Anggota milis lingkungan, saya ingin melaporkan hasil pertemuan persiapan PrepCom IV 
yang diselenggarakan hari Jumat di kantor Meneg LH. Rapat dipimpin oleh Pak Emil Salim 
dan dipandu Pak Sudarsono. Pak Emil lebih banyak melaporkan hasil pertemuan PrepCom I 
di New York, 30April-3Mei 2001.
Berikut beberapa point penting:

1. Sudah dijadwalkan pertemuan di tingkat regional yaitu
    a. Tanggal 13-15 Juni 2001 akan ada pertemuan tingkat subregional South East Asia 
di Manila untuk membahas pelaksanaan         Agenda 21 dari tiap negara di kawasan SEA.
    b. Tanggal 9-11 Juli 2001, ada pertemuan roundtable (tingkat Asia Pasifik) untuk 
eminent person dan NGO, di Kualalumpur
    c. Tanggal 3-7 September 2001, ada pertemuan roundtable business opportunities on 
sustainable development partnetship                 strategy, pesertanya adalah 
International Chambers of Commerce dan Business Council on Sustainable Development, di 
Bali. 
    d. Akan ada pertemuan PrepCom tingkat regional Asia dan Pasifik, tanggal 27-29 
November 2001, tempatnya (?)
2. PrepCom IV sudah ditetapkan di Bali, tanggal 28 Mei-7 Juni 2002. Kata Pak Emil, 
tidak dibahas lagi apakah di Jakarta atau di         Bali. Peserta lebih memilih di 
Bali. Penyelenggaranya adalah World Summit on Sustainable Development.

Mengenai substansi, Pak Emil mengingatkan Indonesia perlu menyiapkan pemikiran 
pelaksanaan Agenda 21 untuk pertemuan subregional di Manila akhir bulan Mei ini. 
Waktunya sudah sangat mendesak dan sejauh ini masih banyak kurangnya, terutama 
melibatkan pemikiran dari major groups (berdasarkan Agenda 21 Bab 3) yaitu 
buruh/serikat buruh, petani, perempuan, anak dan pemuda, akademisi, NGO, masyarakat 
adat (indegineous population), bisnis dan industri, local authorities initiative. 

1. Proses pembahasan substansi dimulai dari tingkat nasional untuk masukan 
subregional, dari subregional untuk masukan regional, dan kemudian ke PrepCom IV. 
Sedangkan tingkat nasional harus juga mendapatkan masukan dari tingkat lokal 
(kabupaten dan propinsi) 
2. Masukan untuk laporan, berdasarkan pertemuan PrepCom I, bukan hanya dari program 
pemerintah tetapi juga dari major groups dan pemerintah daerah.
3. Tim 5 (tim yang dibentuk dalam pertemuan persiapan tingkat nasional) yaitu tim 
energi, kehutanan, sosial, lintas sektoral. sektoral, masih belum menyertakan 
pemikiran dari major groups. Menang beberapa tim telah mencoba membuat assesment untuk 
major groups dan melibatkan NGO (salah satu major groups) tetapi belum cukup mewakili 
pemikiran major groups.
4. Dalam menyusun assesment didasarkan pada outline of the key issues dan future 
trends melihat 10 tahun ke depan (forward looking examination for the next decade)
5. Ketika melakukan assesment penting fokus pada segitiga pembangunan (ekonomi, 
sosial, lingkungan). Assesment menghendaki pendekatan simultan untuk tiga aspek itu 
dengan seimbang. Kata Pak Emil, "Yang muncul bukan laporan tiap sektor, pertanian, 
kehutanan dan lainnya, tetapi laporan pertanian yang memperhitungkan ekonomi, sosial, 
lingkungan." Dan cross sectoral issues yang integrated dan comprehensif untuk tiga 
aspek itu.
6. Diharapkan pada saat PrepCom II bulan Januari 2002, semua assesment tingkat 
nasional, subregional, dan regional sudah selesai.
7. Dari New York, cerita Pak Emil, muncul kritik: governance (kepemerintahan) untuk 
lingkungan lemah. Penjelasannya, "Menteri lingkungan paling lemah dibandingkan menteri 
perekonomian," kata Pak Emil. Menteri lingkungan terpinggirkan. Institusi 
internasional yang kuat juga adalah IMF, World Bank, dan institusi ekonomi lainnya. 
8. Karena belum melibatkan major groups, perlu dilakukan outreach ke mereka. Kanto 
Meneg LH ditugaskan untuk mengkoordinir meng-outreach major groups melalui Tim 5.
9. Pak Emil mengajurkan Tim 5 untuk berkonsultasi dengan institusi PBB karena 
institusi PBB juga melakukan assesment serupa. "Tidak perlu lagi invent the wheel," 
kata Pak Emil. Hasil assesment institusi PBB bisa dijadikan juga bahan laporan. 
10. Sebenarnya ada format laporan nasional yang dikeluarkan oleh World Summit on 
Sustainable Development yang bisa dijadikan pedoman. Format itu akan dibagikan oleh 
Deplu kepada peserta rapat (katanya?).
11. Laporan lebih lengkap bisa dilihat di websitenya PBB, www.un.org/rio+10/. 
Informasi lain seputar persiapan peringatan 10 tahun KTT Bumi juga ada di sana.

Nah, apa yang perlu dilakukan oleh teman-teman:

1. Pertemuan Rio+10 penting
2. Indonesia mendapat tugas yang berat menjadi ketua PrepCom IV (masalah substansi)
3. Saya melihat kurang respon dari rekan-rekan NGO. Selama ini hanya beberapa NGO yang 
terlibat langsung dalam pertemuan-pertemuan PrepCom. 
4. Kurang respon saya pikir karena tidak terlalu banyak memahami apa yang harus 
dikerjakan
5. Karena itu saya menawarkan mendiskusikan segala sesuatu mengenai persiapan Rio+10, 
terutama mengenai national assesment (pelaksanaan Agenda 21, key issues, trend 10 
tahun ke depan) di milis ini.
6. Karena perlu ada outreach ke major groups, saya mengharapkan rekan-rekan yang ada 
di milis ini bisa mem-forwardkan pesan ini juga ke berbagai milis major groups 
(perempuan, remaja/anak-anak, bisnis/industri, petani, buruh, akademisi). Atau kalau 
ada rekan-rekan yang memiliki kontak dengan tokoh-tokoh dari major groups bisa 
memforwardkan email ini.
7. Hasil diskusi akan coba saya sampaikan ke panitia PrepCom

Untuk memandu diskusi berikut adalah beberapa pedoman:

1. Tanpa terkotak dalam sektor-sektor, kita mencoba memikirkan apakah secara 
regional/nasional Agenda 21 sudah dijalankan?
2. Kita coba mengidentifikasi key issues yang dianggap menyumbang pada pelaksanaan 
kebijakan sustainable development
3. Dalam mengidentifikasi key issues selalu terfokus pada segitiga pembangunan: 
ekonomi, sosial, lingkungan.
4. Apakah rekan-rekan bisa mengidentifikasi praktek-praktek (berbagai sektor, di 
tingkat lokal maupun nasional) yang bisa dibilang memasukkan prinsip sustainable 
development atau praktek-praktek yang berisi ketiga aspek (ekonomi, sosial, 
lingkungan) seimbang?
5. Apakah ada policy  (bukan hanya pemerintah, mungkin juga termasuk bisnis atau 
lainnya) yang mendorong sustainable development?
6. Seperti apa trend policy 10 tahun ke depan? Apakah ada kecenderungan untuk mengarah 
pada praktek sustainable development atau tidak? Trend apa saja yang menuju praktek 
sus-dev dan yang tidak?
7. Mungkin menarik untuk memikirkan bagaimana menciptakan tatanan institusi 
kepemerintahan (governance institution arragement) sehingga terbentuk pemerintahan 
yang lebih berpihak pada lingkungan (atau sustainable development).

Saya tunggu komentarnya.
Salam,
Harry Surjadi
Moderator

Kirim email ke