Seminar dan Lokakarya Nasional
Pengelolaan dan Pemamfaatan Pulau Nusakambangan
Sebagai Sisa-Sisa Hutan Hujan Dataran Rendah Berupa
Ekosistem Kepulauan di Era Otonomi

I.LATAR BELAKANG
    Pulau Nusakambangan merupakan salah satu kawasan
dengan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah
yang bersifat relict, yang dulu keberadaannya sangat
banyak tersebar. Sifat relict kecenderungannya akan
semakin menurun seiring dengan waktu dan pertambahan
penduduk. Bahkan sisa relict hutan hujan tropis
dataran rendah di Jawa Tengah saat ini ditemukan di
pulau Nusakambangan. 
     Ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah
memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi,
dimana dalam luasan 1 m2 terdapat ratusan jenis
keanekaragaman hayati (flora, fauna, mikroorganisme).
MacKinnon, 1993, menyatakan bahwa sebagian ciri-ciri
yang menjadi alasan untuk melindungi suatu kawasan
adalah keunikan ekosistem, spesies khusus yang
diminati, nilai kelangkaan, landskap yang bernilai
estetik, fungsi hidrologi. Ekosistem Hutan Hujan
Tropis Dataran Rendah di Nusakambangan sendiri
memiliki berbagai jenis yang unik dan langka seperti
Pelalar Jawa (Dypterocarpus littoralis, BL),  Bunga
Raflessia patma, Bangau Tongtong, Wilwo (Mycteria
cinerea) yang masuk dalam kategori dilindungi oleh
Concervation International on Trade Endangered Species
(CITES) dan masuk dalam Appendix I. Keanekaragaman
hayati yang tinggi ini merupakan potensi sumber daya
alam yang sangat besar untuk dimanfaatkan.     
    Selain tindakan pemanfaatan, harus pula diiringi
dengan pelestarian sumberdaya alam hayati karena
sebagian besar spesies-spesies yang ada belum
diketahui manfaatnya, karena pemanfaatan biodiversitas
rendah (Eksplorasi Ilmiah Mapala Silvagama, 2000).
    Pada aspek pengelolaan, banyak instansi yang
terlibat di Pulau Nusakambangan seperti Pemda,
Departemen Kehutanan, dan Departemen Kehakiman. Ini
ditengarai telah overlapping antar instansi dengan
berbagai kepentingannya masing-masing yang akan
menimbulkan konflik, seperti contoh konflik batas
kawasan konservasi, konflik kontrol terhadap kawasan,
konflik kepentingan dan wewenang kawasan antara
Departemen Kehakiman, pengelola LP, Departemen
Kehutanan, Sub seksi KSDA. 
    Menghadapi era otonomi daerah dimana disatu sisi
otonomi daerah memacu daerah untuk meningkatkan
pendapatan bagi daerah dengan memanfaatkan sumberdaya
alam yang ada sedangkan disisi lain sumberdaya alam
harus dilestarikan karena berbagai fungsinya. Hal ini
sangat tergantung pada pengelola dan berbagai instansi
di nusakambangan menuju pengelolaan secara lestari dan
pengelolaan terpadu.  
    Mengingat temuan-temuan diatas, maka sebagai
bentuk perhatian dan upaya tanggung jawab bersama ini,
Mapala Silvagama mengadakan Seminar dan lokakarya
(Semiloka) Nasional Nusakambangan dimana semua stake
holder di Nusakambangan duduk satu meja untuk mencari
solusi bersama tentang model baru pengelolaan
Nusakambangan, dan kegiatan seminar ini untuk
menindak-lanjuti kegiatan eksplorasi ilmiah di Cagar
Alam Nusakambangan Barat, dengan berpedoman pada salah
satu misinya yaitu meningkatkan dan melanjutkan
kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada konservasi
alam untuk kepentingan masyarakat dan ilmu
pengetahuan.
        
II.TUJUAN SEMINAR
1. Verifikasi data tentang kondisi Nusakambangan yang 
menunjang perencanaan pengelolaan suatu ekosistem
kepulauan.
2. Meninjau kembali keberadaan Nusakambangan sebagai
sisa hutan hujan dataran rendah yang menyimpan
keanekaragaman hayati yang tinggi.
3. Mencari jalan tengah antara kegiatan ekonomi dengan
nilai konservasi yang ada di pulau Nusakambangan.
4. Pengembangan model baru pengelolaan yang diterapkan
pada Nusakambangan sebagai suatu pulau.

III.PERUMUSAN MASALAH
        Intisari dari permasalahannya adalah bawasannya pulau
Nusakambangan merupakan ekosistem kepulauan dari
sisa-sisa hutan hujan dataran rendah yang ada di
indonesia khususnya di Jawa Tengah yang menyimpan
berbagai potensi ekologis. Banyaknya instansi
pengelola yang secara langsung mempengaruhi batasan
kerja dan wewenang instansi yang bersangkutan akan
menimbulkan beberapa konflik kepentingan. Konflik
kepentingan yang terjadi sekarang ini lebih terbuka
pada stake holder yang ada mengenai status
Nusakambangan. Menyangkut juga adanya permasalahan
sosial ekonomi masyarakat yang mendukung terjadinya
berbagai konflik. Dalam kegiatan seminar ini dilakukan
kegiatan pra seminar untuk mencari data tambahan
berupa data primer maupun data sekunder tentang
kondisi sekarang dengan melakukan audiensi di berbagai
pihak terkait di Nusakambangan.    

IV.PELAKSANAAN
Seminar dan Lokakarya Nasional (Semiloka)
�Pengelolaaan dan pemanfaatan Pulau Nusakambangan
sebagai sisa Hutan Hujan Dataran Rendah berupa
Ekosistem Kepulauan di Era Otonomi Daerah� akan
diadakan pada :

Hari/Tanggal    : Senin - Selasa/ 28 - 29  Mei 2001
Waktu           : 08.00  -  selesai
Tempat          : Hotel Ambarukmo Yogyakarta

V. PESERTA
Pada seminar ini diharapkan dihadiri oleh berbagai
kalangan yang terkait :
-       Instansi Pemerintah
-       Industri
-       Akademisi, Praktisi
-       Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
-       Mahasiswa

VI. BIAYA PENDAFTARAN
-       Mahasiswa S1/D3         Rp 25.000,00
-       Mahasiswa S2            Rp 50.000,00
-       Umum/Instansi           Rp 75.000,00
Biaya sudah termasuk makalah, Seminar kit, makan
siang, snack  dan  sertifikat.

VII. INFORMASI DAN PENDAFTARAN
Pendaftaran peserta seminar dapat dilakukan melalui :
Sekretariat Mapala Silvagama :
Jln. Agro Bulak Sumur No.1 Fakultas Kehutanan
Universitas Gadjah Mada Telepon/ Faksimili : +62 0274
548815
Contact Person : Y.I.Christanto  (  Hp : 0818342236 ) 

E-mail  : [EMAIL PROTECTED]
No. Rekening: BRI.029331052055 a/n Mapala Silvagama
 















_______________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.ca address at http://mail.yahoo.ca


----
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke