MUHAMAD MENGAJARKAN SOSIALISME JAUH SEBELUM KARL MARX
Oleh: Alam Tulus
Menurut "Buku putih" (G.30-S Pemberontakan PKI) yang diterbitkan
oleh Sekneg pada tahun
1994, bahwa pertentangan di dalam tubuh SI mencapai puncaknya pada Kongres
Nasional VI SI
bulan Oktober 1921 di Surabaya. Fraksi komunis yang dipimpin oleh Semaun dan
Tan Malaka
berusaha mengendalikan dan menguasai jalannya Kongres, tapi usaha mereka ini
ditentang oleh
seorang tokoh SI, H.Agus Salim. H. Agus Salim menjawab semua argumen Semaun
dan Tan
Malaka dengan mengatakan bahwa, "Nabi Muhammad SAW sudah mengajarkan
sosialisme sejak
seribu dua ratus tahun sebelum Karl Marx" (hal: 11).
Sangat sayang, H. Agus Salim tidak menjelaskan isi ajaran Sosialisme
yang diberikan Nabi
Muhammad tsb dan juga tidak menjelaskan mengapa setelah 14 abad lamanya,
ajaran sosialisme
yang diajarkan Nabi Muhammad itu belum membumi. Ajaran sosialisme dari Nabi
Muhammad tsb
tentu bersumber dari dari Al Quran.
Marilah kita kaji ayat-ayat yang terdapat dalam Al Quran dan
tanggapan sementara
tokoh-tokoh agama Islam terhadap sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad
tsb.
KONSEP KEADILAN KOLEKTIF
Islam pada dasarnya merupakan agama pembebasan, ujar Mansour Fakih
dalam tulisannya
"Mencari Teologi untuk Kaum Tertindas".
Seperti diketahui di Mekkah pada zaman Nabi lahir, adalah salah satu
pusat perdagangan dan
transaksi komersial internasional. Keadaan ini melahirkan Mekkah menjadi
pusat kapitalisme, yakni
terbentuk karena proses korporasi antar suku, yang menguasai dan memonopoli
perdagangan
kawasan Bizantium. Watak kapitalisme yang mengakumulasikan kapital dan
memutarnya demi keuntungan yang lebih besar ini, berjalan melawan norma
suku-suku di Semenanjung Arab pada saat itu. Akibat dari budaya kapitalisme
tsb, lahirlah ketimpangan dan kesenjangan sosial di Mekkah, yakni semakin
melebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Dalam konteks inilah
sesungguhnya Muhammad lahir.
Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa perlawanan terhadap Muhammad
oleh kaum kapitalis Mekkah, sebenarnya lebih karena ketakutan terhadap
doktrin egalitarian yang dibawakan oleh
Muhammad. Oleh karena itu persoalan yang timbul antara kelompok elite Mekkah
dan Muhammad
sebenarnya, bukan seperti yang banyak diduga umat Islam, yakni hanya
persoalan "keyakinan
agama", akan tetapi lebih bersumber pada ketakutan terhadap konsekuensi
sosial ekonomi, dari
doktrin Muhammad yang melawan segala bentuk dominasi ekonomi, pemusatan dan
monopoli harta. Dalam kaitan ini sesungguhnya misi utama Muhammad adalah
dalam rangka membebaskan
masyarakat dari segala bentuk penindasan dan ketidak adilan.
Dalam perspektif teologi kaum tertindas, ujar Mansour Fakih, peran
seorang Rasul seperti
Muhammad, Isa dan yang lain adalah sebagai seorang pembebas kaum tertindas.
Musa, misalnya,
sebagaimana Muhammad juga, tugas utamanya adalah membebaskan bangsa Israil
dari penindasan
dan eksploitasi yang dilakukan Firaun. Watak dari teologi pembebasan untuk
kaum tertindas ini,
selanjutnya juga telah dikembangkan oleh kelompok Khawarij. Merekalah yang
pertama-tama
dalam sejarah Islam mengembangkan doktrin demokrasi dan sosialisme agama.
Kebangkitan gerakan Khawarij juga dilatar belakangi oleh fenomena
kontradiksi ekonomi yang muncul dalam bentuk persoalan kepemimpinan dan
masyarakat. Kontradiksi inimelahirkan kelompok Khawarij, suatu aliran yang
menekankan pada konsep keadilan kolektif. Konsep keadilan kolektif inilah
yang jadi asal muasal pandangan sosialistis dalam Islam (hal: 172-173, dalam
buku "Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam", 1989)
Sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad tsb tentu adalah sosialisme
yang hendak
membebaskan kaum tertindas dan menjadikan kaum tertindas tsb sebagai
pemimpin di bumi dan itu
adalah tingkat rendah dari masyarakat Tauhidi (ummat yang satu, tanpa
kelas-kelas).
