Dear bung Andi und alles, Dulu juga digembar-gemborkan pada zamannya HTI sengon, leda, akasia mangium dan gmelina itu adalah jenis bagur (tumbuhnya cepat) dan bisa mempercepat capital returns, tapi mana buktinya sekarang. Tetap saja sampai sekarang penghara industri plywood di Kaltim dll itu dari kayu meranti cs yang dari hutan alam, bukan dari sengon, leda, akasia dan gmelina yang digembar-gemborkan itu. Capital returns nya bukan dari hasil HTI tapi dari IPK saat landclearing hutan alam itu. Sekarang HTI malah banyak yang jadi "hutan tanaman ilalang" lihat saja sepanjang jalan Tenggarong -Kotabangun itu salah satu contoh soalnya. Malah sekarang hutan alam rawa di sekitar Kotabangun, Kaltim, ditebangi untuk memenuhi bahan baku salah satu pabrik MDF, padahal pabrik ybs punya HTI yang sangat luas didekatnya. Jadi tidak terbukti hutan buatan tersebut lebih unggul dari hutan alam. Mengenai pohon unggulan, kriterianya saya kira tidak cukup hanya dari segi pertumbuhan (kebaguran) saja, tapi harus ada kriteria-kriteria lainnya juga. Kalau jati superman digalakkan di Kaltim, bukan masyarakatnya yang untung, tapi perusahaan pembibitan yang nota bene di luar Kaltim. Coba anda kalkulasi kalau penanaman dengan jarak 4 m X 4m , berarti per ha ada 1100 bibit. Dengan harga bibit sekarang Rp 20.000,- Berarti 1100 XRp 20.000,- =Rp 22.000.000,- omzet dari perusahaan pembibitan. Kalau areal yang dibuka 1000 ha per tahun maka 1000 XRp 22.000.000,- = Rp 22. dengan sembilan nol. Dengan biaya operasi sekitar 50 % maka perusahaan sudah untung Rp 11. dengan sembilan nol. Belum lagi dari IPK misalnya per ha 50 m3 saja X 1000 ha = 50.000 m3, kalau dikalikan dengan Rp 650.000,- maka hasil dari IPK adalah Rp 32, 5 dengan delapan nol dengan biaya operasi 50 % berarti 16,75 dengan delapan nol untung perusahaan. Untuk masyarakat??? Jadi perusahaan bukan untung memanen jati super, tapi memanen bibit dan IPK. Itu sebenarnya yang ada di dalam otak dan denyut nadi para penggagas jati super tersebut. Jadi sama juga seperti yang ada di dalam otak dan denyut nadi para penggagas HTI dulu dan sawit yang ada sekarang (IPK...IPK...IPK .... DR...DR...DR...). Mengenai jenis unggulan di Kaltim, buanyaak sekali. Cuma masaalahnya kebanyakan orang tidak percaya akan jenis lokal itu lebih baik dari eksotik. Sama seperti merk Sepatu, orang lebih percaya buatan luar negeri daripada buatan Bandung. Makanya orang di Cibaduyut lebih suka membuat sepatu merek Italia. Apakah anda mau saya kirim lagi nama latinnya saja? Seperti yang dari survey Hanurata di Berau dulu? Salam Ki PahiiqAt 10:38 PM 01-06-2001 +0000, you wrote: >Itulah mental kita kan, >Kalau ada agenda seperti itu langsung dengan bangga tegas menolak dengan >alasan belum terbukti keberhasilannya. Terus pasti penyedia benih (Monfori) ya >untung dan kontraktor (aku lupa smart aji apa gitu)apalagi misinyakan kalau >bukan profit dan tidak sesuai dengan pernyataan sikap bersama. Lantas kalau >Gubernur dan instansi lainnya tanya kita bisa apa ?... sudah kubayangkan >jawabannya bengong..dan plenga-plengo karena belum ada konsep yang tertuang >dalam rencana kegiatan jelas meskipun banyak teori dan keberhasilan >teman-teman kita (contoh sungkai itu). >Aku numpang nibrung karena kayaknya kita selalu dipihak reaksi dan bukan >sebagai aks...belum ada konsep bersama kearah bagaimana