Saya mengamati pola kita, para pengguna Linux di
Indonesia, dalam hal public relation dan promosi
masih lemah.
Contohnya, setiap kali ada "serangan" untuk Linux
(spt. di detik.com bbrp waktu yang lalu), hampir
dapat dipastikan "bapak Linux kita" yg akan
meng-counternya dengan menulis artikel imbangannya.
Lepas dari benar/salahnya artikel-artikel ini, saya
menilai pola menghadapi konsumen spt ini tidak sehat.
Dunia luar bisa menilai seakan-akan aktivitas public
relation (PR) kita ini cuma tergantung kpd. mas Made
seorang. Dan model counter spt ini (by itself alone)
hanya akan memberi image kalau orang Linux itu "reaktif",
kalau diserang mesti membalas dengan keras. Esensi
pesan bahwa Linux sendiri sebagai sebuah produk
berkualitas malah menjadi kabur.
Saya punya pemikiran agar tulisan-tulisan yg mengulas
produktivitas Linux bisa diperbanyak. Topiknya bisa
beragam, dari cerita pengalaman menggunakan Linux,
tips and tricks, Linux sbg. alternatif MS, dsb.
Untuk itu saya menghimbau teman-teman yg punya bahan
yg bisa ditulis, silakan dipublikasikan. Sebentar lagi
kita punya majalah, dan ini merupakan wadah yg baik
buat PR.
Juga bagi teman-teman mahasiswa dan KPLI, sering-seringlah
bikin pameran, seminar, installfest, dan sejenisnya.
Intinya, inisiatif dan keragaman cara ber-PR.
Saya yakin dengan cara ini kita bisa mencetak "Made-Made"
lain dengan ciri khasnya masing-masing. Dan yang lebih
penting, mode PR kita tidaklah monoton, dan semuanya ini
didasarkan pada fakta obyektif, bukan sekedar FUD.
Sekian dulu uneg-uneg saya.
Lukito
----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]