SOSIALISME DALAM AL QURAN
Ajaran-ajaran sosialisme dari Nabi Muhammad SAW tentu berdasarkan
ayat-ayat yang
terdapat dalam Al Quran. AL Quran cukup jelas mengutuk orang-orang yang
menumpuk-numpuk
harta, hendak menjadikan kaum tertindas dan miskin (mustadhafin) menjadikan
pemimpin di bumi
dan mewarisi bumi, guna menuju ummat yang satu (tauhidi). Marilah kita
cermati ayat-ayat tsb.
a. TERKUTUKLAH ORANG-ORANG YANG MENUMPUK-NUMPUK HARTA
Bahwa Islam menentang sistem kapitalisme cukup gamblang diwakili
oleh Surat al Humazah
ayat 1-4. Dimana dikatakan: Celakalah, azablah untuk tiap-tiap orang
pengumpat dan pencela. Yang menumpuk-numpuk harta benda dan
menghitung-hitungnya. Ia mengira, bahwa hartanya itu akan
mengekalkannya (buat hidup di dunia). Tidak, sekali-kali tidak, sesungguhnya
dia akan ditempatkan
ke dalam neraka (hutamah).
Menjadi pertanyaan: dari mana mereka peroleh harta yang mereka
tumpuk-tumpuk tsb? Tentu
tidak hanya dari hasil keringatnya sendiri, melainkan juga dari hasil
keringat orang lain, dengan
melalui berbagai cara yang tidak halal. Padahal surat Al Baqarah ayat 188
dengan tegas mengatakan: "Janganlah sebagian kamu memakan harta orang lain
dengan yang batil (tiada hak) dan (jangan)
kamu bawa kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang
dengan
berdosa, sedang kamu mengetahuinya".
Juga cukup jelas surat Al An'am ayat 145 mengatakan haram memakan
darah yang mengalir.
Haram memakan darah yang mengalir itu bukan hanya secara harfiah, misalnya
melukai sebagian
kulit seseorang kemudian dihirup darahnya yang mengalir di tempat yang
dilukai tsb, tetapi yang lebih mendalam ialah menghisap atau memeras tenaga
kerja orang lain untuk keuntungan dirinya. Seperti
yang dilakukan kaum kapitalis terhadap kaum buruhnya. Kaum buruhnya tidak
akan bisa diperas
atau dihisapnya, sekiranya darahnya tidak-mengalir lagi dalam tubuhnya.
Jadi, menghisap tenaga
kerja kaum buruh, adalah sama dengan memakan darah yang mengalir dalam tubuh
kaum buruh tsb.
Menurut HOS Tjokroaminoto melalui bukunya "Islam dan Sosialisme"
yang ditulisnya pada
bulan November 1924 di Maitarat, bahwa menghisap keringatnya orang-orang
yang bekerja,
memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang
mestinya (dengan
seharusnya) menjadi bahagian lain orang yang turut bekerja mengeluarkan
keuntungan --semua
perbuatan yang serupa itu (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan
"meerwaarde" (nilai lebih
-pen) adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena
itulah perbuatan "riba"
belaka. Dengan begitu maka nyatalah agama Islam memerangi kapitalisme sampai
pada "akarnya",
membunuh kapitalisme mulai dari pada benihnya. Oleh karena pertama-tama
sekali yang menjadi
dasarnya kapitalisme, yaitu memakan keuntungan meerwaarde sepanjang fahamnya
Karl Marx dan
"memakan riba", sepanjang fahamnya Islam (hal: 17).
b. YANG TERTINDAS HENDAK DIJADIKAN PEMIMPIN
Bahwa agama Islam itu adalah agama pembebasan bagi kaum tertindas
dan miskin,jelas sekali
dikemukakan surat Al Qashash ayat 5 dan 6 yang berbunyi: "Dan kami hendak
memberi karunia
kepada orang-orang yang tertindas (mustadhafin atau dhuafa) di bumi dan
hendak menjadikan
mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi. Dan
kami tegakkan
kedudukan mereka di bumi."
Dari ayat ini jelas sekali bahwa Tuhan secara terbuka memihak kepada
kaum mustadhafin
dalam perjuangannya melawan kaum mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya).
Tuhan tidak
bersikap netral dalam pertentangan antara kaum tertindas melawan kaum
penindas.
Bila kaum mustadhafin sudah menjadi pemimpin di bumi, maka tentu
telah tertutup jalan bagi
kaum mustakbirin melakukan penindasan lagi terhadap kaum Mustadhafin dan
itulah Sosialisme
Islam.
