On Wed, 12 Jan 2000, Lukito E. Nugroho wrote:
> non-kota besar pd umumnya), tidak ada sparring partner dengan
> pihak
> luar universitas. Nggak ada industri TI.
> Saya berpikir untuk memanfaatkan Internet sbg. media kolaborasi,
> tapi attitude untuk berkolaborasi secara virtual dari warga
> universitas
> sendiri rata-rata masih rendah.
Sebetulnya bila tak ada industri TI (atau belum terlihat) kita bisa turut
membangunnya... sehingga bisa menemukan sparring partner.. contoh menarik
adalah ketika saya ada di Ujung Pandang dan Palembang (he..he.he di
samping ikan bakarnya yang menarik banyak hal yang menarik). LUG di UP
ini termasuk yang memiliki sparring partner banyak.. (bukan saja di Uni).
(Bung Irwan termasuk salah satunya...).
Jadi sebetulnya setiap daerah "memiliki potensi" untuk digali menjadi
industri TI (apapun bentuknya).
Memang keinginan kolaborasi (apalagi virtual) dari para warga Universitas
masih tergolong rendah (terus terang...) hal pernah saya tulis dalam
artikel "Internet alat konsumsi atau produksi" (MyLamunan).
> Anyway, saya setuju dengan pendapat di atas. Tapi kembali ke
> permasalahan kurangnya sumber dana yg bisa diajak kerja sama
> (bagi Jakarta, Sby, dsb. mungkin ini bukan jadi masalah).
Sumber dana tersebut "tidak harus" berada di daerah. Tapi dananya bisa
dimanfaatkan untuk daerah..he.he.he. saat ini saya ingin mengajukan
proyek model ini (pemanfaatan dana daerah kaya) untuk mengembangkan solusi
buat daerah lain. Daripada menghabiskan dana "utangan via Bank Dunia"
mendingan institusi yang kaya.. memodali SDM yang handal dari Uni lain...
Terus terang idea ini diilhami pola persh Linux (seperti SuSE, RedHat),
menggaji programmer-programmer dan researcher untuk develop software yang
hasilnya "dinikmati orang banyak". Mengapa kita tidak menerapkan di
Indonesia... ??
> Betul bahwa profesionalisme berkait dengan dana. Nukleus yg saya
> maksudkan di atas diharapkan bisa di-"institutionalised" di
> lingkungan universitas, misalnya dalam bentuk Pusat Studi.
Kelemahan yang ada di Indonesia.. kalau suatu institut berada di bawah
satu Uni (atau institusi lain).. maka kecenderungan yang ada adalah
mengalami kesulitan kolaborasi dengan institut lain (terus terang masalah
gengsi institut masih sangat besar di Indonesia).
Sebagai contoh nyata adalah LUG di Indonesia jauh lebih bisa berkolaborasi
dibandingkan... Forum Perguruan Tinggi atau organisasi profesi yang
lainnya 8-)...he.he.he. Berhubung saya di keduanya sehingga saya merasakan
"bedanya"...he.he
Itu adalah salah satu kendala "terberat"....8-)
IMW
----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]