Email ini juga ke KPLI Jakarta.. tapi yang di aktivis merupakan versi
tambahan :
On Thu, 14 Dec 2000, Arie Zanahar wrote:
>Tulisan menarik saya dapat dari milis aktivis.
>Any comment ?
>-------- Original Message --------
>From: "Lukito E. Nugroho" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [aktivis] sebuah otokritik
>To: [EMAIL PROTECTED]
> Contohnya, setiap kali ada "serangan" untuk Linux
> (spt. di detik.com bbrp waktu yang lalu), hampir
> dapat dipastikan "bapak Linux kita" yg akan
> meng-counternya dengan menulis artikel imbangannya.
Sebetulnya pernah nggak saya aja koq Priyadi" pernah juga mengomentari..
tapi mungkin karena "kecepatan" aja jadi lebih sering nongol tulisan saya.
Atau kemarin dg fade2blac. Saya sendiri bukan menganggap berita itu
adalah serangan terhadap Linux. Tetapi kalau ada sesuatu yang kurang
benar, bukannya tugas kita untuk meluruskan.
TAMBAHAN :
Misal pak Rudy kadang juga mengeluarkan berita soal Open Source, Zen di
majaalah Jazz, tapi untuk media online (apalagi kalau bacanya
detik-com) ya terlihat masih IMW yang memonopoli 8-)
Saya ambil prinsip Open Source saja dalam hal ini. Siapa cepat dan ada
waktu dia yang mengerjakan. Takutnya kalau main "tunggu-tunggu" bisa-bisa
nggak ada yang mengerjakan.
> Dunia luar bisa menilai seakan-akan aktivitas public
> relation (PR) kita ini cuma tergantung kpd. mas Made
> seorang. Dan model counter spt ini (by itself alone)
> hanya akan memberi image kalau orang Linux itu "reaktif",
> kalau diserang mesti membalas dengan keras. Esensi
> pesan bahwa Linux sendiri sebagai sebuah produk
> berkualitas malah menjadi kabur.
Kita memang tidak punya PR koq 8-) (lha bukan company..).. jadi pekerjaan
PR hanya berdasarkan kesadaran pribadi. Saya pribadi menganggap Linux is
not a product, tetapi "issue" apa yang bisa dibawa oleh Linux-lah yang
lebih saya tekankan. (pada artikel terakhir... sebetulnya issuenya bukan
Linux tak mengenai Pentium, tapi mengenai bagaimana seseorang bisa belajar
dengan dalam ketika memakai Linux dsb).
Model reaktif sengaja saya pilih karena beberapa alasan :
1. Keterbatasan waktu (saat ini saya masih sebagai student doktoral
dengan berbagai kesibukannya).
2. Biasanya tulisan itu "nongol" setelah banyaknya pertanyaan yang "sama"
yang masuk ke mailbox saya. Jadi daripada saya jawab satu-satu (ini
menghabiskan waktu lebih banyak lagi). lebih baik saya jawab melalui
tulisan.
3. Menurut pengamatan saya akibat berita yang bernada kurang tepat
(berdampak buruk) lebih besar daripada akibat berita yang bernada baik.
(faktor sensasi berita). Sehingga ini diprioritaskan untuk saya jawab
(akibat alasan nomor 1).
TAMBAHAN :
Misal dalam kasus berita Red Hat terakhir.. saya mulai nulis setelah lebih
dari 20 email yang bertanya dengan nada yg sama. Setelah menjawab 10
email terus saya mikir.. wah repot kalau gini, mending ditulis
saja.. Sebab bisa-bisa waktu saya untuk bekerja (eh salah untuk
chatting) tidak ada lagi.
> Untuk itu saya menghimbau teman-teman yg punya bahan
> yg bisa ditulis, silakan dipublikasikan. Sebentar lagi
> kita punya majalah, dan ini merupakan wadah yg baik
> buat PR.
Ini lucunya di Indonesia 8-) dari pengamatan saa bila tulisan yg mengulas
sisi positif (menyebarkan hal positif), sering malah dianggap "iklan
terselubung":. (buntut-buntutnya dikira ada maunya..he.he.). Sedangkan
berita yang berbau negatif (misal Linux tak bisa X, ini itu).. jauh lebih
cepat tersebar. Nah dari sisi aspek pengaruh ini yang juga perlu
difikirkan mana yang perlu difokuskan dulu, terutama untuk media yang
sifatnya "umum".
Kecuali kita memang sudah banyak tenaga yang bisa menulis di berbagai
bidang 8-(
TAMBAHAN :
Rata-rata saat ini penulis berita ttg Linux, berita artikel Linux juga
oragn yang menjawab di milis, mengoprek dsb. Jadi masih jurus 4L (loe
lagi-loe lagi). Sebetulnya ini biasa saja (Eric Raymond juga gitu khan),
yang jadi kendala kita sering menganut azas "pekewuh" dalam situasi
seperti ini, hingga akhirnya malah menjadikan laju perkembangan kurang
lancar.
Adanya majalah sangat baik (saya tahu ada 2 majalah Linux yang akan
beredar), ini menjadi "channel" bagi para Linuxer.. nah tetapi kita juga
harus memikirkan aspek di media massa umum.
> Saya yakin dengan cara ini kita bisa mencetak "Made-Made"
> lain dengan ciri khasnya masing-masing. Dan yang lebih
> penting, mode PR kita tidaklah monoton, dan semuanya ini
> didasarkan pada fakta obyektif, bukan sekedar FUD.
Mudah-mudahan yng saya tulis berdasarkan fakta obyektif (untungnya saya
selalu ada sumber acuan 8-). Yang saya harapkan memang lebih banyak
timbul rekan-rekan lain yang "membantu" perkerjaan menulis di media massa.
Sayangnya kita juga perlu mempertimbangkan kada suatu fakta obyektif (di
tulisan ilmiah pun) bisa dianggap tidak obyektif. Dan ini yang sulit.
Saya sendiri terus terang sudah "pengen istirahat" 8-) tetapi sering
merasa tidak "rela" kalau publik mendapat berita kurang tepat. Jadi
terpaksa "turun gunung". Apalagi bila membaca berita BussinessWeek
tentang strategi "business terbaru" suatu vendor besar. Yang ingin
"mengikat" rakyat Asia...agar bergantung pada produknya, dan ini dilakuakn
melalui media.. baik secara terang-terangan ataupun tidak. Siapa yang
rela kalau membaca berita seperti itu ?
Justru itu ditunggu partisipasi teman-teman lainnya. Memang faktor sudah
"dikenal" akan memudahkan channel ke media massa, untuk itu biasanya saya
bekerja sama dengan rekan lainnya (misal ttg bisnis open source dg
fade2blac). Nah faktor ini juga yang perlu dipertimbangkan.
IMW
NB : Mas Edi nongol juga dong tulisannya biar makin banyak
----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]