Menurut Asghar Ali Engineer melalui bukunya "Islam dan Pembebasan"
bahwa pertarungan
antara mustadhafin dan mustakbirin itu akan terus berlangsung, hingga Din
Allah yang berbasis pada
Tauhid menyatakan semua rakyat (tanpa perbedaan lagi antara mustadhafin dan
mustakbirin,
orang-orang yang menindas dan orang-orang yang tertindas, kaya dan miskin)
sehingga menjadi
suatu masyarakat "tanpa kelas".
Dari perspektif ini jelaslah bahwa Al Quran menghadirkan suatu
teologi pembebas dan dengan
demikian membuat teologi yang sebelumnya mengabdi kepada kelompok penguasa
yang eksploitatif
menjadi teologi pembebasan. Sayangnya, Islam dalam fase-fase berikutnya,
justru mendukung
kemapanan itu. Tugas generasi baru Islam lah untuk merekonstruksi lagi
teologi Islam revolusioner
transformatif dan membebaskan itu (hal: l4).
Penilaian Asghar Ali Engineer yang terakhir ini sejalan dengan
penilaian Ulil Abshar Abdallah
melalui bukunya "Membakar Rumah Tuhan". Menurut Ulil Abshar Abdallah bahwa
persis hal ini
dengan apa yang terjadi pada agama Islam: semula menjadi agama emansipatoris
yang membawa
aspirasi pembebasan dan perubahan, sekarang menjadi agama yang diperalat
guna melegitimasi
suatu tatanan (status quo) (1999, hal: 44).
c. MASYARAKAT TAUHIDI, TANPA KELAS-KELAS
Cukup jelas Tuhan melalui surat Al Mukminun ayat 52 mengatakan:
"Sesungguhnya ini, ummat
kamu, ummat yang satu dan Aku Tuhanmu, sebab itu takutlah kepada Ku."
Menurut Mansour Fakih dalam tulisannya "Mencari Teologi untuk Kaum
Tertindas", bahwa
doktrin tauhid adalah tema pokok setiap teologi dalam Islam. Tauhid dalam
teologi pembaharuan,
berkisar sekitar ke-Esaan Tuhan, dengan penolakan terhadap penafsiran
terhadap Tuhan. Tauhid
dalam perspektif "teologi kaum tertindas" lebih ditekankan kepada keesaan
ummat manusia.
Dengan kata lain doktrin Tauhid menolak segenap bentuk diskriminasi
dalam bentuk warna
kulit, kasta ataupun kelas. Konsep masyarakat Tauhidi adalah suatu konsep
penciptaan masyarakat
tanpa kelas (hal: 173).
Dalam masyarakat Tauhidi ini, ummat benar-benar satu, tidak
dibedakan lagi karena
kedudukan sosial, karena jenis kelamin, karena warna kulit dsb. Dan itu
adalah sama dengan
masyarakat komunis. Masyarakat Tauhidi ini, adalah tingkat yang lebih tinggi
dari masyarakat yang
dijanjikan Tuhan: "Akan menjadikan kaum mustadhafin menjadi pemimpin di bumi
dan mewarisi
bumi."
Untuk bisa membuminya isi surat Al Qashash ayat 5-6 sebagai langkah
awal menuju
masyarakat Tauhidi (ummat yang satu), maka kaum mustadhafinharus mengamalkan
Surat Al Ra'du
ayat 11, yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu
kaum, kecuali jika
mereka mengubah keadaan diri mereka."
Menurut petunjuk Al Quran tsb, bila kaum Mustadhafin (tertindas dan
miskin) tidak mengubah
keadaan diri mereka, tidak berjuang melepaskan belenggu yang dililitkan
mustakbirin di leher dan di
kakinya, maka mereka tetap akan tertindas dan miskin. Kaum mustadhafin tidak
akan berubah
keadaannya, bila mereka hanya mengharap belas kasihan kaum mustakbirin. Kaum
mustakbirin
tidak akan dengan sukarela melepaskan belenggu yang mereka pasungkan pada
leher dan kaki
mustadhafin. Perjuangan melepaskan belenggu dari tubuh kaum mustadhafin
adalah perjuangan kelas dalam bahasa Karl Marx, "usaha kaum" dalam bahasa Ar
Ra'du ayat 11.
Malahan supaya kaum mustadhafin ini bisa bebas dari penindasan,
Tuhan memperingatkan
ummat Islam melalui surat An Nisa ayat 75: "Mengapa kamu tiada mau berperang
di jalan Allah dan
(membela) orany-orang yang lemah baik laki-laki, perempuan-perempuan, dan
kanak-kanak yang
semuanya berdoa: "Ya, Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim
penduduknya dan
berilah kami perlindungan dari sisiMu, dan berilah kami penolong dari
sisiMu"."
