasa dengan  'snowdrop lectin'  dapat
mengancam kepik, dan sekarang dikonfirmasikan bahwa kentang tersebut
beracun bagi anak tikus.

9. Produk yang dihasilkan dari organisme hasil rekayasa genetika juga telah
diketahui bahayanya. Sebagai contoh,  satu kelompok tryptophan yang
dihasilkan oleh mikroorganisme hasil rekayasa genetik dikaitkan dengan 
paling tidak 37 kasus kematian dan 1500 penyakit parah. Hormon pertumbuhan
Bovine hasil rekayasa genetik yang disuntikkan ke sapi untuk meningkatkan
hasil susu  tidak hanya menyebabkan penderitaan dan penyakit  pada sapi
tetapi juga meningkatkan kandungan IGF-1 dalam susu sapi, yang dikaitkan
dengan  penyebab kanker  prostat dan payudara pada manusia. Sehingga
masyarakat perlu dilindungi dari dari semua produk hasil rekayasa genetik
dan tidak hanya produk hasil rekayasa genetik yang mengandung DNA atau
protein transgenik.

10. Sumber potensi bahaya bagi kesehatan dari tanaman hasil rekasaya
genetika  adalah transfer horisontal sekunder DNA transgenik kepada spesies
yang tak berhubungan;  secara prinsip, kepada  semua spesies yang
berinteraksi dengan tanaman transgenik. Penyebaran gen penanda resistensi
terhadap antibiotik pada  patogen merupakan  bahaya yang paling mendesak
larema alam  lebih jauh mempengaruhi  pengobatan terhadap penyakit yang
tahan terhadap obat dan antibiotik yang kini kembali merebak di seluruh
dunia. Masuknya DNA asing secara acak kedalam genom yang berkaitan  dengan
transfer horisontal DNA transgenik juga dapat menimbulkan efek berbahaya,
termasuk kanker pada sel-sel mamalia. Potensi transfer gen secara
horisontal ini sekarang juga telah diakui oleh berbagai sumber di
pemerintah AS dan Inggris.

11. Kemungkinan masuknya 'naked (telanjang)  DNA' atau 'free (bebas) DNA' 
dalam sel-sel mamalia secara eksplisit dinyatakan dalam  draft panduan U.S.
Food and Drug Administration (FDA) untuk  industri  gen penanda yang tahan
antibiotik. Menanggapi dokumen FDA tersebut, MAFF Inggris, menyatakan bahwa
DNA Transgenik dapat berpindah tak hanya melalui 'saluran pencernaan,
tetapi juga melalui kontak dengan debu tanaman dan serbuk sari yang terbang
selama melakukan pekerjaan tani  dan mengolah makanan, dan melaporkan  pula
 beberapa penemuan baru yang signifikan tentang  masalah tersebut.

12.  Dengan demikian,  DNA tanaman tidak mudah diuraikan pada saat
pengolahan makanan komersial. Prosedur seperti penggilingan  membiarkan 
DNA biji-bijian  tetap utuh, demikian pula pemanasan  sampai 90 derajat
celcius. Tanaman disimpan dalam gudang penunjukkan degradasi  DNA yang
rendah, dan laporan khusus MAFF Inggris menyarankan agar tidak menggunakan
tanaman transgenik yang telah disimpan di gudang  untuk makanan hewan.

13. Surat dari MAFF Inggris kepada FDA AS juga menyebutkan penemuan baru 
bahwa mulut manusia mengandung  bakteri yang dapat mengambil  DNA telanjang
yang mengandung  gen resistensi terhadap antibiotik;     bakteri yang dapat
berubah  seperti ini juga  terdapat dalam  saluran  pernafasan manusia.
14. Tetapi kedua instansi tersebut gagal  mempertimbangkan bahwa  bahwa
serbuk sari transgenik selain dapat meningkatkan tingkat alergenitas dan
keracunan juga  pasti dapat  menyebar jauh ke luar ladang.  Begitu pula,
praktek  yang tidak diatur saat ini dalam hal  memberi makan  ternak dengan
biji-bijian dan sisa-sisa tanaman transgenik, serta  limbah transgenik,
baik  yang sudah mengalami penyimpanan maupun tidak,  berbahaya bagi
kesehatan hewan ternak dan manusia dalam hal penyebaran  gen penanda
resistensi antibiotik  dan DNA transgenik lainnya.

