[EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
> Untuk memberikan gambaran bahwa pemilihan GNU/Linux atau NT bukan sekedar
> pemilihan sistem operasi yang mana lebih baik dan mana yang lebih murah,
> atau sekedar pemilihan program.  Silahkan baca essay saya :
> 
> http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made/artikel/Non_Teknis/
> 
> Maaf agak panjang... essay ini membahas aspek non teknis dan mengapa
> pemilihan Linux tidak sekedar memilih suatu "consumer product".
> 
> lumayan untuk akhir pekan
> 
> IMW
> 

Bravo! Artikelnya semakin memperluas cakrawala dalam memandang Linux,
dan Open Source pada umumnya.  Kecenderungan yang selama ini ada (dan
merupakan hal yang menyedihkan) adalah Linux "memang" dipandang sbg
alternatif semata-mata terhadap produk microsoft. Saya punya comment
sedikit:

"Kembali ke situasi di Indonesia, ``resistansi'' masyarakat pengguna 
Teknologi Informasi (TI) dan pelaku bisnis TI terhadap pemanfaatan 
Linux ini tidaklah mengejutkan, karena memang sebagian besar ``pelaku
bisnis'' di bidang TI di Indonesia lebih menyukai bermain dengan 
penjualan lisensi"

Hal ini (menurut saya) disebabkan (antara lain) oleh:
  * Masih tidak sehatnya iklim berusaha di Indonesia, yang banyak
    menggunakan pola "kesepakatan di bawah meja" dalam menentukan
    penggunaan suatu produk. Banyak sekali contoh yang menunjukkan
    ketidak bergunaan suatu system (dlm bidang TI) yang telah di
    implementasikan, karena dasar pemilihan produk tsb tidak benar,
    dan semata-mata karena vendor dapat memberikan imbalan yang
    memadai bagi para pembuat keputusan. Hal ini merupakan kendala
    yang sangat besar, karena suatu produk Open Source tidak akan
    bisa (dan mau) untuk bersaing dengan cara seperti ini.
  * Belum adanya solusi Open Source yang "proven" di mata dunia
    usaha, de facto mungkin ada, tetapi publikasinya yang tidak
    gencar, sehingga masyarakat TI dan dunia usaha tetap tidak
    menyadari hal tersebut, dan menganggap kalau Open Source
    solusion itu baru sebatas konsep.
  * Budaya untuk menghargai (apapun dari) orang lain sangat rendah
    dan toleransi terhadap perbedaan pandangan sangat rendah. Sehingga
    apapun yang berbeda dianggap rival yang harus dimusnahkan, hal
    ini terasa di semua bidang, tidak hanya di TI. Ini juga sangat
    tidak sejalan dengan kultur Open Source.
  * SDM di Indonesia sebenarnya belum cukup siap secara teknis untuk
    mengembangkan diri, dan komunitas Open Source, apalagi
    memasyarakatkannya.
  * Kebutuhan (jangka pendek dan mendesak) untuk tetap "mengasapi 
    dapur", membuat orang (para pelaku TI) tidak tertarik untuk 
    melihat kesempatan yang ditawarkan oleh Open Source, sehingga 
    (dengan situasi ekonomi spt sekarang) kecenderungan untuk berada
    pada jalur yang sudah ada (proprietary software), sangat tinggi.
Bukan berarti dengan hambatan tersebut kita harus berpikir 2-3 kali
untuk mulai dengan Open Source, tetapi malah menjadi dorongan, dan
sudah merupakan tugas kita semua (yang memang perduli) untuk tidak
berhenti mengembangkan suatu suasana yang mendukung perkembangan
Open Source di Indonesia. Spt kata si Doel: "Kita tau keadaan memang
lagi susah, tapi kita harus tetap berusaha, ayooooo sekolaaaahhhh!"

Best regards,
Andy
-- 
      // chandy a7 indo 607 net 607 id  -------/
    //     Linux kernel 2.2.8   XFree86 3.3.2.3
  //    Glib/Gtk 1.2.2      Enlightenment 0.16
//   Mozilla 4.51                    -------/

----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]
Hosted by http://www.Indoglobal.com

Kirim email ke