Dengan demikian jelas bahwa berjuang (berperang) diizinkan Al Quran
untuk mengakhiri
kezaliman dan untuk melindungi orang-orang yang lemah dari penindasan
orang-orang kuat.
Al Quran tidak mengizinkan berperang untuk memaksa seseorang memeluk
agama Islam. Hal
itu dengan tegas telah dikatakan Tuhan: "La ikraha fi al Din" (tidak ada
paksaan dalam agama).
Malah surat Al Kafirun dengan tegas mengatakan: "Katakanlah hai orang-orang
kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan engkau tidak akan
menyembah apa yang aku sembah.
Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku".
TITIK PERTEMUAN ISLAM DAN KOMUNISME
AK Pringgodigdo SH dalam bukunya "Sejarah Pergerakan Rakyat
Indonesia" mengemukakan
bahwa H. Misbach, seorang komunis keagamaan 76 tahun yang lalu, di depan
Kongres PKI di
Bandung pada tanggal 4 Maret 1925 menunjukkan dengan ayat-ayat Al Quran,
hal-hal yang
bercocokan antara komunisme dan Islam (antaranya, kedua memandang sebagai
kewajiban,
menghormati hak-hak manusia dan bahwa keduanya berjuang terhadap penindasan)
dan
diterangkannya juga, bahwa seseorang yang tidak menyetujui dasar-dasar
komunis, mustahil ia
seorang Islam sejati; dosanya itu adalah lebih besar lagi, kalau orang
memakai agama Islam sebagai
selimut untuk mengkayakan diri sendiri. Komunisme menghendaki lenyapnya
kelas-kelas manusia
(hal: 28).
Seorang Bung Karno melalui tulisannya "Nasionalisme, Islamisme dan
Marxisme" mengatakan:
"Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme musuh marxisme itu, ialah
musuh Islamisme
pula"; "Islamis yang "fanatik" dan memerangi marxisme, adalah Islamis yang
tak kenal
larangan-larangan agamanya sendiri"; "Hendaknya kaum itu sama ingat, bahwa
pergerakannya itu
dengan pergerakan marxis, banyak persesuaian cita-cita, banyaklah persamaan
tuntutan-tuntutan"
(DBR, hal: 12-15-14).
KESIMPULAN
H. Agus Salim benar bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan
Sosialisme seribu dua
ratus tahun sebelum Karl MarX. Karena Manifes Komunis yang terbit pada tahun
1848 adalah hasil
studi Karl Mark tentang perkembangan sistem masyarakat sebelumnya. Tentu
juga termasuk, baik
secara langsung atau tidak, Sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad tsb.
Karena tujuan yang hendak dicapai Islam dengan komunis sama-sama
masyarakat tanpa kelas
(Tauhidi-komunis) dan hal itu akan terwujud melalui tingkatan masyarakat
sosialis (mustadhafin
menjadi pemimpin di bumi). Masyarakat sosialis baru terwujud atas "usaha
kaum" atau perjuangan
kelas, maka sudah pada tempatnya kerjasama komunis untuk merebutnya. Hanya
saja kaum
kapitalis (mustakbirin) berkepentingan mencegah terjadinya kerjasama Islam
dan komunis, agar
kaum kapitalis tetap dapat berkuasa.
Karena Sosialisme adalah ajaran Nabi Muhammad SAW sendiri, maka
semestinya setiap yang mengaku Muhammad itu adalah Rasullullah, ia akan
memperjuangkan untuk adanya sosialisme itu.
Itu sebagai langkah awal untuk membuminya masyarakat Tauhidi di Indonesia.
Karena itu terasa
aneh, karena dewasa ini di Indonesia, tidak ada satu partai yang memakai
bendera Islam yang
mengibarkan panji-panji Sosialisme. Malah ada yang menentang Sosialisme.
Hal itu sudah disinyalir oleh Ulil Abshar Abdalla bahwa ada orang
Islam yang diperalat guna
melegitimasi suatu tatanan (status quo).
Sesungguhnya orang yang mengaku Islam, tetapi tidak berjuang untuk
membumikan
masyarakat Tauhidi (ummat yang satu), tentu dipertanyakan keIslamannya:
apakah mereka
benar-benar pengikut Nabi Muhammad Saw, atau tidak? Jika ya, tentu mereka
akan mendukung
tegaknya masyarakat Tauhidi tsb. Bila tidak, soalnya menjadi lain. ***