menyelamatkan hutan >Kaltim yang sebentar lagi katanya jadi gurun. >Aku sarankan kenapa nggak kita diskusikan dengan teman kita yang sudah jadi >pengusaha, PNS Kehutanan, LSM dan dosen..untuk menyikapi hal tersebut. Coba >lihat brosur Monfori tentang kultur jaringan dan keberhasilannya Jatingisasi >baik agroforestry maupun monokultur (dengan memperlihatkan tabel >pertumbuhannya)...siapa yang bisa tolak karena itu sudah merupakan percobaan >meskipun skala tidak luas. Lantas dengan penolakan, apa yang bisa kita >perbuat...dan yang lebih malu katanya kita tuan rumahnya di Kaltim ini dan >ahli pada bidang tersebut. > >Coba kita pikirkan kalau Jatingisasi akan berjalan, kalau kita bicara Fahutan >tidak sanggup bagaimana dengan IKA yaitu dengan memberikan masukan kontribusi >apa yang bisa kita sampaikan baik itu dalam kemitraan usaha yang mungkin akan >mendapat profit atau setidaknya memberi saran dalam keilmuan. >Harusnya kita bisa menjemput bola tersebut, sebagai misal luasan tanaman jati >yang direncanakan kita sarankan untuk dipadukan dengan jenis-jenis tanaman >unggulan lokal (sebagaimana pernyataan sikap kita). Entah porsinya berapa kan >bisa minta saran kepada Pak Maman dan ahli-ahli lainnya. Kitakan selain bisa >ikut bermitra (kalau ada modal) dalam usaha tersebut juga bisa sejalan dengan >mencoba memulihkan sebagaian keanekaragaman hayatinya Kaltim. Bisa nggak ya ?, >seingat saya tidak tabu penanaman Jati dipadukan dengan jenis-jenis lokal. >Dalam kemitraan..kita ingat banyak teman-teman kita yang pengusaha. Terus >apakah jenis unggulan lokal bibitnya sudah ada? seperti yang dapat disediakan >Monfori dengan Jatinya?. Biarkan Jati hidup di Bumi Kaltim, tapi jenis-jenis >lokalpun kita tanam dan kita kelola toh daurnya berbeda dan dengan manajemen >pengelolaan yang betul setidaknya kalau proyek itu dapat kita sebut HTH (Hutan >Tanaman Heterogen)..suatu saat akan ada manfaatnya daripada kita hanya menolak >dengan argumen hanya teori tapi tidak bisa berbuat sesuatu sama sekali. > >Wassalam, >Andi Azizi > >____________________________________________________________________ >Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1 > >Fahutan-Unmul Milis ..... >Wahana komunikasi dan tukar informasi sekaligus saling lepas kangen sesama alumni Fakultas Kehutanan Unmul. > >### "Segala bentuk attach file akan dibuang" ### >### Attach file bisa dikirimkan kepada: ### >### [EMAIL PROTECTED] untuk diubah wujudnya ### > >E-mail: [EMAIL PROTECTED] >Website: http://www.geocities.com/ikafahutan > >Untuk berhenti dari anggota milis, kirim e-mail kosong ke: >[EMAIL PROTECTED] > > > >Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ > ---------------------------------------------------------------------------- ------------------------- CENTER FOR SOCIAL FORESTRY - CSF�� (UPT. PERHUTANAN SOSIAL) (Universitas Mulawarman - The University College of� The Cariboo/CIDA - Canada Partnership) Address: Gedung Pascasarjana Magister Kehutanan - Kampus Gn. Kelua Jalan Ki Hajar Dewantara No. 7��� SAMARINDA 75123 KALIMANTAN TIMUR - INDONESIA Tel. : +62 (0541) - 201275 ;� 206407 Fax : +62 (0541) - 206407 E-mail :���� [EMAIL PROTECTED]� ��������������� [EMAIL PROTECTED] Website :� http://www.csf.or.id ������ ---------------------------------------------------------------------------- -------------------------