15. Kekhawatiran lain tentang dampak kesehatan ditimbulkan pula oleh
cauliflower  mosaic viral promoter  (CaMV) dalam DNA  transgenik. CaMV
promoter, yang  banyak digunakan  dalam 'expression cassettes' transgen, 
diketahui mengandung 'recombination hotspot'. Salah satu mekanisme
rekombinasi yang biasa digunakan adalah   memisahkan dan menggabungkan  
DNA berantai ganda ( 'double-stranded DNA' ) dengan DNA berantai ganda
lainnya. Hal ini diidentifikasi sebagai mekanisme yang mengembangkan
berbagai macam garis/galur  padi transgenik yang berbeda selama percobaan
transformasi rutin. Rekombinasi ekstensif  pada hotspot telah terjadi
walaupun tidak ada rekombinase viral, yang menunjukkan bahwa sel tanaman
dapat mengkatalisis rekombinasi demikian. Jadi,  CaMV promoter mengalami
peningkatan  kemampuan untuk melakuan transfer horizontal, dengan potensi
membawa akibat berbahaya. 

16. CaMV  erat terkait dengan virus hepatitis B pada manusia, dan  juga
memiliki sebuah gen trankskriptase reversal (reverse transcriptase gene)
yang  berkaitan dengan yang ada pada  retrovirus seperti HIV penyebab AIDS.
Jadi,  CaMV  promoter tak hanya meningkatkan  transfer gen horisontal,
tetapi memiliki potensi untuk mengaktifkan kembali  'virus yang dorman
(yang ada dalam semua genom) dan untuk menghasilkan virus-virus baru
melalui  rekombinasi.

17. British Medical Association (Persatuan Dokter Inggeris) dalam laporan
interim mereka ( diterbitkan pada bulan Mei 1999), menyerukan  moratorium
tak berjangka  atas pelepasan GMOs selama belum ada hasil  riset lebih jauh
mengenai alergi baru, penyebaran gen resistensi antibiotik   dan dampak 
DNA transgenik. Posisi ini  selaras dengan prinsip pencegahan dini
(precautionary principle).

18. Berlawanan dengan  klaim pemerintah Inggris, tidak ada hasil berguna
yang dapat  dicapai dalam percobaan lapangan kanola dan jagung  transgenik
yang tahan terhadap herbisida  dimana penyebaran serbuk sari  transgenik
tak dapat dikendalikan, sementara instansi  tidak ada rusaha untuk
memonitor transfer gen horisontal ataupun dampaknya bagi kesehatan.

19. Kami mendesak semua pemerintah untuk secara serius mempertimbangkan
bukti ilmiah yang substansial tentang ini  bahaya yang ditimbulkan oleh
teknologi rekayasa genetik serta banyak produknya.  Kami juga   mendesak
semua pemerintah untuk memberlakukan moratorium pada pelepasan organisme
hasil rekayasa genetik yang baru sesuai dengan  prinsip 'pencegahan dini'
serta  merundingkan sebuah Protokol Keamanan Hayati (Biosafety Protocol)
Internasional yang kuat dan efektif dibawah Konvensi Keanekaragaman Hayati
(CBD), dan menjamin bahwa legislasi keamanan hayati baik di tingkat
nasional maupun  internasional lebih dipentingkan daripada  
perjanjian-perjanjian perdagangan dan finansial WTO.

20. Riset tentang  sistem pertanian non-korporasi yang berkelanjutan dan
tidak melibatkan tanaman transgenik  harus secara luas didukung. Banyak
sistem tersebut terbukti meningkatkan hasil panen bagi keluarga petani,
mengurangi dampak lingkungan dan memperbaiki gizi serta kesehatan seluruh
umat manusia. 
 
Pernyataan Ilmuwan Dunia ini diluncurkan di Cartagena, Kolombia, (Feb.
1999) selama Konferensi Internasional tentang Biosafety Protocol, UN
Convention of Biological Diversity, dan menghimabu  semua pemerintah untuk:
Memberlakukan moratorium  resmi  sesegera mungkin atas pelepasan tanaman, 
makanan dan pakan ternak transgenik ke lingkungan selama paling sedikit
lima tahun.
Melarang  Paten atas organisme hidup, cell lines dan gen.
Mendukung penyelidikan  publik yang independen tentang  masa depan
pertanian dan ketahanan  panagan bagi semua, dengan mempertimbangkan
seluruh temuan ilmiah serta  implikasi etika dan sosial ekonomi-nya.

Ditandatangani oleh 136 ilmuwan  dari 27 negara.





-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/




Kirim email ke